
"Karena kau masih istriku!" ucap Clark dengan menahan tangan Leona yang ingin pergi menghindarinya.
"Istri kau bilang?" Leona mengibaskan tangannya melepaskan diri dari cengkraman tangan Clark. "Siapa yang kau sebut istri setelah bertahun-tahun kau meninggalkannya begitu saja, hah?" matanya mulai berkaca-kaca.
"Semua ada alasannya Leona, dengarkan aku dulu." Clark mencoba meraih tangan Leona lagi. "Kita bisa memulainya dari awal bersama anak kita, Shofia."
"Cukup Clark!" Leona menghindar dengan mengangkat kedua tangannya.
"Aku tidak mau mendengar apapun itu. Dan Shofia bukanlah anak mu!"
Clark terpaku mendengar pernyataan Leona yang mengatakan Shofia bukanlah anak darinya.
"Memangnya siapa ayah Shofia? Kau ingin mengatakan dia anak Daniel begitu?"
Memang benar dugaanku selama ini, kau tidak pernah mempercayaiku sampai berfikiran Shofia adalah anak Daniel.
"Sudahlah Clark. Siapapun ayah Shofia, itu tidak ada kaitannya denganmu. Sekarang pergilah!" bentak Leona yang sudah tak tahan membendung air matanya. Semakin ia mendengar ucapan Clark, hatinya semakin sakit.
"Tidak Leona, aku tidak akan pergi."
Cukup Clark, jangan sakiti aku lagi.
Leona sudah tak mampu berkata-kata lagi. Isak tangisnya membuktikan kalau ia sangat terluka.
"Jangan menangis Leona. Maafkan aku, aku mencintaimu!" ucapnya dengan menarik tubuh Leona kedalam pelukannya.
Dada Leona terasa semakin sesak. Air matanya menjadi saksi bagaimana sakit hatinya selama ini. Dia tidak pernah berharap saat seperti ini terulang lagi dalam kehidupannya.
"Tapi aku tidak mencintaimu lagi Clark!" ucap Leona lirih disela isakannya. "Semuanya telah berubah!" imbuhnya dengan mendorong tubuh Clark secara perlahan.
"Jangan bicara seperti itu Leona, kau tidak tau bagaimana aku mencarimu selama ini." Clark menatapnya sendu dengan memegang kedua bahu Leona.
"Sudah terlambat Clark, diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Semuanya telah berakhir semenjak kau pergi meninggalkan aku." ucapnya dengan menurunkan tangan Clark dari bahunya.
"Aku sudah tidak mencintaimu lagi." lanjut Leona kemudian menghindar.
"Lalu kenapa kau masih menyimpan cincin pernikahan kita?"
Deg
Leona berbalik dan terbelalak melihat Clark yang tengan memegang cincin sederhana yang disimpannya selama ini.
"Dari mana kau mendapatkannya? Kembalikan!" ujar Leona berusaha merebut kembali cincinnya.
Tinggi tubuhnya yang tak sebanding dengan Clark membuatnya kesulitan saat pria itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Leona mencoba meraih tangan Clark dengan melompat, namun yang terjadi..
Bruggh
Mereka berdua jatuh kelantai dengan posisi Leona diatas tubuh Clark.
Tatapan mereka pun bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Mata Clark memancarkan kerinduan yang mendalam pada wanita yang tengah ia peluk saat ini.
Deg deg deg
Suara degupan jantung yang beradu seakan mendominasi dalam keheningan yang terjadi. Waktu seakan terhenti.
Mereka yang masih bersitatap tak mampu mengekspresikan apa tengah mereka rasakan saat ini.
__ADS_1
"Leona!" Loli memanggilnya saat membuka pintu rumah Leona. Dan..
Ceklek
"Oops, astaga. Aku tidak melihat apa-apa!" ucap Loli menutup pintu lagi dan berlari kembali ke salon.
Clark dan Leona pun gelagapan. Mereka segera berdiri dan Leona mengambil cincinnya dari tangan Clark setelah merapikan penampilannya dan memasukkannya dalam saku.
"Aku harus kembali kesalon, aku tidak mau Loli salah paham dengan kejadian tadi." ucap Leona gugup.
"Tunggu Leona!" Clark menahan dengan menarik tangannya dan membawa Leona kembali dalam pelukannya.
"Lepaskan aku Clark!" ia meronta mencoba melepaskan diri. Namun Clark terlalu kuat menahannya.
"Katakan dulu Leona, kenapa kau masih menyimpan cincin pernikahan kita?"
Sesaat Leona terdiam.
"Tidak ada alasan apapun. Saat aku membutuhkan uang, aku pasti menjualnya!" jawab Leona sinis.
Clark tersenyum, "Kau tak akan berani menjualnya. Karena itu satu-satunya pengobat saat kau merindukanku." ucapnya dengan berbisik tepat didepan telinga Leona.
"Jangan gila, siapa yang akan merindukanmu?" ia meronta lagi.
Clark tersenyum lagi. Ia sengaja melepaskan Leona, namun saat wanita yang dicintainya itu sampai di depan pintu, Clark kembali memeluknya dari belakang.
"Aku tidak masalah jika kau tidak merindukanku, tapi aku merindukanmu!" Clark mengecup sekilas pipi Leona sebelum benar-benar melepaskannya.
Leona yang terkejut hanya menatapnya tajam lalu pergi untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu.
Jangan lakukan itu lagi Clark!
Dan benar saja, Loli sedang asik bergosip tentang dirinya.
"Teman-teman, ternyata aku salah." ucap Loli tiba-tiba dengan hebohnya yang membuat teman-temannya bingung.
"Kamu kenapa sih? Bukannya manggilin Leona buat makan bareng, malah jingkrak-jingkrak gak jelas gitu. Lagi ngegemesin apa sih?" tanya salah satu temannya.
"Iya ih, emang kak Loli salah apaan?" timpal yang lain.
Bukannya menjawab, gadis itu malah senyum-senyum gemas sendiri.
"Eh, Loli. Kamu kenapa sih?" mereka semakin bingung saja.
"Hehe, kalian tau gak? Ternyata Leona sudah punya pacar lho!"
Krik krik krik
Semuanya menatap Loli dengan tatapan datar.
"Kok kalian gak kaget sih?" Loli terlihat sangat kecewa dengan wajah cemberut.
"Memangnya siapa yang gak tau kalau Leona punya pacar? Siapa lagi kalau bukan Henry, iya kan?"
Seketika Loli tertawa terbahak-bahak.
"Sok tau deh!" lalu tertawa lagi.
"Memangnya siapa pacar kak Leona? Selama ini kan dia gak pernah deket sama cowok lain, selain sama kak Henry!" ujar junior mereka.
__ADS_1
"Iya betul!" sambung yang lain menguatkan.
"Haha, bukan Henry. Lagian selama ini Leona itu belum pacaran kok sama Henry." tutur Loli menjelaskan.
"Masa sih? Lalu siapa dong?" tanya mereka penasaran.
"Aku juga belum tau sih dia itu siapa."
"Yaaah" seru mereka kecewa.
"Eh tapi ya, yang jelas dia itu lebih tampan dari Henry lho. Gemes banget deh tadi aku liat mereka sedang... Uuhh, pokoknya Leona beruntung banget." Loli makin terlihat gemas sendiri saja.
"Mereka sedang apa sih Loli? Jangan bikin penasaran deh, ayo dong cerita!" rayu temannya dengan menggoyangkan lengan Loli.
"Iya nih, Loli bikin penasaran aja!" sambung yang lainnya.
"Sini-sini deh!"
Mereka semua pun mendekat dan berkumpul mengelilingi Loli.
"Tadi tuh ya, mereka sedang...."
"Loli?"
Leona berteriak memanggilnya dan berhasil mengejutkan semuanya. Seketika kerumunan itu membubarkan diri sambil cengengesan. Terutama Loli.
"Kalian sedang apa? Apa makan-makannya belum selesai?"
Tak ada yang menjawab.
Mereka hanya senyum-senyum mencurigakan dan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Leona, sini deh duduk dulu."
"Apa sih?" ia menurut saja.
"Leona, waktu tadi kamu sibuk disini, Shofia sama siapa? Bibi Frida kan gak ada." pancing salah satu dari mereka.
"Em, tidak dengan siapa pun. Shofia sendirian." jawabnya gugup sambil meremas tengkuknya sendiri.
"Ah Leona, jangan pura-pura. Kenapa kau tidak membagi kebahagiaan dengan kami? Ayolah Leona, bukankah tidak ada rahasia apapun diantara kita?"
"Iya Leona, kenapa kamu gak cerita kalau kamu punya pacar baru hm?"
"Hah? Pacar?" Leona pun menoleh kearah Loli yang sedang menahan tawa.
Loli, awas kau ya!
"Ah, sudahlah. Lebih baik bereskan sisa makan kalian. Pulang dan beristirahatlah. Besok kita jenguk Merry, tapi bergantian ya." titah Leona yang membuat semua temannya jadi kecewa.
"Yaaah, Leona!" ucap mereka lemas.
Loli tertawa, ia mendekat dan merangkul bahu sahabatnya.
"Kalau aku boleh kan dikenalin sama pacar baru kamu?" bisiknya dengan menyolek dagu Leona.
"Ih, Loli kamu apaan sih?" ucap Leona menepis tangan Loli dengan wajahnya yang bersemu.
Like n komen ya biar akunya semangat
__ADS_1