
Indira tiba di halaman rumahnya dengan wajah lelah. Sejenak ia berhenti di depan rumah tempat ia dan ketiga saudara laki-lakinya dibesarkan dengan penuh kasih sayang.
Indira melangkah perlahan, lalu mengetuk pintu sambil mengucap salam.
" Assalamualaikum..., Bu..., Dira pulang Bu...," kata Indira sambil terus mengetuk pintu.
Terdengar pintu dibuka dengan kasar. Dan tampak wajah terkejut ibu Indira dibalik pintu.
" Wa alaikumsalam..., Dira...?!, Kamu pulang Nak...," senyum ibu Dira menyapa pertama kali melihat putri kesayangannya.
Indira langsung menghambur kepelukan ibunya. Mereka saling memeluk erat. Ibu Indira menciumi wajah Indira dengan sayang.
"Alhamdulillah..., Allah mengabulkan doa Ibu, Kamu pulang Nak...," rintih ibu Indira sambil menangis terharu.
" Ehm..., ehm..., cuma Ibu yang dipeluk, Ayah ga nih...," sindir ayah Indira merajuk.
Indira menoleh ke arah ayahnya, dan langsung memeluknya erat. Ayah Indira menepuk-nepuk lembut punggung Indira, lalu mengecup kening Indira dengan sayang.
Ayah Indira baru saja tiba di rumah setelah turun piket. Ayah sedang mandi ketika mendengar suara Ibu yang tak biasa. Ayah Indira bergegas menyelesaikan mandinya dan langsung menuju ke ruang tamu. Saat tiba di ruang tamu dijumpainya sesuatu yang membuatnya bahagia.
Sambil terus memeluk Indira, ayah membawa Indira untuk duduk di kursi. Ibu menatap mereka dengan perasaan bahagia sambil menghapus air matanya.
Lalu Ibu masuk ke dapur dan menyiapkan kopi untuk ayah, juga teh manis hangat untuk Indira.
Setelah melepas rindu sejenak, ayah menyuruh Indira untuk istirahat.
" Udah sana istirahat dulu, Kamu pasti capek kan..., ceritanya ntar aja setelah Mas dan Adikmu pulang, biar seru...," kata ayah tersenyum sambil membelai kepala Indira.
" Eit, tapi diminum dulu tehnya, Ibu buatin pake ramuan khusus buat Anak perempuan kesayangan Ibu...," kata ibu Indira sambil mengedipkan mata.
" Iya Bu..., pasti Dira minum. Dira minum di kamar aja ya Bu...," pamit Indira sambil membawa teh buatan ibu ke kamar.
Ayah dan Ibu Indira saling berpandangan dan tersenyum.
" Udah ga bakal mimpi buruk lagi ya Bu..., kan Dira udah pulang," kata ayah sambil merangkul pundak ibu.
" Iya Yah...," kata ibu tersenyum sambil menepuk tangan ayah.
\=\=\=\=\=\=
Malam itu semua berkumpul di ruang keluarga setelah menyelesaikan makan malam mereka. Ali dan Adi terus memepet Indira. Mereka rindu pada kakak perempuannya, tapi gengsi mengakuinya.
" Iiihhh..., sana kek, gerah tau. Dari tadi mepetin Gue mulu. Disana kan luas, lega, Lo bisa jumpalitan tuh di sana...," gerutu Indira sebal.
Suara omelan Indira malah memancing tawa seisi rumah.
" Udah lama ga denger omelan Lo Dir, kangen tuh pada...," kata Amar disela tawanya.
__ADS_1
" Diihh, apaan sih Mas. Gue kan emang biasa duduk disini. Ali aja tuh yang pindah, ngapain ikutan duduk disini...!" elak Adi sok galak.
" Ehh..., kok Gue. Lo aja yang disana, ngapain nyuruh Gue sih...," kata Ali tak kalah sengit.
Perdebatan mereka membuat Indira geleng-geleng kepala.
" Kalo Lo masih pada ribut, Gue ga mau cerita nih...," ancam Indira.
Ajaib..., mereka berhenti berdebat dan menatap Indira serius. Menunggu cerita Indira selama tiga bulan lebih jauh dari keluarga.
Indira pun memulai ceritanya. Mulai dari keberangkatannya dan teman-temannya ke kampung nenek Asti hingga kejadian menyeramkan di kota C.
" Alhamdulillah Kamu gapapa Dirr...," kata ibu lirih.
" Jadi pas Ibu telpon, sebenernya Lo abis berobat ya...," kata Ali polos.
" Iya..., Gue sengaja ga cerita sama Ibu, ntar Ibu malah kawatir...," kata Indira menyembunyikan rasa takutnya.
" Tanpa Kamu bilang juga, Ibu udah punya firasat buruk Dirr, Kamu lupa, ikatan batin Ibu dan Anak kan sangat kuat...," kata ayah sambil mengelus punggung ibu.
" Firasat buruk gimana Yah...?" tanya Indira tak mengerti.
" Beberapa hari tuh Ibu mimpi buruk tentang Kamu, ga enak makan, ga enak tidur, sampe ga masak segala. Jadilah Kami, laki-laki di rumah ini kelaparan semua...," gurau ayah Indira.
Ibu mencubit pinggang ayah malu. Semua yang menyaksikannya tertawa melihat ayah menggeliat menahan sakit akibat cubitan ibu.
" Aww..., udah dong Bu, Ayah kan belain Ibu, kok malah dicubit sih...?" protes ayah.
Setelah tawa mereda, obrolan pun dilanjutkan.
" Terus nasib si pemilik pesugihan gimana Dir...?" tanya Amar penasaran.
" Gue ga tau Mas...," jawab Indira singkat.
" Kok Lo ga nya sih Mbak, nanya sama Pak Fajar kan bisa...," kata Adi.
" Boro-boro inget nanyain gituan. Yang ada dipikiran Gue tuh gimana caranya 'lari' dari kejaran makhluk halus itu...," gerutu Indira.
" Ini jadi pelajaran buat Kita. Selama Kita ingat sama Allah, insya Allah akan selalu aman dimana pun...," kata ibu sambil menghela nafas.
" Aamiin...," jawab semua kompak.
" Menjalankan perintah Allah dengan ikhlas membuat Allah ridho. Dan saat Kita membutuhkan pertolongan Allah, Allah akan kirimkan bantuan-Nya melalui orang yang dikehendaki-Nya," sambung ayah, " Kita patut bersyukur atas nikmat Allah yang tak terhingga ini...."
Semua mengangguk setuju.
Amar, Adi dan Ali segera menghambur memeluk Indira bersamaan. Indira yang tak siap menerima pelukan mendadak dari ketiga saudaranya, terjengkang ke belakang. Tentu saja ini membuatnya ngomel-ngomel tak jelas. Tapi ketiga saudaranya cuek dan mempererat pelukan mereka. Akhirnya mereka berempat saling memeluk sambil tertawa-tawa.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Kepulangan Indira dengan cerita 'horor'nya membuat semua anggota keluarga pak Surya prihatin sekaligus senang. Untuk mengungkapkan rasa syukur, ayah dan ibu Indira bermaksud memberi santunan kepada anak yatim piatu dan duafa.
Mereka mulai menyusun rencana. Kebetulan dua hari lagi ulang tahun si bungsu, Ali. Jadilah acara akan diadakan bertepatan dengan syukuran ulang tahun Ali.
Indira menelpon teman-temannya, meminta mereka untuk hadir di acara syukuran itu.
" Bisa kan Sof...?" tanya Indira pada Sofia.
" Iya insya Allah Gue usahain, Lo udah nelpon Maya, Dewi sama Asti...?" tanya Sofia.
" Tolong kasih tau Mereka juga ya, Gue repot banget nihh...," keluh Indira.
" Ok, ntar Gue kabarin deh. Tapi ga jamin Dewi bisa dateng ya...," kata Sofia lagi.
" Iya gapapa, Gue paham kok. Dewi kan harus ijin sama Suaminya dulu...," kata Indira tersenyum.
Mereka mengakhiri percakapan di telephon.
" Aris ga kamu kabarin sekalian, Dir...?" tanya ibu sambil menghitung jumlah goody bag yang akan dibagikan pada anak yatim piatu.
" Emang harus ya Bu...?" tanya Indira.
" Kalo menurut Ibu, Kamu kabarin aja, terserah Aris mau datang atau ga. Emang Kamu ga kangen...?" kata Ibu menggoda Indira sambil mencolek dagunya.
Indira tersipu malu. Lalu segera menelpon Aris seperti permintaan ibunya.
" Assalamualaikum Aris...," kata Indira ragu.
" Wa alaikumsalam..., Alhamdulillah bisa denger suara ini lagi...," kata Aris ramah.
" Apaan sih Kamu...," rajuk Indira.
" Yaah..., jangan marah dong Sayang..., Aku kan kangen sama Kamu, lagi dimana nih...?" kata Aris menggombali Indira.
" Aku di rumah, di Jakarta...," kata Indira pelan.
" Haahh...?! Yang bener. Kamu udah di Jakarta, kapan pulang...?" berondong Aris yang terkejut sekaligus senang, hingga ia jatuh dari kursi yang didudukinya saking terkejutnya.
" Ntar Aku ceritain. Ibu ngundang Kamu buat syukuran di rumah lusa. Bisa dateng ga...?" tanya Indira.
" Dateng ya Ris, Kita ngopi-ngopi sambil ngobrol. Ali ulang tahun lusa...," teriak ibu Indira yang suaranya terdengar jelas di telinga Aris.
" Iya insya Allah Saya dateng Bu...," janji Aris sambil tertawa.
" Aku juga ngundang temen-temen Aku...," kata Indira memberi tahu.
__ADS_1
Percakapan via telphon pun berakhir. Tampak senyum manis terukir di wajah Indira dan Aris di waktu bersamaan, meski pun di tempat yang berbeda.
bersambung