Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 26 ( Berangkat )


__ADS_3

Setelah mereka menghadiri acara pernikahan Dewi, Indira dan tiga temannya bergerak cepat.


Mereka segera mempersiapkan keberangkatan mereka. Mereka berkumpul di rumah Asti. Saat itu Abeng, Yogi dan Rian berhalangan mengantar pacar mereka ke terminal. Hanya Aris yang bisa mengantar Indira dan ketiga temannya hingga ke terminal Pulo Gadung, itupun karena Aris bertukar shift dengan temannya.


" Dir, cowok Lo diem aja...," kata Sofia.


" Iya lah, pasti berat ditinggalin, mana baru jadian lagi...," jawab Maya mewakili Indira.


" Jangan gangguin Mereka, biarin Mereka berdua. Kita duduk di sana aja...," ajak Asti pengertian.


Indira menoleh ke sampingnya. Ia menarik tangan Aris kemudian menggenggamnya.


" Cuma sebentar kok perginya, ntar kalo ada apa-apa Aku kabarin Kamu...," bujuk Indira sambil tersenyum manis.


" Iya, Aku percaya. Ngeliat Kalian berempat pergi tanpa kawalan kok bikin Aku kawatir Yang...," kata Aris sambil memeluk Indira.


" Jangan kaya gini dong, ga enak sama yang laen...," kata Indira berusaha melepaskan pelukan Aris.


Lalu Aris mengurai pelukannya. Menatap mata Indira dalam. Aris berharap tak ada kejadian buruk yang menimpa Indira dan temannya nanti. Aris menepis perasaannya yang merasa Indira sedang 'berlari' menjauhinya. Aris tersenyum tulus lalu menggandeng tangan Indira, mengikuti temannya yang sudah beranjak.


Mereka mendatangi tempat bus yang akan membawa mereka ke Indramayu. Di dalam bus,Indira dan ketiga temannya segera mencari kursi untuk mereka duduk. Sebelum bus berangkat Aris masih sempat berpesan pada 4 sekawan itu.


" Selama di jalan jangan bengong, tetep waspada, ga usah nanggepin orang asing berlebihan. Kalo mau tidur gantian, supaya bisa saling jaga buat menghindari orang yang punya niat jahat...," kata Aris panjang lebar.


Mereka berempat mengangguk terharu dengan perhatian Aris.


Sebelum turun, Aris sempat mengecup kening Indira sekilas. Indira melambaikan tangannya pada Aris saat bus mulai bergerak. Aris membalas lambaian tangan Indira dan terus memandangi kepergian bus yang membawa kekasihnya.


\=\=\=\=\=\=


Perjalanan pun dimulai. Mereka duduk berpasangan, Asti dengan Maya, sedangkan Indira dengan Sofia.


" Aris tuh sayang banget sama Lo, Dir. Liat kan tadi, dia kawatir banget...," kata Sofia.


" Iya Sof, Gue tau kok. Abis gimana dong, Kita udah rencanain ini lama kan...," kata Indira pasrah.


" Emang dia ngelarang lo pergi sama Kita ?" tanya Sofia.


" Aris ga posesif kaya Thoriq. Aris ga ngelarang, cuma kawatir. Dia tuh dewasa, dia sadar , statusnya cuma Pacar yang ga bisa ngekang Gue. Beda kalo Suami...," kata Indira lagi.

__ADS_1


" Eehhh, cieee..., maksud Lo, Lo mau kalo si Aris jadi Suami Lo...?" ledek Asti yang mendengar obrolan kedua temannya dari kursi depan.


" Apaan sihh..., maksud Gue, Pacar-pacar Kita belom punya hak penuh sama Kita. Ga kaya Dewi tuh...," jawab Indira salah tingkah.


" Kok bawa-bawa Dewi. Kan Dewi ga ikut...," kata Maya ikut meledek.


" Jangan bilang Lo ga pake acara ribut dulu sama si Abeng ya May...," kata Indira mengeluarkan jurus pamungkasnya.


Maya terdiam lalu berkata, " Iya, Gue ribut sama Abeng kemaren. Dia marah karna Gue ga ngajak dia...," kata Maya sedih.


" Kalo si Rian, dia janji nyusul Gue...," kata Asti mencoba menghibur diri.


" Kalo Yogi mah cuek, Gue jadi ga yakin kalo dia sayang sama Gue...," kata Sofia sambil nyengir.


Mereka berempat pun terdiam. Menikmati perjalanan yang ditempuh selama hampir tiga jam. Sesekali mereka tidur, bergantian, seperti pesan Aris.


Asti mengingatkan ketiga temannya agar bersiap untuk turun. Saat kernet meneriakkan nama sebuah tempat, keempatnya pun turun Asti bernafas lega karna berhasil melewati perjalanan panjang. Asti mengajak temannya menyusuri jalan berbatu, sepertinya jalan itu rusak karena belum tersentuh 'pembangunan'.


" Masih jauh ga Ti...?" tanya Maya.


" Lumayan, Kita naek dokar dari sini...," sahut Asti.


Mereka menghampiri pangkalan dokar. Setelah tawar menawar, akhirnya mereka naik dan dokar pun melaju menuju rumah nenek Asti.


Sepanjang perjalanan tampak rumah penduduk berjejer rapi. Di depan rumah penduduk tampak jejeran meja yang dipakai untuk menjemur ikan. Rumah nenek Asti dekat dengan kampung nelayan, maka tak heran banyak 'jemuran ikan' di halaman rumah yang mereka lewati.


Dokar berhenti di depan sebuah rumah sederhana berhalaman luas. Maya melirik jam tangannya yang menunjukkan jam tiga sore. Tampak seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri.


" Duh Nyai, kenapa ga telpon kalo udah sampe, ntar kan bisa Saya jemput...," kata pria itu.


" Ah gapapa Mang Bodong, ntar ngerepotin...," sahut Asti sambil tersenyum.


" Ga bakal ngerepotin kok, si Nyai mah suka gitu...," kata mang Bodong lagi.


Mang Bodong ikut membantu menurunkan barang bawaan mereka dari atas dokar. Setelah dokar menjauh, Asti mengenalkan ketiga temannya pada mang Bodong.


" Mang, iyeu kenalin. Ini temen-temen Saya. Yang rambut pendek namanya Maya, yang kecil cantik itu Sofia, nah yang macho ini Indira...," kata Asti setengah bercanda.


" Masa cantik gini dibilang macho sih,Nyai. Macho mah buat cowok atuh...," sergah mang Bodong menahan tawa.

__ADS_1


Mereka tertawa bersama mendengar gurauan Asti dan mang Bodong.


Indira mengedarkan pandangannya, ia melihat seorang nenek sembunyi di balik pohon sedang memperhatikan mereka. Memakai kebaya dan kain batik yang terlihat usang. Indira tersenyum ramah kearah si 'Nenek'. Indira tersentak saat Sofia menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah. Saat Indira berjalan masuk, ia sempat melihat ke pohon tadi, tapi nenek tadi tak dijumpainya lagi.


Rumah nenek Asti tampak bersih dan nyaman. Aroma tanah tercium begitu mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Wajar saja, karena rumah nenek Asti masih berlantaikan tanah.


Setelah meletakkan bawaan tamunya di kamar, mang Bodong segera meninggalkan mereka. Tinggal lah Indira dan ketiga temannya di rumah itu. Mereka bergantian membersihkan diri. Setelahnya mereka mulai membongkar tas dan bawaan mereka.


" Kok Nenek Lo belom masuk dari tadi sih Ti...?" tanya Indira sambil bersiap sholat Ashar.


Asti menoleh kearah Indira, belum sempat menjawab terdengar suara mang Bodong di belakang rumah. Asti segera membuka pintu belakang. Terlihat mang Bodong dan istrinya yang membawa nampan berisi suguhan untuk Asti dan temannya. Pembicaraan seru terjadi antara Asti dan teh Mila,istri mang Bodong.


" Kumaha Nyai, tos lami teu kapendag...," sapa teh Mila senang sambil memeluk Asti.


" Iya, punteun baru kesini lagi Teh...," Asti balas memeluk teh Mila.


" Nih, Saya bawain teh manis sama cemilan buat Nyai sama temennya...," kata mang Bodong menyela.


" Iya Mang, hatur nuhun...," sahut Asti.


" Saya tinggal dulu ya, Nyai istirahat aja dulu, ntar Kita ngobrol lagi...," kata teh Mila ramah.


Lalu mang Bodong dan istrinya keluar kewat pintu belakang.


" Siapa Ti...?" tanya Sofia.


" Teh Mila Istrinya Mang Bodong. Eh..., nih ada teh anget buat Kita...," jawab Asti.


" Kok Gue denger Mereka panggil Lo Nyai sih Ti...?" tanya Maya sambil mengusak rambutnya yang basah dengan handuk.


" Gue ga tau, mereka emang manggil Anak Bokap Gue yang cewek kaya gitu...," sahut Asti seperti menyembunyikan sesuatu.


Mereka menikmati sore itu sambil menikmati teh manis hangat dan ketan uli. Saat malam hari, kembali mang Bodong dan istrinya datang membawa makanan untuk makan malam Asti dan ketiga temannya.


Menjelang tidur malam, Asti berbisik pada Indira,


" Sebenernya Nenek Gue meninggal udah dua minggu yang lalu...," Asti menoleh kearah Sofia dan Maya yang sudah terlelap, " Tapi Gue sengaja ga bilang, ntar Lo pada ga jadi ke sini."


" Haahh...," Indira terbengong.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2