
Bu Marni mengajak Indira, Sofia dan Asti kerumah yang akan disewa.
Saat pertama kali pintu dibuka, terdengar suara derit pintu yang menandakan bahwa pintu rumah sudah lama tak dibuka.
Ruangan tampak kotor berdebu, dengan banyak sampah di dalamnya. Lantai, dinding, lemari dan seluruh bagian rumah tampak sangat kotor tak terawat.
" Sudah berapa lama ga dihuni orang Bu...?" tanya Indira.
" Terakhir sih bulan kemaren lah Mbak yang nyewa pergi, mau pulang kampung katanya...," ujar Bu Marni.
" Tapi kaya udah bertaon-taon ga ditempatin orang Bu...," kata Sofia tak percaya.
" Ga kok Mbak, baru sebulan ga ada yang nyewa...," kata bu Marni coba meyakinkan.
Setelah melihat sejenak dari luar, Indira dan kedua temannya pun pamit pada bu Marni.
" Kalo perusahaan setuju, ntar Saya dateng lagi ke rumah Ibu...," kata Indira.
" Iya, Saya tunggu kabarnya ya Mbak...," kata bu Marni berharap.
Indira, Sofia dan Chika kembali ke rumah. Ada Jayadi yang kebetulan sedang membaca koran di teras rumah.
" Darimana Kalian...?" tanya Jayadi sambil melipat koran.
" Abis nyari rumah Bang...," sahut Sofia.
" Gimana, udah dapet, jauh ga dari sini...?" tanya Jayadi lagi.
" Alhamdulillah udah dapet Bang, ga jauh kok, cuma beda satu gang dari sini...," kata Indira menjelaskan.
" Gang sebelah mana ?. Jangan sembarangan cari rumah lho, coba ntar tanya sama Bu Ninik dulu, aman ga lingkungannya...," kata Jayadi kawatir.
" Iya Bang...," kata Indira dan kedua temannya bersamaan.
\=\=\=\=\=\=
Setelah urusan pembayaran beres, Indira dan kedua temannya mulai mempersiapkan segala keperluan di rumah baru.
Dimulai dari bersih-bersih rumah, yang akan dilakukan hari Minggu pagi. Sebelumnya Indira pergi kerumah bu Marni untuk minta kunci rumah. Saat memberikan kunci rumah, ada satu pesan ganjil dari bu Marni.
" Nih Mbak kuncinya. Tapi kamar ketiga yang terkunci itu ga usah dibersihin ya,biarin aja...," pinta bu Marni.
" Kamar yang mana ya Bu...?" tanya Chika penasaran.
__ADS_1
" Ayo Saya kasih tau, nah yang kamar ini Mbak...," tunjuk Bu Marni pada sebuah kamar yang tertutup rapat.
" Kalo nanti jumlah orangnya nambah gimana Bu...?" tanya Sofia lagi.
" Ntar gampang lah..., dipikirin nanti aja...," kata bu Marni santai.
" Emang ga bisa dibuka Bu...?" tanya Indira makin penasaran.
" Ga bisa. Udah, Mbak bersihin dua kamar ini aja, masih bisa dipake, lebih luas lagi...," kata bu Marni bersikukuh.
Mereka bertiga saling tatap sejenak. Akhirnya mereka menyetujui permintaan bu Marni untuk tak membuka pintu kamar ketiga.
Saat membersihkan rumah, Sofia meminjam radio milik Asman untuk menemani mereka membersihkan rumah. Mereka bertiga mulai dari kamar depan dan ruang tamu yang memang letaknya bersebelahan.
Lagu-lagu yang diputar kencang oleh Sofia menarik perhatian tetangga depan rumah.
" Waahhh..., ada tetangga baru ya...," sapa pemilik rumah yang kemudian dikenal dengan nama bu Amin dan pak Amin.
" Iya Pak, Bu, kami baru pindah...," jawab Sofia & Chika ramah.
" Berapa orang...?" tanya bu Amin lagi.
" Sekarang baru tiga orang Bu...," kata Sofia sambil mengenalkan diri.
" Ini bukannya yang tinggal sama Mas Jayadi kan...?" tanya pak Amin ragu.
Mereka melanjutkan pekerjaan mereka setelah pak Amin pamit mau ke rumah anaknya. Indira masuk ke bagian tengah rumah. Disana ada ruang makan yang berhadapan dengan kamar ketiga yang merupakan kamar 'terlarang' untuk disentuh.
Ada lemari besar berisi perabot makan, juga satu set meja makan untuk enam orang. Saat menyentuh kaca lemari yang tampak kotor itu, Indira agak bergidik. Ia memandang ke dalam lemari, tampak sebuah foto jadul seorang pria yang seolah memandang tajam kearahnya.
Indira mengalihkan pandangan ke sekitar ruang makan, lantai kotor, meja kursi juga kotor. Dan ada lampu gantung yang tergantung di plafond usang, lagi-lagi terlihat kotor dan usang. Sambil tak henti berdzikir, Indira membersihkan ruang makan itu seorang diri.
Sofia dan Chika asyik bernyanyi mengikuti suara musik di radio. Sesekali mereka berdua tertawa sambil berjoget riang. Saat Indira melewati kamar tengah atau kamar kedua, sepintas ia melihat sosok pria berbadan besar, tanpa baju atasan, berambut keriting dan berkulit gelap tampak duduk di kursi yang berada tepat di tengah kamar.
Indira terkejut dan coba berbalik. Ia lalu mencari saklar lampu dan bermaksud menyalakan lampu kamar. Tiba-tiba Indira merasa tangannya tersengat listrik (kesetrum). Segera ia memanggil Sofia.
" Sof, Sof..., sini bentar deh. Tolong nyalain lampu kamar ini dong, tangan Gue kesetrum barusan...," pinta Indira.
Dengan santainya Sofia menyentuh saklar lampu tanpa kesetrum.
" Ngaco lo, nih Gue ga kenapa-kenapa...," ejek Sofia sambil tertawa.
" Tapi Gue barusan kesetrum Sof, terus Gue...," kalimat Indira terputus begitu saja karena melihat Sofia yang berjalan ke ruang tengah.
__ADS_1
Sofia tak menggubris ucapan Indira, ia malah melanjutkan menyanyi yang sempat terhenti karena panggilan Indira tadi. Indira pun urung menceritakan apa yang dilihatnya tadi.
Dirumah itu juga terdapat kamar mandi, wc, juga sumur timba yang semuanya terletak di bagian belakang rumah. Mereka bertiga juga membersihkannya dengan cepat.
Setelah semua bagian rumah bersih. Indira mengajak kedua temannya memperhatikan pintu kamar ketiga. Nampak pintu tertutup rapat, ada gembok besi, cat kayunya pun mulai luntur. Yang sedikit aneh, bagian bawah pintu sudah dipenuhi debu dan sarang laba-laba seolah sudah tahunan pintu itu tak pernah dibuka.
" Kali aja di dalem ada harta karun...," celetuk Sofia asal.
" Atau ada rahasia kali...," kata Chika.
" Ya pasti ada rahasianya dong oneng, udah tau ga boleh dibuka...," jawab Sofia sambil menjitak kepala Chika sebal.
" Udah yuk, Kita ambil tas biar bisa istirahat...," ajak Indira.
Mereka pun kembali kerumah Jayadi untuk mengambil tas dan pakaian mereka. Dibantu oleh Dimas dan Ari yang kebetulan dirumah saat itu, mereka membereskan rumah baru sehingga nyaman ditempati.
" Rumahnya terlalu besar nih buat Kalian bertiga...," kata Dimas.
" Kalian yakin tinggal disini bertiga aja...?" tanya Ari.
" Insya Allah yakin Mas...," jawab Indira optimis.
\=\=\=\=\=\=
Hari pertama tinggal di rumah yang berbeda membuat mereka merasa sedikit aneh, mungkin karena belum terbiasa.
Semua aktifitas yang bersinggungan dengan air mereka lakukan bersama. Mulai dari mandi, pup, cuci piring dan cuci baju. Hanya menyapu dan mengepel rumah yang dilakukan sendiri-sendiri. Mereka bertiga mencoba bertahan tinggal di rumah baru.
Kamar depan di rumah Jayadi yang semula ditempati Indira dan temannya, sekarang ditempati Gunawan, Ari dan Jayadi.
" Kamar bekas cewek mah beda ya...," kata Ari.
" Iya, aroma bedaknya masih ketinggalan di kamar...," kata Gunawan sambil menghirup udara yang masih beraroma harum itu.
" Eh radionya Asman belom dibalikin ya...?" tanya Dimas sambil duduk di pinggir tempat tidur.
" Kayanya belom, keliatannya Asman akan menghibahkan radio itu buat Sofia...," kata Ari lebay.
" Ya udah deh, kasian juga kalo ga ada hiburan di sana...," kata Dimas mengalah.
" Lah ntar beli aja lagi, yang lebih gede. Patungan yuk sama Gue...," ajak Gunawan pada Dimas dan Ari.
" Ayo, boleh tuh, Kita jalan aja sekarang..." kata Dimas yang disetujui oleh Ari.
__ADS_1
Mereka bertiga lalu keluar untuk membeli radio baru, sebagai pengganti radio Asman yang dipinjam Sofia.
bersambung