Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 27 Catatan Sipil??


__ADS_3

Kota A dihari yang sama.


"Hai, Ma. Apa kabar, Bu?"


Royan memeluk dua wanita yang duduk berdampingan di ruang tengah bergantian.


"Kamu sudah sarapan Roy?" Florenza menepuk tangan anak tirinya yang duduk disampingnya.


"Sudah Bu, terimakasih." Ucapnya seraya merangkul bahu Florenza.


"Kalau begitu Mama buatkan kopi saja ya?" Martha hendak bangun, namun Royan menahannya.


"Tidak usah Ma, aku hanya berkunjung untuk melihat keadaan kalian saja. Sebentar lagi ada meeting dengan Client. Jadi aku harus segera pergi, kalau tidak nanti kakak akan marah padaku," adunya dengan menyandarkan kepala dibahu Florenza manja.


Selama ini memang Martha tinggal dirumah utama untuk menemani Florenza yang tak lain adalah madunya.


Sedangkan Clark dan Royan memiliki tempat tinggal mereka masing-masing.


Alasan Clark tidak mau tinggal dirumah utama tentu karena dia tidak suka dengan keberadaan Martha.


Sedangkan Royan, dia tidak mau kebebasannya terganggu oleh kedua ibunya.


"Royan, kapan Kakak mu kembali?"


Pemuda tampan itu menegakkan duduknya.


"Aku belum tau Bu. Tapi yang jelas, saat ini dia pasti sedang sibuk dengan persiapan pembukaan rumah sakit yang akan dilaksanakan tidak lama lagi," jawabnya.


"Ibu sudah sangat merindukannya, tapi setiap kali Ibu menghubunginya, jawabannya selalu sama. Nanti dan nanti," tutur Florenza sendu.


"Entah kenapa, Ibu merasa kalau saat ini Clark sedikit berubah. Ibu yakin, pasti gara-gara wanita itu!" tuduhnya yang memang seperti itu adanya.


Wanita itu siapa yang di maksud Florenza? tanya batin Martha yang hanya menyimak obrolan madu dan putranya.


Karena terlalu sibuk dengan tugas yang diberikan Clark, Royan sampai lupa mencari tau apa saja yang di lakukan Kakak tirinya itu di kota S.


"Ibu tenang saja, nanti aku akan mencari tau semua tentang Kakak. Jangan terlalu banyak pikiran ya Bu!" janjinya.


Royan pun lekas berpamit dan mencium pipi Ibu tiri dan Ibu kandungnya bergantian sebelum ia beranjak pergi ke kantor untuk sebuah pertemuan.


"Kakak, yang tadi dimaksud wanita itu, itu siapa?" tanya Martha yang penasaran dengan mengangkat cangkir teh lalu menyesapnya.


"Wanita itu Leona, wanita yang dulu mencampakkan Clark disaat dia terpuruk!"


"Uhuukk...!"


Martha tersedak mendengarnya.


Apa? Yang benar saja?


Kenapa wanita itu hadir kembali?


Ucap batin Martha.


_ _ _


Disebuah Lexus LC yang melaju dengan kecepatan sedang.


"Clark, aku sedang tidak mau main tebak-tebakan. Lagipula kamu juga pasti bosan mendengarkan aku bertanya kemana kita akan pergi. Jadi katakan saja kemana tujuan kita," ujar Leona yang sudah merasa jengah karena sedari tadi Clark tidak mau memuaskan rasa penasarannya.


Bagaimana Leona tidak penasaran, setelah menyuruhnya berganti pakaian yang rapih dan sama seperti yang ia kenakan, Clark masih saja main rahasia-rahasiaan.


Senyuman manisnya sangat mencurigakan.


Ditambah lagi, laki-laki yang semakin hari semakin tampan itu selalu menggoda dengan mengatakan seolah Leona lah sudah merasa tak sabaran.


Leona juga sempat mendengar Clark berbicara melalui sambungan telepon dan menanyakan persiapannya sudah selesai atau belum.


Memangnya tempat seperti apa yang akan mereka datangi?


"Aku harap, kamu tidak pingsan saat tau kemana tujuan kita," ujar Clark yang terlihat sangat bahagia dengan terus mengembangkan senyumannya.

__ADS_1


"Terserah!" Leona sudah benar-benar jengah.


Drrrt drrt...


Leona merogoh minibag nya untuk mengambil ponselnya yang bergetar.


Ada nama Hanry di depan layarnya.


"Halo Henry!" sapa Leona cepat dengan sengaja menyaringkan suaranya.


Clark melirik sekilas, raut wajahnya seketika berubah datar.


Mood nya langsung turun saat Leona menyebut nama laki-laki lain dengan wajah yang terlihat senang dan bersemangat.


"Halo Leona, bagaimana keadaan Shofia sekarang?" tanyanya diseberang sana.


"Sekarang sudah lebih baik," Leona masih tersenyum.


"Syukurlah, aku lega mendengarnya," ucap Hanry.


"Iya, itu semua berkat dirimu juga. Terimakasih atas semua bantuanmu ya Hand."


Bantuan apa? Yang aku lakukan jauh lebih banyak. Tapi kamu tidak mengucapkan terimakasih sama sekali padaku. Bahkan kamu tersenyum manis kepadanya.


Cih, dasar tidak adil!


Gerutu Clark dalam hati.


"Sama-sama cantik!"


Dan Clark melihat Leona yang tersipu dan wajahnya yang merona.


Semakin gerah saja ia melihatnya.


"Oh iya, nanti aku akan datang menjenguk Shofia. Aku harap kamu ada disana."


"Tentu saja aku akan ada dirumah sakit, aku tunggu kedatanganmu!"


Laki-laki itu mau datang kerumah sakit?


Tiba-tiba Clark melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Ehh...!"


Keterkejutan Leona membuat Hanry yang mendengarnya menjadi panik.


"Ada apa Leona?"


"Eh, tidak apa-apa. Aku kaget karena supir angkotnya tiba-tiba ngebut!"


Clark menoleh dengan mendelikkan matanya ke arah Leona.


"Jadi kamu sedang di jalan? Katakan pada supirnya agar hati-hati Leona!"


"I... Iya Hend," jawab Leona terbata dengan tangan berpegangan karena takut.


"Baiklah, nanti aku akan mengajak Retta dan juga Aneth. Sampai jumpa Leona!"


"Iya Hend, sampai jumpa!"


Leona segera mematikan sambungan teleponnya dan beralih menatap Clark yang kini terlihat marah.


"Pelankan sedikit Clark, aku takut!" sedikit berteriak agar Clark mendengarkannya.


Masih dengan wajah kesal, Clark membelokkan mobilnya dan berhenti disebuah parkiran.


Leona dapat bernafas dengan lega, "Dasar kamu ya! Mau bikin aku jantungan,hah?" beberapa kali ia memeukuli Clark dengan minibagnya karena ikut merasa kesal.


"Diam!" ucap Clark dengan menahan tangan Leona yang sedang memukulnya. Ia menatap tajam.


Mendapat tatapan seperti itu, Leona segera menarik tangannya dan membuang muka ke arah lain. Akan salah tingkah kalau terlalu lama menatap mata Clark.

__ADS_1


"Tuh kan?"


Kata-kata ambigu yang keluar dari mulut Clark membuat Leona bingung.


Ia kembali menoleh ke arah Clark yang masih terlihat marah.


"Maksud kamu apa sih? Gak jelas!"


Leona menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan didepan dada.


"Sikapmu Leona! Kamu selalu tersenyum dan berbicara manis saat berbicara dengan laki-laki lain walaupun kamu tidak melihat orangnya. Sedangkan kamu selalu ketus dan juga jutek jika berbicara denganku!"


Leona tak menjawab, ia hanya menatap keluar jendela meski tak tau sedang menatap apa. Walaupun begitu, telinganya masih fokus mendengarkan protes dari laki-laki disampingnya.


"Dan apa tadi yang kamu bilang? Supir angkot?" lanjutnya masih marah.


Disitu Leona mulai menggerakkan bibirnya menahan tawa.


"Kamu pikir ada supir angkot segagah dan setampan diriku, hah?" Kali ini Leona benar-benar tertawa.


Ternyata Clark cemburu dan tidak terima disebuat sebagai supir angkot.


"Hahaha, iya iya aku minta maaf. Aku hanya tidak mau Hanry tau kalau aku sedang bersamamu!"


"Kenapa? Memangnya dia tau siapa aku?" nada bicaranya mulai turun.


"Tidak, dia tidak tau apa-apa tentang dirimu. Dan aku tidak mau dia sampai tau," jawabnya jujur.


Clark segera melepas sabuk pengamannya dan duduk menyerong menghadap Leona.


"Apa aku seburuk itu dimatamu sampai orang lain tidak boleh mengenal siapa aku?" Leona terpaku tanpa bisa menjawab.


" Bukankah Bibi Frida sudah memeberi taumu yang sebenarnya, dan kamu masih tidak percaya kepadaku?" Leona kembali membuang muka.


Ya, jujur saja dia belum bisa percaya dengan apa yang diceritakan Clark pada Frida.


Bukti, sebenarnya Leona membutuhkan pembuktian atas semua cerita dan semua ucapan Clark selama ini.


"Leona dengarkan aku!" Clark memutar tubuh Leona agar menatapnya.


"Bukankah kamu dengannya juga tidak memiliki hubungan apa-apa? Lantas kenapa kamu ingin merahasiakan aku darinya dan juga orang lain? Katakan Leona!" Clark mencengkram kedua bahu Leona.


Hubungannya dengan Hanry memang masih sebatas teman. Tapi bukan Leona tak mengerti, beberapa kali Hanry melamarnya sudah membuktikan jika pria itu mencintainya dan berharap lebih dari dirinya.


"Diantara kami memang belum ada ikatan apa-apa. Tapi kamu harus ingat, saat kamu tak ada, dia lah yang selalu ada untukku!"


Clark melepaskan cengkraman tangannya dan lekas keluar dari mobil.


Kita lihat saja, apa setelah ini kamu masih bergantung kepadanya?


Clark memutari separuh mobilnya lalu membukakan pintu untuk Leona.


"Turunlah," Leona menghela nafas lalu mengikuti titah dari Clark.


Namun setelah keluar, wanita yang memakai kemeja putih itu terlihat bingung.


Clark membawanya ke sebuah gedung dengan nama yang terpampang jelas di depannya.


"Kita kesini?" Clark mengangguk.


"Ya, ini syarat perjanjian kita semalam."


Matanya terbelalak.


Catatan sipil?


Jadi ... Ini maksudnya adalah...


Leona menutup mulutnya yang terperangah menggunakan telapak tangan.


__ __ __ __ __ __

__ADS_1


***Kira-kira mau ngapain ya ke catatan sipil?


Dukung yuk, kasih like komen n vote ya***


__ADS_2