Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 7 ( Ada Sesuatu )


__ADS_3

Hari dimana Indira bekerja shift malam pun tiba. Indira sebenarnya tak suka jika dapat jatah shift malam. Indira sudah merasa agak serem dengan pabrik itu sejak awal bekerja disana. Tapi karena ia butuh pekerjaan terpaksa ia menjalaninya.


Indira sudah mulai punya beberapa teman di divisi tempatnya bekerja. Yang lumayan akrab namanya Sofia, Maya, Asti dan Dewi. Mereka sering menghabiskan waktu kosong bersama. Rumah mereka tidak jauh jaraknya dari kawasan pabrik. Mereka ada di kelompok yang sama, jadi waktu kerja mereka juga selalu sama.


Seperti sore itu saat baru saja mulai kerja. Tak sengaja Indira melihat kearah divisi lain, ia melihat ada sesuatu yang terbang diatas kepala para karyawan pabrik yang tak disadari oleh mereka. Semula Indira mengira itu adalah plastik putih pembungkus furniture yang terbang terbawa angin. Tapi setelah diamati, plastik itu panjangnya lebih dari 10 meter. Terbang melayang kearah atap pabrik, dan tak satupun orang yang berada didekatnya melihat.


Indira menyimpan cerita itu sendiri, ia pikir tak terlalu penting dan menarik jika diceritakan. Indira melanjutkan pekerjaannya. Hingga jam istirahatpun tiba. Saat masuk musholla untuk sholat maghrib, Indira mendengar kasak kusuk yang mengganggu kosentrasinya,ia mencoba mengabaikan. Setelah selesai sholat ia kembali bergabung dengan temannya.


" Terus gimana abis itu...?" tanya Sofia pada cowok yang ada didepannya.


" Ya langsung dibawa ke klinik lah..., sekarang malah udah disuruh pulang. Makanya jangan pada bengong deh kalo kerja disini...," kata cowok itu lagi.


" Kenapa sih Sof, ada apaan...?" tanya Indira.


" Ada yang kesurupan, Anak mallding katanya, kasian ya...," kata Sofia.


" Ya Allah..., tapi gapapa kan, sekarang gimana, siapa namanya...?" tanya Indira beruntun.


" Ya ga tau lah..., Gue aja baru denger nih...," tambah Sofia.


" Kalo ga salah namanya Nurbaiti, Anak Bekasi, Gue kayanya kenal, coba ntar Gue tanyain...," kata Dewi.


" Ya dehh..., yuk makan dulu. Eh Lo udah pada sholat belom...?" tanya Indira.


" Udah tadi...," jawab Dewi.


Tapi pertanyaan Indira cuma dijawab cengiran oleh Maya, Sofia dan Asti. Mereka selalu punya alasan jika diajak sholat. Lagi 'M' lah, belom keramas lah, baju kotor kena najis lah, atau jawaban lain yang membuat Indira geleng-geleng kepala.


Jam kerjapun selesai tepat jam 11 malam. Semua karyawan berdesakan di pintu keluar. Saling dorong dan menyebabkan teriakan para wanita yang terjepit atau sekedar merasa kalau ada tangan jahil yang meraba bagian tubuh mereka. Kesempatan dalam kesempitan. Indira tak suka itu, maka ia memilih berdiri agak jauh dari pintu menunggu antrian padat itu berkurang.


Indira keluar dari pintu, berjalan biasa, berbeda dengan karyawan lain yang berlarian seolah ingin cepat tiba di gerbang pabrik. Hal ini membuat Indira disapa karyawan lain, namanya Yuda.

__ADS_1


" Ehh..., Lo kenapa pelan banget jalannya, orang pada lari buru-buru, Lo ga takut ketinggalan angkot ya...?" tanya Yuda.


" Ga lah..., emang kalo Gue buru-buru kebagian angkot juga?, kan semua pada berebut. Ya pasti ga kebagian lah..., Gue mah udah biasa pulang pake angkot terakhir...," jawab Indira santai.


" Iya juga sihh..., tapi paling ga kita bisa cepet ada diluar, lebih aman...," kata Yuda lagi.


Indira mempercepat langkahnya. Tiba diluar pagar pabrik masih terlihat ramai. Satu persatu angkot mulai terisi. Yuda ikut menemani Indira, menunggu sampai angkot jemputan Indira tiba. Yuda yang berbeda arah dengan Indira minta supir angkot menunggu sebentar hingga angkot yang dinaiki Indira berangkat.


Didalam angkot yang semua kursinya terisi, Indira satu-satunya wanita. Mereka saling menyapa dan berkenalan, obrolan ringan pun terjadi. Indira bersyukur dalam hati karena masih ada teman searah dimalam yang sepi itu. Indira turun dan masih harus naik bus lagi untuk tiba dirumah. Agak lama menunggu, akhirnya Indira naik Taxi gelap yang juga sudah banyak penumpangnya.


* just info: taxi gelap adalah mobil pribadi yang biasanya dimanfaatkan untuk mengangkut penumpang dengan bayaran tertentu, tanpa argometer, & biasanya beroperasi ditempat yang sepi kendaraan.*


Indira tiba di halte, ia pun tersenyum gembira saat melihat adiknya Adi dan Ali yang berdiri menunggu kedatangannya.


Rupanya kedua orangtuanya kawatir keselamatan anak gadisnya, maka menyuruh Adi dan Ali menjemput di halte.


Jam setengah satu dinihari Indira tiba dirumah. Mata ibu tampak berkaca-kaca menyaksikan anak gadisnya yang baru pulang selarut ini.


"Emang kaya gini Bu..., sebenernya Dira udah dapet mobil tadi. Tapi kan ngetem dulu nunggu penuh, makanya baru sampe. Bus juga jarang kalo udah malem gini Bu...," kata Indira menjelaskan.


" Udah Bu..., biar Dira istirahat, udah malem, Kita semua juga capek kan...," kata ayah menengahi.


" Ayah gimana sihh...," sahut ibu cepat.


" Ssttt..., berisik. Ga enak sama tetangga," kata ayah sambil menggandeng tangan ibu menuju kamar.


" Kita semua cemas Dira...," kata Amar kakak sulung Dira.


" Iya maaf Mas..., tapi Gue bisa jaga diri kok...," sahut Dira.


" Yang penting Lo tetap waspada, ati-ati, jangan lalai berdzikir, jangan bengong, in sya Allah aman. Aamiin...," kata Amar sambil membelai kepala Indira.

__ADS_1


" Aamiin..., makasih Mas. Gue kekamar dulu ya, ngantuk nihh...," kata Indira lagi.


Amar mengangguk. Malam itupun kembali tenang setelah insiden barusan.


\=\=\=\=\=\=


Indira menghampiri kelompoknya yang sedang duduk di teras pabrik.


Terlibat obrolan seru dengan Nurbaiti, orang yang beberapa hari lalu dikabarkan kesurupan. Ternyata Indira sudah mengenal Nurbaiti ( karena nama yang pasaran menyebabkan ada beberapa nama Nurbaiti di pabrik itu).


" Jadi itu Lo yang katanya kesurupan kemaren Nur...?" tanya Indira.


" Ya Dirr...," sahut Nurbaiti.


" Kok bisa..., gimana ceritanya...?" tanya Indira sambil duduk lebih dekat dengan Nurbaiti.


" Error Lo Dirr..., ngapain nanya gitu sih, serem tau. Udah jangan dengerin si Dira Nur...," kata Sofia.


" Iya nih Dira..., Gue cabut ah kalo Lo cerita itu Nur...," kata Asti menambahkan.


Tapi Nurbaiti tetap melanjutkan ceritanya, nampak nya ia senang saat dirinya jadi pusat perhatian sepabrik, meskipun disebabkan kejadian yang kurang mengenakkan Nurbaiti tak peduli.


" Waktu itu Gue mau ambil lem, tau-tau Gue liat plastik putih yang biasanya buat bungkus kursi itu terbang melayang. Gue liatin aja, Gue perhatiin ternyata bukan. Ga sadar Gue ngomong 'apaan tuh terbang-terbang'..., eh tau-tau tuh plastik berbalik arah terbang ke Gue, cepet banget. Tapi ada muka sama rambutnya, matanya merah kulitnya pucet mukanya serem, terus nemplok dimuka Gue, sambil buka mulutnya lebar-lebar. Gue kaget, abis itu gelap, Gue ga tau apa-apa...," cerita Nurbaiti.


" Serem ya..., jadi itu apaan Nur...?" tanya Indira polos.


" Ampuunn..., b*go amat sih lo Dirrr.... Ya kunti lahh..., apalagi emangnya...?" sahut Nurbaiti gemas.


" Ooo iya ya...," Indira tersenyum pahit.


Bel tanda masuk pun terdengar.Semua karyawan bergegas masuk untuk tukar shift dengan yang masuk pagi.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2