Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 49 ( Lari Jauh )


__ADS_3

Setelah berpamitan pada beberapa orang teman, Indira dan Sofia pun melangkah meninggalkan halaman pabrik di bawah tatapan karyawan pabrik. Ada rasa haru sekaligus sedih menyeruak di hati mereka.


Diantar Ari dan Dimas mereka tiba di jalan penghubung antar provinsi, tempat dimana mereka akan naik bus antar kota.


" Salam buat yang laen ya Bang Dimas, Mas Ari...," kata Indira terharu.


" Iya, mereka juga titip salam buat Kalian, maaf ga bisa nganter Kalian sampe naik bis. Pekerjaan lagi numpuk karena beberapa hari ga lembur...," kata Ari sambil menepuk pundak Indira dan Sofia bergantian.


" Iya gapapa Mas, maafin Kita ya...," kata Sofia tak bisa melanjutkan ucapannya.


" Minta maaf mulu kaya lebaran...," kata Dimas mencoba mencairkan suasana.


Mereka berempat tertawa. Tawa perpisahan. Karena mungkin mereka tak akan pernah berjumpa lagi setelah hari itu. Entah lah....


Bus antar kota jurusan Jakarta pun tiba. Dibantu Dimas dan Ari mereka naik ke dalam bus. Setelah dipastikan Indira dan Sofia duduk dengan nyaman, Ari dan Dimas pun turun.


Mereka saling melambaikan tangan saat bus mulai bergerak meninggalkan kota C, kota sejuta kenangan buat Indira dan Sofia.


Indira melirik jam dinding yang terpasang di bagian depan bus, terlihat jam menunjukkan pukul setengah sepuluh kurang lima menit.


Indira pun bernafas lega, karena berhasil 'lari' dari kejaran mahluk tak kasat mata itu.


\=\=\=\=\=\=


Perjalanan kembali ke Jakarta.


Sofia tertidur pulas di samping Indira. Tidur yang sangat nyenyak. Seolah sudah lama Sofia tak pernah tidur.Indira hanya memejamkan mata walau tak bisa tidur.


Indira memutar kembali ingatan akan kejadian yang ia alami. Semua membuatnya bingung. Ia hampir menyalahkan Sofia, karena keteledoran Sofia membuat mereka terjebak dalam situasi yang gawat. Tapi Sofia pasti melakukan semua itu tanpa kesadaran yang utuh. Indira menatap Sofia yang sedang tidur di sampingnya, lalu tersenyum.


Indira tak henti bersyukur dalam hati karena bisa terlepas dari belenggu tumbal pesugihan.


"'Alhamdulillah..., Alhamdulillah, makasih ya Allah...," kata Indira lirih sambil mengusap wajahnya.


Sofia terbangun dari tidurnya setelah lebih dari setengah perjalanan tertidur.


" Udah sampe mana nih Dir...?, sorry Gue ketiduran, capek banget kayanya...," kata Sofia sambil menguap.


" Gue ga tau, tapi masih jauh kok. Kalo Lo masih ngantuk tidur aja, ntar kalo udah deket gue bangunin...," jawab Indira.


" Lah terus, Lo ga tidur...?" tanya Sofia.


" Gue ga bisa tidur...," jawab Indira sambil mengambil botol air mineral dan meminum isinya.


" Ga nyangka ya Dir Kita hampir jadi tumbal pesugihan...," kata Sofia dengan mata menatap kearah luar jendela bus.

__ADS_1


" Sssttt..., please ga usah dibahas sekarang, ga enak juga kalo didenger penumpang laen...," kata Indira dengan malas.


Keduanya pun terdiam. Tiba-tiba mata mereka berbinar senang mendapati bus yang mereka tumpangi sudah memasuki daerah Jakarta. Mereka nampak bersiap seperti penumpang lainnya.


" Kita naek angkot ke rumah Lo ya Sof, Gue anterin Lo dulu, baru Gue cabut ke rumah Gue...," kata Indira sambil memakai tas ransel di punggungnya.


" Ga usah lah, repot amat kalo kaya gitu. Kita pisah di terminal aja, langsung cabut ke rumah masing-masing...," tolak Sofia.


" Tapi kan...," Indira tak melanjutkan ucapannya.


" Gue tau Lo kawatir sama Gue, makasih..., tapi ini kan udah di Jakarta, Gue kenal daerah sini, nyantai aja, ga bakal ada apa-apa kok...," kata Sofia mencoba meyakinkan Indira.


" Lo Sof, udah dikasih tegoran sama Allah, masih aja takabur. Jangan kepedean Lo ga bakal kenapa-kenapa, emang Lo Allah...?" gerutu Indira sebal.


" Astaghfirullah..., mmm...iya maksud Gue insya Allah Gue gapapa...," kata Sofia malu.


Setelah menatap Sofia sesaat, Indira pun mengangguk setuju.


" Kita tunggu diluar terminal aja, biar ga ribet...," kata Sofia.


Tiba di depan terminal Pula Gadung, bus mulai jalan merambat karena macet. Banyak penumpang juga yang turun diluar terminal.


Indira dan Sofia berdiri menepi di luar terminal.


" Kok Gue, Lo aja dulu yang naek bis, rumah Lo kan jauhan, Gue gampang lah, angkot kerumah Gue mah banyak...," kata Sofia tak mau kalah.


" Ya udah deh. Tuh bis Gue. Gue naek bis, Lo naek angkot ya...," kata Indira memberi solusi.


Setelah berpelukan sekali lagi, mereka berpisah dengan tujuan berbeda. Indira menatap Sofia dari jendela bus, ternyata Sofia juga tengah menatapnya. Indira memberi kode agar Sofia segera naik angkot. Setelah memastikan Indira duduk, Sofia pun mengangguk dan menuju angkot yang kebetulan ada di depan bus yang dinaiki Indira.


\=\=\=\=\=\=


Sofia menatap kearah jalan raya dari jendela angkot. Berkali-kali ia menghela nafas. Dalam hati ia berniat akan minta maaf pada maminya. Ia akan terima apapun yang dikatakan maminya nanti.


Sofia bergegas turun begitu angkot berhenti di depan gang rumahnya. Setengah berlari ia menuju rumahnya. Sofia hanya menjawab seadanya sapaan tetangga yang berpapasan dengannya.


" Assalamualaikum Mamiii..., Mamiii...," kata Sofia sambil meletakkan tas sembarangan dan mencari maminya.


" Wa alaikumsalam..., eh Sofi. inget pulang lo...?" sindir kakak kedua Sofia.


Sofia cuek dan tetap mencari sosok maminya.


" Mami mana Kak...?" tanya Sofia.


Belum sempat kakak Sofia menjawab, terdengar langkah kaki memasuki rumah.

__ADS_1


" Sofia..., anak Mami, Sayang..., Kamu udah pulang...?" tanya ibu Sofia yang baru saja datang.


Sofia menghambur ke pelukan maminya. Ia menangis sejadi-jadinya sambil memohon maaf pada maminya.


" Mamiii..., maafin Sofi ya Miii, maafin Sofiii...," kata Sofia menghiba.


" Iya..., iya..., Mami maafin, tapi Kamu janji jangan pergi lagi yaa..., Mami ga bisa kalo ga liat Kamu..., Mami ga sanggup...," jawab mami Sofia sambil memeluk erat putrinya.


Mereka masih berpelukan dan menangis, melepaskan kerinduan setelah berbulan-bulan tak bertemu.


" Ck, drama banget sih Lo...!" kata kakak Sofia sambil berlalu.


" Sirik aja lo...," balas Sofia.


" Sssttt..., udah ga usah dengerin. Ayo sekarang Kamu taro dulu tas Kamu di kamar, Mami udah masak, Kamu makan ya...," kata mami Sofia semangat.


Sofia pun menuruti kata maminya. Setelah meletakkan tas di kamarnya, Sofia pun langsung menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan tangannya.


Di ruang makan, mami Sofia tampak sedang menyiapkan makanan sambil tersenyum. Rupanya ia sangat bahagia, anak bungsu yang dirindukannya pulang dengan selamat.


Kebahagiaannya bertambah saat mendengar permintaan maaf yang tulus dari Sofia. Hal yang sudah lama tak didengarnya. Pertengkaran terakhir mereka menyebabkan Sofia lari dari rumah.


" Masak apaan Mi...?" tanya Sofia sambil duduk di kursi makan di samping maminya yang sedang berdiri.


" Ayam kecap, sambel, sama krupuk aja. Gimana, Kamu mau makan ga...?" tanya mami Sofia ragu.


" Alhamdulillah..., Sofia mau Mi. Tapi ada syaratnya...," kata Sofia semangat.


" Kok pake syarat, apa syaratnya...?" tanya mami Sofia lagi.


" Syaratnya..., Sofi mau Mami suapin Sofi makan...," kata Sofia sambil memeluk perut maminya.


" Ooo..., manjanya anak Mami. Iya deh Mami suapin Kamu, mumpung belom disuapin sama orang nanti...," kata Mami Sofia sambil menyendok nasi ke piring.


" Orang mana sih yang nyuapin Sofi Mi...," kata Sofia merajuk.


" Ya Suami Kamu lah..., siapa lagi...?" kata mami Sofia santai sambil menyuapi Sofia.


" Uhk..uhk..., Mami apaan sih...," kata Sofia terbatuk.


Mami Sofia tertawa melihat tingkah anaknya. Siang itu Sofia berjanji dalam hati, tak akan lagi menyakiti maminya.


Sofia menatap maminya yang terlihat sedang bahagia karena kedatangannya. Sesekali ia mengelus lembut rambut maminya yang sudah beruban dengan senyum di bibirnya


bersambung

__ADS_1


__ADS_2