
Mendengar ucapan pak Surya sebelum pergi meninggalkan Coffee Shop miliknya, membuat Aris membatu.
Garang menepuk pundak Aris memberi semangat.
" Semangat friend..., Gue pasti dukung Lo...," kata Garang yakin.
" Thanks Gar...," sahut Aris sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=\=
Setibanya di rumah, ayah Indira segera membersihkan diri. Lalu menuju ruang keluarga dan duduk di depan TV yang menyala.
" Ga usah bikin kopi Bu, Ayah udah ngopi banyak hari ini...," kata ayah Indira.
" Tumben sih, emang darimana kok baru pulang jam segini...?" tanya ibu Indira curiga.
" Jangan curiga dulu...," kata ayah terkekeh sambil mencubit pipi ibu.
" Siapa yang curiga, Ayah jangan ge-er...," kata ibu Indira melengos.
" Anak-anak kemana...?" tanya ayah.
" Amar ke rumah Airin, Dira di kamarnya, Adi sama Ali lagi main PS...," jawab ibu jutek.
" Ayah mau cerita sesuatu sama Ibu, jangan sampe Anak-anak tau dulu, apalagi Dira...," kata ayah serius.
" Cerita apa sih Yah...?" tanya ibu penasaran.
" Tadi Ayah baru aja ketemuan sama Aris, dia mau ngelamar Dira katanya...," cerita ayah.
" Haahh..., yang bener Yah...?" tanya ibu tak percaya.
" Iyaa Buu..., masa Ayah bo'ong sih. Sekarang Aris udah punya usaha Coffee Shop gitu, joint sama temennya. Tadi pas Ayah kesana lumayan rame, posisinya enak deket jalan raya, kapan-kapan kita kesana ya...," ajak ayah senang.
" Terus...?" tanya ibu lagi.
" Terus Ayah tanya emang dia punya apa buat ngelamar Dira, eh dia bilang kalo punya Coffee Shop itu. Dia masih kerja di pabrik, nah Coffee Shop itu temennya yang ngehandle selama Aris kerja di pabrik. Ntar sorean sampe malem gantian Aris yang ngehandle...," kata ayah dengan wajah berbinar.
" Ayah ga lupa kan kalo Indira lagi taarufan sama si Bayu...?" tanya ibu hati-hati.
" Inget lah Bu..., makanya tadi Ayah juga bilang sama Aris kalo ada yang lagi deketin Dira. Kita liatin aja Bu, siapa yang berhasil memenangkan hati Indira...," kata ayah mencoba santai.
" Iihh, Ayah gimana sih. Jodoh tuh bukan mainan ya, bukan soal kalah atau menang. Terus ntar pemenangnya yang bisa nikahin anak kita. Emang Dira itu barang...?!" tanya ibu emosi.
Ayah Indira terkejut dengan respon istrinya yang terlihat sangat marah. Ia menyadari kesalahannya dan segera meralat ucapannya.
__ADS_1
" Ayah ga maksud gitu Bu...," kata ayah pelan, " Maafin Ayah ya..., Ayah cuma mau yang terbaik buat Dira...," kata ayah lagi.
\=\=\=\=\=\=
Usaha Aris untuk mendapatkan hati Indira kembali, selaras dengan usaha Bayu mendekati Indira.
" Kamu hanya duduk dan lihat, gimana nanti Aku berusaha bisa bikin Kamu bahagia...," ucap Bayu di suatu sore.
" Cuma liatin aja Mas, ga usah ngapa-ngapain...?" gurau Indira.
" Iya, asal Kamu percaya sama Aku dan doain Aku, insya Allah kita bisa bahagia...," kata Bayu sambil menatap Indira.
Begitu lah janji Bayu pada Indira, membuatnya melayang dan tak ingin berhenti terbang. Tapi Indira masih belum sadar bahwa hidup bukan fatamorgana yang cukup dengan janji.
Indira merasa kedatangan Bayu dan Aris tak mendapat penolakan apa pun dari keluarganya.
Bahkan Indira juga merasakan persaingan diantara kedua pria itu.
" Aku bukan cowok romantis yang bisa manjain Kamu dengan sejuta rayuan...," kata Aris lirih.
" Aku udah bosen denger rayuan ga guna...," kata Indira pedas.
" Aku ga bisa jamin kehidupan Kita berlimpah materi, tapi Aku ngajak Kamu buat jadi bagian terpenting dari hidupku. Merintis asa bersama, menua bersama, bahagia bersama. Apa Kamu bersedia...?" tanya Aris sambil menatap Indira sejenak, lalu membuang pandangannya kearah lain.
Indira membisu tak mampu menjawab. Ia terlalu bingung dengan perasaannya.
" Bu..., Ayah ga marah ya kalo Indira nerima kehadiran Mas Bayu dan Aris...?" tanya Indira mulai curiga.
" Ayah memberi kesempatan sama Kamu untuk memilih, lebih sreg sama siapa, Bayu atau Aris...," kata ibu sambil menyimpan pakaian di lemari.
" Mmm..., kalo menurut Ibu gimana...?" tanya Indira ragu.
Ibu tersenyum sambil mencium kepala Indira dengan sayang.
" Anak Ibu udah gede, udah dewasa. Jadi Kamu harus milih satu untuk jadi teman hidupmu. Jangan menggantung perasaan Mereka terlalu lama, ga baik !. Segera ambil sikap, biar sama-sama enak dan ga jadi fitnah...," kata ibu tegas.
Indira termangu di hadapan ibunya.
" Bayu laki-laki yang baik, sholeh. Selain dewasa, tampan, mapan juga. Posisinya di kantor sebagai staf keuangan cukup menjanjikan. Kamu bisa dimanjakan dengan uang nanti, insya Allah ga akan kekurangan. Rumah pribadi pun dia sudah punya. Lagipula, Bayu keliatan suka banget sama Kamu...," kata Ibu memberi pandangan.
" Sedangkan Aris laki-laki yang baik, lumayan tampan dan sholeh juga, bertanggung jawab, belom punya rumah pribadi, meskipun cuma karyawan pabrik tapi dia pintar mengatur keuangan,Kami lumayan nyaman sama Aris. Satu lagi, Aris keliatan sayang banget sama Kamu...," kata ibu diakhir kalimatnya.
Indira masih berusaha mencerna apa yang dikatakan ibunya barusan. Tiba-tiba pintu kamar Indira kembali terbuka, tampak wajah ibu di sana.
" Jangan lupa sholat Istikhoroh ya Nak..., biar ga salah pilih. Nanti Allah yang akan memantapkan hatimu buat memilih...," kata ibu sambil tersenyum.
__ADS_1
Indira pun mengangguk dan berniat mengerjakan sholat sunah Istikhoroh setelah 'tamu' bulanannya selesai.
\=\=\=\=\=\=
Setelah tamu bulanannya berakhir, Indira melaksanakan niatnya untuk sholat Istikhoroh setelah sholat fardhu. Sudah hampir tujuh hari berturut-turut Indira mengerjakannya, tapi belum ada petunjuk dari Allah. Indira kawatir jika terlalu lama menggantung perasaan Aris dan Bayu.
Hari ketujuh seusai mengerjakan sholat Istikhoroh, Indira yang bingung dan kelelahan menunggu petunjuk dari Allah, tertidur di atas sajadah. Masih menggunakan mukena lengkap dan tasbih di tangan. Tidur Indira yang baru sejenak itu terganggu oleh suara berisik kedua adiknya yang sedang ribut. Entah apa yang diributkan.
Indira membuka matanya dan langsung duduk di atas sajadah. Indira mengingat bahwa ia baru saja tertidur, tapi ia mengalami mimpi yang menurutnya adalah jawaban dari pertanyaannya selama ini.
Indira segera melipat sajadahnya dan berlari keluar menemui ibu yang sedang memarahi kedua adiknya.
" Kalian tuh udah besar, bukan Anak kecil lagi, Ibu heran kok masih lari-larian ga jelas kaya gitu. Liat, jadi pecah kan pot kesayangan Ibu, Mana jauh lagi...," ibu tak melanjutkan ucapannya.
" Dira udah dapet jawabannya Bu...," bisik Indira di telinga ibunya.
Ibu menoleh senang dan langsung memeluk Indira. Kedua adik Indira yang melihat ada kesempatan,segera meninggalkan ibu dengan cepat.
" Nanti kita kasih tau Ayah yaaa...," kata ibu lembut.
Indira mengangguk dan kembali memeluk ibu dengan erat.
\=\=\=\=\=\=
Malam itu di kamar ayah dan ibu Indira.
" Jadi Dira udah dapet jawabannya...?" tanya ayah senang.
" Iya Yah, Kita harus segera menghentikan Bayu dan Aris...," kata ibu.
" Kita juga harus siap dengan resikonya Bu...," kata ayah menerawang.
\=\=\=\=\=\=
Esoknya, ayah Indira meminta Bayu dan Aris menemuinya di suatu tempat, yang dipilih sendiri olehnya.
Keduanya datang tepat waktu. Setelah bersalaman dan saling mengenalkan diri, mereka pun memesan minuman dan makanan ringan. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, mereka terlibat obrolan santai. Sesekali juga terdengar tawa diantara mereka bertiga.
Kopi pesanan pak Surya dan Aris tiba lebih dulu, disusul juice jeruk pesanan Bayu dan makanan ringan. Mereka menikmati pesanan mereka dengan santai.
Tiba waktunya pak Surya bicara serius. Mereka juga tampak mendengarkan dengan serius ucapan pak Surya.
Sesekali mereka saling tatap seolah memastikan kekuatan lawan. Hingga pak Surya selesai bicara.
Bayu dan Aris terdiam. Mereka menghela nafas kuat sebelum bicara. Pak Surya menatap kedua pemuda dihadapannya, kedua pemuda yang dibanggakannya, kedua pemuda yang sedang berjuang mendapatkan hati putrinya tersayang.
__ADS_1
Tapi Allah adalah penentu akhir kisah cinta mereka. Dan mereka harus menerimanya dengan lapang dada dan menjalaninya....
bersambung