
Setelah membuka hadiah dari Indira dan Sofia, Bu Ninik mengajak semua tamunya untuk makan siang.
Ibu Indira menolak dengan halus. Membuat bu Ninik sedikit kecewa.
" Maaf sebelumnya Bu..., Kami kesini juga mau liat warung makan langganan Dira. Kata Dira masakannya enak, gimana kalo Kita makan disana...?" ajak Ibu Indira.
" Ooo..., gitu. Saya kira Kalian ga suka masakan Saya. Sebentar lagi jam makan siang karyawan pabrik, disana pasti ramai. Kita tunggu aja, jam satu-an Kita kesana...," kata bu Ninik menjelaskan.
Semua mengangguk setuju.
" Kabar Bang Jay sama yang laen gimana Bu...? tanya Indira pada bu Ninik.
" Setelah Kamu pergi, Mereka bertengkar hebat. Sampe bikin Jayadi pindah saking marahnya...," kata bu Ninik.
" Emang masalahnya apaan Bu...?" tanya Sofia bingung.
" Biasalah ..., masalah perempuan...," kata bu Ninik sambil mencibir.
Semua yang hadir hanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing mendengar jawaban bu Ninik.
" Si Chika..., Saya kan pernah bilang kalo Saya ngerasa ada sesuatu sama dia. Waktu itu Kalian ga percaya sama Saya...," bu Ninik tampak menyesal.
" Chika...?" kata Indira dan Sofia bersamaan.
" Iya, ga taunya dia tuh cewek nakal. Setelah menggoda Gunawan, dia godain juga si Asman sama Ari. Ya rame lah, pada ngerebutin lobang, sampe lupa segalanya...," kata bu Ninik sinis.
" Masa sih Bu...?" Indira seolah tak percaya.
" Tapi Kita emang pernah liat gelagat anehnya si Chika kan Dir?. Lo inget ga waktu dia sakit, pas Kita ga bisa pulang karna ujan ...?" tanya Sofia seolah mengingatkan Indira akan keanehan Chika.
Indira mengangguk.
" Iya mungkin pas Kalian liat itu, mereka abis 'begituan' di rumah Jayadi...," kata bu Ninik berasumsi.
__ADS_1
" Tapi udahnya Chika nangis Bu...," kata Sofia pelan.
" Pura-pura aja kali..., Chika itu pertama kali begituan sama Gunawan ya udah ga suci lagi. Gunawan tau itu. Makanya pas Chika minta dinikahin, Gunawan selalu menghindar...," kata bu Ninik, " Apalagi pas dia ngeliat Chika juga lagi begituan sama si Asman..., marah lah si Gunawan. Terus jadi tambah rame pas Ari juga ngaku pernah begituan juga sama Chika. Nah, Jayadi marah besar waktu tau rumah yang disewa atas namanya dipake berbuat mesum sama temen-temennya. Makanya Jayadi pindah...," cerita bu Ninik.
" Terus Bu...?" tanya Amar yang penasaran.
" Ya Chika diusir sama warga, disuruh keluar dari kampung ini. Karna ulah dia, persahabatan Jayadi dan temen-temennya jadi rusak. Rame banget waktu itu. Jadi warga berdatangan pengen tau ada apaaan. Kan selama ini adem ayem aja. Pas mereka ngerti masalahnya, yang jadi biang masalah lah yang diusir sama warga...," kata bu Ninik sendu.
" Ibu juga hampir pingsan waktu itu. Shock lah, tau rumah yang disewain dipake mesum...," kata suami bu Ninik menambahkan.
" Terus Chika pergi kemana Bu...?" tanya Indira lagi.
" Saya ga tau, dia langsung pergi waktu itu. Tas sama bajunya langsung diangkutin. Perginya hampir Maghrib ya Pak...?" tanya bu Ninik pada suaminya.
" Setelah adzan Maghrib Bu. Dia juga nangis-nangis minta dikasihanin, tapi semua orang ga percaya sama dia...," kata suami bu Ninik lagi.
Semua yang mendengar cerita bu Ninik merasa prihatin.
" Untung pas Kamu disini ga ada kejadian kaya gitu ya Nak...," kata ibu Indira sambil membelai kepala putrinya dengan sayang.
" Tapi kata Dimas, si Chika datang ke pabrik nyari Asman minta dinikahin karna hamil. Dan dia yakin Anak yang ada di dalam rahimnya itu anak Asman...," kata suami bu Ninik.
" Tapi Asman ga mau lah. Kan dia udah punya Anak Istri di Jakarta. Mau sama Chika karena terus digoda aja, apalagi jauh dari Istri...," kata bu Ninik sebal.
Pembicaraan terhenti saat adzan Dzuhur berkumandang. Semua laki-laki sholat berjamaah di masjid dekat rumah. Sementara yang perempuan sholat di rumah bu Ninik.
Jam satu-an Mereka pun berangkat menuju warung langganan Indira dengan jalan kaki. Indira dan Sofia nampak bahagia mengenang kisah mereka di kota C.
" Untung Mami ijinin Gue pergi ya Dir. Kalo ga, Gue nyesel deh...," gurau Sofia.
" Iya..., sayangnya Mami Lo sakit, jadi ga bisa ikut ya...," kata Indira.
Tibalah mereka di warung langganan. Mereka duduk mengelilingi meja makan jumbo yang tersedia di warung itu. Indira dan Sofia mulai memesan makanan andalan mereka. Amar, Adi dan Ali tak mau kalah. Suasana ramai dengan tingkah mereka.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan datang, mereka lanjut obrolan yang terhenti tadi.
" Lalu nasib si pemilik pesugihan itu gimana Bu...?" tanya ibu Indira sambil berbisik kepada bu Ninik.
" Setelah dua atau tiga hari Dira pulang ke Jakarta. Si fulan meninggal Bu. Meninggalnya juga aneh. Badannya membusuk, punggung, tangan sama kakinya kaya ada bekas cakaran, matanya melotot, tangannya nekuk. Hiii..., pokoknya serem Bu...," kata bu Ninik bergidik.
" Kok bisa yakin kalo si fulan yang meninggal itu yang punya pesugihan Bu...?" tanya ayah Indira penasaran.
" Kata Adik saya, Fajar. Anak-anak juga kenal sama Adik saya. Terus dari gosip yang beredar juga di kampung ini Pak. Soalnya si fulan ini bisa kaya mendadak, padahal usahanya biasa aja kaya orang laen. Yaa..., pasti orang ngira begitu. Apalagi sebelum meninggal, sorenya dia masih keliatan sehat kok...," kata bu Ninik sambil menyuap makanan ke dalam mulut.
" Kuburannya ada dekat rumah. Dikuburnya malam itu juga. Soalnya meninggalnya aneh, jadi warga ketakutan. Makanya ga pake nunggu Anaknya dari Kalimantan datang, langsung dikubur oleh warga dipimpin Haji Kosay dan tetua adat. Istrinya ga bisa berbuat apa-apa, dia juga ketakutan ngeliat jenasah Suaminya kaya gitu...," kata suami bu Ninik menambahkan.
Lagi-lagi semua terdiam mendengar cerita bu Ninik dan suaminya. Hanya saja perasaan tak nyaman melingkupi mereka sekarang.
" Tapi pengaruhnya udah ga ada kok. Kan yang punya pesugihan dan yang bikin perjanjian sama makhluk halus udah meninggal. Kata Fajar, si fulan jadi tumbal dari pesugihannya sendiri. Karna ga bisa ngasih tumbal, jadi dia lah yang dijadiin tumbal sama makhluk yang dipujanya itu...," kata bu Ninik menenangkan ibu Indira.
" Sejak kematian si fulan suasana kampung juga lebih enak ya Bu...," kata suami bu Ninik.
" Iya bener Pak...," sahut bu Ninik.
Mereka masih melanjutkan makan siang dengan mencoba beberapa menu andalan di Rumah Makan itu.
" Masakan warung ini lumayan enak ya Yah, pas lah sama kantong karyawan...," kata ibu Indira sambil tersenyum.
" Iya Bu, pantesan ramai. Masakannya lumayan enak, porsinya banyak, murah lagi...," sahut ayah Indira tertawa.
Setelah makan siang bersama, mereka kembali ke rumah bu Ninik. Ayah pun menitipkan amplop untuk pak Fajar kepada bu Ninik.
" Ini Bu..., saya nitip buat Pak Fajar. Ga banyak sih, sekedar ungkapan terimakasih Kami sekeluarga atas pertolongan Pak Fajar pada Indira dan Sofia. Tolong sampaikan maaf Kami juga belum bisa sowan kerumah Beliau...," kata ayah Indira.
" Kalo yang ini dari Saya khusus buat Ibu Ninik, jangan ditolak, nanti Saya marah. Ini uang pribadi Saya lho. Saya khusus siapin ini jauh hari sebelum berangkat ke sini...," kata ibu Indira sambil memeluk bu Ninik.
" Waahh Saya ga bisa nolak nih, udah diancam kaya gini...," kata bu Ninik terharu sambil balas memeluk ibu Indira.
__ADS_1
Setelah sholat Ashar, akhirnya Indira dan rombongan kembali ke Jakarta. Bu Ninik dan suaminya melepas mereka dengan rasa haru. Bu Ninik pun mengerti mengapa Indira punya kepribadian yang baik. Ternyata Indira lahir dari ayah dan ibu yang istimewa. Senyum pun mengembang di bibir bu Ninik dan suaminya di sore itu.
bersambung