
Indira coba mengerti ucapan Asti.
" Tapi Gue liat ada Nenek yang ngeliatin Kita pas Kita dateng tadi...," bisik Indira.
" Sekitar sini ga ada Nenek-nenek. Kan di dalam pagar rumah cuma ada rumah Paman sama Uwak Gue...," kata Asti, " Besok Gue ajak keliling deh...," sambung Asti sambil memejamkan matanya.
Indira tercenung, ia melihat sekeliling kamar. Suasananya memang membuat Indira sedikit tak nyaman. Tapi Indira menepisnya karena dilihatnya ketiga temannya sudah tertidur lelap. Sambil membaca doa sebelum tidur, Indira merebahkan tubuhnya, tak lama ia pun sudah ikut terlelap.
\=\=\=\=\=\=
Pagi harinya, Indira terbangun dan segera pergi ke kamar mandi. Gerakan Indira mengejutkan Asti.
" Kenapa Dir, kebelet Lo...?" tanya Asti sambil menguap.
" Kesiangan Gue, belom sholat Subuh...," jawab Indira cepat.
Indira bergegas menunaikan sholat Subuh. Setelah selesai, ia menyapa ketiga temannya.
" Ga pada sholat Subuh nih...?" tanya Indira sambil melipat sajadah.
Ketiga teman Indira cuma nyengir kuda.
" Sholat dong...," kata Indira lagi.
Sofia menjawab," Gue kan biasanya nitip sama Lo, Dir...,"
Jawaban Sofia mendapat lemparan bantal guling dari Maya dan Asti. Mereka tertawa melihat reaksi Sofia yang cemberut.
Pagi itu Asti mengajak ketiga temannya sowan kerumah paman dan uwak Asti.
Letak rumah mereka berdekatan dengan rumah nenek Asti yang semalam jadi tempat mereka menginap. Rumah nenek Asti dikelilingi rumah anak-anaknya. Rumah mereka juga dibangun di atas lahan milik keluarga yang dikelilingi pagar bata merah.
" Assalamualaikum Wak...," kata Asti.
" Wa alaikumsalam..., eh Nyai, mangga calig...," sambut uwak Asti ramah.
__ADS_1
Asti dan tiga temannya ngobrol sejenak di rumah wak Bahri. Mereka disambut ramah oleh keluarga wak Bahri. Sebelumnya Asti juga mengajak tiga temannya mampir ke rumah wak Beno dan mang Bodong.
Setelah dirasa cukup, Asti dan ketiga temannya pamit dari rumah wak Bahri.
Mereka berjalan kaki menyusuri jalan di kampung itu. Sambil menikmati sinar matahari pagi yang terasa hangat menerpa kulit. Sesekali Asti membalas sapaan orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
" Kalo Gue perhatiin, Mereka sopan banget kalo negor Lo Ti...," kata Maya.
" Iya, kaya gimana gitu...," kata Sofia curiga.
" Apaan sih Lo, biasa aja kali. Orang-orang sini emang ramah...," sahut Asti cepat seolah menyembunyikan sesuatu.
" Tapi tadi Gue denger Wak Bahri bilang soal selametan gitu, siapa yang meninggal Ti...?" tanya Maya lagi.
Asti dan Indira saling tatap sejenak. Asti menghela nafas lalu berkata, " Nenek Gue yang meninggal, udah 2 mingguan. Yang Kita tempatin tuh rumah Nenek Gue. Gue ga cerita, kawatir Lo pada ga jadi kesini...,"
Ternyata reaksi Sofia dan Maya diluar dugaan. Mereka merasa tak terganggu mendengar info itu. Asti pun bernafas lega.
Setelah lelah berjalan, mereka kembali kerumah nenek Asti menaiki dokar.
Malam setelah selesai makan. Indira dan tiga temannya asyik ngobrol di teras rumah. Suasana yang temaram membuat mereka duduk merapat. Ada mang Bodong dan teh Mila yang ikut menemani.
Semua menatap ke arah yang ditunjuk teh Mila. Tampak foto nenek Asti berdiri di belakang seorang pria yang sedang duduk dan diyakini sebagai kakek Asti.
Saat melihat foto itu, jantung Indira berdebar cepat. Sedikit menyesal tak memperhatikan dengan jeli keadaan rumah yang ditempatinya sekarang. Indira memang belum pernah melihat foto itu, atau memang 'dibuat' tak melihat keberadaan foto itu.
Tampak dalam foto sosok perempuan yang nampak cantik diusianya, sedang menatap dengan tatapan kosong.
" Sepertinya dia ga bahagia...," batin Indira.
" Nah, yang di album foto ini, foto terakhir sebelum Nenek meninggal...," kata teh Mila.
" Itu diambil sekitar seminggu sebelum meninggal...," kata mang Bodong menambahkan.
Asti dan ketiga temannya membuka lembaran album foto itu. Ketika teh Mila dan mang Bodong menceritakan tentang 'foto terakhir' nenek, sekujur tubuh Indira terasa lemas.
__ADS_1
Ternyata nenek yang dilihat Indira saat awal kedatangan mereka, sama persis dengan yang ada di foto itu. Pakaiannya, rambut nya yang terurai dan tatapan matanya....
" Semasa hidup Ibu Saya adalah orang yang baik. Tak banyak bicara, tapi suka menolong orang...," kata mang Bodong mengawali ceritanya.
Indira dan ketiga temannya serius mendengarkan penuturan mang Bodong.
" Ibu Saya menikah dua kali. Pertama dengan Kakek Nyai Asti yang merupakan turunan bangsawan. Kedua dengan Bapak Saya, bukan turunan bangsawan tapi dari keluarga yang kaya raya...," kata mang Bodong bangga.
Mengalir lah sebuah cerita....
Nenek Asti adalah gadis yang baik. Meski bukan kembang desa, tapi cukup tenar dimasanya. Nenek Asti menikah dengan kakek Asti tanpa paksaan. Mereka saling mencintai. Mereka hidup rukun hingga memiliki seorang anak laki-laki yakni ayah Asti yang diberi nama Adam.
Saat Adam (ayah Asti) berusia dua tahun, kakek Asti mendapat tugas menghalau pasukan Belanda di perbatasan Indramayu. Kepergiannya tak pernah ada kabar sama sekali. Semua orang yang mengikuti kakek Asti sudah kembali, tapi kakek Asti tak juga kembali. Nenek Asti mulai cemas dan mencari informasi kemana-mana.
Setelah dua tahun tak kembali, keluarga nenek Asti menjodohkannya dengan bapak mang Bodong. Nenek Asti menolak dengan keras. Tapi apalah daya seorang perempuan. Dengan terpaksa nenek Asti menerima perjodohan itu. Pernikahan mereka tak seindah yang dibayangkan. Suami kedua nenek Asti ternyata ringan tangan, sering memukul. Walau hanya kesalahan kecil bisa membuat nenek Asti menerima pukulan.
Nenek Asti hampir bunuh diri karena tak kuat. Sampai suatu ketika suami pertamanya kembali. Nenek Asti yang merasa bersalah telah menduakan suaminya, mencoba mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di pohon dekat rumah. Tapi urung karena jeritan keempat anaknya.
Suami pertama nenek Asti mengerti apa yang terjadi dan tidak menyalahkan nenek Asti.
Ia hanya minta anak kandungnya, Adam, untuk ikut dengannya. Dengan berat hati nenek Asti menyetujuinya.
Setelah percobaan bunuh diri yang gagal, nenek Asti tampak berbeda. Ia sering melamun dan bicara sendiri. Tingkahnya mirip orang tak waras. Hal ini membuat suami keduanya tak lagi memperdulikannya. Makin hari tak ada lagi keharmonisan diantara keduanya. Beruntungnya 3 anak nenek Asti dari pernikahan kedua cukup mandiri. Mereka ( Bahri, Beno & Bayu/Bodong ) mampu mengurus diri mereka sendiri.
Suami kedua nenek Asti meninggal saat mang Bodong berusia tujuh tahun. Ia meninggal karena digigit ular, kata orang ular siluman. Tapi mang Bodong dan keluarga tidak mempercayainya. Mereka berpikir, andai benar bapak mang Bodong ikut pesugihan seperti kata orang, pasti hartanya sudah habis begitu bapak mang Bodong meninggal.
Nenek Asti tak merespon kepergian suaminya yang kedua. Dia seolah sudah punya dunia sendiri. Mungkin karena sering menerima pukulan dari suami keduanya, menyebabkan nenek Asti jadi 'kurang waras'. Meskipun begitu, keluarga ipar nenek Asti menyerahkan hak nenek Asti dan anak-anaknya untuk diolah sendiri. Harta berupa tanah dan rumah yang mereka tempati adalah peninggalan bapak mang Bodong. Nenek Asti tetap seperti itu hingga beliau meninggal dunia dua minggu yang lalu.
" Kasihan ya Mang...," kata Indira, Sofia dan Maya bersamaan.
" Iya..., walaupun begitu Emak ga pernah marah sama Anak-anaknya...," kata mang Bodong sambil mengusap sudut matanya.
" Bapak Mang Bodong galak banget...," gerutu Maya pelan.
" Setau Saya, Bapak itu sayang sama Emak. Kadang kalo marah aja maen tangan...," kata mang Bodong, " Masalah sebenernya apa, Kita juga ga tau, mungkin secara ga sadar Emak suka membandingkan Bapak sama mantan Suami pertamanya, makanya Bapak marah dan tersinggung...," kata mang Bodong menambahkan.
__ADS_1
Hari sudah larut ketika mereka beranjak untuk tidur malam itu.
bersambung