Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 11 ( Beralih )


__ADS_3

" Terus ya tanahnya dibeli sama pemilik pabrik, dibangun pabrik, jadilah pabrik tempat Kita kerja sekarang...," sahut Aris cepat.


" Tapi Gue sama temen-temen sering nyium harum bunga di divisi Gue...," kata Indira.


" Ya mungkin dia lagi lewat, dia ga sadar kalo dirinya udah mati, makanya masih sering seliweran nyari cowoknya...," kata Aris lagi.


" Lo pernah liat ga...?" tanya Indira takut-takut.


" Pernah...," jawab Aris singkat.


Indira memandang Aris dari samping, ia mendengarkan dengan serius semua cerita Aris. Bagi Indira itu sangat penting untuk diketahui, supaya ia bisa lebih hati-hati.


" Waktu itu Gue pas shift malem. Gue disuruh mandor ambil barang ke gudang. Gue berdua sama Yanyan. Pas liat kearah kursi panjang yang suka buat duduk istirahat, Gue liat ada cewek lagi nyisir, sendirian. Gue baru mau kasih tau Yanyan, tapi pas nengok lagi udah ga ada...," cerita Aris.


" Yanyan ga tau dong...," kata Indira.


" Belom sempet liat, tapi Gue ceritain. Tau ga gimana expresinya...?" tanya Aris menahan tawa.


" Gimana...?" tanya Indira penasaran.


" Dia narik tangan Gue sambil lari cepet banget, terus sampe ngompol dikit di celana saking takutnya ha ha ha...," tawa Arispun pecah.


" Emang Lo ga takut...?" tanya Indira ikut tertawa.


" Bo'ong kalo Gue ga takut, takut juga. Cuma karna si Yanyan lebih takut dari Gue, jadi Gue berani deh. Yaa..., gitulah pokoknya. Coba Lo pikir jam segitu cewek mana yang berani nyisir sendirian di tempat begitu, lagi juga ga ada cewek kan di divisi Gue...," sahut Aris menyudahi ceritanya.


\=\=\=\=\=\=


Kedekatan Indira dan Aris semakin intens. Meskipun tak ada 'ikrar' apapun diantara mereka berdua, tapi semua orang yang melihatnya sudah bisa merasakan ada sesuatu 'yang lebih' dalam hubungan mereka. Dan itu cukup ampuh bagi Aris untuk menyingkirkan rival-rivalnya.


Indira sendiri masih bingung dengan perasaannya, mau menerima permintaan Aris ataukah tetap bersahabat seperti yang selalu Indira ucapkan jika ada yang bertanya tentang kedekatan mereka.


Hingga akhirnya Indira menjatuhkan pilihan pada sosok pria yang usianya lebih muda 3 tahun darinya. Teman sepabrik juga, hanya beda divisi. Pria itu, Thoriq namanya, memang terlihat lebih berani dalam mengejar Indira. Indira kagum dengan kenekatannya.

__ADS_1


Dan mereka mulai menjalin hubungan yang intens alias pacaran.


Hubungan Indira ditentang oleh temannya segenk, tapi Indira tak peduli. Dan ketika Aris mengetahui kenyataan bahwa Indira lebih memilih Thoriq menjadi pacarnya, Aris hanya sedikit kecewa, tanpa membenci Indira.


Buatnya saat itu kebahagiaan Indira lebih penting. Aneh....


Indira dan Thoriq mulai menjalani hubungan yang unik. Usia Thoriq yang lebih muda dari Indira tidak membuatnya menjadi sosok yang manut saja. Thoriq tetap menunjukkan posisinya sebagai pria. Hal ini membuat Indira sedikit merasa dibatasi dalam pergaulannya, namun Indira mencoba maklum dan menghargai sikap Thoriq. Kadang pertengkaran kecil mewarnai kisah mereka, tapi akan segera 'akur' lagi tanpa butuh waktu lama.


Thoriq sangat memanjakan Indira (dengan segenap kemampuannya). Indira sangat tersanjung akan hal itu.Dan mencoba memberi perhatian lebih untuk mengimbanginya.


" Raa..., Kita makan bareng yuk di tempat biasa ntar...," ajak Thoriq.


" Boleh..., ajak temen Aku yaa...," kata Indira mencoba merayu Thoriq.


" Ahh Kamu mah gitu, kebiasaan dehh, kalo diajak jalan pasti ngajak temen. Emang kenapa sih kalo pergi berdua sama Aku aja...? tanya Thoriq agak kesal.


" Gapapa sih..., ga enak aja, rasanya gimana gitu, ga seru...," jawab Indira seadanya.


" Jadi maksud Kamu jalan bareng sama Aku itu ngebetein, ga seru, ga asik...?" tanya Thoriq mulai meninggi.


" Aku ga ngerti sama jalan pikiran Kamu, diajak ngedate kok malah emosi...," kata Aris merendah.


Indira yang merasa kesal hanya diam. Dalam hati ia mulai lelah dengan sikap posesif yang ditunjukkan Thoriq. Dilihat dari penampilan luarnya Thoriq lebih dewasa dari usianya, makanya Indira merasa tertipu dengan penampilannya yang terlihat dewasa itu ternyata usianya lebih muda darinya. Awalnya Indira berpikir bahwa keposesifan Thoriq adalah bentuk cinta dan perhatian Thoriq belaka. Sampai akhirnya Indira mulai merasa hubungan mereka tak bisa dilanjutkan lagi.


Dua hari setelah pertengkaran mereka.


Indira menyerah. Ia memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Thoriq. Awalnya Thoriq tak terima, bahkan mulai mengamuk. Indira sangat takut mengetahui sifat asli Thoriq. Melihat hal ini semakin membuat Indira meneguhkan niatnya untuk putus.


" Sayang..., maafin Aku yahh. Aku janji ga akan larang Kamu lagi berteman sama siapapun. Tapi Kamu jangan putusin Aku...," mohon Thoriq.


" Maaf Riq, ini udah berapa kali Kamu janji tapi Kamu langgar lagi. Aku capek Riq, udah Kita temenan aja ya, bisa kan...," kata Indira lembut.


" Kamu gampang banget sih bilang putus, Kita kan janji buat sama-sama, ini belum apa-apa kan Raaa...," kata Thoriq lagi.

__ADS_1


" Udah cukup Riq, Aku ga bisa lagi. Kita temenan aja, makasih buat semua yang Kita lalui bersama. Maaf belum bisa jadi seperti apa yang Kamu mau...," kata Indira lagi sambil melepaskan tautan jarinya dengan Thoriq.


" Kamu udah ada yang lain kan Raa..., siapa, Aris...!?" seru Thoriq.


" Kecurigaan Kamu yang terus menerus bikin Kita ga bertahan. Kamu tau ga...?" ujar Indira sinis tanpa menjawab pertanyaan Thoriq.


\=\=\=\=\=\=


Dirumah Indira di hari minggu pagi.


" Ehh Dirr..., tumben dirumah aja, ini minggu lho. Biasanya Lo jalan-jalan sama Pacar brondong Lo...," kata Amar menyapa Indira yang terlihat bermalas-malasan di atas karpet depan tv.


" Udah putus Gue, Mas...," kata Indira malas.


" Bagus deh, Gue ga setuju Lo sama dia. Terlalu kekanakan, ga sesuai sama umurnya, yang ada Lo ntr yang momong dia, ha ha ha...," kata Amar tertawa.


" Iya..., Gue tau. Salah Gue milih brondong. Tapi kan Gue ga tau kalo dia brondong Mas, waktu pedekate tuh kayanya dewasa banget. makanya Gue kepincut...," sungut Indira.


" Kepincut atau ketipu...? " tanya ibu yang mendengar obrolan kedua anaknya.


" Ibuuu..., bukan gitu Bu, Dira kan...," kalimat Indira terputus begitu saja.


Belum selesai menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba ayah, Adi dan Ali ikut nimbrung. Maka Indira menutup mulutnya cepat, ia kawatir jadi korban bully-an kedua adiknya.


" Wahh tumben nih..., Mbak Gue yang cantik masih dirumah...," kata Ali mulai meledek Indira.


" Udah putusss!! Ga usah tanya kenapa, males Gue ngomonginnya...," kata Indira memotong ucapan yang akan keluar dari mulut Adi.


Karena Indira tahu apa yang bakal dibahas kedua adik tengilnya itu. Tapi ucapan Indira barusan malah memancing tawa semua orang yang ada di situ.


" Bagus Mbak kalo Lo putus sama si Thoriq, ga pantes tau ga...," kata Adi akhirnya sambil tertawa lepas.


Tapi tawa Adi terhenti karena lemparan bantal dari Indira.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2