
Di Kota A.
"Hai wanita-wanita cantik kesayangan, ada yang merindukanku?"
Dua orang wanita yang tengah asyik ngobrol di gazebo samping kolam renang pun terkejut dengan kehadirannya.
"Royan?" seru mereka bersamaan.
Pemuda yang menghampiri merekapun tersenyum manis, "Apa kabar ibu?" sapanya seraya memeluk Florenza yang membuat wanita disebelahnya sedikit memanyunkan bibirnya.
"Yah, begini lah kondisi Ibu," jawab Florenza setelah melepaskan pelukan itu.
"Lekas sembuh Bu, jangan sakit terus. Aku sedih liat Ibu sakit-sakitan seperti ini," ucap Royan dengan menggenggam tangan Florenza penuh perhatian.
"Iya nak," Florenza mengusap pipi Royan.
"Ehemm."
Wanita disebelahnya berdehem, jelas saja Royan dan Florenza menahan tawa dibuatnya.
"Ibu, sepertinya wanita disebelahmu itu sedang cemburu," bisiknya pada Florenza yang langsung mendapatkan pukulan keras dibahunya.
Royan mengaduh, "Ibu, tolong aku!" ia berpura-pura takut dengan bersembunyi di balik punggung Florenza.
"Dasar anak kurang ajar, sebenarnya kau ini anak siapa, hah? Mama mu ada disini, tapi kau tidak menyapanya sama sekali."
Royan dan Florenza pun tertawa.
"Hehe, iya maaf mamaku tersayang!" Royan memeluk lalu mencium pipi Martha yang sedari tadi di acuhkan hanya untuk menggodanya.
"Kau ini, kenapa tidak memberitahu Mama jika mau pulang hari ini?" protes Martha dengan mengusap bahu putranya.
"Aku sengaja Ma, biar kalian terkejut."
Mereka pun tertawa dan saling melepas rindu. Walaupun Royan adalah anak Martha, tapi Florenza menyayangi Royan layaknya anak sendiri.
"Clark mana Roy?" tanya Florenza berharap.
"Em, Kakak belum bisa datang Bu. Dia sedang menangani bisnis di kota S."
"Kota S? Bukankah semua bisnis di kota itu adalah tanggung jawabmu Roy?" Martha yang bertanya.
Royan nampak bingung menjawabnya.
"E... itu... Ma, aku lapar. Aku sangat merindukan masakan Mama," Royan mengalihkan pembicaraa. Secara tidak langsung, ia ingin bicara berdua saja dengan Florenza.
"Ya, baiklah. Mama akan membuatkan masakan kesukaanmu."
Martha yang mengerti maksud Royan pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa dengan Clark, Royan?" tanya Florenza yang mengerti dengan sikap anak tirinya.
__ADS_1
"Begini Bu," Royan semakin duduk mendekatinya.
"Sebenarnya, apa sih yang terjadi pada Kakak saat aku masih kuliah di luar negeri dulu? Tentang pacarnya atau orang spesialnya mungkin?"
Florenza terdiam sejenak.
"Kenapa kamu tanya hal itu, Roy? Apa ini ada hubungannya dengan keberadaan Clark di kota S?"
"Tepat. Aku rasa alasan Kakak memegang kota S adalah karena seorang wanita dari masa lalunya."
"Apa wanita itu bernama Leona?" terdengar ada getaran didalam nada bicaranya.
"Iya Bu, dari informasi yang aku dapat, namanya memang Leona. Tapi aku tidak bisa mendapat informasi lebih. Bahkan Jason saja tidak tau tentang wanita itu."
"Tentu saja Jason tidak akan tau. Dia berada di sisi Clark setahun setelah kejadian saat itu."
Florenza mulai menceritakan tentang Clark lima tahun yang lalu.
Royan memang tau perihal kecelakaan yang menimpa Clark. Namun tentang pernikahannya, Ayah mereka menutup rapat masalah itu setelah kejadian pada saat itu terjadi.
Royan bisa melihat ada gurat emosi di wajah Florenza saat menceritakan semuanya.
"Tapi Bu, yang aku gak ngerti, kenapa sepertinya Kakak sangat antusias mengejar wanita itu, sampai-sampai dia ingin mengambil alih bisnis di Kota S?"
Florenza mengepalkan tangannya kuat.
"Apa wanita itu menggoda dia lagi?"
"Sepertinya bukan begitu deh Bu!"
"Apa maksud kamu Roy?" air mata Florenza sudah berjatuhan sedari tadi.
"Terakhir kali aku melihat Kakak, dia terlihat tidak senang dan juga marah setelah semalaman tidak pulang," ucap Royan mengingat-ingat bagaimana raut wajah kakak tirinya itu saat pulang.
"Tapi anehnya, saat di kantor justru malah terlihat santai dan tidak sesangar biasanya. Jadi gimana ya Bu? Aku masih belum mengerti dengan sikap Kakak."
Royan bingung sendiri.
"Wanita itu sudah mencampakkannya begitu saja, tapi kenapa Clark mencarinya lagi?" terlihat jelas ekspresi tak suka dari Florenza.
"Apa gara-gara wanita itu juga yang membuat sikap Clark sedikit berubah terhadap Ibu?"
Royan tertegun.
Ia sudah sangat terbiasa dengan sikap Clark yang tak bersahabat dengannya, bahkan terkesan cuex. Tapi pada Ibu kandungnya sendiri yang Royan tau sangat disayanginya, apa iya Clark seperti itu?
"Bu," Royan kembali menggenggam tangan Florenza.
"Ada satu lagi yang ingin aku katakan pada Ibu."
"Apa itu?" Florenza memicingkan matanya.
__ADS_1
"Dia... Maksudku, Leona. Ya, wanita itu mempunyai seorang anak Bu."
"APA?"
_ _ _ _ _
Di Kota S.
Leona duduk di dekat jendela memandang rintik hujan diluar sana dengan memeluk kedua lututnya.
Apakah aku egois jika tidak memberinya kesempatan untuk bicara?
Leona kembali mengingat beberapa saat lalu saat bersama Clark.
Ia bisa merasakan ketakutan pria yang saat itu memeluknya.
Tapi aku tak mau terjebak untuk kedua kalinya. Itu yang selalu ada dalam pikirannya.
Cukup sekali saja ia merasa tertipu oleh kata-kata manis pria yang sudah meluluh lantahkan perasaannya.
Hatinya akan semakin goyah jika terlalu sering bersama pria yang pernah sangat dicintainya.
Dan dengan menjauhkan laki-laki itu dari kehidupannya adalah keputusan yang tepat. Terutama dengan putrinya.
Jangan memberi celah untuk Clark, Leona tak mau jika Shofia sampai bergantung kepadanya. Mereka tak punya harapan apapun untuk bisa bersama lagi.
"Bunda!"
Gadis kecil berkuncir dua itu menggoyangkan lengan ibunya.
"Iya sayang," Leona terkejut.
Ia menoleh sambil menyeka air mata yang entah sejak kapan membasahi pipi mulusnya.
"Nda, kok Ayah gak datang lagi sih?" Shofia menampakkan mata yang berkaca-kaca dengan bibir mungilnya yang sedikit bergetar.
Baru saja beberapa saat lalu saat Clark memaksanya mengantar pulang dari tempat seminar, ia memohon-mohon ingin bertemu Shofia, namun Leona menolaknya dengan tegas.
Dan sekarang, ia bingung sendiri bagaimana menjelaskannya pada Shofia.
"Em ... Itu, Ayah sibuk sayang. Nanti juga Ayah akan datang!" akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Bodoh, bodoh, bodoh!
Kenapa aku mengatakan seperti itu sih?
Leona merutuki ucapannya sendiri. Dan lihatlah akibatnya, gadis kecil yang sangat dicintainya itu terlihat bahagia seakan menemukan sebuah harapan dengan mata yang berbinar.
.
.
__ADS_1
bersambung, jangan lupa like n komennya ya