
Persiapan acara syukuran di rumah Indira telah selesai. Mereka masih duduk santai di ruang keluarga sambil menikmati es campur buatan Indira.
Tiba-tiba pintu rumah diketuk dari luar. Ali berlari ke depan untuk membuka pintu.
" Mbaaakkk..., ada tamu nih...!" kata Ali memanggil Indira dengan suara nyaring.
" Berisik banget sih Lo...," kata Indira sambil merapikan rambutnya dan melangkah ke ruang tamu.
Tiba di ruang tamu Indira tertegun melihat tamu yang datang. Beberapa saat saling tatap, lalu Indira mempersilakan tamu tersebut, yang ternyata adalah Aris, untuk duduk.
Ali lalu menyingkir ke dalam sambil tersenyum.
" Waahhh, akhirnya pulang juga nih pemilik hati Aku...," kata Aris menggombali Indira.
Indira tersenyum mendengar ucapan Aris.
" Kok dateng sekarang?, kan acaranya besok...," kata Indira sambil duduk di hadapan Aris.
" Aku kangen sama Kamu, nunggu besok kelamaan...," kata Aris spontan.
" Tapi Aku ga bisa nemenin Kamu, lagi repot...," kata Indira memberi alasan sambil memalingkan wajahnya karena malu.
" Aku bisa bantuin sesuatu ga...?" tanya Aris setengah memaksa.
" Mmm...," ucapan Indira terputus oleh kehadiran ayah dan ibunya.
" Bisa...," kata ayah memotong ucapan Indira.
" Ngedekor ruangan bareng Mas Amar...," sambung ibu.
Aris dan Indira pun menoleh. Aris segera berdiri menghampiri kedua orangtua Indira dan mencium punggung tangan mereka bergantian.
" Apa kabar Pak, Bu, sehat kan...?" tanya Aris sopan.
" Alhamdulillah sehat..., gimana kabar Kamu, udah lama ga kesini...," kata ayah Indira sambil menepuk pundak Aris.
" Ayah nih, gimana mau kesini, kan Diranya ga disini...," sindir ibu Indira ramah.
Aris tertawa membenarkan ucapan ibu Indira.
Tak lama ketiga saudara laki-laki Indira keluar sambil membawa keranjang berisi perlengkapan dekorasi. Amar dan Adi menyalami Aris. Lalu mereka berempat pun mulai sibuk mendekorasi ruangan supaya terlihat lebih bagus.
Ayah dan ibu memperhatikan kesibukan mereka dari kejauhan sambil tersenyum. Sesekali ibu memberi arahan pada keempat pemuda di hadapannya. Sedangkan Indira membawakan es campur yang tadi dibuatnya dan sedikit cemilan.
Keempat pemuda tampak bekerja sama dengan kompak. Diselingi gurauan dari kedua adik Indira yang memang humoris, membuat suasana sangat mengasyikkan.
Setelah selesai mendekor ruangan, mereka duduk lesehan di karpet. Perbincangan seru kembali terjadi. Sementara itu, Ayah dan ibu Indira pergi menemui Ustad Jamil untuk memintanya memimpin acara syukuran besok.
" Bang Aris, tau ga kalo Mbak Dira hampir jadi tumbal pesugihan...?" tanya Adi.
__ADS_1
" Haah...?!" Aris nampak terkejut.
Lalu ceritapun kembali mengalir dari bibir Indira. Aris menatap Indira lekat, menahan gejolak perasaan yang campur aduk.
Sesekali diselingi cerita Ali yang sok tahu.
" Alhamdulillah Kamu selamat...," kata Aris sambil meraih tangan Indira dan menggenggamnya.
Jika tak ada orang lain disana mungkin Aris akan membawa Indira kedalam pelukannya.
" Ehm..., ehm...," kata Adi terbatuk-batuk bermaksud menyindir Aris dan Indira.
Keduanya tersadar dan langsung melepaskan tautan jari tangan mereka.
Karena merasa canggung, Amarpun perlahan menyingkir ke dalam diikuti Adi dan Ali.
Aris menatap tajam Indira, tangannya merapikan anak rambut Indira yang sedikit berantakan. Indira masih bercerita sambil sesekali meneguk minumannya.
Ayah dan ibu Indira pun datang sambil membawa lauk yang dibeli di warung nasi Padang. Mengajak Aris untuk ikut makan malam bersama mereka. Aris tak mampu menolak permintaan mereka. Jadi lah ia sekarang duduk bersama keluarga Indira sambil makan malam.
Setelah makan malam, Aris pun pamit pulang pada keluarga Indira, dan berjanji datang lagi besok sebelum acara dimulai. Indira mengantar Aris sampai teras depan rumah.
Berbincang sebentar sambil saling menautkan jari tangan. Kemudian Aris pun mengecup kening Indira sebelum berlalu.
Indira menatap kepergian Aris hingga menghilang di ujung jalan.
\=\=\=\=\=\=
Anak yatim piatu dan duafa beserta para undangan ditempatkan di ruang utama, sedangkan keluarga ada di ruang tengah. Acara berlangsung sederhana dan khidmat. Tausiyah agama disampaikan oleh Ustad Jamil. Sesekali Aris menatap Indira yang terlihat cantik dengan menggunakan gamis warna pastel senada dengan hijabnya.
Acara selesai ditutup dengan doa dipimpin oleh Ustad Jamil lagi dan diaminkan oleh semua hadirin. Setelah doa selesai disusul acara ramah tamah. Saatnya makanan ringan dibagikan.
Sebelum pulang, anak-anak yatim piatu dan duafa mendapat bingkisan juga amplop berisi uang. Ustad Jamil pun pamit, diiringi ucapan terimakasih dari keluarga besar Indira.
Tinggal lah keluarga dan teman-teman Indira yang masih asyik ngobrol di ruang depan.
" Jadi bener yang dibilang Sofia, Dir...? tanya Asti dan Maya.
" Ya ampun ni bocah, Lo pikir Gue ngarang cerita ya, buat apaan coba...?!" kata Sofia kesal.
" Sabar dong Sof, ga usah marah-marah mulu...," kata Yogi menenangkan.
" Eh, Lo ga usah pegang-pegang Gue ya. Kita udah selesai, cuma temen doang. Jadi jaga jarak lah...," kata Sofia ketus.
Yogi menunduk malu. Ia menyesal karena perkataannya tempo hari membuat Sofia ngambek dan menganggap mereka berdua sudah putus.
" Jangan gitu Sof, kasih kesempatan sekali lagi emang ga bisa...?" tanya Yogi tanpa tahu malu.
Semua teman Indira yang menyaksikan pertengkaran itu pun hanya diam tak bisa membantu.
__ADS_1
" Gue minta maaf Gi, hubungan Kita emang udah selesai. Kan Lo sendiri yang bilang, kalo Gue nekat pergi bareng temen-temen Gue ke Indramayu, berati kita putus...!" kata Sofia berapi-api.
" Tapi...," ucapan Yogi terputus.
" Maaf Gi, ga bisa..., Kita temenan aja ya...," kata Sofia sambil tersenyum.
Yogi pun pasrah. Ia terlanjur malu dengan penolakan Sofia. Akhirnya Yogi memilih pulang lebih dulu, meninggalkan semua temannya di rumah Indira.
" Ck, Lo jangan terlalu kasar dong Sof...," kata Indira setelah kepergian Yogi.
" Cuma itu alasannya sampe Lo ga mau nerima Yogi...?" tanya Maya.
" Atau ada yang laen...?" sindir Asti.
Sofia hanya diam. Dia menatap sekeliling. Menyadari hal itu, Aris mengajak Abeng dan Rian untuk keluar rumah, menjauh dari Indira dan ketiga temannya.
" Yogi tuh ga dewasa, susah buat kedepannya...," kata Sofia setelah tiga cowok itu menjauh.
" Kalo Rian..., dia ngelamar Gue kemaren...," kata Asti dengan wajah datar.
" Masa, kok bisa...?" tanya Maya dan Sofia bersamaan.
" Iya, Bokap gue sakitnya tuh parah. Kata orang pinter yang ngobatin, Gue sama Rian harus cepet nikah biar balanya ilang. Gue ga ngerti deh, pokoknya gitu lah...," jawab Asti.
" Mungkin Bokap lo mikirin Lo, jadi tambah parah sakitnya...," kata Indira asal.
" Gue..., gue ...," tiba-tiba Asti menutup wajahnya dan menangis.
" Lo kenapa...?" tanya Sofia cepat sambil merangkul Asti.
Indira dan Maya saling berpandangan sejenak. Mereka ikut merangkul Asti memberi kekuatan.
" Gue hamil...," kata Asti mengejutkan ketiga temannya.
Semua terdiam mendengar penuturan Asti.
" Siapa...?" tanya Indira tak melanjutkan ucapannya.
" Rian...?" tanya Sofia, dan dibalas anggukan kepala Asti.
Semua terdiam lagi beberapa saat. Mereka menyayangkan cara berpacaran Asti dan Rian yang memang terlalu intim.
Tapi nasi sudah jadi bubur. Yang terjadi harus dipertanggungjawabkan. Apalagi ada calon manusia yang tumbuh di rahim Asti.
"Acaranya kapan...?" tanya Maya.
" Lusa, tapi di kampungnya Rian. Gue nikah sederhana aja, ga pake diramein. Abis nikah Gue sam Rian tetep tinggal di sana sampe melahirkan...," kata Asti sambil mengusap matanya yang basah.
" Jadi Kita ga bisa ngeliat Lo nikah dong...," kata Sofia sedih.
__ADS_1
Asti menggeleng. Suasana kembali hening. Masing-masing sibuk dengan pikirannya yang mengembara entah kemana....
bersambung