Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 9 ( Mulai Dekat )


__ADS_3

Mengingat percakapannya dengan Asti membuat Indira dilema. Di pabrik itu perempuan mana sih yang bisa nolak Aris. Karena dia tampan?, masih banyak yang lebih tampan. Karena ramah, bisa jadi. Tapi Indira satu-satunya perempuan yang enggan berdekatan dengan Aris.


" Hai Dira..., lama nih ga ketemu...," sapa Aris basa basi.


" Apaan sih, tadi pagi kan Kita bareng satu angkot...," kata Indira ketus.


" Eh iya, lupa Gue, galak amat sih Dirr...," kata Aris lagi.


Indira melangkah makin cepat. Mencoba menghindar dari obrolan lanjutan.


Sore hari di jam pulang kerja. Angkot yang ditumpangi Indira mogok. Ia dan penumpang lain terpaksa turun, padahal perjalanan masih lumayan jauh. Tanpa disadari ternyata ada Aris juga diantara para penumpang. Indira dan karyawan lain melanjutkan dengan jalan kaki, karena itu angkot terakhir sudah pasti tak akan ada angkot lagi setelahnya.


Kebetulan mereka semua searah, jadi lebih aman karena jumlah mereka ada 12 orang.


Ngobrol ngalor ngidul mereka pun mulai memisahkan diri satu persatu. Tinggal Indira, Aris & temannya yang masih melanjutkan perjalanan. Teman Aris juga sudah tiba di tempat tujuannya. Tersisa Aris dan Indira.


" Capek Dirr...?, aus ga, beli minum dulu yuk. Tuh depan sana udah sampe halte, Lo bisa naik bus dari sana...," kata Aris mencoba mencairkan suasana.


" Iya, capek banget Gue. Minum dulu deh sambil nunggu bus...," kata Indira.


" Rumah lo masih jauh kan Dirr..., Gue bingung kok bisa Lo terdampar kerja di daerah sini...," kata Aris lagi sambil minum dengan cepat.


" Setau Gue banyak juga yang rumahnya lebih jauh dari Gue...," sahut Indira.


" Yaa..., tapi mereka kan cowok, nah Lo kan cewek. Emang ga ada lowongan kerja di tempat yang deket sama rumah Lo...?" tanya Aris penasaran.


" Yang buka lowongan kerja mah banyak, tapi sayangnya mereka ga trima Gue, gimana dong...? Ini kali yang namanya takdir...," kata Indira lugas.


" Ha ha ha..., ternyata Lo tuh lucu juga ya. Kalo orang ga kenal mah pasti nyangkanya Lo tuh sombong Dir...," kata Aris sambil tertawa.

__ADS_1


Indira tersenyum pahit. Hingga mereka tiba di halte.


" Bus Gue udah dateng tuh. Gue cabut duluan ya..., makasih udah nemenin Gue hari ini...," kata Indira.


" Iya Dirr,sama-sama.Apa sih yang ga buat Lo...," sahut Aris dengan sedikit gombalannya.


Indira pura-pura tak mendengarnya. Ia langsung duduk dikursi dekat jendela, tak lama bus melaju meninggalkan Aris yang masih setia memandangi bus hingga menghilang dari pandangannya. Aris mulai melangkah, ia tersenyum kecil mengingat kebersamaannya hari ini bersama Indira.


Aris merasa sudah hampir dapat. Ya, Aris sudah lama 'mengejar' Indira. Sejak hari pertama Indira masuk di pabrik tempat mereka bekerja. Kehadiran Indira begitu menyita perhatiannya. Indira memang cuek, itu kesan pertama Aris saat pertama kali melihatnya.


" Wooii..., ada karyawan baru lagi diajak keliling sama supervisor...!" seru Yanyan teman sedivisi Aris.


" Ada ceweknya ga...?" tanya Abeng.


" Banyak meenn..., cakep-cakep lagi. Seger dah jadinya nih pabrik...," sahut Yanyan lagi.


" Lagi liat apaan sih Lo pada...?" tanya Aris.


" Tuh...," tunjuk Abeng kearah kerumunan karyawan baru yang berkeliling.


Aris menatap kearah yang ditunjuk Abeng. Dibarisan paling belakang ia melihat sosok yang sedikit berbeda.Tampak cerdas, agak jutek dan tomboy, sedang melamun, yang pasti sangat manis. Aris tersenyum memperhatikan sosok yang kemudian hari diketahuinya bernama Indira.


Setiap hari Aris selalu memperhatikan gerak-gerik Indira tanpa disadari oleh Indira. Sikap tenang Indira saat menghadapi rayuan maut dari karyawan pria yang acap kali menggodanya, cara bicaranya, sikap santunnya pada senior dan orang yang lebih tua usianya. Dan semua hal yang ada padanya membuat Aris sangat kagum. Aris seolah menemukan 'dunianya' kembali saat melihat Indira setelah percintaannya kandas setahun lalu.


Aris kecewa ketika Yuni memutuskan hubungan yang telah terjalin 2 tahun lebih. Aris punya khayalan tinggi untuk bersanding dengan Yuni. Tapi alasan Yuni menyadarkan Aris betapa tak berharganya ia dihadapan sang kekasih. Dan Aris menerima keputusan itu tanpa penolakan. Bagi Aris cukup sudah ia menghabiskan waktunya hanya untuk sebuah hubungan konyol. Aris patah hati? Tidak!. Ia tetap membuka hati untuk kehadiran cinta yang lain, tapi ternyata sulit mendapatkan gadis yang bisa menyentuh hatinya. Hingga kehadiran Indira seolah memberi warna baru. Dan Aris pun bertekad mendapatkannya.


Aris juga tahu jika Indira memiliki beberapa 'penggemar' rahasia. Tapi Aris tak ambil pusing. Indira memang tergolong ramah untuk sekedar menyapa, tapi Aris yakin hati Indira tak cukup ramah untuk menerima pria yang coba mengusik hatinya. Aris mencoba bersaing sehat dengan para penggemar Indira.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Hari itu beberapa karyawan senior, termasuk Aris, dipanggil pimpinan perusahaan. Rupanya perusahaan bermaksud mengangkat para karyawan tersebut menjadi karyawan tetap. Perusahaan tempat Indira bekerja memang menerapkan sistem kontrak dalam perekrutan karyawan. Sistem kontrak selama tahun pertama bekerja dan dapat diperpanjang tiap tahunnya. Karyawan yang dipilih akan diperpanjang kontraknya harus sudah melalui beberapa test, diantaranya kinerjanya, absensi kehadiran ditambah keterlambatan hadir tiap harinya.


Aris sudah hampir 3 tahun bekerja di perusahaan itu dengan dua kali perpanjangan kontrak kerja.


Hingga berita pengangkatan karyawan itu tersebar ke seantero pabrik. Pengangkatan karyawan otomatis meningkatkan pendapatan mereka perbulannya. Akan ada beberapa bentuk tunjangan yang dijanjikan perusahaan, juga upah harian dan lemburan yang berbeda dari karyawan kontrak. Hal ini tentu saja membuat iri karyawan lainnya.


Semua orang memberi selamat, tak terkecuali teman sedivisi Indira yang mengenal Aris.


" Eh Dirr..., si Aris kan diangkat jadi karyawan tetap lho...," kata Asti.


" Masa..., lo kata siapa...?" tanya Indira.


" Kata cowok gue lahh..., wahh bisa minta traktiran ni kita...," jawab Asti yang ternyata sudah move on dari cinta yang tak terbalas oleh Aris.


" Ayo kita palakin Aris rame-rame...!" seru Maya semangat.


" Kasian Kak Aris, jangan lahh...," kata Dewi pelan.


" Cieee..., pake panggil Kakak segala, jangan-jangan Lo ada apa-apa nih sama si Aris...," celetuk Sofia & Maya bersamaan.


"Apaan sih Lo pada. Dia kan lebih tua dari Kita, senior lagi. Wajar lah kalo Gue panggil Kakak...," kata Dewi membela diri.


Tawa pun menggema di divisi packing mendengar ocehan mereka.


Jam pulang kerja Aris sengaja menunggu Indira dekat gerbang pabrik. Ia sudah mendapat ucapan selamat dari teman-teman yang mengetahui pengangkatannya, bahkan menraktir mereka makan baso. Tapi Indira terlihat cuek seolah tak tahu apa-apa, padahal ini sudah hari ke tiga berita heboh itu.


Hingga dilihatnya Indira berjalan bersama kelompoknya menuju gerbang. Mereka berbeda arah jadi tempat angkot ngetempun berbeda. Arispun berjalan mengekori Indira.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2