Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 36 Kesabaran


__ADS_3

"Ada apa sayang?" tanya Frans yang melihat istrinya tak bersemangat pagi ini.


"Tidak apa-apa," jawab Selena pelan lalu menyendokkan sarapannya dengan malas.


"Aku perhatikan, sepertinya kamu murung setelah ngobrol sama Clark semalam? Bukankah seharusnya kamu senang karena dia sudah menemukan istrinya lagi? Apakah ada sesuatu?" selidik Frans.


Ia meraih gelas air putih didepannya lalu meminumnya habis.


"Sebenarnya, iya," Selena meletakkan sendok dan garpu ditangannya.


"Aku memang ikut senang karena Clark bisa menemukan kebahagiaannya lagi, tapi di satu sisi aku juga kecewa pada Clark," ujar Selena dengan melipat kedua tangannya diatas meja.


"Memangnya apa yang membuatmu kecewa?" dokter muda itu mengerutkan keningnya.


"Sepertinya Dia melupakan janjinya pada Paula!"


"Paula?" Frans mengingat-ingat masalah apa yang berhubungan dengan Clark dan adik iparnya itu.


Selena menghela nafasnya berat.


"Ya, aku yakin pasti Paula akan jauh lebih kecewa. Kalau tau ternyata kenyataannya Clark sudah kembali pada istrinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya jika Paula pulang nanti!" Selena meremas rambutnya frustasi.


Kini suami Selena itu baru mengerti arah pembicaraan dan kekhawatiran istri tercintanya. Dia tau bagaimana sayangnya Selena pada adik satu-satunya itu, Paula.


''Kamu tenang saja sayang, sekarang Paula sudah dewasa. Aku yakin dia bisa mengerti,'' Frans menggenggam tangan Selena menguatkan.


''Tapi kamu tau sendiri kan? Paula itu keras kepala. Aku takut dia berbuat yang tidak-tidak, Frans!"


''Jangan berpikiran seperti itu sayang. Percayalah semuanya akan baik-baik saja. Kita juga harus bisa membuatnya mengerti. Kita doakan saja yang terbaik untuk masalah Clark dan Paula ini. Aku akan membantumu.''


Selena mengangguk, ''Iya sayang, kamu benar. Kita harus ikut andil dalam masalah ini. Terima kasih!" ia memeluk suaminya.


__ __ __


"Akhh...!" pekik Leona saat dirinya hendak bangun.


Clark yang semula memeluknya ikut terbangun karena pergerakan yang Leona lakukan.


''Kenapa sayang? Masih sakit?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


Leona menggeleng pelan sambil perlahan menyandarkan punggungnya.


"Tidak sesakit saat pertama kali, hanya saja sedikit perih!" ujarnya dengan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Bertahun-tahun tidak pernah berhubungan tentu saja membuat miliknya kembali seperti seorang gadis. Apalagi selama ini Leona juga merawatnya dengan baik.


Clark tersenyum dan beranjak duduk lalu mencium pelipis Leona cukup lama.


"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu. Selamanya aku akan selalu mencintaimu !" ucapnya lalu memeluk istrinya erat.


Leona pun tersenyum dalam dekapan hangat suaminya.


"Kamu mau kemana?" tanya Clark saat Leona segera beranjak dari tempat tidurnya.


"Aku harus cepat mandi, sebelum menjemput Shofia, aku harus kerumah pemilik kontrakan dulu. Aku harus bayar sewa sebelum pemiliknya menagih kesini."


Bukannya membiarkan Leona membersihkan diri, Clark malah menarik Leona hingga kembali jatuh kedalam pangkuannya.


"Tidak usah kesana sayang, Jason sudah mengurusnya!" Clark semakin mengeratkan tangannya di pinggang Leona seraya menciumi bahu polos wanitanya.

__ADS_1


Leona mengerutkan keningnya heran, "Kapan?"


"Beberapa hari yang lalu. Sewa rumah ini sudah dibayar sampai akhir bulan ini."


"Heuh? Cuma sebulan?" Leona menatap Clark dengan senyum meremehkan.


"Memangnya kenapa?" polos.


"Aku pikir kamu banyak uang, setidaknya lunasi satu tahun atau beberapa bulan gitu?" cibir Leona tertawa kecil meledeknya.


"Hey! Memangnya siapa yang akan mengijinkanmu tetap tinggal dikontrakan sempit ini?"


Kerutan dikening Leona semakin dalam.


''Maksudmu?"


''Aku sudah menyiapkan tempat tinggal baru untuk kalian," ujarnya dengan memainkan rambut Leona lalu menciumnya.


"Maksudmu pindah? Tapi aku tidak mau pindah, Clark. Aku sudah nyaman disini dan juga sangat dekat dengan tempat kerjaku. Lagipula, Shofia juga belum tentu mau pindah dari sini," tolak Leona dengan mengalungkan tangannya manja dileher Clark.


"Sayang, disini sangat sempit. Ranjangnya kecil dan kamarnya cuma ada dua. Shofia mau tidur dimana?"


"Ya beli tempat tidur yang lebih besar saja, kita bisa tidur bersama kan?"


Clark malah berdecak, "Aku gak bisa ngapa-ngapain kamu dong kalau diantara kita ada Shofia? Lagian, kamu sangat berisik sayang, kita butuh kamar yang kedap suara buat meredam suara indahmu saat kita bermain." Ucapnya dengan mencubit dagu Leona gemas.


Blush


Godaan Clark membuat wajah Leona langsung bersemu.


Ia memang tidak bisa menahan untuk tidak mengerang saat merasakan puncak kenikmatan.


"Mau bukti kalau kamu berisik, hm?" godanya lagi kembali menelusuri leher jenjang Leona bersamaan dengan pergerakan tangan nakalnya yang mulai tak terkendali.


"Clark, kita harus kerumah sakit. Kamu juga harus segera berangkat ke kota A kan?" ucap Leona dengan menahan gejolak yang kembali menguasinya.


"Tenang saja sayang, masih ada waktu."


"Ouh Claaark!!" Leona memutar matanya malas namun pasrah dengan apa yang dilakukan Clark kepadanya.


Dan kegiatan mereka berlanjut hingga berlangsung selama dua jam berikutnya.


__ __ __


Selama perjalanan kerumah sakit, Leona terus saja mendumal.


Pasalnya Shofia sudah lama menunggu namun kedua orang tuanya tak kunjung datang.


Tapi yang jauh lebih gelisah justru Jason.


Waktu pertemuan penting di kota A itu sudah semakin mendesak. Tapi Tuannya masih saja bersantai. Senyumnya yang terus berkembang mengartikan kalau dirinya tidak ambil pusing.


Aku yang pusing!


Dumal batin Jason.


Karena jika ada masalah, dirinyalah yang akan banyak masalah.


"Sayang, Ayah pergi dulu ya. Shofia harus nurut sama Bunda, jangan capek-capek dulu ya!" pesan Clark pada putri kecilnya setelah sampai dirumah kontrakan mereka.

__ADS_1


"Tapi nanti Ayah pulang lagi kan?"


"Tentu sayang, Ayah pasti kembali. Ayah menyayangimu!" Clark memeluk dan mencium kening Shofia lama. Ia pun berpamitan pada Frida dan juga istri tercintanya.


"Sayang, jaga diri kamu baik-baik dan juga jaga Shofia. Aku akan segera kembali," Clark memeluk erat Leona seakan tak mau meninggalkan wanitanya lagi.


"Iya, cepatlah pergi. Nanti kamu terlambat. Maaf aku tak bisa mengantarmu ke bandara."


"Tidak apa-apa, kamu jaga Shofia saja!"


Clark mencium bibir Leona sekilas tanpa peduli sekitarnya. Ia kembali memeluk Leona seakan tak pernah puas.


Dan Jason semakin dongkol melihat kelakuan Tuannya.


Sudahlah, sudah cukup drama perpisahannya!


Benar-benar mengulur waktu!


Untung Bos, kalau bukan sudah kuberi SP2 dia!


Cibirnya dalam hati.


Clark sangat menguji kesabaranya.


"Jam berapa pertemuan dengan perwakilan dari Negara J itu?" tanya Clark pada sang asisten saat mereka sudah berada dalam jet pribadi yang akan membawa mereka kembali ke Kota A.


"Dua jam lagi Tuan!" jawab Jason datar.


Clark nampak terkejut. Perjalanan udara dari Kota S ke kota A saja butuh waktu dua jam lebih, belum perjalanan darat dari bandara ke kantor sekitar tiga puluh menit.


Mana mungkin mereka sampai tepat waktu.


Jason sudah mewanti-wanti kalau tiba-tiba Tuannya marah karena waktu yang terlalu mepet. Ini kan salah Tuannya!


Clark mendesah pelan, "Ah, tak apa lah. Telat satu jam saja pasti mereka mengerti. Kalau mereka marah,ya sudah batalkan saja! Aku kan bisa langsung kembali ke kota S!" ucapnya enteng.


Apa? Semudah itu?


Oh astaga, cinta sudah mengambil alih segalanya!


Jason hanya mengiyakan, padahal hatinya benar-benar dongkol.


Dia sudah bekerja sangat keras untuk mendapatkan kerja sama yang satu ini.


Kuatkan hambamu ini Tuhan!!!


Raungnya dalam hati.


________________________________


***jangan lupa dukungannya kawan...


like


komen


vote


ditunggu yaaa***

__ADS_1


__ADS_2