
Indira mencoba menata hidupnya kembali. Krisis ekonomi bukan hanya melanda keluarganya. Hampir semua warga negara Indonesia mengalami krisis keuangan usai reformasi ( krismon ).
Meskipun Indira seorang perempuan, tapi ia tetap gigih mencari pekerjaan melalui koneksi teman ataupun kerabatnya. Berharap segera mendapat pekerjaan, yang gajinya nanti bisa ia tabung untuk melanjutkan kuliahnya. Mimpi Indira untuk melanjutkan kuliah masih bertahta indah di hati dan pikirannya.
Akhirnya melalui seorang teman Indira mendapat info lowongan pekerjaan di sebuah pabrik kayu. Pabrik yang terletak di pinggiran Jakarta Utara itu memang membutuhkan banyak karyawan. Yang parahnya lagi gaji yang ditawarkan sangat minim. Kondisi krisis moneter yang terjadi disikapi jeli oleh para pengusaha, karena mereka yakin tak ada yang akan menolak tawaran mereka di jaman yang serba sulit saat itu.
Indira dibantu seorang teman baru yang dijumpainya saat melamar pekerjaan.
Roni namanya, seorang karyawan senior yang tampaknya cukup diperhitungkan di pabrik itu. Test umum dilalui Indira dengan lancar. Tapi saat interview, Indira dinyatakan gagal. Roni yang terus memantau hasil test Indira pun terkejut dan mencoba meloby 'orang dalam', ajaibnya Indira lolos test dan diterima di pabrik itu. Tapi sayang, setelah Indira berhasil diterima sebagai karyawan, Roni dipindah tugaskan ke daerah lain.
Kisah Indira seolah mulai lagi dari titik nol.
Memulai semua dari awal. Indira tetap bersyukur dan menjalani semua dengan langkah pasti.
Hari pertama.
Indira bergegas berangkat dari rumah lebih pagi dari biasanya. Karena jam kerja dimulai jam 7 pagi, membuat Indira agak keteteran juga. Indira tiba di depan pabrik jam 7.30 pagi, sudah banyak calon karyawan baru yang duduk menunggu.
Rombongan karyawan baru dibawa berkeliling pabrik dipandu seorang supervisor. Dilanjutkan pembagian divisi. Indira dan 2 orang lainnya di masukkan ke divisi packing barang.
Tiba di divisi, seorang mandor memperkenalkan tiga karyawan baru pada karyawan yang lebih senior beserta aturannya.
Indira tak banyak bicara, ia hanya bicara jika diperlukan. Selebihnya Indira lebih banyak diam. Terkesan sombong memang, tapi pilihan ini diambil supaya tetap aman.
__ADS_1
Butuh waktu cukup lama baginya harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Mulai dari teman sedivisi yang memandangnya dengan tatapan mengintimidasi, sok kuasa, sok cantik, sok ngetop dan lainnya. Ada sang mandor yang berusaha terlihat berwibawa didepan bawahan. Juga lingkungan yang mayoritas diisi kaum Adam, karena itu pabrik kayu jadi wajar jika perbandingan jumlah karyawan dan karyawati adalah 3 banding 1.
Hal ini awalnya membuat Indira agak terpuruk. Tak menyangka takdir membawanya bekerja disebuah tempat yang belum pernah terlintas dipikirannya sekalipun.
Dimasa sekolah dulu, Indira dan teman segenk punya cita-cita muluk. Ada yang ingin jadi dokter, Pengacara, Arsitek (termasuk Indira), TNI, Polisi dan model terkenal. Bahkan satu teman Indira, Sari, punya cita-cita paling hebat yaitu jadi 'pengantin'.
Tentu saja hal ini membuat suasana yang semula serius dan tenang menjadi gaduh.
" Cita-cita apaan tuh..., masa jadi penganten, itu mah orang pasrah yang ga punya cita-cita...," ujar Bayu mengawali percakapan setelah semua berhenti menertawakan Sari.
" Eh..., emangnya kenapa, ada yang salah sama cita-cita Gue...?" tanya Sari ketus.
" Nah ini ni..., Lo pada salah kaprah. Orang normal kan Lo bilang? Ada juga orang normal yang punya Anak tanpa menikah, lebih memilih mengejar cita-cita tapi ga bisa kontrol nafsu. Akhirnya bunting, lahiran, punya Anak..., nikah? ga, ntar aja, nunggu mapan dulu, gaji gede tapi zinah jalan..." ujar Sari lagi sambil menahan emosi.
" Bukan gitu maksudnya Sari cantiiik..., Kita disini ngomongin rencana hidup Kita pas lulus SMK ntar, rencana jangka pendek namanya. Kalo yang tadi Lo, Bayu sama Amel bahas itu Kita sebut aja rencana jangka panjang, gitu Sayang...," kata Indira menengahi.
"Oo..., gitu. Ya udah gapapa, kalo emang rencana jangka pendek Lo pada kuliah, berkarir atau apalah namanya. Gue mah nunggu dilamar aja sama yayang Gue...," tambah Sari sambil mengulum senyum.
" Huuu..., bilang aja Lo kebelet kawin dodol, pake muter-muter sampe bikin orang emosi...!" kata Ana sebal.
" Ehhh..., bukan gitu juga Na, aduhh..., kok malah Gue ngerasa jadi terdakwa sih diantara Lo semua. Sebelll..., mending Gue makan baso aja di Mang Upin...," sahut Sari sambil menghentakkan kaki dan berlalu.
__ADS_1
Seketika tawa pecah lagi melihat aksi Sari yang 'ngambek'. Hal yang wajar terjadi, karena keluguan Sari membuatnya sering dibully. Tapi justru responnya yang kekanakan itulah yang bisa meredakan kepenatan mereka setelah lelah belajar.
" Sariiii..., tunggu Gue doongg..., Gue mau juga ditraktir sama Lo...," goda Bayu lagi.
" Bodo amat...!, giliran makan aja Lo baek baekin Gue, sono makan sama cacing...," sungut Sari.
" Dasar pelit...," jawab Bayu pura-pura marah.
" Biarin, yang penting cantik wee...," Sari menjulurkan lidahnya sambil melangkah cepat karena kawatir dikejar Bayu.
Indira menyudahi lamunannya. Karena mengingat mereka membuatnya ingin menangis.
\=\=\=\=\=\=
Setelah beberapa hari bekerja, Indira mulai terbiasa. Pabrik yang memproduksi furniture itu dibagi 2 shift waktu kerja. Pagi jam 7 pagi hingga jam 3 sore, dan sore jam 3 hingga jam 11 malam. Terkadang ada waktu lembur juga, sesuai peraturan perusahaan lembur diberikan saat banyak pesanan.
Indira berangkat jam 6 pagi dari rumah, beberapa hari kerja membuat Indira sudah punya bus langganan yang akan mengantarnya ke tujuan. Kernet bus sangat ramah, yang selalu menyapa Indira saat Indira naik dan turun bus. Ongkos nya murah, karena bus itu adalah bus karyawan salah satu instansi pemerintah jadi tidak memasang tarif mahal. Mungkin karena searah jadi bisa sekalian dapat pemasukan.
Bus melaju cepat di jalan tol yang belum padat di pagi hari, hingga semua penumpang bisa tiba lebih awal di tempat. Indira masih harus naik angkot lagi ( gratis dan disediakan oleh perusahaan ) untuk bisa masuk kawasan pabrik. Angkot mulai terlihat ramai, bolak balik mengangkut karyawan pabrik. Saling berebut dan sedikit keributan selalu mewarnai pagi di kerumunan orang yang ingin segera tiba di pabrik. Indira ikut berebut? Tidak. Ia hanya menunggu sepi hingga angkot terakhir yang akan membawanya ke pabrik. Setiap angkot fasilitas dari perusahaan punya waktu operasional 1 jam saja setiap pagi, sore dan malam hari untuk antar jemput karyawan pabrik.
Sikap Indira juga terjadi saat jam pulang pabrik. Indira hanya duduk menunggu hingga angkot terakhirlah yang mengantarnya. Tak jarang Indira telat beberapa menit, saat absensi otomatis terlihat jam yang menunjukkan kedatangannya. Dan hampir semua satpam mengenalnya karena 'keterlambatannya'.
Rupanya sikap Indira menarik perhatian beberapa karyawan. Mereka melihat Indira sebagai sosok aneh, karena terlihat begitu tenang dan 'anteng'. Tidak banyak teman yang ada di sekitar Indira, mungkin mereka mengira Indira adalah orang yang angkuh. Jadi mereka berpikir dua kali jika ingin mengganggu Indira seperti yang biasa mereka lakukan terhadap karyawati lain.
__ADS_1
bersambung