
Aris dan kelima temannya berada d rumah om Opan hingga sore. Setelah berpamitan pada om Opan dan tante Aida, mereka segera kembali ke rumah.
Perjalanan ditempuh dengan komuter line lagi. Penumpang cukup padat sore itu.
Sambil memandang keluar jendela, Indira yang berdiri dekat Aris tampak agak oleng terdesak oleh orang yang kebetulan lewat. Aris segera menarik tangan Indira. Sejenak mereka bertatapan, lalu Indira berdiri agak menjauh.
Hari Minggu yang berkesan buat Indira dan kelima temannya sudah berlalu.
Hari-hari mereka kembali ke rutinitas semula.
Aris juga masih gigih mengejar Indira.
" Gimana Dir...?" tanya Aris.
" Apanya Ris...?" tanya Indira sambil mengecek isi tasnya.
" Permintaan Gue sama Lo, yang Gue pengen Lo jadi cewek Gue...," kata Aris menghentikan langkahnya.
" Aris, Gue minta maaf...," suara Indira hampir tak terdengar.
" Kenapa Dir...?" tanya Aris bingung.
Indira menatap Aris. Sebenarnya ia masih ragu pada Aris. Indira suka kebersamaannya dengan Aris dan melihat ketulusan di matanya.
" Gue...," ucapan Indira terputus.
" Gue masih harus nunggu lagi Dir...?" potong Aris cepat.
Indira menggeleng sambil tersenyum manis, membuat Aris bertambah bingung.
" Maksud Lo...?" tanya Aris.
" Iya. Gue mau jadi cewek Lo...," sahut Indira sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
Aris terlonjak senang. Akhirnya kesabarannya membuahkan hasil. Sambil meraih kedua tangan Indira, Aris berkata, " Makasih atas kesempatan yang Lo kasih. Gue ga mau janjiin yang muluk-muluk, asal Lo percaya itu udah cukup...," kata Aris lembut.
Indira mengangguk.
Sore itu langit terlihat sangat indah, apalagi bagi sejoli yang sedang kasmaran seperti Indira dan Aris. Tangan mereka saling bertaut seolah enggan terpisah. Sesekali mereka saling menatap dengan senyum di wajah.
" Tapi kontrak kerja Gue bentar lagi abis Ris...," kata Indira.
" Gue tau, emang kenapa...?" tanya Aris sambil merapikan anak rambut Indira.
" Yaa, itu artinya Kita bakal jarang ketemu...," kata Indira.
" Gue bisa kerumah Lo, atau Kita janjian ketemu kaya Abeng sama Maya...," ucap Aris coba menghibur.
Indira terdiam sambil membuang pandangannya.
" Ini yang bikin Lo ragu sama Gue...?" tanya Aris lagi.
Indira menoleh kearah Aris.
__ADS_1
" Ya, salah satunya...," jawab Indira pelan.
" Ga usah mikirin yang masih jauh. Yang penting sekarang, gimana kalo kita kasih tau temen Kita tentang hal ini...?" tanya Aris semangat.
" Apa harus buru-buru...?" tanya Indira balik.
" Terserah Lo aja enaknya gimana...," kata Aris tersenyum sambil menepuk pelan tangan Indira.
Mereka memutuskan menjalani kisah mereka apa adanya. Mencoba mengenal lebih dekat pribadi dan keluarga masing-masing.
\=\=\=\=\=\=
Sejak memutuskan 'jadian' dengan Aris, sikap Indira sedikit berubah. Di rumah,Indira selalu tersenyum (apalagi pada 2 adiknya yang notabene adalah 'musuhnya'). Hal ini tentu saja membuat kedua orangtua dan tiga saudara lelakinya heran.
" Kamu keliatan happy banget Dir...," kata ibu suatu hari sambil duduk di atas tempat tidur Indira.
" Ibu gimana sih, kalo Dira marah-marah heran, terus kalo Dira senyum gini Ibu juga heran...?" tanya Indira manja.
" Bukan gitu, Ibu seneng lah liat Anaknya bahagia...," kata ibu dengan tulus.
" Ehm, iya Bu..., Dira udah jadian sama Aris...," kata Indira sambil menutup wajahnya dengan bantal.
" Haa..., Ibu udah duga pasti ada hubungannya nih sama Aris...," kata ibu sambil mencubit pipi Indira gemas.
" Aww..., sakit dong Bu...," jerit Indira.
" Udah sejak kapan...?" tanya ibu.
" Ibu cuma pesen hati-hati, jaga diri kamu baik-baik. Pacaran yang biasa aja,jangan sampai kebabalasan. Inget dosa...," nasehat ibu.
" Iya Bu, terus Ayah gimana Bu...?" tanya Indira lagi.
" Ya Kamu ngomong langsung sama Ayah lah, ajak Aris buat ngobrol lagi sama Ayah...," pesan ibu sebelum meninggalkan kamar Indira.
\=\=\=\=\=\=
Seperti saran ibu, Sabtu sore sepulang kerja, Indira mengajak Aris kerumahnya. Sebenarnya Aris sudah minta untuk mengantar Indira sebelumnya, tapi Indira selalu menolak. Aris berniat 'minta ijin' pada ayah Indira, untuk mendekati anak gadisnya.
" Jadi Kamu udah cerita tentang Kita sama Ibu...?" tanya Aris sambil menggandeng tangan Indira.
(Aris dan Indira sepakat mengganti sebutan 'Lo - Gue' menjadi 'Aku - Kamu' sejak hari kedua mereka jadian).
" Iya, Ibu nyaranin Aku ngajak Kamu ketemu Ayah...," jawab Indira.
" Kenapa sih Kamu takut banget kalo Aku kerumah...?" tanya Aris.
" Gapapa, malu aja...," sahut Indira dengan pipi memerah.
" Duh liat Kamu kaya gini Aku tambah sayang deh...," gombal Aris sambil mengelus pipi Indira.
Indira memalingkan wajahnya sambil tersenyum.
Tiba di rumah Indira hari masih sore. Ayah dan ibu sedang duduk di teras rumah sambil menikmati kopi buatan ibu.
__ADS_1
" Assalamualaikum...," sapa Indira dan Aris bersamaan.
" Wa alaikumsalam...," jawab ayah dan ibu bersamaan.
" Lho, ini Nak Aris kan, yang tempo hari kerumah...?" tanya ayah ramah.
" Iya, ini Saya Pak...," kata Aris sambil mencium punggung tangan ayah dan ibu Indira.
" Ayo sini duduk, atau mau di dalam aja...?" ajak ayah.
" Di dalam aja Yah...," saran ibu.
Merekapun masuk ke dalam rumah sesuai saran ibu. Ayah mengajak Aris duduk di ruang tamu. Sementara itu Indira dan ibu masuk menyiapkan hidangan kecil untuk mereka.
" Mohon maaf sebelumnya kalo Saya lancang Pak...," kata Aris membuka percakapan.
" Lho, ada apa memangnya Nak...?" tanya ayah.
" Saya minta ijin untuk menjalin hubungan dengan Dira, Pak...," kata Aris mantap, " Saya dan Indira ada niat mau melanjutkan hubungan Mami supaya lebih dekat lagi. Kami udah jadian seminggu ini, maaf baru sempet ke sini ngasihtau Bapak...," ucap Aris dengan sopan.
" Ooo gitu, Saya sudah dengar dari Ibunya Dira. Saya kira Kamu ga berani ngomong sama Saya...," kata ayah sambil mengulum senyum.
Saat asyik ngobrol, ibu dan Indira datang membawa setoples kue kering dan kopi susu untuk Aris. Suasana sudah lebih mencair. Apa yang dikawatirkan Indira tak terjadi.
Ketika adzan Maghrib berkumandang, ayah mengajak Aris untuk sholat berjamaah di masjid dekat rumah. Amar, Ali dan Adi juga ikut.
Sepulang dari masjid mereka mampir sebentar di warung membeli rokok.
Kehadiran Aris nampaknya bisa cepat diterima oleh keluarga Indira. Mungkin karena kesederhanaan Aris dan sikapnya yang bertanggung jawab, membuat mereka tak punya alasan untuk menolak.
\=\=\=\=\=\=
Ketika hubungan Aris-Indira baru saja dimulai, tapi berbeda dengan pekerjaan Indira. Ya, ternyata kontrak kerja Indira berakhir dan tak bisa diperpanjang. Salah satu penyebabnya adalah keterlambatan Indira, yang hampir tiap hari tiba di pabrik setelah bel jam masuk kerja berbunyi.
Indira agak kecewa. Padahal dulu ia tak pernah ingin bertahan di pabrik itu. Aris menghibur Indira sambil mengelus kepalanya.
" Yang sabar ya Sayang...," kata Aris lembut.
" Ya gapapa kok, kan udah tau juga kalo hari ini bakal tiba...," kata Indira sambil tersenyum pahit.
" Kalo Kamu mau, ntar coba Aku tanya temenku, kali aja ada lowongan sekitar sini...," kata Aris coba memberi solusi.
" Ga usah, Aku pengen rehat sebentar boleh kan...?" tanya Indira pelan.
" Ooo gitu, ya boleh lah...," sahut Aris cepat.
" Aku punya rencana sama Sofia,Maya dan Asti...," kata Indira lagi.
" Rencana apa...?" tanya Aris sambil menarik kursinya lebih dekat.
" Rencananya...," ucapan Indira terputus.
bersambung
__ADS_1