Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 32 ( Shift Malam )


__ADS_3

Seperti pabrik di Jakarta, di kota C pabrik tempat Indira bekerja juga menerapkan pembagian waktu kerja (shift).


Waktunya sama persis dengan pabrik tempat mereka kerja dulu di Jakarta.


Mulai hari itu selama 6 hari berturut-turut, Indira, Maya dan Sofia masuk shift 2. Para penghuni senior pun tak masalah dengan itu.


Justru mereka bisa langsung lembur hingga jam 11 malam.


Seperti pabrik di Jakarta, di pabrik ini Indira juga merasa kurang nyaman di tempat tertentu. Tapi Indira mencoba cuek dan tak ambil pusing. Beberapa kali Indira melihat penampakan tak biasa, tapi lagi-lagi Indira hanya menyimpannya sendiri.


Seperti yang terjadi malam itu.Indira memang biasa sholat Isya lebih awal. Karena kawatir mengantuk dan tak sempat mengerjakan saat tiba di rumah nanti. Ia mengajak temannya untuk sholat di musholla kecil di bagian belakang pabrik.


" Jono, Kita sholat Isya sekarang yuk, mau ga...," ajak Indira.


Jono yang memang alim itu mengiyakan ajakan Indira. Indira sengaja tak mengajak Sofia karena sudah pasti ditolak.


" Ayo, Gue juga mau sholat...," kata Jono.


Setelah ijin pada pengawas, mereka berjalan bersisian. Tampak gelap menyelimuti sepanjang jalan dan halaman pabrik yang mereka lewati. Ketika tiba di musholla, tampak banyak karyawan yang juga sedang mengerjakan sholat.


Penerangan yang minim di sekitar musholla membuat Indira ragu untuk meneruskan niatnya.


" Ayo Dir wudhu dulu...," kata Jono.


" Tempatnya gelap banget sih Jon, Gue ga jadi deh, ntar kalo Gue jatoh gimana...?" tanya Indira cemas melihat tempat wudhu yang terlihat berbeda saat malam hari.


" Kan udah sampe sini, nanggung Dir, ayo Gue anterin...," bujuk Jono.


" Tapi Gue juga kebelet pipis nih, gimana dong...?" tanya Indira hampir putus asa.


" Ya gapapa, Gue tungguin Lo di depan kamar mandi, apa Gue perlu masuk sekalian biar Lo tenang...," kata Jono bercanda mencoba mencairkan ketegangan.


" Apaan sih Lo...," kata Indira datar.


Kamar mandi wanita terlihat gelap gulita tanpa penerangan sama sekali. Hal itu terjadi karena setiap dipasangi lampu, maka tak kan bertahan lama, lampu hanya akan menyala selama beberapa menit.


Tapi berbeda dengan kamar mandi pria yang tampak terang, meski suasana di sekitarnya juga tak kalah mencekam.


Sebenarnya Indira bisa saja pipis di kamar mandi pria. Tapi dengan keluguannya, Indira malah masuk ke kamar mandi wanita yang gelap gulita. Sambil pipis ia mengajak Jono bicara. Jono yang berada di depan pintu kamar mandi tempat Indira pipis juga terus merespon ucapan Indira.


" Jon, jangan jauh-jauh ya...," pinta Indira.


" Ya, Gue disini kok Dir, lo tenang aja. Kalo perlu pintunya ga usah ditutup, ntar Gue hadap depan deh...," kata Jono.

__ADS_1


" Ya, Gue ga tutup pintunya. Awas jangan ngintip Lo...," ancam Indira.


Gelap gulita di dalam membuat Indira harus lebih hati-hati. Sambil berpegangan pada dinding, ia pun mulai berjongkok. Tiba-tiba Indira mendengar suara berat mengerang di dekat telinganya. Sangat dekat, terasa juga ada hembusan angin menerpa telinganya. Indira yang ketakutan segera mempercepat hajatnya. Sambil masih berusaha ngobrol dengan Jono.


" Jooonnn...!" panggil Indira keras.


" Iya Dir, kaget Gue. Lo gapapa kan...?" tanya Jono lagi.


Indira memegang tangan Jono. Jono terkejut karena tangan Indira terasa dingin. Jono yakin telah terjadi sesuatu, tapi ia memilih diam enggan bertanya.


" Udah yuk, kesana aja dulu...," kata Jono sambil memapah Indira menjauh dari kamar mandi itu. Indira mengangguk dan menurut saja saat Jono memapahnya. Jono membawanya duduk di teras musholla sejenak.


Jantung Indira masih berdebar kencang, saat ia ingat apa yang baru saja dialaminya. Tapi lagi-lagi Indira hanya menyimpannya sendiri.


" Gimana, mau sholat sekarang...?" tanya Jono.


Indira mengangguk, setelah agak tenang ia pun melepas sepatu lalu melangkah ke tempat wudhu.


" Wudhu bareng Gue aja di tempat wudhu cowok...," saran Jono.


Indira setuju dan wudhu di tempat wudhu pria. Sempat terlintas di dalam pikiran Indira, kenapa ia tak memilih pipis di kamar mandi pria saja tadi. Tapi percuma menyesalinya. Setelah wudhu, Indira lanjut sholat Isya berjamaah dengan Jono dan karyawan lainnya.


Setelah selesai sholat, Indira kembali mengenakan kaos kaki dan sepatunya. Ketika sedang mengikat tali sepatunya, tampak Dimas dan Ari mendatangi Indira tergopoh-gopoh.


" Dira...," panggil Ari.


" Lo sama siapa ke sini...?" tanya Dimas tanpa menjawab pertanyaan Indira.


" Sama saya Pak...," jawab Jono cepat.


" Ooo..., ya udah. Kirain Gue sendiri. Ini udah selesai atau baru mau sholat...?" tanya Dimas lagi.


" Udah selesai Bang, ni baru mau balik lagi ke dalem...," jawab Indira sambil berdiri.


" Ya udah,ayo bareng aja sekalian...," kata Ari.


" Kita nyari Lo dari tadi, kawatir juga. Kata Sofia Lo ke musholla, makanya Kita cari ke sini...," kata Dimas menjelaskan.


" Besok lagi kalo mau ke musholla bisa minta anter sama Kita...," kata Ari menawarkan sambil melirik kearah Jono.


" Iya Mas, maaf ya...," kata Indira setengah menyesal.


" Gapapa, bahaya Dir cewek ada di tempat kaya gini malem-malem begini, makanya tadi Gue sama Ari langsung lari ke sini...," kata Dimas lagi.

__ADS_1


" Makasih ya Jon, udah nemenin Dira malem ini...," kata Ari dengan tulus.


" Sama-sama Pak...," jawab Jono dengan santai.


Dalam hati Jono sempat bertanya-tanya, apa hubungan Indira dengan dua orang 'penting' di hadapannya.Mengapa mereka berdua terlihat kawatir terhadap Indira. Jono merasa seperti ada dinding tinggi yang dibangun oleh Ari dan Dimas untuk melindungi Indira.


\=\=\=\=\=\=


Kejadian malam itu membuat Indira takut, tapi tidak mengurangi niatnya untuk melaksanakan sholat Isya di musholla pabrik.


Sore itu Indira dan teman-temannya duduk di halaman belakang pabrik sambil menunggu bel tukar shift berbunyi. Indira jelas melihat kaca jendela pabrik yang berdebu. Namun di salah satu jendela nampak jejak-jejak kaki sebesar kaki bayi yang mengarah ke atap pabrik.


" Bayi siapa yang diajak maen ke pabrik. Lagian tuh Ibu bayi ga kawatir apa Anaknya maen di tempat kaya gini...," batin Indira.


" Hei Dir, gimana sehat Lo...," sapa Jono sambil mendekati Indira.


" Jono songong amat sih Lo, ngelewatin Gue malah cuek aja. Harusnya Lo tuh nyapa Gue dulu, kan Gue di barisan depan...," sergah Maya.


" Sorry..., sorry May...," kata Jono sambil duduk di samping Indira.


Semua yang ada di tempat itu tertawa mendengar ocehan Maya. Di kejauhan tampak Gunawan memandang kearah mereka dengan perasaan gelisah. Ia mulai mengendus ada yang tak beres dengan sikap Jono. Ia pun bergegas menghampiri Indira sambil membawa minuman kemasan.


" Dira...," panggil Gunawan.


" Iya Mas, kenapa...?" tanya Indira sopan.


" Nih Gue beli minuman tadi, buat ntar Lo minum di dalem...," kata Gunawan sambil menyodorkan bawaannya.


" Makasih Mas, jadi ngerepotin...," kata Indira basa-basi.


" Mas Kita ga dibawain nih, kok cuma Dira doang yang dikasih...!" teriak Sofia.


" Sama-sama Dir...," kata Gunawan cepat, " Tenang aja , kalo mau bisa minta sama Dira ya...," jawab Gunawan sambil berlalu.


" Enak banget sih Lo Dir, kayanya Mas Gunawan tuh suka deh sama Lo...," kata Maya lugas.


" Ini buat Kita, bukan buat Gue doang. Udah deh jangan salah paham. Orang baik dikit sama Gue dibilang naksir, ada-ada aja Lo...," sahut Indira.


Jono yang mendengar obrolan Indira dan kedua temannya hanya membisu. Padahal ia mendengar dengan jelas bahwa Gunawan tak ada menyebut nama Sofia dan Maya.


Jono mengerti bahwa Indira berusaha menciptakan kedamaian diantara mereka.


Jono menatap Indira dan makin penasaran tentang hubungan Indira dengan orang-orang 'penting' di perusahaan itu.

__ADS_1


( Jayadi cs memang terkenal dekat dengan orang kantor bahkan owner pabrik. Tak heran jika mereka dijuluki 'orang penting' di sana. )


bersambung


__ADS_2