
Seharian itu, Clark benar-benar memanfaatkan waktu luang yang Jason atur untuknya, dengan menghabiskan waktu bersama Shofia.
Mulai dari makan bersama, bermain game di pusat perbelanjaan hingga berbelanja keperluan Shofia. Dan Clark juga membelikan sebuah ponsel agar mempermudahnya untuk berhubungan dengan sang putri kesayangan.
Hari mulai gelap.
Didepan sebuah gang, Jason memarkirkan kendaraan mewah yang seharian ini membawa Shofia pergi. Ia membukakan pintu untuk Clark yang tengah menggendong Shofia dalam keadaan terlelap karena lelah.
Tak hentinya Clark tersenyum memandangi wajah imut Shofia yang sedang tidur pulas dalam gendongannya.
Namun seketika langkahnya terhenti dan senyumnya pun memudar.
Di hadapannya saat ini tengah berdiri seorang wanita cantik yang berkacak pinggang dengan wajah yang merah padam menahan emosi.
O ow ... Dia marah!! Batin Clark.
Jason yang berdiri dibelakangnya dengan membawa belanjaan Shofia pun hanya menahan tawa.
"Bibi, bawa Shofia masuk!" titah Leona saat Frida menghampirinya yang tengah berdiri didepan pintu.
Tanpa berkata-kata, Frida lekas menghampiri Clark dan mengambil alih Shofia yang masih setia memejamkan mata.
Jason pun meletakkan belanjaan yang ia bawa di depan pintu sebelum pamit untuk kembali ke ke tempat pemarkiran.
"Apa maksud kamu membawa Shofia pergi dari sekolah sampai hari gelap begini? Bahkan kamu tidak memberi kabar sama sekali!" Leona emosi.
Clark bisa mengerti dengan kegelisahan yang wanita cantik itu rasakan, pasti Leona kalang kabut seharian ini karena takut dia akan membawa kabur Shofia.
Siang tadi Jason menerima telepon dari kepala sekolah Shofia mengenai Leona yang menanyakan keberadaan putrinya yang tak kunjung pulang.
"Maaf Leona," ucap Clark seraya mendekati Ibu dari anaknya. " Aku merindukan Shofia. Dan aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya."
"Dengan cara bolos sekolah? Kau ingin Shofia jadi bodoh, hah?"
Mendengar Leona yang marah seperti itu membuat Clark menahan tawa.
"Kenapa tertawa? Kau sengaja ingin membuat Shofia jadi bodoh begitu?"
Kali ini Clark tidak bisa menahan tawanya.
"Leona, dengan bolos sehari saja tidak akan menjadi bodoh. Shofia itu anakku, sudah pasti dia sangat pintar seperti aku!"
Sombong sekali! Cibir Leona dalam hati dengan memalingkan wajahnya.
Walaupun begitu, dia tidak memungkiri kalau kepintaran Shofia diturunkan dari ayahnya.
"Jason sudah susah payah mengatur jadwal mengosongkan waktu untukku, kasian kan jika aku melewatkannya?"
"Siapa peduli dengan jadwalmu itu? Kau ingin merebut Shofia dariku kan?" Leona mendorong Clark.
"Kau ingin memisahkan aku dengan Shofia? Belum puas kau menyakiti aku, hah?" Leona menangis.
Melihat itu membuat Clark menjadi bingung. "Tidak Leona, kau salah paham. Aku tidak___"
"Cukup! Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi. Jauhi Shofia, dia bukan anak mu!"
Leona meninggalkan Clark dan masuk kerumah dengan membating pintu.
Clark mengacak rambutnya gusar. Lagi-lagi Leona salah paham terhadap dirinya.
Menjelaskan sekarang pun tak mungkin, Leona sedang emosi. Dia tak mungkin mendengarkan.
Clark pun memilih membiarkan Leona menenangkan diri.
Dan didalam sana, Leona tengah menangis dengan bersandar didaun pintu. Dia benar-benar takut akan kehilangan Shofia.
Sudah cukup penderitaannya selama ini, Leona tak mau semakin menderita jika harus berpisah dari Shofia.
"Aku tidak akan membiarkan Clark mendekati Shofia lagi," gumam Leona disela isak tangisnya yang ternyata didengar oleh sang putri yang terbangun karena keributan yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Bunda, kenapa Bunda usir Ayah? Kenapa Ayah gak boleh ketemu Fia lagi?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Leona terkejut dengan keberadaan Shofia yang tiba-tiba mendekatinya.
"Sa, sayang ... Bunda___"
"Bunda jahat!" Shofia berlari masuk ke kamar dan menangis.
Lihatlah Clark, kau berhasil membuat Shofia membenciku!
Air matanya kembali luruh.
Inilah yang Leona takutkan, dia takut Shofia akan bergantung pada Clark. Dan sepertinya hal itu mulai ia rasakan.
Aku harus menghentikannya. Jangan sampai Clark melangkah terlalu jauh!
Dari arah dapur Frida mengejar Shofia kedalam kamar. Ia mencoba menenangkan dengan memberi penjelsan.
Namun sepertinya itu tidak mempan, yang Shofia inginkan adalah ayahnya.
Berulang kali Frida ingin menceritakan apa yang ia dengar dari Clark. Tapi Leona selalu menolak jika membicarakan tentang pria yang dulu menghancurkan kehidupannya.
Lagipula, Frida juga belum punya bukti jika yang diceritakan Clark saat itu adalah benar.
Dia jadi bingung sendiri.
_ _ _
Tap tap tap
Leona berjalan cepat saat memasuki perusahaan yang cukup besar dikotanya.
"Dimana ruangan bos kalian?" tanyanya pada dua orang receptionis tanpa basa-basi.
"Anda siapa? Apakah Anda sudah membuat janji?" mereka menatap penampilan Leona dari atas sampai bawah.
"Belum," jawabnya singkat.
"Maaf Nona, Anda harus membuat janji dulu. Lagipula beliau sedang ada rapat."
"Ya aku tau. Kalau begitu, berikan saja ini padanya."
Kedua wanita itu terperangah saat Leona memberikan beberapa paperbag pada mereka.
Apa-apaan sih wanita ini?
Gumam mereka dalam hati.
Namun belum selesai keterkejutan mereka dengan apa yang Leona lakukan, Leona menarik kembali paperbag yang ia berikan.
"Maaf, gak jadi," lantas ia malah berlari menuju lift. Karena disana ia melihat orang yang sedang ia cari.
"Hei Nona, Anda tidak boleh masuk sembarangan!" teriak receptionis yang di abaikan Leona.
Wanita cantik yang nampak kerepotan dengan barang bawaannya itu lari tergopoh-gopoh menuju lift.
Namun ia terlambat. Pria yang diikuti beberapa orang dibelakangnya itu nampak sedang membahas sesuatu, hingga tak menyadari kehadirannya.
"Sial, dia keburu masuk!" Leona lekas masuk kedalam lift.
"Security, tangkap wanita itu!" teriak sang receptionis panik.
Sebelum pintu tertutup, masih sempat-sempatnya Leona meledek petugas keamanan itu dengan menjulurkan lidahnya.
"Wleekk...!"
Cepat-cepat Leona menekan tombol ke lantai yang sama seperti lift sebelahnya yang membawa Clark naik.
Ting
__ADS_1
Pintu lift terbuka, tapi Leona bingung harus melangkah kemana. Ia kehilangan jejak Clark.
"Hayo, kena kamu ya! Ayo ikut saya!" seru security yang berhasil menangkapnya.
Leona meronta, "Lepasin, aku gak mau pergi!"
Dengan sekuat tenaga, Leona menghempaskan tangan security dengan kasar dan mendorongnya hingga terjatuh.
Bar-bar juga ya ini perempuan!
Keributan itu sontak mengundang perhatian dan menjadi tontonan semua karyawan yang ada di lantai lima belas perusahaan itu.
"Jangan macam-macam kamu ya, saya laporkan kamu ke polisi jika membuat onar disini!" ancamnya.
"Laporkan saja, aku tidak takut!" tantang Leona.
Dan tarik-menarik pun kembali terjadi. Petugas keamanan tidak mau membiarkan wanita itu tetap disana, sedangkan Leona terus meronta melakukan penolakan.
"Nona Leona?"
Seketika hening.
Para karyawan segera berbalik menuju kubikel masing-masing untuk kembali pada pekerjaan mereka.
"Tuan!" sapa sang Security dengan membungkuk hormat.
"Ada apa ini?"
"Dia wanita bar-bar pembuat onar yang memaksa menerobos masuk Tuan," jawabnya masih mencekal tangan Leona.
"Lepaskan dia!" titahnya yang langsung dituruti.
Leona cemberut dengan memegangi pergelangan tangannya yang sakit.
Orang itu mengibaskan tangan menandakan petugas keamanan itu boleh pergi.
"Ada apa Nona Leona datang kemari? Kenapa Anda tidak telepon saya saja untuk di jemput?" tanyanya sopan.
Telepon kepalamu?
Memangnya aku punya nomer hp mu?
"Aku ingin bertemu Clark!" jawabnya kesal.
"Baiklah, silahkan ikut saya!"
Masih dengan wajah cemberut Leona mengikuti pria itu yang tak lain adalah Jason, asisten pribadi Clark.
Tok tok
"Tuan?"
Terdengar perintah masuk dari dalam ruangan didepan mereka.
Ceklek
"Keributan apa itu Jas?" tanya Clark tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop dihadapannya.
"Itu Aku!" Leona yang menjawab.
Mendengar suara yang amat ia kenali, Clark segera menoleh.
Ia terkejut dan bangun dari kursi kebesarannya.
"Leona?"
__ __ __ __ __ __
like n komen dulu ya
__ADS_1