
Pagi hari di rumah kontrakan Jayadi.
" Sepatu Gue udah lo cuci Ri...?" tanya Gunawan.
Hal biasa bagi perantau yang tinggal bersama seperti mereka. Saling meminjam sepatu, baju, topi, bahkan uang. Justru hal sepele itu yang bisa merekatkan hubungan mereka.
" Udah, Gue taro di rak sepatu...," jawab Ari.
" Eh s**pak Gue siapa yang beresin sih...?" kata Asman geram.
" Sssttt, Gue taro di lemari, ga malu Lo naro ****** bolong sembarangan. Kan sekarang ada cewek di rumah ini...," bisik Dimas yang masih terdengar oleh teman lainnya.
" Wooii..., topi Gue yang biasa kemana ya...?" tanya Totok ikut nimbrung.
" Kaos kaki Gue juga ga ada nih...," kata Jayadi.
Suasana pagi yang kacau itu membuat Indira dan ketiga temannya tertawa di kamar.
Suara yang saling bersahutan itu dimulai saat jam bangun pagi. Mulai dari rebutan mandi, cari perlengkapan mandi, bikin kopi, hingga perlengkapan kerja yang membuat empat sekawan itu tak henti tertawa sejak tadi.
" Aduhh Gue sakit perut nih...," kata Sofia.
" Jorok Lo, boker sana...," kata Maya sambil menutup hidungnya.
" Apaan sih lo May, bukan sakit perut pengen boker, sakit perut Gue ketawain tingkah cowok-cowok itu...," kata Sofia tertawa membela diri.
" Iya ya, padahal semalem Mereka masih keliatan dewasa, cool, ga tau nya...," sambut Indira sambil tertawa.
" Itu aslinya Mereka, kaya Kita juga kalo lagi panik...," kata Asti menambahkan.
Rupanya kehadiran Indira dan ketiga temannya membawa perubahan pada penghuni senior itu. Kebiasaan meletakkan barang sembarangan dan ngomong sembarangan mulai mereka perbaiki.
Dari keenam penghuni senior Dimas lah yang paling rajin membereskan rumah. Membuat rumah terlihat rapi sekaligus menimbulkan keributan. Karena biasanya sang pemilik barang akan mencari ke tempat terakhir mereka meletakkan barangnya.
Terkadang Dimas membereskan barang 'temuannya' itu di tempat yang rapi juga, hingga sulit ditemukan oleh pemiliknya. Inilah yang menimbulkan keributan karena saling menanyakan keberadaan barang milik mereka.
Dan Indira beserta ketiga temannya harus mulai terbiasa dengan itu kedepannya.
Pagi itu empat sekawan sudah duduk manis di kursi tamu. Sambil menikmati teh manis hangat yang tadi dibawa oleh bu Ninik, mereka menunggu Jayadi cs untuk berangkat bekerja bersama.
Satu per satu penghuni senior ikut bergabung minum teh. Membahas rencana yang akan mereka lakukan hari itu, semacam briefing pagi sebelum memulai rutinitas.
__ADS_1
" Jadi gitu ya, yang lembur jangan semuanya. Kasian nih cewek-cewek kalo ga ada yang nemenin di rumah...," kata Jayadi.
" Lho emang kenapa kalo lembur Bang...?" tanya Indira.
" Soalnya Kita biasa lembur sampe jam 11 malem Dir...," kata Gunawan.
" Emang Kalian cewek-cewek berani di rumah...?" tanya Asman.
" Ya berani lah Mas, atau ntar Kita maen aja ke rumah Bu Ninik sambil nungguin Abang sama Mas pada pulang...," usul Sofia.
" Sampe jam berapa nungguin di rumah Bu Ninik?, ga enak lah, ngerepotin juga...," kata Ari.
" Ya udah kaya tadi Gue bilang, Kita lembur gantian aja tiap harinya, gimana...?" tanya Jayadi pada kelima temannya.
" Ok, setuju...," jawab mereka kompak.
\=\=\=\=\=\=
Indira dan ketiga temannya sedang menunggu Jayadi di depan pos security. Jayadi dan kelima temannya menitipkan 4 sekawan itu pada security yang bertugas hari itu.
" Nitip ya Pak, mereka Adik Gue dari Jakarta, mau kerja juga di sini...," kata Gunawan sambil menyelipkan sebungkus rokok ke tangan security itu.
" Beres Bos," sahut sang security sambil memasukkan rokok ke dalam saku bajunya.
Jayadi keluar dan memanggil empat sekawan itu.
" Ayo ikut Gue, udah ditungguin di dalem sama personalia...," ajak Jayadi.
Mereka beriringan masuk ke dalam ruang Personalia. Setibanya di dalam mereka dipersilakan duduk. Jayadi ikut duduk tak jauh dari empat sekawan itu.
" Jadi Kalian ini juniornya Mas Jayadi ya...?" tanya staf Personalia itu.
" Iya Pak...," jawab mereka bersamaan.
" Ok, Saya udah baca CV kalian. Dan kalian bisa mulai bekerja hari ini. Selamat bergabung dengan perusahaan Kami...," kata staf Personalia tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
" Alhamdulillah, makasih Pak..," kata Indira sambil menjabat tangan sang staf Personalia, diikuti ketiga temannya.
" Sama-sama...," jawabnya, " Nah, ini name tag Kalian. Selanjutnya Kalian ikut Mas Jayadi, Beliau yang akan menunjukkan apa dan dimana tugas Kalian. Selamat bekerja...," ucapnya lagi dengan ramah.
Jayadi dan empat sekawan keluar dari ruang Personalia. Lalu mereka menuju ke dalam pabrik tempat produksi. Di perusahaan, ruangan administrasi memang terpisah dengan tempat bagian produksi.
__ADS_1
Indira dan ketiga temannya ditempatkan di bagian/divisi yang berbeda. Indira dan Sofia di bagian penghalusan kayu, sedangkan Maya dan Asti di bagian penyortiran bahan.
Mereka mulai berkenalan dengan teman-teman di divisi masing-masing. Sambil bekerja mereka saling bertukar cerita. Para ' penghuni senior' sesekali datang mengecek pekerjaan mereka, atau lebih tepatnya mengawasi keselamatan Indira & ketiga temannya.
Saat jam istirahat siang, empat sekawan diajak makan oleh para penghuni senior di warung makan yang ada dekat pabrik. Di kejauhan tampak para karyawan kasak kusuk memperhatikan kebersamaan mereka.
Hari pertama bekerja sangat menyenangkan bagi Indira dan ketiga temannya. Saat jam pulang kerja, Ari dan Dimas menghampiri mereka.
" Dir, Aku sama yang laen langsung lembur ya, ntar ada Dimas yang nemenin kalian di rumah...," kata Ari sore itu.
" Iya Mas, ntar Kita balik sama Bang Dimas...," jawab Indira.
Mereka jalan kaki menyusuri jalan menuju ke rumah. Dimas yang memang terlihat alim, menghindari sentuhan dengan lawan jenis, dengan berjalan agak terpisah dari empat sekawan itu.
" Gimana hari ini...?" tanya Dimas santai.
" Seru Bang...," sahut Maya.
" Tapi ga enak, masa Kita ditaronya misah-misah sih...?" tanya Sofia.
" Lahhh ,ini kan tempat kerja, masa disamain sama di rumah?. Saya aja sama yang laen, walau satu rumah tapi beda divisi lho...," kata Dimas menjelaskan.
" Iya, gapapa lah, yang penting Kita masih bisa ketemu kan kalo jam istirahat...," kata Indira menengahi.
" Tau nih, Sofi. Bukannya bersyukur dapet kerjaan, dapet tempat tinggal lagi...," gerutu Asti.
" Eh, Lo pada denger ga tadi apa yang, diomongin sama karyawan laen...?" tanya Maya.
" Tau kok, mereka bilang kalo Kita KKN sama bang Jay, makanya bisa langsung kerja...," jawab Sofia malas.
" Udah ga usah didengerin, anggap aja angin lalu...," sergah Dimas menghibur.
Mereka pun memasuki pemukiman, sepanjang jalan menuju rumah, Dimas menyapa ramah orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
" Wahhh, Bang Dimas dikawal cewek cakep nih...," canda seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya.
" Jangan semuanya Bang Dimas, satu aja ya...," canda ibu lainnya yang kebetulan sedang menyapu halaman.
" Bukan Buu..., ini mah Adik-adik Saya dari Jakarta...," kata Dimas tertawa.
Riuh terdengar tawa ibu-ibu mendengar jawaban Dimas.
__ADS_1
bersambung