
** Mohon maaf atas keterlambatanya. Saya masih dalam masa pengobatan. Mohon dimaklum.
Selamat membaca...**
________________________________
Clark melajukan kendaraannya lebih cepat dari biasanya. Ia nampak cepas sama halnya dengan wanita disampingnya yang terlihat sangat panik.
"Tenanglah sayang!" ia menguatkan dengan menggenggam tangan wanitanya menggunakan salah satu tangannya. Padahal dirinya pun tengah merasakan hal yang sama.
Setelah sampai, mereka berdua bergegas menuju ruang rawat inap Shofia dengan tergesa-gesa.
"Sayang?" Leona langsung menghambur memeluk putri tercintanya.
"Bundaaa," gadis itu mengangkat kedua tangannya menyambut dekapan sang Bunda.
"Ada apa Bi? Apa dokter sudah memeriksa keadaan Shofia?" tanya Clark dengan wajah cemasnya.
"Tenanglah, dokter bilang Shofia tidak apa-apa. Tadi Shofia syok dengan mimpinya sendiri.''
Clark memutari ranjang Shofia dan ikut memeluk dari arah sebaliknya.
"Memangnya Fia mimpi apa?" tanya Clark lembut.
"Fia mimpi dipisahin sama Bunda, Fia takut!" gadis kecil itu masih terisak.
"Bunda gak akan pernah ninggalin kamu sayang!" Leona mengecup puncak kepala Shofia.
"Fia tenang aja, Ayah gak akan biarin siapapun misahin kalian berdua. Ayah akan menjaga kalian!"
Leona menatap haru kearah suaminya.
Hal seperti inilah yang ia inginkan sejak dulu.
Setelah tenang, Shofia bisa tersenyum lagi dan bisa bercanda dengan sang Ayah yang selalu dirindukannya.
Leona hanya memperhatikan interaksi dua orang yang disayanginya sambil tersenyum.
Sepertinya bercanda dengan Shofia mampu membuat Clark melupakan kekecewaannya saat dirumah tadi.
Drrt drrt drrt
Clark menghentikan tawanya lalu meraih ponselnya didalam saku celana.
''Ada apa Jas?" tanya Clark datar.
''Besok ada pertemuan dengan petinggi perusahaan MC Grup dari Negara J di kota A,Tuan!" Jason memberi kabar.
''Kenapa mendadak sekali?"
''Maaf Tuan, sepertinya mereka ingin mempercepat kerja sama kita. Dan Tuan Royan tidak punya wewenang tentang kerjasama ini.''
Clark menghela nafas sambil memijit pangkal hidungnya. Baru saja dia memperbaiki hubungan dengan wanita yang dicintainya. Bayangan-bayangan kegiatan beberapa saat lalu masih melayang dipikirannya.
Pasalnya, Clark belum mendapatkan haknya sebagai suami.
Tetapi, kerja sama itu juga sangat penting.
''Ya sudah, suruh Royan datang kesini. Biar dia yang urus persiapan pembukaan Rumah Sakit."
''Baik Tuan!"
Panggilan pun terputus. Leona bisa melihat Clark yang nampak kecewa. Pria itu kembali menatap putrinya dengan senyum yang dipaksakan.
"Ada apa? Kamu ada masalah?"
Clark beranjak dari ranjang Shofia, ia meninggalkan putrinya untuk bermain sendiri dengan bonekanya.
"Aku harus kembali ke kota A!" jawab Clark lemah sambil mendudukkan tubuhnya disamping Leona.
"Kalau begitu, bersiap-siaplah. Aku akan membantumu.''
"Tapi aku tidak mau ke kota A, aku ingin bersamamu." Ujarnya dengan memeluk pinggang Leona dan merebahkan kepalanya dibahu istrinya manja.
"Memangnya berapa lama?" Leona mengusap pipi suaminya.
"Entahlah, pekerjaanku di kota A juga sangat banyak. Apalagi Royan tidak bisa diandalkan sepenuhnya."
Royan? Siapa dia?
__ADS_1
Sepertinya aku baru mendengar nama itu!
Clark beralih menciumi leher mulus wanitanya.
"Clark, jangan seperti ini. Kamu lupa kalau aku belum mandi?"
"Tapi kamu wangi,'' ia tak mengindahkan ucapan Leona.
''Itu kan karena kamu yang suruh aku pakai parfum yang banyak!" ucap Leona geram.
Clark terkekeh dan malah semakin mengeratkan pelukannya dengan terus menciumi leher Leona.
"Clark, sudah! Ada Shofia!"
"Biarkan saja, dia sedang bermain!"
Leona memutar matanya jengah, walaupun ia mengerti dengan perasaan Clark, tapi tidak didepan putrinya juga kan?
Dan kedatangan dokter dan perawat membuat Leona menghela nafas lega karena Clark bisa menghentikan kegiatannya walaupun terpaksa.
"Shofia sudah lebih baik, besok boleh pulang!"
Leona merasa lega karena tidak harus berada dirumah sakit lagi.
Walaupun tempat dan pelayanannya sangat baik, tetap saja Shofia merasa tidak betah. Apalagi Leona juga sudah merasakan hal yang sama. Ia juga merindukan pekerjaan dan teman-temannya.
Sore hari, Frida kembali masuk ke ruangan Shofia setelah menyempatkan diri untuk pulang membersihkan diri.
Clark yang duduk disofa nampak sibuk dengan gawai dan laptopnya yang baru saja dikirimkan Jason ke rumah sakit. Sedangkan Leona tengah menyisir rambut putrinya yang baru saja selesai dibersihkan dan mengganti pakaian.
''Clark, kamu tidak kembali ke kantor?" tanya Frida yang heran karena Clark masih berada disana. Lantas ia duduk disebelah Clark.
"Oh, tidak Bi. Aku ingin menghabiskan waktu disini. Karena besok aku harus kembali ke kota A."
"Kamu akan kembali ke kota A?" Frida terkejut. Dia serasa mengingat kejadian dimana kesedihan Leona berawal.
"Iya Bi, ada yang harus ia urus sendiri disana." Leona yang menjawab.
Leona beranjak mendekati sofa dan duduk disisi lain samping Clark.
"Tapi kamu akan kembali kan?"
Clark tersenyum menanggapi ekspresi Frida yang terlihat khawatir, ''Bibi tenang saja, aku pasti kembali. Kalau perlu, aku akan membawa Leona kesana." Clark meraih tangan Leona untuk ia genggam. "Hanya saja aku tidak tega pada Shofia. Kalau saja Shofia tidak sedang sakit, aku pasti mengajak mereka." Clark mencium tangan yang ia genggam.
Melihat itu, Frida nampak tenang. Nampaknya mereka sudah meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
Ia yakin kalau Clark tidak mungkin meninggalkan Shofia dan Leona.
Semoga kali ini tidak akan terjadi kesalahpahaman lagi, begitu doanya.
Hari mulai gelap.
Setelah makan malam bersama dengan menu makanan yang Clark pesan, ketiga orang dewasa itu berbincang-bincang ringan setelah Shofia tertidur.
Namun Leona nampak tidak nyaman. Pasalnya dia kan belum mandi!
"Kamu kenapa?" tanya Clark dengan menyibakkan rambut Leona kebelakang telinganya.
"Gerah, badanku udah gak enak banget. Pengen mandi!" jawab Leona dengan mengibas-ngibaskan tangannya didepan leher. Padahal ruangan itu menggunakan pendingin.
"Kamu mau mandi disini? Aku akan suruh orang membelikan baju ganti untukmu," tawar Clark.
"Tidak usah, aku tidak biasa mandi dirumah sakit,'' Leona menolak.
Clark membantu Leona menggulung rambutnya keatas. Namun tanpa diduga, tiba-tiba saja Clark mencium leher Leona karena tidak tahan melihat leher jenjang nan mulus milik istrinya.
Sontak saja Leona terkejut. Apalagi disitu ada Frida yang juga melihatnya.
Wanita paruh baya itu membuang muka lalu berdehem. Hal itu membuat Clark menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia malu karena lupa kalau ada orang lain diruangan itu.
Leona selalu bisa membuatnya lupa diri.
"Kapan kamu berangkat Clark?" tanya Frida.
"Em, besok saja Bi,'' jawabnya sedikit canggung.
''Apa kamu tidak akan terlambat? Aku pikir kamu akan berangkat malam ini,'' ujar Leona.
"Ada Jason yang mengatur semuanya. Aku ingin menyempatkan mengantar Shofia pulang. Aku khawatir dia akan mencariku kalau aku tidak berpamitan padanya.''
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kalian pulang dan istirahat. Malam ini biar Bibi saja yang menjaga Shofia,'' ujar Frida.
"Tapi Bi, aku takut Shofia terbangun saat tengah malam dan mencariku.''
"Kamu tenang saja Leona, Bibi pastikan kejadian seperti tadi siang tidak akan rerulang lagi,'' ucapnya dengan mengedipkan matanya kearah Clark.
Ya, selain setia, Frida juga pengertian.
Clark berjanji akan memberikan wanita paruh baya itu imbalan yang sangat pantas atas kesetiaannya selama ini menjaga dua wanita yang dicintainya.
"Pulang ke apartemenku saja ya, jaraknya kan lebih dekat dari rumah sakit," ujar Clark saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Pulang ke kontrakanku saja Clark!"
''Kenapa? Apartemen itu juga milikmu sekarang.''
''Tidak apa-apa, hanya saja rasanya masih canggung jika aku menginap disana,'' jawabnya gugup. ''Lagipula, aku tidak ada baju ganti ditempatmu,'' Leona tersenyum kaku.
''Baiklah, aku ikuti kemauan istriku saja.''
Blush
Leona tersipu.
Padahal cuma kata Istriku , tapi entah kenapa ia merasa jantungnya berdebar.
Akhirnya, Clark hanya mengambil baju ganti miliknya kemudian melanjutkan perjalanan ke arah kontrakan Leona.
"Kamu mandi saja dulu Clark, aku akan membuatkan minuman dulu untukmu," titah Leona yang diangguki suaminya.
Clark meletakkan ponsel dan jaketnya diatas meja sebelum memasuki kamar mandi.
Selang beberapa saat, ponsel Clark berdering. Dan pemiliknya bisa mendengarnya.
"Sayang, tolong lihat poselku. Sepertinya ada yang telepon!" teriak Clark dari dalam kamar mandi.
Leona pun beranjak dari dapur dan meraih ponsel milik Clark.
"Siapa sayang?" tanya Clark lagi saat keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Leona tak menjawab, ia hanya menyodorkan ponsel itu pada pemiliknya. Raut wajah Leona sudah berubah masam.
Dia kenapa?
Gumam Clark yang melihat Leona berlalu begitu saja setelah memberikan ponselnya.
Dan setelah melihat nama yang tertera di layar depan, Clark baru paham kenapa Leona terlihat tidak suka.
"Halo Selena!" ucap Clark yang sengaja meloadspeaker panggilannya.
"Halo Papa Clark!" terdengar sangat jelas suara wanita dewasa yang dibuat seperti suara anak kecil.
Papa Clark??
Leona terkejut mendengarnya.
Ia terlihat sangat kesal saat Clark mengganti panggilan teleponnya menjadi panggilan video call.
Ia semakin geram ketika layar ponsel Clark menampilkan seorang wanita cantik dengan seorang anak kecil yang berusia sekitar satu tahun.
"Halo sayang!" sapa Clark dengan senyumnya yang mengembang.
"Halo Papa, kapan Papa pulang?" tanya wanita itu masih memakai suara khas anak kecil.
Sayang?
*Papa?
Apa-apaan ini*?
Jangan-jangan ini alasan sebenarnya dia kembali ke kota A?
Batin Leona dengan mengepalkan tangannya kuat.
_______________________________
bersambung
Dukung terus yaaa, ditunggu vote nya...
__ADS_1