
Sore hari teman Indira satu per satu pamit meninggalkan rumah Indira. Hanya Aris yang masih tinggal. Dan keluarga besar Indira juga masih berkumpul di ruang tengah sambil ngobrol ngalor ngidul.
" Itu pacarnya Indira ya, sudah ada tanda-tanda mau naik pelaminan belom...?" tanya Bude Indira, kakak dari ayahnya.
" Belom lah Mbak, mereka baru sebentar kok deketnya...," jawab ibu Indira sambil tersenyum.
" Jangan lama-lama, ntar keburu ada setan lewat lho, paham kan...?" kata bude Indira lagi sambil meneguk minumannya.
Ucapan bude Indira terdengar di telinga Aris dan Indira. Mereka saling menatap sejenak, tapi Indira memalingkan wajahnya menghindari tatapan Aris.
" Kenapa, malu ya...?" tanya Aris.
" Ga juga..., ngapain malu. Wajar kalo mereka ngomong gitu, semua hubungan kan memang harus ada tujuannya...," kata Indira santai.
" Jadi Kamu siap ga buat menuju kesana...?" tanya Aris hati-hati.
" Mmm..., Kita jangan bahas itu sekarang ya Ris, Aku masih capek...," kata Indira salah tingkah.
Aris tersenyum sambil membelai rambut Indira. Aris sadar belum punya pegangan yang mantap untuk bisa membawa Indira ke dalam hidupnya. Aris tak mau egois. Hanya bermodal kata cinta saja tak akan cukup memenuhi semua keperluan hidup mereka nanti.
Saat ini Aris sedang merintis usaha sampingan selain pekerjaanya sebagai karyawan pabrik. Aris ingin memberi kejutan pada Indira setelah usahanya berjalan lancar nanti.
" Sabar ya Sayang, Aku juga lagi berjuang buat kita...," kata Aris dalam hati.
" Kamu mau pulang sekarang...?" tanya Indira.
Aris mengangguk tersenyum sambil mulai mengikat tali sepatunya. Setelah pamit pada kedua orangtua Indira, Aris pun melangkah pergi.
\=\=\=\=\=\=
Sudah dua bulan sejak kepulangan Indira dan Sofia dari kota C.
Asti sudah menikah dengan Rian. Maya dan Abeng pun nampaknya juga sedang merencanakan masa depan mereka bersama. Sofia saat ini bekerja di sebuah salon kecantikan milik tantenya. Sedangkan Indira memutuskan berhijab di minggu ketiga sejak kepulangannya dari kota C.
Ayah, ibu dan ketiga saudara laki-laki Indira menyambut dengan antusias keputusan Indira. Mereka bangga Indira bisa hijrah menjadi lebih baik.
Kaputusan Indira berhijab juga berimbas pada hubungannya dengan Aris.
Sebagai wanita muslimah yang baik, selain berhijab, Indira juga menghindari berkhalwat ( berduaan tanpa ditemani mahromnya ) dengan lawan jenis. Dan itu artinya ia harus menjauhi dan memutuskan hubungan dengan Aris.
Aris mengerti dan menghormati keputusan Indira. Aris dan Indira beranggapan, jika memang mereka berdua berjodoh, maka Allah lah yang akan menyatukan mereka berdua. Sejak saat itu, mereka pun tak lagi bertemu walau pun itu di rumah Indira.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sore itu Indira nampak sedang melamun di depan tv.
" TV nyala, tapi pikiranmu kemana-mana Dir, mikirin apa sih Kamu...?" tanya ibu sambil duduk di samping Indira.
" Ehm..., itu Bu. Indira pengen banget ke kota C...," jawab Indira ragu.
" Kamu sadar ga bahaya yang mengintai Kamu disana...?" tanya ibu marah.
" Ntar dulu Bu..., Dira kan belom selesai ngomong. Maksud Dira, Ayah, Ibu juga ikut kesana, silaturrahim sekaligus kenalan sama bu Ninik dan keluarganya...," kata Indira sambil menatap penuh harap pada ibunya.
" Ga bisa gitu Dir, itu...," ucapan ibu terputus.
" Boleh tuh, Ayah setuju...," kata ayah Indira yang baru saja pulang.
" Lho Ayah udah pulang, kok Ibu ga denger Ayah ngucapin salam...?" kata ibu sambil menoleh dan mengikuti ayah ke kamar.
" Ck, mana Kamu denger Bu, kan suara Ibu aja kedengeran sampe luar. Kenapa harus pake suara tinggi sih kalo ngasih tau. Anak-anak kan udah gede semua, dibilangin baik-baik juga mereka pasti ngerti...," kata ayah sambil melepas seragam kebanggannya.
Ibu menunduk menyesali sikapnya. Terkadang ibu memang memperlakukan anak-anaknya seolah mereka masih bocah.
Marahnya kadang berlebihan, membuat ayah sering protes akan sikap ibu. Seperti kali ini.
" Iya maaf..., tapi Ayah harus denger dulu...,"
Ibu terdiam dan tak ingin berdebat. Ibu hanya kawatir akan keselamatan Indira, itu saja. Tapi rupanya ayah Indira sudah salah paham.
" Ini kopinya Yah...," kata ibu lembut.
" Makasih ya Bu, maaf tadi Ayah terlalu keras sama Ibu...," kata ayah sambil menggamit lengan ibu mesra.
" Gapapa Yah, Ibu ngerti kok...," kata ibu sambil tersenyum manis.
" Ibu emang the best deh...," kata ayah lagi.
" Gombalan receh...," kata ibu sambil melempar bantal.
Ayah tertawa renyah melihat tingkah ibu yang masih suka salah tingkah jika digombali ayah. Begitulah, mereka tak kan lama menyimpan amarah. Dengan memberi jeda waktu sedikit, masalah yang berat pun segera mencair.
\=\=\=\=\=\=
Setelah merencanakan dengan matang, akhirnya Indira dan keluarganya pun pergi ke kota C mengunjungi bu Ninik. Sofia pun turut serta dalam perjalanan ini. Namun ibu Sofia tak bisa ikut karena tak kuat lagi berjalan jauh.
Jantung Indira dan Sofia berdetak semakin cepat begitu mobil yang disewa ayah Indira hampir tiba di tempat tujuan. Mereka saling menautkan jari seolah saling memberi kekuatan.
__ADS_1
Mereka membawa banyak buah tangan untuk bu Ninik, bahkan Indira dan Sofia mempersiapkan secara khusus hadiah mereka untuk bu Ninik.
" Kita udah sampe Yah, Bu...," kata Indira.
" Ayo Sof, kok malah diem aja...," kata Amar pada Sofia.
" Gue takut Mas...," kata Sofia gugup.
" Tenang aja, Kita mau kesini udah minta pendapat sama Ustad Jamil. Kata Beliau insya Allah aman...," kata Amar yang mengerti kecemasan Sofia.
Mereka turun tak jauh dari rumah bu Ninik. Indira dan Sofia berjalan beriringan di barisan depan. Mereka berpapasan dengan tetangga bu Ninik yang kebetulan masih mengenali Indira dan Sofia.
" Waahhh..., Mbak Dira sama Mbak Sofia ya, apa kabar...?" tanya mereka sambil bersalaman dengan Indira dan Sofia.
" Alhamdulillah baik Bu...," jawab Indira dan Sofia bersamaan.
Setelah sedikit basa basi, rombongan mereka pun melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.
" Assalamualaikum..., Bu..., ini Dira sama Sofia...," kata Indira semangat.
" Wa alaikumsalam..., Dira, Sofia. Wahh Ibu kangen banget sama Kalian...," kata bu Ninik sambil memeluk Indira dan Sofia erat.
Tangis tampak mengambang di mata bu Ninik. Saat tersadar banyak orang di belakang Indira, bu Ninik melepaskan pelukannya.
" Kamu sama siapa Dirr...?" tanya bu Ninik.
" Ini orangtua Saya Bu, ini Kakak Saya, dan yang dua ini Adik-adik Saya...," kata Indira memperkenalkan keluarganya pada bu Ninik.
Mereka saling berjabat tangan. Bu Ninik pun memanggil suaminya memberitahu kedatangan Indira dan keluarganya. Jadilah siang itu mereka berkumpul di rumah bu Ninik. Mereka menyerahkan buah tangan yang mereka bawa pada bu Ninik.
" Kalo yang ini khusus buat Ibu, dari Saya dan Dira ya Bu...," kata Sofia pada bu Ninik.
" Ah, pake repot-repot segala, makasih ya. Boleh Ibu buka sekarang...?" tanya bu Ninik saking senangnya.
" Boleh Bu...," jawab Indira dan Sofia kompak.
Bu Ninik mulai membuka hadiahnya. Matanya nampak berbinar melihat isi kardus yang dibungkus rapi dengan kertas kado.
" Alhamdulillah..., Mukena, sajadah, sama gamis. Wah cantik sekali..., Ibu suka banget...," kata bu Ninik menangis terharu sambil memeluk Indira dan Sofia bergantian.
Semua ikut terharu melihat tingkah mereka bertiga. Bu Ninik pun bercerita banyak tentang Jayadi cs setelah kepergian Indira dan Sofia ke Jakarta.
bersambung
__ADS_1