Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 39 ( Malunya...)


__ADS_3

Bergabungnya Chika dengan kelompok Jayadi cs, membawa aura yang berbeda.


Bu Ninik bergerak cepat. Sesuai permintaan Jayadi, bu Ninik bergerilya mencari rumah sewaan untuk karyawan pabrik. Akhirnya bu Ninik mendapatkannya dan segera memberi tahu Jayadi tentang hal ini.


Jayadi yang mendapat info dari bu Ninik segera mendatangi pemilik rumah bersama bu Ninik. Tapi melihat rumah yang kurang layak, Jayadi mengurungkan niat untuk menyewanya.


Setelah tiga hari resmi menjadi karyawan pabrik, Chika mendapat giliran shift malam. Sore itu sambil berjalan kearah pabrik, Indira, Sofia dan Chika asyik bercerita tentang diri mereka masing-masing. Chika memanggil Indira dan Sofia dengan sebutan 'Mbak' karena ia lah yang termuda diantara mereka.


" Jadi begitu lulus Lo langsung ke kota C...?" tanya Sofia takjub.


" Iya...," jawab Chika.


" Orangtua Lo ga ngelarang..., kan kata Lo tadi, Lo anak cewek satu-satunya, masa Mereka ga kawatir...?" tanya Indira penasaran.


" Ga Mbak, Mereka ijinin Aku pergi gitu aja...," kata Chika datar.


" Aneh ya...," kata Sofia sambil menatap Indira bingung.


Tak terasa tibalah mereka di pabrik.


Usai sholat Maghrib dan jam istirahat berakhir, semua karyawan melanjutkan pekerjaan mereka kembali. Sofia, satu team dengan Jono, Karin, Mimin, Chika, juga beberapa teman lainnya. Saat mendekati jam 10 malam, seperti biasa, rasa kantuk pun mulai menyerang hampir seluruh karyawan.


Tampak Mimin yang terkantuk-kantuk dengan posisi duduk, membuat Jono dan Sofia tertawa. Mereka merasa lucu saat si karyawan 'sok kuasa' itu menunjukkan wujud aslinya.


Saat asyik menertawakan Mimin, tiba-tiba Ujang berteriak, mengejutkan Sofia dan teman lainnya. Nampak wajah Ujang yang pucat. Jono mendekati Ujang sambil menepuk-nepuk pipinya.


" Kenapa Kamu?. Hei Jang...," kata Jono mencoba menyadarkan Ujang.


" Mmm, gapapa..., cuma...," Ujang tergagap tak bisa bicara.


" Udah jangan ditanyain dulu, kasih minum aja terus suruh duduk di situ, yang laen lanjutin kerja ya...," kata Ari yang kebetulan lewat.


Para karyawan mematuhi perintah Ari. Beberapa karyawan yang tadi mulai mengantuk pun sontak terbangun, termasuk Mimin. Terdengar kasak-kusuk di sekitar mereka membicarakan si Ujang.


Ujang yang mulai tenang setelah istirahat beberapa menit, kembali berdiri dan melanjutkan pekerjaannya.


" Kamu kenapa...?" tanya Jono penasaran.


" Itu..., Saya liat banyak anak kecil ga pake baju berkeliaran di sekitar sini, Mereka lagi mainan...," bisik Ujang parau.


" Haahh...,yang bener...?" tanya Jono lagi.


" Suer, ngapain bohong, kurang kerjaan aja...," sungut Ujang.


" Apalagi...?" Jono masih bertanya.


" Ada yang laen juga, males nyebutinnya. Jam segini lagi pada kumpul, makanya jangan bengong...," kata Ujang menasehati.

__ADS_1


Pembicaraan Jono dan Ujang terdengar oleh Indira yang kebetulan lewat untuk mengecek hasil amplasan teman-temannya. Seketika tubuh Indira lemas, seperti tak bertenaga.


Ia lalu mencari tempat untuk istirahat ( hal yang tak pernah Indira lakukan di jam kerja ). Dan ini tak luput dari penglihatan Sunyoto.


" Kenapa Kamu, udah selesai ngeceknya?. Bukannya kerja, ngapain malah duduk di sini...?!" tanya Sunyoto judes.


Indira menggeleng. Ia baru membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba Jayadi menghampirinya.


" Ga usah sok galak Lo, kedudukan Lo sama Indira tuh sama. Jangan mentang-mentang karyawan lama, bisa seenaknya aja sama karyawan baru...!" kata Jayadi dengan suara tinggi.


Suara Jayadi memancing karyawan lain untuk menoleh dan yang pasti para personel 'Jayadi cs' , yang mulai bermunculan di belakang Jayadi dengan sikap mereka yang cool.


Sunyoto tampak ciut mendengar bentakan Jayadi. Ia menundukkan wajahnya, merasa malu karena sikap tak ramahnya pada Indira ketauan oleh Jayadi cs.


" Kita merhatiin Lo tuh udah lama ya...," kata Ari tegas.


" Keliatannya Lo lupa siapa dan gimana awalnya sampe Lo bisa ada di posisi ini...," kata Dimas.


" Gue bisa aja langsung keluarin Lo dari sini, tau ga...?!" bentak Jayadi marah.


" Indira tuh cewek, merantau jauh-jauh dari Jakarta, sama kaya Kita, perantau. Kenapa Lo tega banget 'neken' dia, kaya Lo yang punya ni pabrik aja...," sungut Asman.


" Lagian kalo mau bersaing, yang sehat lahh..., ga malu Lo, pake rok sana...!" kata Gunawan yang baru muncul bersama Totok.


Indira menganga tak percaya dengan pembelaan Jayadi cs. Selama ini Indira tak pernah mengeluh sedikit pun tentang sikap Sunyoto yang memusuhinya. Ia menyimpannya sendiri, hanya Sofia yang tau semuanya, itu pun Indira minta untuk dirahasiakan saja.


" Jangan minta maaf sama Gue, minta maaf sama Indira...!" kata Jayadi sambil menatap tajam kearah Sunyoto.


Sunyoto pun mengulurkan tangannya pada Indira yang langsung berdiri menyambutnya.


Tampak penyesalan dan malu di wajah Sunyoto.


Jayadi cs memberi sedikit wejangan kepada Sunyoto agar bisa bersikap lebih baik lagi.


Kejadian itu menjadi tontonan gratis ke-2 bagi para karyawan. Setelah sebelumnya menyaksikan Ujang dengan wajah pucatnya.


Banyak karyawan bertanya-tanya, apa salah Indira pada Sunyoto. Tapi tak ada jawaban pasti yang bisa menjelaskan.


" Lo gapapa...?" tanya Gunawan sambil menyodorkan air mineral baru pada Indira.


" Gue gapapa Mas, makasih...," sahut Indira.


" Lo denger yang Ujang bilang barusan ya...?" tanya Ari.


Indira mengangguk. Ari menjelaskan pada Gunawan dan Totok apa yang baru saja dilihat Ujang. Mereka bertiga menghela nafas.


" Yang penting jangan bengong, tetep fokus, banyakin dzikir...," nasehat Totok sambil menepuk pundak Indira.

__ADS_1


Malam itu berakhir dengan sedikit 'insiden' di pabrik, yang akan membuat Sunyoto kapok dan tak mengulangi lagi. Sejak saat itu Sunyoto berniat untuk memperbaiki sikapnya, tidak hanya pada Indira tapi juga pada semua orang.


Setibanya di rumah, Indira tak lupa mengucapkan terimakasih lagi pada Jayadi cs yang telah melindunginya dari sikap semena-mena Sunyoto.


" Itu udah jadi salah satu tugas Kita disini, Dir..., Kita udah anggap Lo sama Sofia kaya Adik sendiri. Jadi kalo ada apa-apa jangan sungkan bilang sama Kita...," ucap Jayadi bijak.


" Kita udah tau lama kalo Sunyoto begitu ke Lo. Kita mah nunggu aja sampe Lo ngadu ke Kita. Eh, ditungguin kok malah ga pernah cerita apa-apa...," kata Asman sambil nyengir.


" Tapi biar si Sunyoto itu kapok lah, ga belagu jadi orang...," kata Ari.


" Liat mukanya tadi ga..., meraaahhh banget. Kayanya dia malu kelas super dehh...," kata Dimas sambil berlalu masuk kamar.


Semua orang yang mendengar ucapan Dimas saling pandang dan akhirnya tertawa.


\=\=\=\=\=\=


Jayadi baru saja keluar dari ruangan Owner pabrik, yang kebetulan hari itu datang mengontrol pabrik 1 dan 2. Bendahara perusahaan memanggil Jayadi.


" Permohonan Lo buat bayar rumah sewa baru udah di acc sama Big Bos, ambil ntar ya...," kata sang bendahara.


" Beres, makasih ya...," kata Jayadi senang.


Jayadi memang mencari rumah khusus untuk karyawati perantau seperti Indira. Ternyata mencari rumah yang sesuai dengan selera cewek itu cukup susah.


Pihak perusahaan menyerahkan sepenuhnya kepada Jayadi urusan tempat tinggal karyawan, apalagi yang ada di bawah tanggung jawab Jayadi langsung.


Jayadi mengabarkan pada Indira, Sofia dan Chika, juga meminta mereka untuk ikut mencari rumah yang cocok. Rumah yang dicari diusahakan dekat jaraknya dari tempat tinggal Jayadi cs.


Hari Minggu, mereka bertiga mulai bertanya-tanya pada tetangga sekitar tentang rumah yang disewakan.


Tak sampai sejam mencari, mereka tiba di depan sebuah rumah yang cocok dengan selera mereka. Setelah tanya kanan kiri, mereka mendapat alamat si pemilik rumah.


Mereka segera mendatangi alamat yang dimaksud. Setelah beberapa kali mengucap salam dan mengetuk pintu, keluarlah sang pemilik rumah yang bernama bu Marni.


" Ya, siapa ya...," kata pemilik rumah dengan wajah bingung.


" Maaf, permisi Bu. Kami bermaksud menyewa rumah di depan sana, apa benar milik Ibu...?" tanya Indira sopan.


" Ooo, iya bener. Emang kalian mau nyewa berapa lama...?" tanya bu Marni.


" Ini dibayar sama perusahaan, jadi Saya belom tau berapa lama. Kalo Ibu udah setuju, nanti ada senior Saya yang ngurus pembayarannya...," kata Indira menjelaskan.


" Ooo, iya bolehlah kalo begitu. Sebentar Saya ambil kuncinya dulu, nanti Saya antar Mbaknya masuk kesana buat ngeliat-ngeliat...," kata bu Marni dengan semangat.


Indira, Sofia dan Chika pun setuju...


bersambung

__ADS_1


__ADS_2