Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 28 ( Kesempatan Baru )


__ADS_3

Cerita tentang nenek Asti membawa rasa tersendiri untuk Indira. Malam itu ia agak gelisah, hingga akhirnya ia bertanya pada ketiga temannya.


" Eh iya..., Lo udah pada ngabarin Keluarga yang di Jakarta belom...?"


" Astaghfirullah..., Gue lupa. Keenakan nih disini, nyantai, jadi lupa sama yang di Jakarta...," gurau Maya.


" Iya jangan nangis kalo ntar si Abeng lupa juga sama Lo...," celetuk Sofia.


" Ga lahh, kayanya Lo deh yang bakal dilupain sama si Yogi...," kata Maya sambil tertawa.


" Biarin aja, Gue males juga lama-lama sama dia...," jawab Sofia ketus.


" Eehhh..., kok gitu sih ngomongnya...," kata Asti.


" Lagi ngambek nih ceritanya, gara-gara dicuekin sama Yogi...," kata Maya lagi.


" Ga juga, Gue pikir percuma ngejalanin hubungan yang ga ada arahnya...," sambung Sofia sambil menarik selimut.


Indira, Maya dan Asti saling berpandangan. Mereka paham jika Sofia sedang kecewa terhadap sikap Yogi. Mereka bertiga memutuskan tak membahasnya lagi malam itu dan segera tidur di samping Sofia.


\=\=\=\=\=\=


Pagi hari, semua bangun dengan 'rasa' yang berbeda. Indira dengan rasa lelah, karena tak bisa nyenyak tidur semalam. Maya dengan rasa gundah, karena kawatir keterlambatannya mengabarkan memancing kemarahan Abeng. Asti dengan rasa rindu yang menggunung pada Rian. Dan Sofia dengan rasa pasrah akan hubungannya dengan Yogi.


Setelah sarapan, mereka bermaksud menyusun rencana untuk mengisi liburan mereka.


" Gimana kalo Kita mampir ke kota C...?" tanya Asti membuka percakapan.


" Emang ada apaan di kota C...?" Indira balik bertanya.


" Gue baru inget, ada tetangga Gue yang tinggal di kota C. Namanya Bang Jay, pernah kerja di pabrik yang sama kaya Kita, cuma dia udah cabut dua tahun-an kalo ga salah...," cerita Asti.


" Terus Kita ngapain kesana...?" tanya Maya.


" Ya nyari kerja lah dodol, kan Kita udah omongin waktu itu...," jawab Asti gemas.


" Emang pasti diterima Ti...?" tanya Sofia ragu.


" Posisinya enak sekarang. Pernah ketemu Gue, waktu sebelum Gue abis kontrak. Nah..., pas ngobrol gitu dia nawarin kerjaan di kota C. Katanya sih banyak mantan karyawan pabrik lama yang ikut sama dia. Dia bisa masukin Kita juga kok...," Cerita Asti sambil menutup pintu rumah.


" Yakin bisa masukin Kita berempat sekaligus...?" tanya Indira tak percaya.


" Iya, udah jangan cerewet. Kita berangkat sekarang aja mumpung masih pagi...," ajak Asti.


Setelah berpamitan pada mang Bodong, mereka berempat pergi ke kota C. Mereka berencana tak bermalam di sana, jadi tas tetap mereka tinggalkan di rumah nenek Asti.


Perjalanan ke kota C berjalan lancar. Waktu yang dibutuhkan sekitar sejam setengah untuk tiba di tempat tujuan.


Asti mengajak mereka ke sebuah pabrik yang memproduksi furniture kayu dan rotan. Pabriknya lumayan besar, walau tidak sebesar pabrik di Jakarta. Asti mengajak ketiga temannya menunggu di sebuah warteg. Karena masih jam sepuluh pagi. Jadi warteg masih sepi, karena belum ada karyawan yang keluar untuk istirahat.

__ADS_1


Asti memesan minuman dan makanan di warteg itu. Sambil mulai bertanya-tanya pada pelayan warteg.


" Mbak, di pabrik itu ada karyawan yang namanya Jayadi ga...?" tanya Asti.


" Pak Jayadi yang dari Priok Jakarta...?" tanya pelayan warteg.


" Iya bener...," sahut Asti mantap.


" Ada Mbak, orangnya baru aja lewat, nih kopinya aja belom abis. Tadi katanya mau ke pabrik 2...," kata pelayan warteg sambil menyodorkan minuman pesanan Asti.


" Emang ada berapa pabrik di sini Mbak...?" tanya Maya.


" Ada 2 Mbak, yang satu tuh yang di depan kita, yang kedua masih agak jauh kesana...," kata pelayan warteg lagi.


Tak lama orang yang dimaksud pun memasuki warteg. Asti danJayadi saling tatap sejenak dan tersenyum.


" Waahhh, sampe juga kesini nih Adek Gue...," kata Jayadi ramah sambil menjabat tangan Asti.


" Iya Bang Jay...," sahut Asti.


" Sama siapa Lo ke sini...?" tanya Jayadi.


" Nih sama temen-temen Gue, kenalin Bang ni Maya, Sofia sama Indira...," jawab Asti sambil memperkenalkan ketiga temannya.


" Lahh lo Maya anak gang 5 kan yaa...?" tanya Jayadi, " Kalo ini mah Gue kenal...," sambung Jayadi lagi.


Maya tertawa sambil berkata, " Iya..., yang Gue tau Abang biasanya dipanggil Bang Yadi...,"


" Gapapa Bang, kalo Bang Jay mau lanjut kerja dulu juga boleh, Kita tunggu sini aja...," kata Asti lagi.


" Santai aja lah, Gue kan pernah bilang, di sini mah pegangan Gue...," kata Jayadi dengan sedikit sombong.


Mereka tertawa maklum dengan sikap Jayadi.


" Terus gimana, jadi Lo pada ngelamar kerja di sini...?" tanya Jayadi lagi.


Asti dan ketiga temannya saling berpandangan. Lalu mereka mengangguk bersamaan (sesuai kesepakatan yang mereka buat tadi).


" Tapi Kita ga bawa berkas lamaran Bang...," kata Indira.


" Ah gampang itu,bisa nyusul ntar. Ini mah daerah, bukan Jakarta. Apa-apa serba ribet, tapi pada bawa KTP asli kan...?" tanya Jayadi.


" Bawa Bang...," sahut mereka kompak.


" Ntar Gue yang bawa ke dalem, anggap aja kalian Anak buah Gue, tanggungan Gue, makanya Kalian ada di bawah pengawasan Gue, gimana...?" tanya Jayadi sambil menyeruput kopinya.


" Berkasnya Kita tinggal di rumah Sodaranya Asti Bang, kalo emang diperluin, besok Kita bawa kesini...," kata Sofia menjelaskan.


" Naaahh, cakep tuh. Gitu juga boleh. Sekarang KTP Kalian Gue poto kopi dulu buat daftarin masuk. Besok Kalian bawa berkasnya, kasih ke Gue. Paling cepet lusa Kalian udah mulai kerja...," kata Jayadi cepat.

__ADS_1


Ucapan Jayadi memberi semangat pada Indira dan ketiga temannya. Mereka segera menyerahkan KTP mereka pada Jayadi.


" Tunggu disini aja, Gue balik lagi ntar. Kalo mau makan pesen aja, ntar Gue yang bayar...," kata Jayadi sambil beranjak meninggalkan mereka di warteg.


Mereka berempat saling pandang. Ada kelegaan di wajah mereka. Ternyata perjalanan mereka tak sia-sia.


Sambil menunggu Jayadi mereka menghabiskan makan yang mereka pesan tadi. Tak lama Jayadi sudah kembali dengan 4 lembar formulir yang harus diisi oleh 4 sekawan itu.


" Kalian isi formulir ini ya, buat data sementara sampe berkas Kalian masuk besok. Orang personalia yang minta data Kalian...," kata Jayadi sambil mengembalikan empat KTP yang tadi dibawanya.


" Terus kalo udah diisi, Kita bisa langsung masuk Bang...?" tanya Sofia tak percaya.


" Iya, data yang Lo isi di formulir ini buat bikin name tag, ntar pas Lo masuk udah pake name tag ga kaya yang laen harus nunggu berapa hari baru bisa pake name tag...," Jayadi menjelaskan.


" Kok Kita ga di wawancara Bang...?" tanya Indira.


" Pas masuk baru wawancara, kan personalianya cs Gue, jadi Gue lewat belakang lahh...," kata Jayadi bangga.


Indira dan ketiga temannya bergantian mengisi formulir pendaftaran yang dibawa Jayadi tadi. Wajah mereka tampak antusias. Jayadi memperhatikan wajah empat sekawan itu satu per satu. Ia merasa sangat senang bisa membantu mereka. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Jayadi.


" Wooii..., ditungguin dari tadi, ga taunya lagi asyik di sini, dapet mangsa baru Lo...?" sindir teman Jayadi.


Sapaan yang terdengar itu membuat Indira dan ketiga temannya saling pandang dengan perasaan curiga....


" Sialan Lo, jangan bikin gosip murahan di sini, Mereka bisa salah paham ntar sama Gue...!" bentak Jayadi agak marah sambil menjitak kepala temannya itu.


Teman Jayadi yang bernama Gunawan itu cuma nyengir sambil mengelus kepalanya yang tadi dijitak Jayadi.


" Sorry..., sorry..., becanda Gue. Lagian cewek-cewek ini siapa sih, mau ngapain...?" tanya Gunawan penasaran.


" Mereka ini junior Kita di pabrik lama yang di Jakarta. Kesini mau nyobain kerja disini katanya, makanya tadi udah langsung Gue daftarin ke personalia...," cerita Jayadi sambil memperkenalkan empat sekawan itu pada Gunawan.


Mereka berjabat tangan dengan Gunawan yang tak mengenal mereka. Tapi ketika menjabat tangan Indira, Gunawan pun ingat. Beberapa bulan yang lalu ia ke Jakarta menjumpai temannya, Faisal, di pabrik. Ia sempat melihat Indira di sana. Gunawan ingat betul saat itu ia sangat terkesan dengan Indira, bahkan ia minta pada temannya untuk dikenalkan dengan Indira.


" Eh..., siapa tuh cewek, manis banget. Kenalin Gue dong Pay...," pinta Gunawan .


" Yang mana...?, ooo itu, namanya Indira. Anaknya ramah kok, tapi jangan macem-macem sama dia...," kata Faisal setengah mengancam .


" Iya, Gue pengen kenalan nih. Boleh juga tuh kalo jadi cewek Gue...," kata Gunawan lagi sambil terus menatap Indira.


" Ketinggian Lo ngarepnya, belom tentu dia mau sama Lo...," kata Faisal sambil tertawa.


" Berisik Lo !. Udah buruan sono mumpung belom jauh tuh...," kata Gunawan tak sabar.


Belum sempat berkenalan, Indira sudah pergi meninggalkan pabrik dengan angkot.


" Yaaahhh, kelamaan Lo...," gerutu Gunawan sebal.


Faisal tertawa melihat tingkah Gunawan yang gagal mendekati cewek juniornya itu.

__ADS_1


Maka saat melihat Indira di hadapannya, Gunawan bagai mendapat hadiah doorprize.


bersambung


__ADS_2