Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 2 (Reformasi)


__ADS_3

Indira dan teman-temannya baru saja tiba di koridor kelas. Mereka berpapasan dengan Elmo yang sejak tadi menunggu Indira.


"Dira..., baru dateng lo. Inget Lo kan janji mau bantuin Gue ngerjain tugas...," kata Elmo.


" Bantuin tugas yang mana El, kapan juga Gue janji sama Lo. Kan Lo yang maksa minta ajarin sama Gue...," jawab Indira santai.


"Waktu kita naik bis yang sama minggu kemaren, jangan belaga lupa lo. Pan lo lulusan STM Bangunan, pasti bisa lah soal kaya gini mah. Ayo buruan dah, keburu lumutan gue nungguin lo daritadi...," keukeuh Elmo.


"Tapi di sekolah juga dulu kalo Mekanika Teknik sama Bangunan Aer tuh Gue emang ga begitu ngarti El...," Indira masih coba mengelak untuk membantu Elmo mengerjakan tugas.


Tapi Elmo masih tetap memaksa Indira. Akhirnya Indira mengikuti Elmo yang mulai melangkah ke arah balkon ( biasanya jadi tempat favorit para mahasiswa duduk santai sambil menunggu jam mata kuliah dimulai ). Begitu Elmo buka buku, terlihat rumus dan angka-angka yang membuat Indira pusing.


Bersyukurnya Indira saat melihat Heru melintas di depan mereka. Tanpa basa basi Indira mencoba minta Heru ikut bantu Elmo mengerjakan tugasnya.


Heru yang memang cerdas mengiyakan saja permintaan Indira.


"Gitu El caranya...," kata Heru.


"Ntar nentuin jumlah baut sama diameternya gimana Her, ga paham nih gue," jawab Elmo setengah frustasi.


Heru dengan telaten mengajarkan berhitung dengan rumus yang sudah ada di catatan Elmo. Indira ikut serius memperhatikan penjelasan Heru, ternyata cara Heru lebih mudah dipahami dibanding saat dosen yang menjelaskan menurut Indira ( he he he..., )


Akhirnya Elmo selesai mengerjakan tugasnya, tampak kelegaan di wajahnya. Setelah mengucap terimakasih pada Heru dan Indira, Elmo melangkah masuk ke dalam kelasnya meninggalkan Heru dan Indira yang masih duduk di balkon.

__ADS_1


"Gue kok ngerasa aneh sama temen lo Dir...," kata Heru sambil mengikat tali sepatunya yang terlepas.


"Aneh kenapa Her...?" tanya Indira.


"Yaa..., dari segini banyaknya orang kenapa dia minta bantuin Lo ngerjain tugas, kan Lo Adek kelasnya, secara nalar Lo juga kan belom sampe ke materi itu yang emang belom diajarin sama Dosen, lahh..., mana mungkin Lo bisa ya ga. Kecuali Lo jenius...," kata Heru lagi.


"Sialan Lo, iya juga sih. Aneh tuh orang , kenapa ga minta ajarin sama temen sekelasnya gitu ya...," jawab Indira


" Iyaaa..., lah Lo aja tugas kaya gitu masih berisik nanya sama Gue, sama Adang, sama Yanuar..., jangan-jangan dia naksir sama Lo, alasan aja tuh Dir biar bisa deket sama Lo. Dasar cowok...," kata Heru sambil menggelengkan kepalanya.


"Bisa aje Lo, emang Lo bukan cowok Her, kok ngomongnya gitu...," sahut Indira sambil tertawa.


"Justru karna Gue cowok, makanya Gue tau banget deh cara cowok narik perhatian cewek incerannya..., termasuk kasus Lo berdua barusan nihh...," ujar Heru.


\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari belakangan Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan pada pucuk pimpinan negara kita tercinta.


Demo dan kerusuhan sporadis terjadi dimana mana. Hal ini menyebabkan ketidak nyamanan hampir disetiap lini kehidupan masyarakat terutama yang ada di kota besar, termasuk Jakarta.


Surat kabar dan media elektronik dipadati berita demo dan kerusuhan setiap harinya, bahkan media elektronik selalu update berita hampir setiap jam. Bayangkan betapa ricuhnya Jakarta saat itu. Masyarakat resah, ibu-ibu berteriak ketika harga sembako mulai tak stabil, karena sulitnya distribusi menyebabkan harga sembako meroket. Ditambah harus menyediakan ongkos extra buat anak mereka agar bisa pulang selamat, karena harus beberapa kali ganti alat transportasi untuk menghindari demo yang marak terjadi.


Indira juga ikut merasakan dampak langsung dari peristiwa bersejarah tersebut.

__ADS_1


Seperti biasa Indira pulang dari mengajar les private sore itu. Saat masih di perjalanan tiba-tiba bus yang ditumpangi Indira digebrak orang tak dikenal dari luar. Jumlah mereka cukup banyak. Mereka memaksa semua penumpang turun saat itu juga. Memilih aman akhirnya semua penumpang turun tanpa perlawanan.


Beberapa saat kemudian bus disulut api oleh orang tak dikenal. Semua orang menjauhi badan mobil yang mulai terbakar. Jalan diblokir dan terlihat ban mobil yang terbakar ada di tengah jalan. Indira memutuskan jalan kaki meninggalkan tempat itu, ia tak tahu lagi bagaimana nasib bus yang dibakar tadi. Banyak orang yang juga terlihat jalan kaki saat itu, karena semua kendaraan disuruh putar balik setelah penumpangnya diturunkan paksa.


Sepanjang jalan yang dilewati Indira terkejut bukan main. Ia menyaksikan penjarahan yang terjadi di sebuah mini market yang dilakukan tidak hanya satu orang, tapi banyak orang. Kemudian ia juga melihat mesin ATM milik Bank Swasta dirusak beberapa orang tak dikenal. Toko toko di sepanjang jalan yang biasanya masih buka jam segitu tutup dan tertulis 'Milik Pribumi' di rolling door nya.


Keadaan sangat kacau dan orang -orang berlarian kesana kemari. Banyak ibu yang menangis mencari suami atau anaknya yang belum pulang. Mereka kawatir jika keluarganya jadi korban salah sasaran karena banyaknya warga yang terluka akibat kerusuhan massal itu.


Indira dan warga lainnya masih berjalan kaki karena tak ada satupun kendaraan umum yang lewat. Banyak orang yang tiba-tiba jadi ojeg motor dadakan, mencoba mencari sedikit keuntungan dari kondisi saat itu. Meskipun ongkos yang terbilang fantastis, tapi banyak juga orang yang menggunakan jasa ojeg dadakan tersebut. Indira memilih tetap jalan, selain tak bawa uang lebih, toh ia tak sendiri pikirnya.


Hingga tak terasa malam pun tiba. Sepanjang jalan gelap karena ada pemutusan aliran listrik besar-besaran dari PLN. Saat tiba di deretan perkantoran, Indira melihat banyak orang berseragam dengan perlengkapan senjata api laras panjang yang bersembunyi di belakang pagar. Mengintai, lebih tepatnya.


Mereka terdiri dari gabungan anggota TNI, anggota POLRI dan security kantor tersebut yang tampak siaga menjaga kemungkinan terburuk dari jarahan warga yang sedang 'mengamuk'.


Sempat berhenti beberapa kali, karena jarak yang sangat jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Indira mengedarkan pandangannya. Mencoba tetap tenang dan ngobrol ringan dengan sesama pejalan kaki, ia pun melanjutkan perjalanannya.


Di sebuah SPBU tampak terjadi kekacauan yang sama. Merasa bukan hal aneh lagi, Indira memutuskan mengacuhkan saja.Sambil tak putus berdoa berharap orang tua dan saudaranya dalam keadaan selamat, akhirnya Indira tiba di depan pemukiman tempat ia tinggal. Gelap juga, karena ada pemadaman listrik, begitu kata tetangganya yang dijumpai barusan.


Indira mengucap salam saat melihat keluarganya dan para tetangganya berkumpul di depan rumah.


Helaan nafas lega dan ucapan syukur terdengar dari mulut sang ibu dan beberapa tetangga. Ibu Indira menyambutnya dengan pelukan sambil mengucap hamdalah berulang kali.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2