
" Rencana ini udah lama diomongin Say..., jauh hari sebelum Kita jadian...," kata Indira sambil merapikan kerah baju Aris.
" Aku boleh tahu ga rencananya...?" tanya Aris penasaran.
" Boleh dong, Aku ga ada rahasia kalo sama Kamu...," kata Indira sambil tersenyum.
" Wahh, pacar Aku udah pinter ngegombal ya sekarang...," kata Aris sambil mencubit ujung hidung Indira.
" Kan Kamu yang ngajarin...," elak Indira.
" Kelamaan nih, cepetan bilang rencananya apa sih...?" tanya Aris lagi.
" Aku mau ke kampung Neneknya Asti di Indramayu...," sahut Indira.
Seketika Aris merasa lemas. Itu artinya ia tak kan melihat Indira dalam waktu lama. Bagi Aris-Indira yang sedang kasmaran, bertemu tiap hari seolah menjadi syarat mutlak.
" Berapa lama ?, Aku bakal kangen dong Yang..., gimana sih Kamu...," sungut Aris.
" Aku belom tau, mungkin seminggu, dua minggu, sebulan, atau...," Indira tak menyelesaikan ucapannya.
" Ya ampuuunn..., Kamu ga mikirin Aku ya...?" kata Aris cepat memutus ucapan Indira.
Lumayan lama Indira membujuk Aris agar mengijinkannya ikut Asti.
" Emang Ayah sama Ibu ngasih Kamu ijin buat ikut Asti...?" tanya Aris akhirnya.
" Mmm..., udah. Aku udah minta ijin. Ayah sama Ibu ngijinin kok. Aku kan sering juga pergi sama temenku dan nginep berhari-hari...," kata Indira meyakinkan.
" Aku ngalah dehh..., Kamu boleh pergi...," kata Aris pasrah.
\=\=\=\=\=\=
Pernikahan Dewi, teman segenk Indira rupanya dipercepat. Hal ini sempat membingungkan ke 4 sekawan ini. Mereka seolah tak percaya dengan berita ini.
" Kenapa pernikahan Dewi waktunya maju jauh banget sih May...?" tanya Indira.
" Yang Gue denger, Dewi ribut sama Nyokapnya...," kata Maya.
" Lho, apa hubungannya...?" tanya Asti dan Sofia bersamaan.
" Lo lupa ?, Dewi sama Nyokapnya emang ga pernah akur. Padahal Dewi tuh anak kandung, tapi Nyokapnya tuh kaya benci banget sama Dewi...," kata Maya prihatin.
" Kasian, kali aja ada cerita sedih pas kelahiran Dewi, makanya Nyokapnya jadi gitu sama Dewi...," tebak Indira.
" Bisa juga...," sahut Maya lagi.
Sofia berkata, " Kita ga bisa jadi panitya di pernikahan Dewi, semua udah dihandle sama Nyokapnya. Dan Nyokapnya Dewi yang milih siapa aja panitya yang terlibat, dari pihak Dewi ataupun pihak cowoknya...,"
" Yahh, mau gimana lagi. Kita kan ga pernah diterima sama Nyokapnya Dewi...," kata Asti sambil meringis.
" Iya, kalo Kita ke rumah Dewi, ga pernah Kita disambut pake senyum, apalagi di suruh masuk. Sadis banget tuh Nyokapnya Dewi...," kata Sofia sambil geleng-geleng kepala.
Mereka berempat tertawa mengingat sikap ibunya Dewi terhadap mereka. Tak pernah ramah, selalu memandang dengan tatapan seolah mereka sangat 'mengganggu'.
" Ya udah gapapa. Karna Kita ga bisa bantu apa-apa, Kita pake seragam aja buat ngedukung Dewi di pernikahannya...," usul Asti.
__ADS_1
" Setuju...," sahut Maya cepat.
" Pake kebaya...?" tanya Indira ragu.
" Ga usah, Kita bisa cari warna atau model baju yang sama aja...," kata Asti lagi.
" Ayolah, Kita cari bareng aja...," usul Sofia semangat.
Merekapun beranjak mencari 'seragam' untuk hadir di pernikahan Dewi. Mereka berkeliling di mall terdekat. Akhirnya setelah lelah mencari, mereka menemukan baju dengan model dan warna yang sama.
" Jangan lupa ajak pasangan Kalian ya...," kata Asti sebelum mereka berpisah di jalan.
Semua mengangguk setuju.
" Eh, koko ikutan ngangguk sih Dir, emang Lo udah ada pasangan sekarang...?" tanya Asti.
" Ada...," jawab Indira malu-malu.
" Haahh..., siapa, orang mana, Kita kenal ga, baik ga...?" berondongan pertanyaan ditujukan oleh Maya dan Sofia pada Indira.
" Besok pas acara Dewi ,in sya Allah Gue ajak deh kalo dia ga sibuk...," kata Indira berteka-teki.
" Awas kalo bo'ong Lk ya...," kata Sofia mengancam.
Indira tersenyum kecut mendengar ancaman Sofia.
\=\=\=\=\=\=
Tanpa kesulitan Indira berhasil mengajak Aris untuk turut hadir di pernikahan Dewi. Karena acara pernikahan Dewi berlangsung di hari Minggu pagi, maka sejak pagi Indira tampak sibuk merias diri di kamarnya.
" Ntar jemput kesini Bu...," jawab Indira.
" Kamu udah omongin ke Aris tentang rencanamu sama teman-temanmu...?" tanya ibu lagi.
" Udah. Awalnya keberatan, tapi akhirnya Aris setuju...," kata Indira sambil memoles lipstik sebagai sentuhan akhir di wajahnya.
" Mbaaakk, Bang Aris udah dateng tuh...!" teriak Ali dari luar kamar.
" Iya, suruh masuk dulu aja...," sahut Indira.
Tak lama Indira melangkah keluar kamar. Aris ditemani Amar sedang ngobrol di teras rumah. Kebetulan ayah Indira sedang piket di kesatuannya.
Saat itu Aris mengenakan setelan batik lengan pendek warna abu-abu yang pas di tubuhnya dan celana bahan warna hitam. Sedangkan Indira mengenakan blouse model terbaru warna biru muda dan rok batik siap pakai ( yang dibelinya kemarin ), dengan high heels hitam. Rambut Indira diberi jepit sebagai pemanis. Tanpa mereka sadari, sungguh keduanya begitu serasi.
Aris yang sedang ngobrol dengan Amar menoleh ke asal suara. Aris nampak takjub dengan penampilan Indira. Tanpa menunggu lama mereka segera berangkat menuju rumah Dewi.
Perjalanan mereka tempuh dengan menggunakan Taxi, alasannya simple. Mereka ingin bersantai menikmati kebersamaan mereka, tanpa harus berjibaku dengan kendaraan lain di jalan.
" Yang..., Kamu cantik banget hari ini...," puji Aris sambil meremas telapak tangan Indira.
" Ga ada uang receh...," sahut Indira garing.
" Kok gitu sih, marah ya...?" tanya Aris lembut.
" Ga, ngapain marah...," sahut Indira sambil membuang pandangannya keluar jendela.
__ADS_1
Aris tersenyum, ia mengunci mulutnya rapat-rapat tanpa melepaskan genggaman tangannya. Ia tahu, disaat seperti itu lebih baik diam. Karena Indira bisa saja 'meledak' sewaktu-waktu jika terus dipancing.
Mereka tiba di rumah Dewi sebelum akad nikah dimulai. Di kursi tamu tampak berjejer tamu undangan yang menanti kedatangan pengantin.
Di depan meja tamu tampak berdiri Maya, Sofia dan Asti beserta pasangan mereka masing-masing. Ada sedikit kehebohan saat mereka menoleh kearah Indira yang baru saja tiba.
" Wahhh, Indiraa...," seru Maya, Sofia dan Asti bersamaan.
" Jadi, Lo sama ...," ucapan Sofia terputus.
" Iya, Gue udah jadian sama Aris...," kata Indira malu-malu.
" Welcome to the jungle...," bisik Abeng sambil merangkul bahu Aris senang.
Aris tertawa menyambut uluran tangan dari Abeng, Yogi dan Rian. Mereka beranjak untuk duduk di kursi yang disediakan.
Sementara itu Indira harus menjawab pertanyaan yang beruntun dari tiga sohibnya itu.
" Sejak kapan, dimana...?" tanya Maya sok cool.
" Dua mingguan, di depan pabrik...," jawab Indira tak kalah cool.
" Jadi sebelom kontrak Lo selesai dong...?" tanya Asti.
" Kok ga cerita sama Kita...?" gantian Sofia yang bertanya.
" Akhirnya Lo ga bisa lari ya dari Aris...?" tanya Maya lagi.
" Rencana sampe kapan Lo bo'ongin Kita...?" sindir Sofia sebal.
Indira hanya terdiam tak bisa menjawab. Melihat Indira yang terdiam, membuat Maya, Sofia dan Asti menghentikan pertanyaan mereka. Dari jauh Abeng memberi kode agar Maya dan tiga temannya segera duduk, karena acara akan segera dimulai.
Suara musik tradisional Jawa Barat mengiringi kedua pengantin dan rombongan yang memasuki tempat akad nikah.
Tampak Dewi dan Irfan mengenakan pakaian adat Sunda lengkap. Dewi terlihat sangat cantik.
Dewi dan Irfan duduk berhadapan dengan penghulu dan para saksi yang dibatasi meja. Penghulu memastikan data calon pengantin terlebih dulu. Lalu sedikit nasehat dari penghulu. Dilanjutkan acara inti, acara akad nikah yang berlangsung khidmat.Irfan mampu menyelesaikan ijab kabul dengan suara mantap.Kata 'sah' menggema di tempat itu, diiringi doa syukur.
Indira dan ketiga temannya nampak terharu dan meneteskan air mata. Aris menggenggam tangan Indira lembut, seolah memberi kekuatan tersendiri untuk Indira.
Hadirin mulai berdiri dan menghampiri pengantin yang berbahagia itu sambil mengucap selamat. Indira dan rombongan juga tak mau ketinggalan. Mereka menghampiri pengantin dengan pasangan masing-masing.
" Mas, ini sahabat-sahabat Aku...," kata Dewi memperkenalkan mereka pada suaminya.
" Wahh, senang melihat Kalian disini. Makasih lho kehadirannya...," sambut Irfan ramah.
" Dira, Lo sama kak Aris...," kata Dewi terputus.
" Sssttt, iya, mereka udah jadian...," kata Sofia sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Mudah-mudahan Kalian cepet nyusul kaya Gue yaaa...," doa Dewi dengan tulus.
" Aamiin...," ucap hadirin yang mendengar doa Dewi barusan, membuat teman segenk Dewi itu segera beranjak dengan muka merah karena malu.
bersambung
__ADS_1