
Warning!
Agak-agak hareudang.
Mohon lebih bijak dalam membaca.
Happy reading!
_______________________________
"Apa?"
Royan terkejut dengan info yang baru saja disampaikan anak buahnya.
"Itu benar Tuan!" jawab suruhannya dengan menunduk.
"Tapi anak buahmu tidak salah lihat kan? Yang mereka lihat itu benar-benar Kakak ku kan?" masih belum yakin.
"Tentu tidak Tuan, anda bisa lihat sendiri dari foto yang mereka kirim itu kalau yang masuk catatan sipil itu adalah Tuan Clark!"
Royan menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
Ia tak menyangka kalau Clark benar-benar mengejar wanita itu sampai nekad menikahinya.
Sebenarnya apa yang sedang direncanakan kakaknya itu?
"Pergilah!" ucapnya lemah tanpa menatap sang anak buah.
Laki-laki berpakaian formal itu menunduk hormat lalu keluar dari ruang kerja Royan.
"Astaga, bagaiman ini? Ibu bisa syok kalau tau putra kesayangannya kembali pada wanita yang dulu menyakitinya. Aduuh... Bisa gawat ini! Aku harus bagaimana?" Royan mengacak rambutnya frustasi.
Bukan hanya segudang pekerjaan yang Clark berikan kepadanya. Kakaknya itu juga memberi masalah dengan pernikahan rahasianya.
Ahh ... Royan benar-benar butuh hiburan untuk mencairkan darah di otaknya yang mulai membeku.
_ _ _
"Anak Bunda cantik sekali," puji Leona yang sore itu baru saja selesai menyisir rambut Shofia.
Gadis kecil itu tertawa bahagia, "Bunda, kok Ayah belum datang?"
Leona mengangkat tubuh mungil itu untuk duduk dipangkuannya.
"Ayah kan kerja, kalau pekerjaannya selesai, pasti Ayah datang." Ada sesikit senyum dibibir Leona.
"Kapan Bunda, masih lama ya?" Shofia terlihat tidak sabar untuk bertemu dengan Ayahnya.
"Kapan ya? Em ... Mungkin nanti malam."
"Yeeeyy ... Nanti malam Ayah datang!" seru Shofia girang.
Awalnya Leona ikut tertawa melihat Shofia yang sangat bersemangat. Mungkin sedikit demi sedikit dia sedang membuka hati.
Namun beberapa saat kemudian, ia teringat kalau Hanry juga akan datang malam ini.
Aduh, bagaimana kalau sampai Hanry bertemu dengan Clark? Apa yang harus aku katakan padanya?
Seketika gelisah.
Harusnya jujur saja kalau Clark adalah suamiku. Tapi tidak, tidak!
Hanry pasti akan sangat kecewa. Pasti dia berpikir aku hanya memberinya harapan palsu. Bagimana mungkin tiba-tiba saja aku sudah menikah? Lebih baik aku mengenalkan Clark pelan-pelan saja. Ya, kenalkan sebagai mantan suami dulu. Pikirnya.
Tapi sesaat kemudian ...
*Kalau Clark tidak terima dan marah bagaimana? Dia kan sudah sah sebagai suamiku? Pasti dia tidak terima. Bagaimana kalau sampai dia marah dan membawa Shofia pergi?
Aaaaa... Bagaimana ini?
Ternyata Leona juga sedang dilanda frustasi karena seorang Clark Anthony.
- - -
Waktu menunjukkan pukul 19:00
Semoga Clark datang setelah Hanry pergi!
Rapalnya dari sejak sore, hingga saat makan malam pun mungkin doanya seperti itu.
"Kamu kenapa Leona? Ada masalah?" tanya Frida yang melihatnya seperti sedang gelisah.
__ADS_1
"Eh, tidak ada. Aku tidak apa-apa!" kilahnya yang malah membuat Frida senyum-senyum penuh arti.
"Kenapa senyum Bibi seperti itu?" kening Leona berkerut menyimpan kecurigaan.
"Ah, tidak apa-apa. Bibi juga mengerti, pasti kamu sedang gelisah menunggu Clark kan?" godanya dengan menoel lengan Leona beberapa kali.
"Apaan sih Bi, siapa yang menunggunya? Akan lebih baik kalau dia tidak datang!" ujar Leona ketus.
"Hallah, jujur aja Leona. Bibi ngerti kok. Malam ini biar Bibi yang menjaga Shofia. Kamu pulang saja sama Clark, Bibi gak akan ganggu!" Frida terkikik diujung kalimatnya.
Seketika wajah Leona merona, ia baru paham kemana arah pembicaraan Frida.
"Bibi bicara apa sih?" Leona pura-pura tidak mengerti, padahal godaan Frida itu berhasil membuat jantungnya berdebar-debar.
Ada apa dengan perasaanku?
Kenapa aku jadi malu begini?
Leona membelakangai Frida untuk menyembunyikan wajah meronanya.
Tok tok tok
Leona terlonjak kaget, pasti itu Hanry. Karena kalau Clark, tidak mungkin ia mengetuk pintu dulu.
Ia pun beranjak membukakan pintu.
"Hai Leona, apa kabar?"
"Retta?" Leona membalas pelukan ibu dari teman baik Shofia yang tak lain adalah adik kandung Hanry.
Leona juga menyapa Aneth yang terlihat bersemangat ingin menjenguk Shofia.
"Em ... Hanry nya mana?" tanya Leona ragu-ragu karena ia hanya melihat sepasang ibu-anak itu saja.
"Oh iya, aku lupa. Tadi kakak menghubungiku, katanya tiba-tiba saja dia harus lembur. Gak tau deh, kenapa perusahaannya ngasih tugas dadakan seperti itu," Retta mengangkat kedua bahunya.
"Oh, begitu ya?"
Selamaat.. Untung dia tidak datang.
Batin Leona.
Mereka mana tau, kalau itu adalah ulah Jason yang sengaja membuat Hanry sibuk atas perintah dari Tuannya.
"Ciee... Kangen!"
Leona hanya tersenyum dipaksakan.
Harus membantah atau mengiyakan saja ya?
Dia bingung sendiri.
Retta dan putrinya Aneth berpamitan pulang setelah cukup lama melepas rindu. Leona sama sekali tidak menceritakan pernikahannya tadi siang.
Dan ternyata sampai malam hampir larut, Clark belum datang juga. Shofia sampai tertidur sendiri karena terlalu lama menunggu Ayahnya.
Clark hanya memberinya pesan kalau saat ini dia masih punya banyak pekerjaan.
Kalau tau keduanya tidak akan datang, harusnya aku tidak perlu segelisah itu tadi!
Gerutunya yang terlihat kecewa.
Kecewa karena Hanry tidak datang atau karena Clark yang tidak datang ya?
_ _ _
Dirumah pribadi Royan.
"Ahh... Tuan muda, bersabarlah sedikit," ujar wanita cantik nan sexy yang sedari tadi berada dalam pangkuan Royan.
Bahkan Royan sudah menjamah seluruh tubuhnya sejak mereka masuk kedalam rumah.
"Cepatlah, kamu lamban sekali," Royan sudah tidak sabar ingin segera menyalurkan hasratnya.
"Sabar Tuan, aku buka dulu. Ini baju baru, jangan kamu robek lagi seperti yang sudah-sudah!" ujar wanita itu dengan menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan didepan mata Royan.
"Aku sanggup mengganti yang jauh lebih mahal jika kau lupa!"
Tanpa menunggu lama, Royan segera melahap bibirnya dan membawa wanita itu ke atas tempat tidur.
"Ahh... Tuan!" wanita itu medesah saat Royan dengan rakusnya menyesap bagian dada wanita itu bergantian.
__ADS_1
Hasratnya benar-benar harus disalurkan. Jika tidak, Royan akan sulit berpikiran jernih. Apalagi jika itu menyangkut tentang Kakaknya.
Begitulah sisi lain Royan dibalik kekonyolannya.
"Emmhh..." Royan kembali membekap mulut wanita dalam kukungannya dengan bibirnya.
Hasratnya memuncak dan mulai melakukan penyatuan.
Suara desahan pun saling bersautan seirama dengan pergerakan Royan.
"Akhhh..." desis Royan menikmatinya.
Namun ditengah kenikmatan itu tiba-tiba ...
Drrt drrt drrt
"Shit!!" umpat Royan sambil meraih ponselnya tanpa melepaskan penyatuannya.
"Nanti saja Tuan, kita selesaikan ini dulu," cegah wanita itu dengan meraih benda pipih itu dari tangan Royan dengan nafas yang terengah.
"Tidak bisa, kembalikan padaku. Itu dari Clark!"
"Uups!" wanita itu segera mengembalikan ponsel Royan.
"Ada apa Kak!" tanya Royan sedikit terengah.
"Mana laporan dari perusahaan textil minggu ini?" tanya Clark datar.
"Em... Ada kak, maaf aku lupa," jawab Royan dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lupa? Memangnya apa saja yang kamu kerjakan sampai lupa dengan laporan itu?" Clark mulai kesal.
" Apa kamu sudah bosan bekerja, Roy?"
"Tidak,tidak, bukan begitu kak!"
"Ahhh....!" dengan cepat Royan membekap mulut wanita dibawahnya dengan tangan.
Namun sayangnya Clark sudah mendengar suara desahan seorang wanita saat Royan tak sengaja bergerak karena reflek nenyangkal tuduhan Clark.
"Kau sedang bermain Roy?" tanya Clark geram.
"Haish..." Royan mengusap wajahnya.
"I... Iya kak!" jawabnya terbata.
"Dasar bocah tengik," pekik Clark mengeratkan rahangnya kuat.
"Cepat selesaikan dan urus laporanmu!" teriak Clark yang membuat Royan menjauhkan ponsel dari telinganya.
"I... Iya kak, laksanakan!"
Clark menutup teleponnya dengan kesal.
"Dasar! Bocah itu masih saja belum berubah!" rutuk Clark dengan melempar ponselnya keatas berkas-berkas yang berceceran di meja kerjanya.
"Ah sial! Aku jadi ingin bertemu Leona!" Clark mengusap wajahnya gusar.
Harusnya ini adalah malam pengantinnya, tapi kenapa malah Royan yang sedang asik bermain?
Clark jadi kegerahan membayangkan kelakuan adik tirinya.
"Aku harus pulang lalu menemui Leona dirumah sakit!" Clark pun bangkit meninggalkan pekerjaannya yang masih berantakan.
"Tuan muda, apa Tuan Clark marah?"
"Ya, kau dengar sendiri kan?" jawab Royan.
Wanita itu malah terkekeh, "Aku sangat penasaran, ingin merasakan bagaimana garangnya Tuan Muda Clark," ujar wanita itu dengan menggerayangi dada mulus Royan yang berada di atasnya.
"Jangan mimpi, mana mau dia dengan wanita sepertimu," ejek Royan yang malah disambut tawa oleh sang wanita.
"Yang penting Tuan Clark tidak memotong gajimu walaupun dia marah,"
" Ini salahmu membuat dia marah, kau harus mengganti rugi sampai aku benar-benar puas malam ini!" ujar Royan.
"Dengan senang hati Tuan!"
Royan tersenyum miring, ia kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena kemarahan sang Kakak.
__ __ __ __ __ __
__ADS_1
Like komen n vote ya