
Hari ini adalah hari besejarah untuk Indira dan keluarganya. Karena hari ini adalah hari pernikahan Indira.
Perhelatan yang digelar di rumah dan rencananya hanya diselenggarakan dengan cara sederhana, berubah menjadi perhelatan akbar.
Para tamu undangan yang hadir nampak membuat kehebohan tersendiri diluar acara inti. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka.
Dekorasi ruangan yang dibuat nuansa warna hijau dan putih sangat memikat hati para tamu. Ada banyak bunga juga yang diletakkan di setiap sudut ruangan dan di tempat tertentu, membuat suasana segar dan tak membosankan.
Keluarga Indira menggunakan seragam warna coklat susu, yang sangat serasi dengan dekorasi ruangan.
Sahabat Indira pun telah hadir dan memakai seragam sama seperti warna seragam keluarga Indira. Mereka duduk menunggu di kursi yang telah disediakan.
Ada Dewi yang sedang hamil besar dan sedang duduk didampingi suaminya. Ada Asti dan Rian yang menggendong bayi mereka. Ada Abeng dan Maya, yang terlihat sedikit pucat karena sedang hamil muda. Ada Sofia yang asyik menggoda bayi Asti di pangkuannya. Asti memang melahirkan bayi kembar, satu digendong Rian dan satunya ada di pangkuan Sofia.
Mereka masih menunggu Aris yang tak kunjung datang.
Tiba-tiba Aris duduk di samping Abeng. Dengan wajah agak pucat.
" Darimana aja Lo, bukannya duduk, malah kelayapan...," kata Abeng dengan kesal.
" Kebelet Gue...," kata Aris pelan.
" Lo tuh ya...," ucapan Abeng terhenti saat mendengar MC bicara.
" Kami persilakan kepada keluarga calon mempelai pria untuk bersiap memulai prosesi seserahan...," kata MC.
Berlanjut seserahan yang dilakukan secara simbolis. Sambil berfoto untuk dokumentasi.
Rangkaian acara yang mengiringi acara inti pun terus digelar, hingga tiba lah acara inti.
Calon pengantin pria sudah duduk dihadapan wali dari calon pengantin perempuan, yang adalah ayah Indira dan penghulu. Sedangkan kedua saksi mewakili pihak pengantin pria dan wanita duduk di sebelah kanan dan kiri calon pengantin pria.
Ketegangan sangat terasa. Saat ijab kabul dimulai, suasana sangat hening. Dimulai dengan doa, hingga terdengar suara lantang suara pengantin pria.
" Saya terima nikah dan kawinnya Indira Ghaniyya Putri binti Surya Falaq dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat sepuluh gram dibayar tunai...," ujar sang memepelai pria.
" Sah...?" tanya penghulu pada para saksi.
" Sah...!" jawab para saksi kompak.
Lalu dilanjutkan pembacaan doa. Setelah prosesi ijab kabul berjalan lancar, tibalah pengantin wanita yang didampingi ibu dan saudara laki-lakinya, menuju ruangan tempat ijab kabul. Mereka berjalan menuju meja mengantarkan pengantin wanita untuk menandatangani dokumen pernikahan.
Semua mata tertuju pada pengantin wanita yang terlihat sangat cantik. Melangkah perlahan dan agak tertunduk karena malu. Mengenakan gaun putih panjang dengan mahkota sebagai hiasan kepala, make up natural dan senyum yang selalu mengembang, Indira sangat mempesona.
Lalu Indira pun menuju tempat duduk di samping Aris yang kini telah sah menjadi suaminya. Aris yang melihat kedatangan Indira mengulurkan tangannya membantu Indira yang masih tertunduk malu.
Setelah selesai penandatanganan dokumen dilanjutkan penyematan cincin di jari Indira.
__ADS_1
Kemudian Indira mencium punggung tangan Aris khidmat.
Tampak senyum manis dibibir kedua pengantin yang berbahagia itu ketika mata mereka bertemu.
" Cium..., cium..., cium...," seru sahabat-sahabat mereka sambil didiringi tepuk tangan.
Suasana menjadi heboh seketika, tawa pun terdengar saat yang hadir menyaksikan kegugupan sang pengantin wanita.
" Di kening aja kok...," kata Aris berbisik, yang dijawab anggukan kepala Indira.
Aris pun mengecup kening Indira beberapa detik. Blits kamera menyala berulang-ulang mengabadikan moment tersebut.
Setelahnya mereka menerima ucapan selamat dari para tamu. Mereka juga berfoto dengan berbagai macam gaya sesuai permintaan para sahabat gokil mereka.
Acara masih dilanjutkan dengan resepsi dihari yang sama. Indira dan Aris pun harus berganti pakaian dan mereka beriringan menuju kamar pengantin. Tiba disana ternyata sang penata rias belum datang. Hal ini dimanfaatkan oleh Aris dengan memeluk Indira erat dan mencium bibirnya.
" Jangan kaya gini, ntar ga enak diliat sama yang make up...," kata Indira sambil memalingkan wajahnya malu.
" Abis Aku udah ga sabar pengen nyium kamu dari tadi...," bisik Aris di telinga Indira.
" Kamu tuh...," ucapan Indira terputus saat sang penata rias mengetuk pintu.
" Maaf Mbak, Mas..., kita lanjut ganti baju ya buat acara resepsi...," kata sang penata rias sambil mengulum senyum.
Indira mengangguk setuju. Aris hanya berdecak sebal karena moment nya sedikit terganggu.
"Aku tunggu di luar aja ya...," kata Aris sambil melangkah keluar kamar.
\=\=\=\=\=\=
Mereka asyik ngobrol sambil sesekali tertawa. Amar pun ikut nimbrung hingga obrolan semakin seru.
Sementara Indira dibantu sang penata rias sudah mengganti gaun pengantinnya dengan gamis yang lebih simple juga hijab pashmina. Indira sengaja tak menghapus make up nya, kawatir masih ada tamu yang datang memberi ucapan selamat. Lalu Indira berjalan menghampiri sahabatnya yang masih setia menunggunya berganti pakaian.
" Nah..., ni dia pengantin dadakan Kita...," kata Sofia sambil tertawa.
" Iya, Lo mendadak nikah kaya mau kemana aja Dir...," kata Asti sambil menyuapi si kembar.
" Ga mendadak kok, tapi Gue aja yang kasih tau Lo pada mendadak, biar surprise...," sahut Indira tertawa.
" Itulah yang namanya jodoh, udah putus, ada calon laen, eh nikahnya sama dia juga...," kata Maya sambil menepuk jidatnya.
Tingkah Maya memancing tawa si kembar juga orang di sekelilingnya.
" Liat tuh lucunya si kembar. Untung ga jadi Lo gugurin waktu itu Ti...," kata Indira pelan.
" Iya ya, Gue panik waktu itu. Pikiran Gue pendek. Untung Rian nyegah Gue, kalo ga..., Gue bakal nyesel seumur hidup...," kata Asti sambil memandangi si kembar.
__ADS_1
" Gue perhatiin Rian juga tambah dewasa ya Ti..., padahal kan umurnya jauh dibawah Lo...," ujar Maya.
" Alhamdulillah..., Gue beruntung dapetin dia...," sahut Asti sambil tersenyum.
" Iya Lo kudu bersyukur, Rian beda sama Yogi. Umur udah tua tapi kelakuan kaya Anak-anak, bikin Gue males aja liatnya...," gerutu Sofia sambil ikut menyuapi si kembar.
" Uuhhh lucunya Tante Sofia kalo lagi ngambek ya Dek...?" kata Maya pada kedua anak Asti yang ikut berceloteh riang.
" Bukan lucu, tapi cantik...!" protes Sofia galak.
Perdebatan Sofia dan Maya memancing tawa lagi diantara mereka.
\=\=\=\=\=\=
Malam di kamar pengantin.
Indira menunggu Aris yang baru selesai menunaikan sholat Isya. Ia duduk dipinggir tempat tidur sambil membuka hadiah yang diberikan para sahabat.
" Buka kado sekarang...?" tanya Aris sambil mencium pipi Indira.
" Iya, mereka kan suka jail...," kata Indira tertawa.
" Kalo Aku, buka kado spesial Aku kapan...? kata Aris sambil mencium ujung rambut Indira yang dipegangnya.
" Maksud Kamu..., kado spesial apa...?" tanya Indira masih sibuk membuka kertas kado di hadapannya.
" Ya Kamu lahhh...," kata Aris gemas sambil menarik Indira kedalam pelukannya.
Mereka tertawa bersama. Saling menatap dan meresapi kebahagiaan yang mereka dapatkan saat itu.
" Aku bahagia banget bisa nikahin Kamu...," kata Aris sambil mempererat pelukannya.
" Bahagia kenapa...?" tanya Indira pura-pura tak tahu.
" Yaa..., gimana ya. Udah lama ngejar Kamu, eh direbut Thoriq. Putus dari Thoriq masih aja susah dideketin. Udah jadi Pacar, eh diputusin. Giliran mau dilamar, eh masih aja ada yang ganggu...," kata Aris geleng-geleng kepala mengingat perjuangannya mendapatkan Indira.
" Jadi Kamu mulai ngungkit nihhh...," kata Indira merajuk.
Aris tertawa keras melihat tingkah andalan Indira yang baginya sangat menggemaskan.
" Aku sayang sama Kamu...," kata Aris sambil mencubit pipi Indira lembut.
" Aku juga sayang sama Kamu...," balas Indira tersenyum sambil mencium pipi Aris.
" Kok cuma pipi, yang lain dong, pipi mulu...," gerutu Aris dengan mimik lucu.
" Terus maunya yang mana...?" kata Indira seolah memancing Aris.
__ADS_1
" Kamu ya...," Aris menggelitiki pinggang Indira sampai Indira menggeliat kegelian, lalu balas menciumi wajah Indira.
bersambung