Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 1 (Indira)


__ADS_3

Nama gadis manis itu Indira. Lahir di sebuah keluarga sederhana yang sarat aturan militer. Karena ayah Indira, pak Surya adalah seorang bintara di TNI AD. Ibunya, bu Siti seorang ibu rumah tangga biasa, yang sangat patuh pada suami.


Indira anak ke 2 dari 4 bersaudara.


Namun didikan ayahnya yang tegas seolah tidak memberi kesempatan Indira menjadi sosok yang manja meski ia anak perempuan satu-satunya dalam keluarga Surya.


Amar anak tertua pak Surya, bekerja di sebuah perusahaan swasta.


Indira masih kuliah & mengajar les private dari rumah ke rumah khusus anak SD.


Adi, adik Indira masih duduk di kelas 2 sebuah SMK negeri.


Ali, adik bungsu Indira yang masih duduk di kelas 3 SMP negeri.


Mereka tinggal di pemukiman umum di daerah Jakarta. Meskipun ayah Indira bisa saja membawa keluarga kecilnya tinggal di rumah dinas yang disediakan kesatuannya, ayah Indira lebih memilih pemukiman umum.


Alasannya ingin mendidik keluarganya agar lebih membaur dengan lingkungan.


Indira remaja terbiasa mandiri hampir di segala hal. Hingga menjelang dewasa Indira pun berusaha bekerja apa saja (asal halal) untuk membiayai kuliahnya. Ayah Indira hanya akan membantu biaya kuliahnya jika keadaan sedang sangat mendesak.


Indira kuliah di sebuah Universitas Swasta yang bisa ditempuh 30 menit dari rumahnya.


Indira memilih jurusan Teknik Arsitektur, & masih duduk di semester 4 saat itu.


Indira sedikit tomboy, tapi bisa jadi sosok yang lembut sesuai keadaan.


Wajahnya cukup manis, kulit sawo matang, postur tubuh yang 155 cm sesuai dengan berat badannya. Karakternya ramah walau agak sedikit introvert, tapi cenderung cuek.


Dengan sifat & karakternya membuat Indira agak sulit untuk cepat akrab dengan orang lain khususnya orang dewasa. Tapi akan berbalik 180° jika itu berkaitan dengan anak-anak.


Sebagai guru les private,Indira memiliki 3 orang murid di 3 tempat berbeda.


Indira suka anak-anak, makanya tak heran kehadirannya selalu dinantikan.

__ADS_1


Indira mudah menyelami jiwa anak, sehingga sesulit apapun, sang anak akan mudah membuka diri terhadap Indira. Sehingga Indira lebih mudah dalam menyampaikan materi pelajaran pada muridnya.


Pernah juga Indira mengajar les private di sebuah keluarga 'tajir' yang memiliki 2 anak perempuan.Mereka diajar oleh guru les yang berbeda diwaktu yang bersamaan.


Indira mengajar sang adik yang saat itu kelas 3 SD, sedangkan sang kakak kelas 5 SD diajar bu Tini guru les yang satunya.


Tapi rupanya sang kakak melihat cara belajar mengajar Indira yang menurutnya sangat menyenangkan. Mulailah sang kakak 'mengacau' , mengganggu proses belajar sang adik hingga mereka bertengkar hebat.


Indira & bu Tini bingung bagaimana cara melerai kedua anak itu. Para asisten rumah tangga yang berjumlah 4 orang juga kewalahan menghadapi kedua anak majikannya.


Hingga sang pengasuh menelpon tuannya, Bu Sasya, mengabarkan keadaan dirumah yang kacau saat itu.


Karena jam belajar sudah selesai Indira dan bu Tini pun meninggalkan rumah itu setelah sebelumnya berhasil membuat jarak pada kedua muridnya agar tidak saling mencakar.


Esoknya Indira tetap datang seperti biasa. Tapi rupanya kedatangan Indira sudah dinantikan oleh ibu kedua anak itu.


Sang ibu meminta Indira untuk mau mengajar anak sulungnya juga. Semula Indira menolak dengan halus karena kawatir menyinggung perasaan bu Tini.


Mendengar penuturan bu Sasya akhirnya Indira menyetujui permintaan bu Sasya.


Walau merasa ga enak hati dengan bu Tini, tapi apa boleh buat. Indira juga tak mau kehilangan mata pencariannya. Apalagi bu Sasya berjanji urusan dengan bu Tini diambil alih olehnya.


Kedua anak bu Sasya semangat mengikuti les dibawah bimbingan Indira. Nilai pelajaran mereka di sekolah mengalami peningkatan. Sehingga membuat bu Sasya ikut merasa senang.


Dan sebagai ungkapan terimakasih ia pun memberi bonus kepada Indira diakhir semester sebelum libur akhir tahun.


Gaji yang diperoleh Indira cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Tapi untuk urusan kuliah kadang Indira masih minta bantuan ayahnya.


Di kampus, meski tak banyak teman, tapi Indira lumayan disukai dalam kesehariannya.


Temannya yang kebanyakan pria merasa nyaman saat berinteraksi dengan Indira.


Karena Indira bukan sosok yang 'genit' dan lebay, menjadikannya sebagai mahluk manis yang ditunggu kehadirannya. Seperti hari itu....

__ADS_1


" Hai Indira, gimana absen Gue kemaren...?" tanya Jamal.


" Tenang aja, Gue kan orang nya amanah, Gue absenin kok kemaren...," jawab Indira sambil mengunyah makanannya.


"Wahhh makan berduaan aja Lo Dir,Mal, ga ngajakin Gue, jangan2 ada something nih Lo berdua ya...," celetuk Heru.


"Ga lahh Her, Indira mah bukan type Gue banget. Lo tau dong gimana selera Gue, ha ha ha...," sahut Jamal.


" Ga boleh ngomong gitu loh Mal, kan ada tuh pepatah Jawa yang bilang 'jalaran soko kulino', lama-lama cinta gara-gara sering nongkrong bareng...," kata Adang yang datang bersama teman lainnya menyela omongan Jamal.


" Udah deh, nih pada ngebahas apaan sih? Lagian juga Mal , kalo Gue masuk type Lo sekalipun, Gue juga ga bakal mau sama Lo...," tambah Indira.


" Ha ha ha...,pait pait ,wah Lo belom berjuang aja udah ditolak duluan sama Indira. Gimana nihh Maall...?" tawa menggema dari teman lainnya yang mendengar obrolan mereka kala itu.


Jamal cuma memonyongkan bibirnya sambil garuk kepalanya yang tak gatal.


" Eh Dir, Lo dicariin senior tuh tadi," kata Adang.


" Senior yang mana Dang...?" tanya Indira.


" Yang sering bareng Lo, siapa ya namanya, Gue lupa. Pokoknya sering pake topi ungu gitu deh. Katanya Lo ada janji sama dia, ditungguin di ruang senat," kata Adang lagi mencoba mengingat.


" Ooo itu si Elmo, kenapa ya..., perasaan Gue ga janjian sama dia," jawab Indira lagi.


" Ciee ciee..., Indira mah maennya sama senior, sama Kita-kita ga maen dia. Modus tuh, jangan-jangan demen sama Lo, udah lah jadiin aja Dirr, oke juga kok orangnya...," sindir Boni.


" Apaan sih, jangan kumat dehh," Indira menjawab sambil beranjak masuk ke kelas diikuti teman lainnya.


Tawa masih terus menggema diantara mereka. Sesekali rayuan gombal dialamatkan Boni pada Indira, yang membuat suasana makin gaduh. Apalagi melihat respon Indira yang adem ayem aja membuat mereka makin keras tertawa. Sungguh pemandangan ini sudah menjadi santapan rutin Indira di kampus setiap hari.


Indira cukup tahan banting menghadapi keusilan teman-temannya.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2