Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 42 ( Sakit )


__ADS_3

Perubahan sikap Sofia juga berimbas pada pekerjaannya. Ia mulai malas-malasan, sering melamun, hasil kerja nya tak memenuhi target ( bekerja di bagian penghalusan harus bisa menghaluskan minimal 10 papan alas kursi/ hari).


Dan saat pulang kerumah, Sofia langsung meraih radio dan bernyanyi-nyanyi mengikuti lagu yang diputar oleh operator radio. Dan jika malam hari saat operator tak lagi memutar lagu-lagu, Sofia akan mendengarkan musik tradisional khas kota C yang diputar operator untuk 'pengantar tidur'malam.


" Nyetel yang laen aja kek Sof, Gue ngerasa serem dengernya...," pinta Indira setiap Sofia memeperdengarkan musik tradisional kota C itu di tengah malam.


Musik tradisional yang mengudara dari radio, terdengar sangat menakutkan bagi Indira. Indira merasa tak nyaman mendengarnya, entah kenapa. Serasa ada aura negatif yang menyertai setiap kali musik itu diputar.


" Ini kan di daerah, jam sebelas aja radio juga sepi, adanya musik ginian, lumayan lah buat temen tidur...," kata Sofia menjelaskan.


Indira pun mencoba tidur, walau pikirannya malah melanglang buana mendengar musik tradisional itu.


Tapi Sofia justru langsung tertidur pulas, bahkan ngorok. Membuat Indira berkali-kali merapal doa-doa dan ayat kursi sebelum akhirnya ikut terbang ke alam mimpi.


\=\=\=\=\=\=


Chika kembali tiga hari kemudian sejak keberangkatannya. Saat muncul di depan pintu rumah, wajah Chika tampak ceria.


Indira dan Sofia menyambutnya dengan pelukan hangat. Sambil membongkar isi tasnya, Chika pun bercerita.


" Aku bawa oleh-oleh buat disini, bukan makanan khas Pemalang, Aku beli di jalan arah kesini...," kata Chika.


" Alhamdulillah, makasih. Ga usah dijelasin juga Chik, apa aja Kita mah, yang penting enak...," kata Indira sambil tersenyum.


" Iya, Aku ngomong gitu sebelom dikatain Mbak Sofia...," kata Chika sambil nyengir.


" Kan Gue cuma nanya makanan khas daerah Lo apaan, bukannya minta dibawain. Tapi udah dibawain ya makasih dehhh...," kata Sofia sambil tertawa.


\=\=\=\=\=\=


Saat jam kerja di pabrik. Sofia dihampiri oleh Jayadi.


" Hasil kerja Lo menurun nih Sof, kenapa, ada masalah...?" tanya Jayadi.


" Masa sih Bang Jay. Perasaan Gue kerja kaya biasa aja. Salah kali catetannya...," bantah Sofia.


" Ga lah, masa salah nyatet, buat apaan juga...," kata Jayadi sambil melihat catatannya.


Sofia hanya diam mendengar celotehan Jayadi.


" Ya udah, lanjutin deh...," kata Jayadi sambil berlalu.


Jayadi menghampiri Indira yang sedang melihat pekerjaan karyawan pabrik.


" Dir...," sapa Jayadi.


" Iya Bang, kenapa...?" tanya Indira sambil menoleh kearah Jayadi.


" Lo liat ada yang aneh ga sama si Sofia...?" tanya Jayadi.


" Mmm..., ga ada kayanya...," saat Indira yang berusaha menutupi perubahan Sofia.

__ADS_1


" Bukan apa-apa, dia tuh keliatan ga semangat kerja, loyo, hasil kerjanya juga jelek...," kata Jayadi.


" Lagi kangen sama Nyokapnya kali Bang, atau sama cowoknya...," gurau Indira.


" Bisa juga. Tapi Lo bertiga nyaman aja kan dirumah itu...?" tanya Jayadi lagi.


" Alhamdulillah, nyaman kok...," jawab Indira cepat.


Setelah berbincang sebentar dengan Sofia dan Indira, Jayadi pun melangkah kearah pintu pabrik. Gerak gerik mereka diamati oleh Chika. Chika merasa iri karena tak diperhatikan oleh Jayadi.


Perubahan sikap Sofia juga tak luput dari perhatian Chika.


" Mbak, Aku liat Mbak Sofia kok agak beda ya...," kata Sofia pada Indira.


" Beda kenapa...?" tanya Indira.


" Ga tau apanya yang beda, tapi...," ucapan Chika terputus.


" Udah belom sih Dir, ayo balik sekarang, capek nih Gue...!" ajak Sofia.


Mereka bertiga melangkah menyusuri jalan hingga tibalah dirumah.


\=\=\=\=\=\=


Malam itu Jayadi cs mampir untuk silaturrahim ke rumah Indira dan kedua temannya. Dengan membawa makanan ringan yang cukup banyak untuk mereka nanti. Sambil ngobrol banyak, sesekali mereka memperhatikan rumah yang ditempati Indira.


" Rumah ini terlalu luas buat Lo bertiga Dir...," kata Jayadi.


" Emang kenapa Mas...?" tanya Chika pada Ari.


" Tempatnya tu..., mmm..., gimana ya...," kata Ari ragu.


" Sssttt..., jangan nakut-nakutin. Kasian cewek semua disini...," kata Gunawan sambil menatap tajam kearah Ari.


" Yang penting tetep sholat, dzikir, baca doa. Lo juga berdua, sholat dong. Masa Indira doang yang sholat...,"sindir Dimas.


Yang disindir malah tertawa sambil mengunyah makanan yang dibawakan Jayadi tadi.


\=\=\=\=\=\=


Esoknya, Indira dan Chika sudah akan mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Tapi Sofia masih tampak tertidur.


" Gimana ni Mbak, Mbak Sofianya susah banget dibangunin. Aku udah kebelet pup nihh...," kata Chika sambil menggeliat.


" Ya udah deh, Kita ke kamar mandi aja sekarang...," kata Indira.


Mereka bertiga selalu mandi bersama, walau tanpa melepas semua pakaian. Alasannya karena menghemat waktu. Selain itu kamar mandi yang bersatu dengan sumur itu terlalu luas untuk mereka bertiga mandi. Disebelahnya ada toilet tanpa pintu dan hanya disekat dinding bata merah setinggi 1,5 meter.


Alasan khusus lainnya adalah karena mereka merasa agak takut di kamar mandi sendirian. Jadi pipis pun mereka lakukan bersama, saling bergantian.


Setelah kembali ke kamar, tampaknya Sofia masih enggan untuk bangun. Indira mendekatinya bermaksud membangunkan Sofia. Tapi....

__ADS_1


" Kok badan Lo panas Sof, lo sakit ya...?" tanya Indira cemas.


" Tau nih, Gue agak meriang, gimana dong...?" tanya Sofia dengan lemah.


" Ya udah ntar Kita ijinin ke Bang Jay. Lo istirahat aja di rumah...," kata Indira.


" Iya Mbak, mau sarapan ga...?, biar Aku beliin bentar ya ke depan...," kata Chika yang langsung jalan ke luar.


Tak lama Chika kembali dengan kantong plastik berisi makanan dan obat flu untuk Sofia.


Setelah makan dan minum obat, Sofia kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Sebelum berangkat Indira berpesan,


" Ntar Lo ke rumah Bang Jay aja, istirahat di sana, kan ada Bu Ninik yang bakal ngawasin Lo. Kalo disini ga ada orang, kasian Bu Ninik, kejauhan kalo bolak-balik kesini...,"


Sofia hanya menganggukkan kepalanya.


Ketika berangkat bersama Chika, di perjalanan mereka bertemu Jayadi dan Indira segera memintakan ijin untuk Sofia.


" Parah ga sakitnya...?" tanya Jayadi.


" Mudah-mudahan ga Bang, paling kecapean aja...," kata Indira lagi.


" Ya udah. Biar istirahat aja dulu di rumah...," ucap Jayadi.


\=\=\=\=\=\=


Hari itu sebenarnya Indira harus lembur. Tapi Jayadi memberi pengertian kepada para Supervisor teman Indira untuk mengijinkan Indira pulang lebih awal.


Indira pun pulang sendiri dengan perasaan cemas, karena Chika pun harus kerja lembur.


Indira tiba di depan rumah Jayadi. Mencoba mengetuk pintu dan memanggil Sofia berkali-kali.


" Ga ada orang Mbak, pada kerja semua kan...," kata tetangga Jayadi yang juga mengenal Indira.


" Iya, tapi Sofia lagi sakit Bu, jadi Saya suruh nunggu disini aja tadi...," kata Indira ramah.


" Tapi dari tadi pagi sepi aja tuh...," kata tetangga Jayadi lagi.


Tiba-tiba bu Ninik keluar dari pintu belakang rumahnya yang berhadapan dengan rumah Jayadi.


" Eehh, Dira. Udah pulang...?" tanya bu Ninik.


" Iya Bu, baru aja nyampe. Sofia kan lagi sakit, jadi Saya suruh nunggu disini, supaya Ibu gampang juga ngawasinnya. Emang Sofia ga kesini Bu...?" tanya Indira.


" Ga tuh, ga kesini sama sekali dari pagi, coba cari aja di rumah...," kata bu Ninik.


" Iya Bu...," Indira pergi setelah pamit pada bu Ninik.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2