Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 48 ( Maaf )


__ADS_3

Mendengar rengekan Sofia membuat Indira goyah. Indira tak mungkin bertahan seorang diri di kota ini, meskipun banyak teman dan banyak orang yang menyayanginya.


" Iya Sof, Kita pulang aja ke Jakarta...," kata Indira mantap.


Senyum mengembang di wajah Sofia. Ia memeluk Indira erat sambil menangis. Indira membalas pelukan Sofia sambil mengelus punggung Sofia dengan lembut.


Bu Ninik dan Pak Fajar yang menyaksikan tingkah mereka pun tersenyum. Mereka turut bahagia dengan keputusan Indira. Bu Ninik yang terharu, malah ikut menitikkan air mata. Pak Fajar yang tahu kakaknya menangis pun mengelus bahu bu Ninik untuk menenangkannya.


" Kapan sebaiknya Kami pulang, Pak...?" tanya Indira sambil melepaskan pelukan Sofia.


" Saya liat hanya ada waktu 2 hari, sekarang dan besok untuk Kalian bisa pulang...," kata pak Fajar.


" Saya harus pamit dulu ke perusahaan, sama temen-temen juga. Mereka semua sangat baik, jadi Saya ga mungkin pergi tanpa pamit...," kata Indira.


" Mmm..., gitu ya. Tapi jangan lebih dari jam sepuluh pagi ya. Lewat sedetik aja, Saya ga bisa bantu...," kata pak Fajar lagi.


" Kami usahakan Pak, namanya juga pamitan, mungkin pake acara makan-makan dulu buat perpisahan...," kata Sofia menyela.


" Ini bukan main-main. Nyawa Kalian tuh terancam, apalagi Kamu Sofia. Setelah lewat jam sepuluh pagi, biarpun Kalian lari ke manapun, 'dia' akan bisa mengejar Kalian...!" kata pak Fajar dengan nada tinggi.


Sofia langsung tersentak kaget.


" Dan kenapa harus sebelum jam sepuluh pagi ?, itu karna angin sedang bertiup ke arah utara ,maka 'dia' tak kan bisa mengendus Kalian...," kata pak Fajar lagi dengan gusar.


" Mma..., maaf Pak...," kata Sofia dengan gugup.


" Saya ngomong begini karna Saya kasian sama Kalian, sama keluarga Kalian. Jadi mengerti lah dan mohon kerja samanya...," kata pak Fajar lembut sebelum berlalu meninggalkan Indira, Sofia dan bu Ninik.


Sejenak hening diantara mereka.


" Kalian bersiap-siap ya, jangan benci sama pak Fajar, dia ga ada maksud marahin Kalian tadi...," kata bu Ninik memecah keheningan.


" Kami maklum Bu..., mohon maaf kalo Sofia ngomong ga sopan tadi. Kami beruntung kenal sama Ibu. Terimakasih atas bantuan Ibu dan Pak Fajar...," kata Indira sopan.


" Iya Bu..., Saya juga minta maaf sekali lagi. Saya tau Ibu dan Pak Fajar tulus bantuin Kami. Mungkin kalo sama orang lain Kami harus bayar mahal...," kata Sofia bergurau.


" Udahhh jangan ngomong gitu. Kalian tuh udah Saya anggap Anak sendiri. Ga usah sungkan...," kata bu Ninik sambil mengusap air matanya.


Mereka masih berbincang beberapa menit sebelum bu Ninik pulang ke rumahnya.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Kabar tentang saran pak Fajar pada Indira dan Sofia membuat gempar.


Semua orang di rumah Jayadi, yang kebetulan tak kerja lembur, juga ikut heboh. Mereka tak menyangka bahwa pengaruh mistis itu sangat kuat, sehingga Indira dan Sofia harus membuat keputusan yang sulit. Yaitu pulang ke Jakarta.


" Beneran Dir...?" tanya Dimas tak percaya.


" Katanya udah aman, ini kok malah...," Asman tak melanjutkan ucapannya.


" Iya Bang, Mas. Kita juga jadi kawatir...," kata Indira dan Sofia bersamaan.


" Tapi ini terlalu mendadak Dir, Sof...," kata Ari.


" Iya, itu karena...." Indira pun mulai menjelaskan dengan rinci perkataan pak Fajar tadi. Semua mendengarkan dengan serius dan masih tak percaya.


" Ya udah, kalo itu emang yang terbaik...," kata Gunawan pelan.


" Berangkat jam berapa...?" tanya Totok.


" Insya Allah besok pagi Saya pamit ke Personalia sama temen-temen dulu di pabrik. Dari sana langsung naik bus ke Jakarta...," kata Indira.


" Maafin Kita ya Bang , Mas, kalo ada salah. Maaf juga udah ngerepotin...," kata Sofia yang juga mewakili Indira sambil menangis.


" Sama-sama Sofia, Indira. Kita juga minta maaf ya. Maaf belom bisa ngelindungin Lo berdua, ini semua diluar kemampuan Kita. Maaf...," kata Dimas dengan suara rendah


\=\=\=\=\=\=


Semalaman Indira, Sofia dan Chika ngobrol banyak di kamar yang mereka tempati. Sesekali Jayadi cs ikut nimbrung dari kamar sebelah, dengan memperdengarkan suara mereka bergantian. Lucu sekali.


Kehadiran Indira dan Sofia memang memberi warna tersendiri bagi Jayadi cs.


Kehadiran Indira dan Sofia menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa memiliki saudara perempuan, rasa saling peduli dan rasa menyayangi. Mereka tak pernah sepeduli itu pada orang yang serumah dengan mereka sebelumnya. Tapi setelah Indira dan Sofia datang, perlahan semua berubah.


Ada rasa malu jika mereka meletakkan barang pribadi mereka sembarangan. Ada yang marah jika rumah kotor. Ada aura berbeda saat mereka lelah sepulang kerja. Semua membuat Jayadi cs sangat menyayangi Indira dan Sofia sebagai adik.


Bukan mereka tak siap jika sewaktu-waktu berpisah dengan Indira dan Sofia. Hanya saja cara mereka berpisah, itulah yang agak menyesakkan buat Jayadi cs.


\=\=\=\=\=\=


Hari terakhir.


Setelah berpamitan dengan bu Ninik dan keluarga, juga tetangga sekitar rumah, Indira dan Sofia pun melangkah menuju pabrik.

__ADS_1


Setibanya di pabrik, mereka disambut oleh Ari dan Dimas di gerbang pabrik. Mereka mengajak Sofia ke warung langganan untuk menunggu Indira yang sedang menyelesaikan urusannya.


" Ga nyangka jalan hidup Kalian kaya gini...," kata Dimas ikut prihatin.


" Iya, kalo boleh milih Kita juga ga mau Bang...," kata Sofia sedih.


" Tapi ini buat pelajaran Lo ya Sof, biar kedepannya bisa lebih baik dalam bersikap dan bertutur kata...," kata Ari bijak.


" Siap Bos...!" kata Sofia cepat.


Mereka bertiga tertawa lepas. Beban yang mereka tanggung beberapa hari ini seolah lepas begitu saja.


\=\=\=\=\=\=


Sementara itu di ruangan Personalia.


" Jadi Kamu serius mau mengundurkan diri...?" tanya kepala Personalia pada Indira.


" Iya Pak...," jawab Indira mantap.


" Saya memang mendengar dari Pak Jayadi apa yang terjadi dengan Kamu dan Sofia. Tapi Saya ingin dengar langsung dari Kamu...," kata kepala Personalia lagi.


" Maaf..., tanpa mengurangi rasa hormat Saya pada Bapak. Saya tak mau lagi membahas hal yang membuat Saya tak nyaman. Maaf Pak...," kata Indira dengan nada rendah.


" Baik Saya mengerti. Yang jadi pertanyaan Saya adalah apakah Kamu harus ikut pulang dan kenapa...?" tanya kepala Personalia.


" Saya bersahabat dengan Sofia, Kami berangkat ke kota C bersama dan pulang pun harus bersama...," kata Indira.


" Ooo..., solideritas Kamu cukup tinggi juga ya. Jadi seandainya teman Kamu masuk jurang, apa Kamu juga akan ikut masuk jurang...?" tanya kepala Personalia lagi.


" Itu dua hal yang berbeda Pak. Saya ga akan ikut melakukan hal yang buruk, meskipun sahabat Saya yang mengajak Saya...," jawab Indira.


" Saya salut sama Kamu. Lalu bagaimana dengan pekerjaan Kamu, karir Kamu baru aja dimulai, dan Saya prediksi karir Kamu bakal maju pesat di perusahaan ini...," kata kepala Personalia masih berusaha membujuk Indira.


" Maafkan Saya Pak, mungkin rezeki Saya bukan di sini. Terus terang Saya suka kerja disini. Tapi kejadian kemarin membuat Saya harus berpikir ulang untuk melanjutkan semuanya...," kata Indira sambil menangkup kedua tangannya di depan dadanya.


" Hmm, baiklah. Kamu memang keras kepala. Tapi Saya kagum sama Kamu. Selamat jalan, semoga sukses di tempat yang baru...," kata kepala Personalia sambil berdiri menyalami Indira.


" Aamiin..., makasih Pak, maafkan Saya sekali lagi...," ucap Indira sambil menjabat tangan sang atasan yang ramah itu.


Indira keluar dari ruangan kepala Personalia dengan langkah cepat. Saat tiba di depan pos security, Sofia sedang berbincang dengan beberapa temannya. Nampaknya Sofia sedang berpamitan dengan mereka. Indira pun menghampiri mereka dan ikut mengucapkan salam perpisahan.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2