Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 23 ( Refreshing )


__ADS_3

Setelah keluar dari stasiun, mereka masih harus menaiki angkot untuk menuju rumah famili Aris.


" Sebenernya rumah siapa sih yang Kita datengin, Ris...?" tanya Yogi.


" Rumah Om Gue, udah lama Gue ga kesini...," sahut Aris.


" Kok ngajakin Kita, emang gapapa...?" tanya Abeng menambahkan.


" Tempatnya enak, seru. Gue jamin Lo pada bakalan betah...," kata Aris memberi alasan.


" Ga nyambung Lo...," kata Abeng sambil melempar bungkus rokok kearah Aris.


Aris menangkap bungkus rokok yang dilempar Abeng sambil nyengir. Sekilas ia melirik Indira yang duduk di sampingnya. Ia senang akhirnya bisa mengajak Indira berkunjung ke rumah familinya.


Butuh waktu sepuluh menit untuk tiba di tempat tujuan.


Masih di pintu gerbang, tapi sudah terlihat pemandangan yang menyejukkan mata.


Aris membawa mereka masuk. Di teras rumah yang asri tampak seorang nenek duduk sambil makan makanan ringan.


" Assalamualaikum Nek...," sapa Aris.


Nenek yang sudah mulai tuli dan rabun karena usia senja, mengacuhkan kedatangan Aris.


" Wa alaikumsalam...," terdengar sahutan dari dalam rumah.


" Tante, Om...," sapa Aris lagi sambil mencium punggung tangan keduanya.


" Kirain ga jadi dateng Ris...," kata om Aris yang bernama Opan, sambil menepuk punggung Aris pelan.


" Jadi Om, o iya kenalin ini temen-temen Aris Om, Tante...," kata Aris mulai memperkenalkan temannya satu per satu.


" Waahh, akhirnya kenalin cewek Kamu juga sama Kita, ya Ma...," sindir om Aris.


" Iya Pa, udah lama Kita nunggu lho...," sahut tante Aida sambil tersenyum.


Aris menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia bingung harus jawab apa. Untuk mencairkan suasana, om Aris mengajak mereka semua ke halaman samping. Setelah berbincang sejenak dengan neneknya, Aris meninggalkan mereka ke belakang untuk mengambil suguhan yang disiapkan sang tante.


Rumah sederhana om Opan dikelilingi halaman yang ditanami pohon buah-buahan. Udaranya sejuk, jauh dari keramaian, cocok buat mereka yang butuh refreshing seperti Aris dan kelima temannya.


Om Opan dan tante Aida adalah orang yang ramah dan supel. Dalam sekejap kelima teman Aris tampak akrab seolah sudah saling mengenal lama.


Saat sedang asyik ngobrol, nampak nenek berjalan tertatih menuju pintu gerbang. Sontak Indira yang kebetulan melihatnya langsung teriak.


" Eh, Neneko mau kamana tuh Ris...!" teriak Indira yang melihat nenek Aris hampir terjatuh.

__ADS_1


" Ibu...!" teriak om Opan sambil berlari menghampiri nenek disusul tante Aida.


" Ibu mau kemana...?" tanya tante Aida lembut.


" Mau liat Ogam sama Ita, tadi katanya sebentar ke warung. Kok belom pulang udah hari gini...," kata nenek.


" Kan Bang Ogam sama Kak Ita udah tidur Bu..., coba Ibu liat di kamarnya...," sanggah om Opan sambil memapah nenek masuk ke dalam rumah.


" Dasar Anak nakal, ditungguin di depan malah ngumpet...," kata nenek sambil tertawa kecil.


" Iya nakal, ntar enaknya diapain Bu...?" tanya om Opan lagi.


" Dijewer kupingnya sama cubit pipinya...," kata nenek sambil memperagakan gerakan menjewer dan mencubit.


Om Opan terus berjalan pelan sambil memapah nenek, sementara tante Aida kembali menemani tamunya.


" Biasa deh, Nenek kamu Ris...," kata tante Aida sambil menahan tawa.


" Emang Bapak sama Tante Ita udah lama ga nengok Nenek ya Tan...?" tanya Aris pelan.


" Baru minggu kemaren Bapakmu sama Tante Ita ke sini...," sahut tante Aida cepat, " Nenek kan udah pikun Ris, jadi ngelantur kalo ngomong...," sambungnya lagi.


Kelima teman Aris hanya mendengarkan obrolan Aris dengan tante Aida. Tak lama om Opan menghampiri mereka.


" Gimana, Ris...?. Ditinggal sebentar gapapa kan...?" tanya tante Aida sambil menoleh kearah Aris.


" Gapapa Tan..., ntar Aris yang jagain Nenek...," sahut Aris yakin.


Tante Aida segera beranjak masuk untuk bersiap menghadiri undangan. Tak lama om Opan & tante Aida keluar dari rumah. Tante Aida terlihat cantik,mengenakan setelan kebaya modern dan kain batik. Sedangkan om Opan tampak gagah diusianya yang tak lagi muda, mengenakan setelan baju batik lengan pendek dan celana bahan. Keduanya terlihat serasi.


" Santai aja, anggap aja rumah sendiri. Kalo Kalian mau apa-apa tinggal ambil, ga usah sungkan. Sebentar kok Kita perginya, ditinggal dulu ya...," pamit om Opan.


Aris dan kelima temannya temannya mengiyakan dengan senyum lebar.


" Ga usah ditungguin terlalu deket, Ris. Ntar Nenek malah marah. Sambil diliat-liat aja sesekali, mungkin Nenek perlu sesuatu...," pesan tante Aida sambil naik ke atas motor yang dikendarai om Opan.


" Nenek Gue udah pikun, rabun juga...," kata Aris sambil duduk.


" Emang ga ada orang di rumah...?" tanya Sofia.


Aris menggeleng, " Anaknya Om Gue ikut sama Suaminya ke Batam...," jawab Aris.


" Yang tadi disebut sama Om Lo, siapa...?" tanya Maya.


" Ooo, itu Bokap Gue sama Tante Gue. Anak Nenek gue ada tiga. Bokap gue, Tante Ita, yang bungsu Om Opan. Kakek Gue udah lama meninggal...," sahut Aris.

__ADS_1


" Kenapa Nenek Lo tinggal sama Anak bungsunya, biasanya kan tinggal sama Anak sulung...?" tanya Yogi sambil mulai memetik gitar.


" Kasian Nenek kalo tinggal di rumah Gue, di pinggir kota, panas, berisik lagi. Kalo di sini kan enak, sejuk, sepi, tenang...," kata Aris memberi alasan.


" Bener juga kata Aris, suasana di sini lebih cocok buat orang seumuran Nenek...," kata Indira.


" Ehm ehm..., emang cuma Lo yang paham sama jalan pikirannya Aris, Dir...," kata Abeng berdehem sambil melirik Aris.


" Mulai dehhh...," rajuk Indira.


Semua tertawa, sementara Aris hanya tersenyum melihat sikap Indira.


" Mau liat ke belakang ga...?" tanya Aris di sela tawa mereka.


" Emang ada apaan di belakang...?" tanya Yogi antusias.


" Banyak, ada pohon mangga yang siap panen, ada kolam ikan lele, ada saungnya juga...," jawab Aris enteng.


" Gapapa kalo Kkta ke belakang? Ga enak sama Om Lo ntar, terus Nenek Lo siapa yang jagain...?" tanya Abeng beruntun.


" Tenang aja, Gue temenin Lo pada ke belakang sebentar, ntar Gue sambil liatin Nenek Gue, gampang kan...?" tanya Aris.


" Kalo boleh Kita gantian aja liatin Nenek lo Ris...," usul Maya.


" Wah bener tuh kata Yayang Gue...," kata Abeng mendukung ide Maya.


" Boleh juga, Gue tutup pintu dulu bentar," kata Aris setuju, " Bisa petik kelapa juga kalo Lo mau...," kata Aris sambil menutup pintu depan rumah om Opan.


Aris dan kelima temannya sangat menikmati keberadaan mereka di rumah om Opan. Mereka mulai membagi tugas. Yogi memetik beberapa buah mangga yang terlihat menggoda selera. Abeng memetik kelapa dan Aris menyiapkan tempat untuk mereka duduk. Sementara itu Indira dan Sofia membantu Aris menyiapkan perlengkapan makan minum mereka, sedangkan Maya sesekali melihat ke kamar nenek Aris.


Setelah semua siap, mereka duduk di saung sambil ngobrol. Tak lama kemudian om Opan dan istrinya kembali.


" Wahh...,rame nih, udah lama ga kaya gini ya Ma...," kata om Opan.


" Iya Pa. Eh, gimana kalo Kita bakar ikan, mau ga...?" tanya tante Aida semangat.


Semua mengangguk setuju. Setelah berganti pakaian, om Opan meraih jala untuk mengambil beberapa ikan lele di kolam. Dibantu Aris, Yogi dan Abeng.


Lalu tante Aida beranjak ke dalam rumah mengambil peralatan untuk membakar ikan.


Dilanjutkan acara makan, dengan nasi hangat, sambal buatan tante Aida dan lalapan.


Rasanya luar biasa, nikmat yang Allah berikan pada hamba Nya saat itu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2