Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 29 ( Tempat Baru )


__ADS_3

Setelah selesai mengisi formulir yang disodorkan Jayadi, Indira dan ketiga temannya segera kembali ke rumah nenek Asti.


Jayadi dan Gunawan mengantar mereka hingga mereka naik bus.


" Besok Kita ketemu lagi di sini ya, di warteg kaya tadi juga boleh...," kata Jayadi.


" Iya Bang Jay, Kita balik dulu ya...," pamit Asti mewakili tiga temannya.


" Terus gimana masalah tempat tinggalnya, Jay, jangan bilang mau digabungin sama yang cowok...?" tanya Gunawan.


" Kita liat besok aja, masalah tempat tinggal mah gampang...," jawab Jayadi.


Jayadi dan Gunawan kembali ke pabrik melanjutkan pekerjaan mereka.


\=\=\=\=\=\=


Malam harinya, Asti dan ketiga temannya pamit pada keluarga (uwak dan paman) Asti. Mereka sengaja pamit malam itu agar bisa berangkat lebih pagi ke kota C. Selain itu mereka juga menceritakan apa yang mereka kerjakan hari itu. Sebenarnya keluarga Asti menyayangkan keputusan Asti dan ketiga temannya yang ingin segera bekerja di kota C, tapi mang Bodong membantu menjelaskan alasan kepergian mereka.


Sementara itu di kota C.


" Jadi maksud Lo, sementara Kita tinggal bareng cewek-cewek itu, Jay...?" tanya Dimas.


" Sampe kapan...?" tanya Ari.


" Iya, sorry. Mereka Gue ajak tinggal disini sementara sampe kita dapet rumah buat mereka. Gue udah ajuin tadi ke kantor, belum di acc. Kantor ga mau ambil resiko, terlanjur sewa rumah yang gede, yang nempatin ga ada. Makanya nunggu kepastian jumlah mereka berapa orang...," Jayadi menjelaskan kepada teman-temannya.


" Gue mah orang yang berpikiran modern, ga masalah kalo mau tinggal bareng-bareng. Cuma gimana ntar tanggapan orang sama cewek-cewek itu, ga kasian Lo sama Mereka...?" tanya Asman santai.


" Iya Jay, gimana tuh...?" Totok ikut bertanya.


" Gue udah urus itu. Ntar Gue minta bantuan Pak Bondan untuk ngomong sama ketua lingkungan di sini...," jawab Jayadi mantap.


" Terus Bu Ninik gimana...?" tanya Ari lagi.


" Yaaa, Kita kasih tau bareng-bareng lahh..., biar ga salah paham...," kata Gunawan sambil mengaduk kopinya.


" Iya, besok pagi Gue coba omongin dehh...," kata Ari sambil beranjak menuju kamarnya.


Malam itu mereka sepakat mengosongkan satu kamar untuk ditempati Indira dan teman-temannya.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sesuai kesepakatan, Indira dan ketiga temannya datang lagi sambil menyerahkan berkas lamaran mereka.


Jayadi mengecek berkas lamaran tersebut kemudian menyerahkannya pada pihak personalia. Dan di jam istirahat Jayadi langsung membawa empat sekawan itu ke rumah kontrakan yang ia tempati beserta teman-temannya. Letaknya tak terlalu jauh dari pabrik, hanya sepuluh menit perjalanan.


" Di sini yang tinggal cowok semua. Ada Dimas, Asman, Ari, Totok, Gunawan sama Gue...," kata Jayadi.


" Tapi kok sepi Bang...?" tanya Maya celingukan.


" Kan masih di pabrik semua, mereka biasanya sampe rumah abis Maghrib. Tunggu sebentar di sini, Gue panggil yang punya rumah dulu...," kata Jayadi lagi.


Sambil menunggu kedatangan Jayadi dan pemilik kontrakan, mereka melihat keliling rumah sebentar.


" Asti...!" panggil Jayadi.


" Eh ada Bang Jay tuh, kok cepet amat ya, ayo buruan...," ajak Asti pada ketiga temannya.


" Naahh, ini Bu yang mau numpang sebentar di sini...," kata Jayadi pada bu Ninik.


Bu Ninik tersenyum ramah pada empat sekawan itu. Bu Ninik berusia sekitar lima puluhan, bertubuh gemuk,berkulit gelap dan rambutnya keriting. Tatapannya tajam dengan senyuman hangat, membuat siapa saja nyaman berada di dekatnya. Satu per satu mereka saling memperkenalkan diri.


" Terus Mereka taro di kamar yang mana Jay, yang di depan aja, pintunya masih bisa dikunci...," kata bu Ninik.


" Iya Bu, semalem Saya udah ngomong sama temen-temen dan semua setuju ngosongin kamar depan buat cewek-cewek ini...," sahut Jayadi.


Ada tiga kamar di rumah itu. Masing-masing kamar juga dilengkapi tempat tidur, lemari pakaian dan meja kecil. Jayadi membawa 4 sekawan menuju kamar yang letak nya paling depan. Bu Ninik ikut masuk sambil menjelaskan beberapa hal.


" Kalo perlu sesuatu ke rumah Saya aja, tuh pintu belakangnya pas di seberang rumah ini...," kata Bu Ninik.


" Iya Bu makasih...," kata Indira sopan.


" Saya tinggal dulu ya, mau kerja lagi Bu...," pamit Jayadi pada bu Ninik.


" Ya udah sana, biar mereka sama Saya...," kata bu Ninik.


Setelah meletakkan tas di kamar, empat sekawan itu diajak bu Ninik kerumahnya. Sambil menjelaskan situasi di sekitar rumah, bu Ninik juga menunjuk sumur di samping rumah kontrakan Jayadi.


" Nah, kalo mau nyuci baju di sumur itu ya. Nimba aer dulu buat nyuci, terus ini buat jemur bajunya. Tenang aja, ini muat banyak kok...," kata bu Ninik lagi sambil menunjukkan halaman luas di samping rumahnya.


Rumah kontrakan Jayadi dengan rumah bu Ninik hanya berjarak dua meteran. Degan rumah tetangga agak berjauhan, karena masing-masing keluarga memiliki lahan yang luas. Namun tak ada pagar pembatas, tiap lahan dibiarkan begitu saja.


Tibalah mereka di rumah yang ditempati bu Ninik dan keluarganya. Rumahnya lebih besar dari kontrakan Jayadi. Mereka pun dipersilakan duduk di teras rumah, sesaat kemudian bu Ninik kembali dengan membawa suguhan teh manis hangat dan cemilan.

__ADS_1


Saat Indira minta ijin numpang sholat Dzuhur di rumah itu, dengan sigap bu Ninik langsung membawa Indira masuk. Indira sholat di salah satu kamar yang ditunjuk bu Ninik. Rumah bu Ninik terasa hangat dan sangat nyaman bagi Indira.


Mereka ngobrol hingga sore. Sekitar jam lima sore Jayadi datang menghampiri empat sekawan yang sedang bersenda gurau dengan pemilik rumah.


" Lho tumben udah sampe Jay...," sapa bu Ninik.


" Iya nih Bu, mau ajak mereka balik dulu ya Bu, mau kenalin sama yang laen...," kata Jayadi sopan.


" Ooo iya, silakan...," kata bu Ninik.


Jayadi dan empat sekawan itu segera meninggalkan rumah bu Ninik. Tampak senyum tulus dibibir bu Ninik menatap kepergian mereka.


" Naah tuh dia Jayadi...," kata Asman.


" Ini kenalin Adik-adik Kita yang bakal numpang sementara di rumah Kita...," kata Jayadi.


Mereka saling berjabat tangan. Empat sekawan itu disambut dengan hangat oleh Jayadi dan kelima temannya. Aura persaudaraan sangat kental terasa di rumah itu. Mungkin karena mereka semua sama-sama perantau yang tinggal jauh dari keluarga.


Selain Totok, lima pria di rumah itu adalah senior Indira di pabrik tempat Indira bekerja sebelumnya. Totok perantau dari Tegal, ia ikut bergabung dengan Jayadi cs karena kenal dekat dengan mereka. Ternyata perusahaan tempat Jayadi cs bekerja memang menyediakan tempat tinggal untuk karyawan perantau seperti mereka. Ada beberapa rumah yang disewa perusahaan, semuanya untuk karyawan perantau pria.


Di perusahaan itu belum ada karyawan perantau wanita. Biasanya wanita yang bekerja di perusahaan adalah wanita yang tinggal di sekitar perusahaan saja.


Rumah terdengar lebih ramai malam itu. Semua penghuni rumah kontrakan saling berbagi cerita. Saat malam tiba, mereka pergi bersama untuk makan malam di luar. Ya, perusahaan hanya menyediakan tempat tinggal, sedangkan untuk urusan makan dan keperluan pribadi lainnya ditanggung sendiri oleh karyawan.


Mereka tiba di warung makan langganan Jayadi dan temannya. Malam itu empat sekawan ditraktir oleh para 'penghuni senior' di kontrakan.


" Anggap aja ini ungkapan selamat datang buat Kalian dari kami...," kata Dimas dengan mimik lucu.


" Iya, cuma malam ini ditraktir, mulai besok pagi tanggung sendiri...," kata Asman sedikit ketus.


Tapi ucapan Asman disambut tawa kelima temannya, rupanya sikap Asman yang pura-pura marah itu membuat geli temannya.


Mereka makan dengan lahap. Kehadiran mereka yang berjumlah sepuluh orang tidak merepotkan pelayan warung makan. Rupanya para pelayan sudah terbiasa melayani karyawan pabrik yang jumlahnya ratusan itu setiap harinya.


Warung makan itu lumayan besar, bisa menampung 50 orang lebih di satu waktu bersamaan. Ada beberapa meja makan ukuran besar yang tiap meja bisa digunakan 12 orang sekaligus. Belum lagi di teras warung, yang menyediakan dipan besar untuk tempat makan. Di jam istirahat makan siang, biasanya warung ini dipadati pengunjung. Selain masakannya enak, harganya pun sangat ramah di kantong.


Selesai makan malam, mereka kembali ke rumah kontrakan Jayadi. Tampak kelelahan di wajah mereka. Setibanya di rumah, mereka langsung berpisah masuk ke kamar masing-masing.


Indira dan ketiga temannya menempati kamar yang bersih. Mereka mulai berbaring di tempat tidur yang ukurannya lumayan besar. Mereka terbiasa berbagi tempat tidur, jadi mereka menolak halus tawaran Dimas yang bermaksud meminjamkan kasurnya. Indira menyempatkan diri untuk sholat Isya dan memastikan pintu terkunci sebelum tidur.


Malam itu empat sekawan tertidur dengan cepat dan lelap....

__ADS_1


bersambung


__ADS_2