
"Bibi, Bunda sama Ayah mau kemana sih?" tanya Shofia yang sudah kembali berbaring di tempat tidurnya.
"Ayah sama Bunda mau beresin sesuatu Nak," jawab Frida sembari membetulkan selimut yang menutupi tubuh gadis kecil yang kini terlihat lebih segar.
"Beresin apa sih, Bi?" penasaran.
"Emm, pokoknya sesuatu yang akan membuat Shofia bahagia. Nanti Bibi kasih tau deh, tapi sekarang Fia istirahat lagi ya. Biar cepet sehat!" ujarnya dengan melipat tangannya yang mengepal seperti binaragawan.
Shofia jadi tertawa dengan menampilkan gigi-giginya yang kecil dan juga putih.
Semoga yang aku lakukan adalah keputusan yang tepat.
Ucap batin Frida seraya mengusap kepala Shofia yang baru saja terlelap karena pengaruh obat.
_ _ _
"Turunlah!" Clark membukakan pintu untuk Leona setelah mobilnya memasuki basement salah satu apartemen di kota S.
"Tidak usah, aku tunggu disini saja." Tolaknya dengan tetap duduk tenang di dalam Lexus LC milik Clark.
"Turunlah, kamu bisa pingsan karena bosan. Lagipula, disini sangat sepi. Akan sangat berbahaya kalau kau menunggu disini sendirian."
Leona tak bergeming.
Akan lebih berbahaya jika aku harus ikut bersamamu!
Menyadari kekhawatiran wanita didepannya, Clark meyakinkannya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya menatap Leona.
"Kamu tidak perlu takut, ditempatku ada asisten rumah tangga. Percayalah, aku tidak akan berbuat macam-macam."
Leona menghela nafas pelan. Dengan terpaksa ia mengikuti ajakan Clark.
Sebenarnya dia juga takut jika tetap berada di parkiran yang sangat sepi seorang diri.
Ting
Lift terbuka dilantai lima.
Pandangan mata Leona menyapu tiap sudut apartemen tempat tinggal Clark saat ini.
Mengingat kota S tidak semodern seperti di Ibu kota, namun dari beberapa apartemen yang ada, tempat inilah yang terbaik disini.
"Silahkan masuk!" Clark mempersilahkan Leona untuk masuk lebih dulu.
Dua orang asisten rumah tangga menyambut mereka dengan senyum yang mengembang.
"Selamat datang Tuan, Nona!"
Leona hanya mengangguk dengan membalas tersenyum pada mereka.
Dalam hatinya, Leona berdecak kagum. Clark sangat pandai memilih tempat.
Dalam sekejap saja ia merasa nyaman berada disana.
"Duduklah, aku mandi dulu. Ini tidak akan lama."
Leona kembali mengangguk dan menduduki sofa empuk diruang tengah.
Ia memperhatikan Clark yang berbicara dengan pelayannya kemudian berlalu menuju sebuah pintu besar yang ia yakini adalah kamar Clark.
"Nona, silahkan di minum teh nya," ucap salah satu pelayan yang meletakkan secangkir minuman dihadapannya.
"Eh, iya . Terima kasih."
Leona segera menyesap minuman hangat itu hingga menyisakan setengahnya. Sejujurnya ia lapar. Sejak dari rumah sakit, belum ada makanan apapun yang mengisi perut datarnya.
Lima belas menit berlalu, Clark keluar kamar dengan wajah yang lebih segar. Tingkat ketampanannya semakin naik setelah mandi.
__ADS_1
Jangan lupa aroma maskulin khas pria itu, Leona sampai malu sendiri jika mengingat aroma itu.
Dari dulu, pria itu memang selalu wangi. Tapi aromanya berbeda dengan saat ini.
Clark yang mengenakan kemeja berwarna putih bersih dan celana bahan berwarna hitam itu mendekati Leona yang duduk di sofa sendirian.
Kenapa dia rapih sekali?
Sebenarnya dia mau mengajakku kemana sih?
Hatinya bertanya-tanya.
"Makanannya sudah siap, Tuan!" ujar pelayan yang mendekati mereka ke arah sofa.
Clark hanya mengangguk.
"Apa Jason sudah membawakan pesananku?" tanya nya pada pelayan.
"Sudah Tuan, ini titipan Tuan Jason."
Clark menerima paperbag dari tangan pelayan dan langsung diberikannya pada Leona.
"Apa ini?" tanya Leona dengan melihat isi paperbag yang kini berada ditangannya.
"Baju?" lanjutnya dengan sedikit mengangkat isi paperbag itu.
"Iya, ganti bajumu dengan yang itu."
Leona menatap Clark bingung, "Memangnya apa yang salah dengan bajuku yang ini?" protesnya tak terima.
Atasan kaos berwarna marun yang sedikit pudar dengan berbalutkan cardigan hitam dan celana jeans berwarna biru muda.
Tidak ada yang salah menurutnya.
"Memang tidak ada yang salah. Tapi aku yang ingin kamu memakai baju itu."
"Sudahlah, cepat ganti baju sana. Hanya mengganti baju saja, celananya tidak usah. Aku tunggu dimeja makan." Clark mendorong Leona agar masuk kekamarnya.
Apaan sih dia?
Pake baju aja harus sesuai kemauan dia!
Harusnya ini tidak ada dalam perjanjian!
Leona terus menggerutu saat memasuki kamar Clark. Walaupun pada akhirnya ia menurut juga.
Dan aroma yang sangat ia sukai lebih kuat saat berada didalam kamar yang ditata rapi dan didominasi warna putih itu.
Ah.. Leona hampir terlena.
Namun kesadarannya menolak kuat untuk berlama-lama didalam sana.
Setelah beberapa menit Leona keluar dan mendekati Clark yang sudah menunggunya di meja makan.
Seketika Clark terpesona dengan menggantungkan gelas yang hampir menyentuh bibirnya.
Melihat Leona yang datang dengan kemeja putih bersih seperti yang ia kenakan.
Kemeja yang sangat pas ditubuhnya. Lengan seperempat dan bagian pinggang yang membentuk lekuk tubuhnya.
Dengan menyisakan dua kancing dibagian atas, membuat Clark menelan salivanya dengan berat.
Tubuh gemulai itu pernah dimilikinya. Namun setelah beberapa tahun terpisah, tentu saja rasanya seperti pertama kali melihatnya.
Leona mendekat dan ikut mendudukkan dirinya di kursi meja makan.
"Jangan melihatku seperti itu, aku berasa seperti orang yang mau melamar kerja. Untung saja kamu tidak memberiku rok span pendek."
__ADS_1
Clark terkekeh, ia meletakkan kembali gelas air mineralnya yang belum sempat ia minum.
"Jangan berpikiran seperti itu, kau terlihat sangat cantik, Leona!"
Blush
Wajahnya merona seketika.
Sedikit menunduk, malu-malu ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Ada apa dengan diriku?
Kenapa aku suka dengan ucapannya tadi?
Hatinya terasa berbunga-bunga.
Namun sepersekian detik kemudian, ia kembali mendongak menatap Clark yang masih memandangnya dengan tersenyum manis.
Tidak Leona!
Tidak!
Jangan tertipu bibir manisnya!
"Berhentilah tersenyum, wajahmu akan berkerut jika seperti itu terus," ucapan Leona menyadarkan Clark.
Pria tampan yang menatap Leona itu salah tingkah.
"Oh, iya. Kalau begitu, ayo makanlah."
Leona menatap meja didepannya yang sudah dipenuhi berbagai menu masakan.
"Ini sangat banyak. Lagipula, sekarang kan belum jam makan siang," ucap Leona basa-basi.
"Sudahlah, jangan sungkan. Aku rasa perutmu itu tidak akan kuat jika harus menunggu sampai jam makan siang!"
Leona tersenyum kikuk.
Memang benar yang diucapkan Clark. Rasa lapar yang ia rasakan malah membuatnya melupakan rasa malu. Leona mulai mengambil beberapa lauk dan tidak segan memakan apapun yang Clark masukan kedalam piringnya.
Dan Clark tersenyum melihat pemandangan seperti itu.
Aku ingin melihatmu seperti ini setiap hari!
-Clark-
Lihatlah, dia sedang menertawakan aku yang makan banyak.
Terserahlah, aku tidak peduli. Aku lapar!
-Leona-
Sepertinya Leona sudah mulai bisa menerima kehadirannya. Dia tidak segalak dan keras kepala seperti biasanya.
Akan tetapi, bagaimana reaksi Leona nanti, setelah tau kemana Clark akan membawanya pergi dengan baju couple seperti itu?
Semoga semuanya berjalan lancar!
Aku sangat menunggu datangnya hari ini.
Leona, kau akan kembali ku miliki!
__ __ __ __ __ __
sebenernya, Clark mau bawa Leona kemana ya?
tetap dukung ya,,
__ADS_1
like, komen n vote. makacih.