Kalian Milikku

Kalian Milikku
Eps 43 Merepotkan


__ADS_3

''Selamat siang nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis sopan pada wanita yang terlihat elegan datang menghampirinya.


"Em...Itu... Saya ingin bertemu dengan Tuan Clark!" jawabnya ragu, takut-takut resepsionis itu mengenalinya. Tapi sepertinya dua wanita itu tidak ingat dengan dirinya saat pertama kali datang ke perusahaan ini.


''Apa anda sudah punya janji?"


Ya, pertanyaan itu pasti akan ditanyakan.


"Em... Aku ..."


''Kakak ipar?" Royan mengejutkannya dari belakang.


''Eh, Royan?" balik menyapa.


''Sedang apa kakak disini?" tanyanya sudah terlihat panik.


''Aku ingin mengantarkan ponsel Kakakmu yang ketinggalan. Tadi dia lupa kalau ponselnya sedang di isi daya!" jawabnya dengan mengacungkan ponsel bermerk ternama milik suaminya.


Royan sudah ketar ketir, terlihat gelisah dan serba salah.


''Kamu kenapa?" Leona menelengkan kepalanya memperhatikan wajah adik ipar yang terlihat tidak baik-baik saja.


''Em, tidak apa-apa kak. Berikan saja ponselnya padaku, nanti aku yang berikan pada Kakak. Soalnya dia sedang ada meeting dengan klien," dustanya tersenyum kaku.


"Oh, begitu ya? Kalau begitu ...''


''Nona?" Jason muncul dari arah yang tak terduga.


''Ingin menemui Tuan?"


''Iya, tapi ...''


''Tuan ada diruangannya, mari saya antar!" ajaknya dengan senang hati.


Leona nampak bingung, kenapa berbeda dengan ucapan Royan?


Sedangkan Royan sendiri, ia ingin mencak-mencak dan memakan asisten sang Kakak hidup-hidup saat itu juga.


Terpaksa Royan mengikuti langkah Leona dan Jason menuju ruangan sang Kakak.


Ingin sekali ia memberi kode pada Jason, tapi tak adanya kesempatan membuatnya sulit mencegah Leona menemui suaminya.


Dan benar saja, saat pintu dibuka, Leona melihat pemandangan yang membuat siapa saja menjadi salah paham.


''Leona! Tunggu sayang!" Clark meninggalkan Paula yang masih menangis untuk mengejar istrinya.


Jason cengo, sedangkan Royan sudah terkulai lemas karena kecemasannya sudah terlanjur terjadi.


''Sayang dengarkan aku!" pinta Clark dengan meraih tangan Leona. Wanita itu menghentikan langkahnya dengan mata berkaca-kaca. Hatinya merapalkan doa semoga ini tidak seperti yang ia takutkan, tapi yang dilihatnya tetap saja membuatnya sakit hati.


''Apa yang kalian lihat, lanjutkan pekerjaan kalian!" Beberapa orang karyawan yang melihat adegan itu langsung dibubarkan oleh Jason.


''Aku bisa jelaskan sayang!" rayu Clark selembut mungkin.


Leona belum bisa berkata-kata. Pikiran dan hatinya masih mencerna kejadian yang baru saja ia lihat.


''Jadi wanita pengkhianat ini yang sudah membodohimu?" seloroh Paula kesal dengan menyusul mereka.


''Jaga ucapanmu Paula, dia istriku!" bentak Clark dengan emosi.


Paula mendengus dengan tersenyum sinis, ''Hanya karena demi dia kamu tega membentakku? Kamu jahat!!" ucapnya kemudian pergi dengan luka mendalam dalam dihatinya.


Clark melihat kepergian Paula dengan memijit pangkal hidungnya, dari dulu Clark memang tidak pernah kasar dan selalu memanjakan gadis itu.


''Royan, kejar Paula. Jangan sampai dia melakukan hal yang tidak-tidak!" titah Clark yang langsung diangguki oleh sang adik.


Leona menatap Clark penuh tanya.


Siapa gadis itu sebenarnya? Kenapa Clark sangat mengkhawatirkannya? Batin Leona.


Lantas ia menepis tangan Clark dan berniat pergi. Namun gerakan Clark lebih cepat dengan kembali meraih tangan istrinya dan dibawa masuk kedalam ruangannya.


Dengan malas, Leona menjatuhkan tubuhnya disofa saat suaminya memintanya untuk duduk. Jason masuk membawakan minuman lalu kembali keluar meninggalkan mereka berdua.


''Kamu punya lima menit untuk menjelaskan!" ujar Leona buka suara.


''Minumlah dulu sayang, lima menit tidak akan cukup untuk menjelaskan semuanya. Tenangkan dulu dirimu."


Leona patuh.


Ia tidak bisa egois dan berspekulasi sendiri. Setiap masalah pasti ada penjelasannya. Dan ia butuh penjelasan itu.

__ADS_1


Clark tau kalau sang istri masih marah saat wanitanya itu enggan untuk ia peluk. Dengan lembut dan sabar, Clark memberinya pengertian tentang hubungannya sejauh apa dan sedekat apa dengan Paula.


Ya, sejak dulu Clark hanya menganggapnya sebagi adik.


''Lalu bagaimana sekarang? Dia pasti terluka dan sangat kecewa padamu!" ujar Leona khawatir dengan bersandar didada sang suami.


Ternyata Clark berhasil meyakinkannya.


''Aku rasa semuanya akan baik-baik saja,'' jawab Clark dengan memeluk wanitanya dari belakang.


''Tidak semudah itu Clark!" Leona menegakkan duduknya dan beralih menatap sang suami.


''Aku tau bagaimana rasanya patah hati, dan segala kemungkinan bisa saja terjadi disaat seseorang merasakan kehancuran dihatinya!"


Clark tersenyum kecil dengan menyentuh pipi mulus istrinya, ''Terima kasih sudah mengkhawatirkan Paula. Tapi kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Ada Royan yang mengawasinya.''


Leona mengangguk dan mencoba untuk berpikiran positif. Tidak semua orang seperti dirinya yang ingin mengakhiri hidup karena patah hati.


Namun sesaat kemudian, tiba-tiba Clark tersadar sesuatu.


''Eh, kenapa Royan ada disini ya? Bukankah kemarin dia pulang ke Kota A?" gumam Clark dengan mengusap dagunya sambil berpikir.


''Mana ku tau, tadi aku bertemu dengan dia saat di lobi."


_ _ _


Di tempat lain.


''Lepasin Roy!" teriak Paula saat Royan mencekal tangannya dan menariknya untuk menepi.


''Jangan gila kamu ya, bisa-bisa kamu tertabrak jika berada ditengah jalan raya seperti ini!" bentak Royan.


''Aku tidak peduli! Tanpa Clark, hidupku tak ada artinya lagi!" gadis itu kembali menangis terdedu-sedu.


Dasar bucin! cibir Royan dalam hati.


"Sudahlah, jangan sia-siakan hidupmu yang berharga itu. Jangan bodoh, memangnya laki-laki cuma Clark apa?"


"Diam kamu Roy! Kamu tidak akan mengerti!" bantah Paula.


Royan menghela nafas kasar, dia memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Jadi dia tidak akan mengerti.


Baginya, one night stand saja sudah membuatnya puas.


"Tidak mau!" bentak Paula.


"Hey, Aku malu! Orang-orang akan menyangka aku yang membuatmu seperti ini. Kamu ingin jadi tontonan, hah?" kembali kesal.


Paula baru sadar, banyak orang disekitarnya yang berbisik dan menatapnya aneh.


Lantas, ia pun patuh saat Royan membawanya untuk pergi.


"Hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu!" ujar Royan yang sedang dalam mode baik.


"Tidak akan!" jawab Paula seraya membanting pintu hotel yang baru saja dipesankan oleh Royan.


"Heh, gadis sialan!" terperanjat kaget dengan mengusap dadanya.


"Dasar, setidaknya ucapkan terima kasih. Awas saja kalau kau butuh, aku tak peduli!" umpat Royan dengan menendang kecil pintu kamar hotel didepannya.


"Awasi Paula selama berada disini. Kabari aku jika terjadi sesuatu padanya!" titah Royan pada anak buahnya.


"Baik Tuan!"


_ _ _


Hari pun berlalu.


Setelah puas seharian menangis didalam kamarnya, malam itu Paula keluar dengan mata yang masih sembab. Hidungnya merah dan tatapannya sayu.


Ia mendatangi sebuah club yang tidak jauh dari hotel.


Dipesannya minuman beralkohol tinggi untuk mengurangi rasa sedihnya.


Gadis itu meracau, mengumpat dan memaki Clark dan sesekali ia menangis.


Paula sudah mabuk parah.


Drrt drrt drrt


Royan yang baru saja ingin memejamkan mata langsung bangun saat anak buahnya memberi info.

__ADS_1


"Apa? Dia mengamuk dan membuat kekacauan?"


"Iya Tuan, nona Paula mabuk berat!"jawab anak buahnya.


"Baiklah, tahan dia dulu. Aku akan kesana!"


Tit


Panggilan pun diputus.


Royan segera memakai baju dan menyambar jaket yang tergeletak disofa apartemennya.


"Sial! Merepotkanku saja!" gerutu Royan saat mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.


Didalam Club, Royan menggelengkan kepala melihat Paula yang sudah terkulai tak berdaya diatas sofa dengan seorang anak buahnya yang berdiri tak jauh untuk menjaganya.


"Ini kerugian yang nona itu lakukan Tuan!" Royan menerima selembar kertas dengan rentetan tulisan yang disodorkan manager club.


"Gila! Yang benar saja, kenapa bisa sebanyak ini?" protes Royan melihat nominal ganti rugi yang harus ia bayar.


"Benar Tuan, selain menghancurkan beberapa properti kami, Nona ini juga melukai karyawan saya yang mencoba menenangkannya!"


Royan mengusap wajahnya gusar, selain menyusahkannya, Paula juga menguras isi dompetnya.


"Paulaa, Paulaa! Dasar gadis bodoh!"


Setelah selesai dengan urusan club, Royan memapah tubuh lemah Paula untuk ia bawa kembali ke hotel tempatnya menginap.


Benar-benar merepotkan!


Aku tidak mau tau, Clark harus mengganti semua kerugianku!


Umpat Royan dalam hati.


Brugh


Royan menjatuhkan tubuh Paula di tempat tidur. Ia mengatur nafasnya yang tersengal karena kelelahan memapah wanita mabuk yang kesulitan untuk berjalan.


"Awas kamu ya, sekali lagi membuatku susah, aku kirim kau ke antartika!" ancam Royan menunjuk Paula yang terpejam dengan kesal.


Namun saat ia ingin pergi, tiba-tiba Paula terbangun dan menarik tangannya.


"Jangan pergi! Aku mohon!" ucapnya lirih dengan mata yang sedikit terbuka.


"Heh, sadarlah!" Royan menepis tangan Paula dan beranjak pergi.


Namun Paula bangkit, ia berlari dan memeluk Royan dari belakang.


Deg


Royan terkejut dengan sikap Paula yang tiba-tiba merengek dan mengiba padanya.


"Jangan tinggalkan aku, aku mohon, aku ingin bersamamu!"


Tiba-tiba pula, jantung Royan mulai berpacu. Ia memutar badan menatap mata sayu Paula yang terus memohon padanya.


"Paula, hey sadarlah bodoh!" ia menepuk-nepuk pelan pipi gadis yang masih setia melingkarkan kedua tangan dipinggangnya.


"Aku mencintaimu, aku menginginkanmu!"


Royan membulatkan matanya saat mendapat serangan tiba-tiba dari wanita mabuk dihadapannya.


Paula mencium bibirnya penuh hasrat yang membuat naluri nakal Royan begitu mudah terpancing.


Paula mendesah dan menggeliat saat tangan Royan mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh rampingnya.


Menyadari tindakannya adalah sesuatu yang salah, Royan terpaksa menyudahi kegiatannya.


Tidak! Ini tidak benar!


Royan melangkah mundur dan memutuskan untuk pergi menghindar. Jika dilanjutkan, ia tau apa yang selanjutnya akan terjadi.


Namun lagi-lagi Paula menahannya. Dan entah sejak kapan gadis cantik itu sudah menanggalkan pakaiannya.


Arghkkk... Sial! umpat Royan frustasi melihat penampakkan makhluk indah tepat didepan kedua matanya.


Bersambung


____€€€____€€€____


Jangan lupa Like n komen.

__ADS_1


Yang sudah ngasih hadian, terimakasih sekali... hehehe


__ADS_2