
Setelah perjalanan yang lumayan jauh, tibalah mereka di tempat tujuan. Bu Ninik turun, disusul Sofia dan Indira.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah bercat biru berhalaman luas. Halaman yang sudah disemen itu tampak dipakai untuk menjemur padi dan bawang merah.
Mereka memasuki halaman rumah dan disambut oleh istri pemilik rumah yang merupakan adik ipar bu Ninik. Mereka bicara dalam bahasa daerah yang tak dimengerti oleh Indira dan Sofia.
Mereka bertiga mengikuti pemilik rumah yang mengajak mereka ke rumah besar yang ada di samping rumah bercat biru.
" Silakan duduk, Dik...," kata pemilik rumah sambil tersenyum.
" Iya, makasih Bu...," kata Indira dan Sofia bersamaan.
" Kita tunggu sebentar disini, Pak Fajar lagi ada tamu...," kata bu Ninik.
" Kita mau ngapain sih Dir...?" tanya Sofia.
Indira hanya menggedikkan bahu.
Saat tiba waktu sholat Dzuhur, Indira permisi numpang sholat dirumah pak Fajar. Setelahnya ia kembali duduk di samping Sofia.
Istri pak Fajar memanggil bu Ninik dan mempersilakannya masuk ke ruang praktek pak Fajar. Melalui pintu penghubung antara rumah besar dengan rumah bercat biru, bu Ninik menghilang disana. Tak lama kemudian bu Ninik keluar lalu mengajak Sofia dan Indira masuk juga melalui pintu yang sama.
" Saya ikut juga Bu...?, kan Saya cuma nganter aja, yang perlu bantuan kan Sofia...," tolak Indira halus saat diminta masuk juga ke dalam kamar itu.
" Tapi Pak Fajar bilang, Kamu ikut masuk juga, ada hal penting yang mau diomongin...," kata bu Ninik setengah memaksa.
" Udah buruan, lama banget sih...," kata Sofia tak sabar.
Indira pun ikut masuk ke ruangan pak Fajar. Di dalam ruangan pak Fajar tampak ornamen lukisan dan benda-benda antik. Aura dalam ruangan itu menenangkan. Tampak pak Fajar sedang membaca doa pada dua botol air mineral. Lalu ia menyerahkan seuntai tasbih kayu pada Sofia.
" Ini buat Saya Pak...?" tanya Sofia polos.
" Bukan..., itu Kamu celupin ke dalam botol air mineral di depan Kamu...," kata bu Ninik yang memang ikut mendampingi Sofia dan Indira.
" Ooo, kirain...," kata Sofia tersenyum malu.
__ADS_1
Sejenak membiarkan tasbih dalam botol. Tampak air dalam botol yang semula bening jernih, berubah menjadi merah pekat. Setelah itu tasbih dikeluarkan dan diletakkan di atas kain putih.
Lalu pak Fajar memberikan tasbih yang lain kepada Indira. Indira mengikuti jejak Sofia setelah mendapat kode dari bu Ninik. Air dalam botol ikut berubah warna menjadi semu pink. Setelahnya tasbih diletakkan di atas kain putih yang berbeda dengan yang dipegang Sofia tadi.
" Mungkin Kalian berpikir kalo ini hanya permainan. Bahwa warna merah dan pink ini Kalian kira berasal dari tasbih yang luntur. Sekarang Kalian bisa liat, kalo memang tasbih itu luntur, pasti kain putih itu ikut kelunturan juga, apalagi tasbih masih basah...," kata pak Fajar kalem, solah bisa membaca jalan pikiran Indira dan Sofia.
" Pegang aja kalo ga percaya...," kata bu Ninik mempersilakan.
Sofia dan Indira memegang tasbih yang masih basah, menelitinya mungkin saja ada bagian tasbih yang luntur. Mereka mengembalikan tasbih ke tempat semula.
Pak Fajar dan bu Ninik terlibat pembicaraan serius. Indira tak paham sama sekali karena pembicaraan dilakukan dalam bahasa daerah. Bu Ninik menunjuk kearah Sofia dan Indira bergantian. Pak Fajar menatap tajam kearah keduanya, membuat Sofia terlihat tak nyaman dan mulai gelisah.
Indira yang merasa tak punya masalah apa pun, hanya diam sambil mengitari ruangan pak Fajar dengan matanya. Dalam hati ia tetap berdzikir dan berdoa mohon pertolongan Allah Swt.Tampak batangan emas kecil disusun rapi di atas meja. Bisa saja diambil orang jika pak Fajar lengah. Tapi siapa yang berani ?.
Di sudut ruangan terdapat payung antik agak lusuh. Seperti payung besar yang dipakai saat acara ritual kerajaan jaman dulu, yang sering diliat Indira saat menonton acara karnaval budaya di TV.
Ada juga satu set gamelan di sudut lain ruangan itu. Tampaknya masih sering 'dimainkan' karena terlihat bersih.
Indira mengalihkan pandangannya kembali ke depan meja. Setelah agak lama bicara, bu Ninik pun keluar dari ruangan itu.
" Ehm..., begini, Kalian menjadi incaran sasaran tumbal pesugihan...," kata pak Fajar.
" Haaahhh...!" Sofia dan Indira terkejut bukan main.
" Maksudnya gimana ya Pak...?" tanya Indira meminta penjelasan.
" Ada orang di sekitar rumah Bu Ninik yang punya pesugihan untuk mencari kekayaan. Biasanya mereka nyerahin tumbal di waktu tertentu agar kekayaan mereka bertambah. Nah..., Kalian ada di waktu dan tempat yang salah...," pak Fajar berdiri dan mengambil sesuatu.
Sofia dan Indira saling menatap sejenak. Air mata menggenang di sudut mata Sofia. Ia ketakutan, sangat. Dan hampir menangis saking takutnya. Indira coba menenangkan Sofia dengan mengelus punggungnya.
Pak Fajar lalu duduk dan melanjutkan ucapannya, " Air merah pekat menandakan bahwa Sofia adalah calon tumbal utama. Sedangkan air yang berwarna pink menandakan bahwa Indira adalah calon yang belum pasti, ya semacam lagi diliat-liat lah...,"
Bu Ninik masuk dan mengatakan sesuatu, lalu pak Fajar pun mengangguk.
" Sekarang Kalian ikut Bu Ninik ke belakang, disana Kalian mandi dibantu Bu Ninik ya...," kata pak Fajar lagi.
__ADS_1
Sofia dan Indira keluar dari ruangan pak Fajar mengikuti bu Ninik. Mereka tiba di kamar mandi. bu Ninik menyerahkan dua helai sarung untuk mereka pakai agar baju mereka tak basah.
Setelah memakai sarung, mereka berdua jongkok di depan bu Ninik. Mereka mandi dengan air kembang yang sudah disiapkan bu Ninik tadi. Bu Ninik mulai menyiramkan air ke kepala Sofia dan Indira bergantian, lalu ke tubuh mereka, terakhir bagian kaki.
Dalam hati Indira merasa sedih menjalani ritual mandi itu. Ia merasa sudah menghianati 'Tuhannya' karena melakukan sesuatu yang diluar ajaran agamanya.
Sambil mengeringkan tubuh dan memakai pakaian di kamar yang disediakan, Indira pun kembali berkata dalam hati, " Ya Allah..., ampuni Hamba yang sudah melanggar larangan Mu. Hamba tak kuasa menolak ya Allah..., Hamba bingung. Tolong lindungi lah Kami dari kejahatan apa pun yang mengintai. tolong Kami ya Allah..., Astaghfirullah...,"
" Kenapa lo Dir...?" tanya Sofia sambil menyisir rambutnya.
" Gapapa, cuma sedih aja...," kata Indira sambil mengusap air di sudut matanya.
" Lo nangis ?, tumben...," sindir Sofia bingung.
Indira hanya diam membisu. Indira memang terkenal tangguh dikalangan teman-temannya dan termasuk orang yang 'pelit' mengeluarkan air mata.
Kejadian yang ikut menyeretnya kali ini membuatnya sedikit goyah.
Setelah selesai dengan ritual mandi, mereka diajak kembali ke ruangan pak Fajar. Duduk dihadapan pak Fajar dengan tegang.
" Kamu ! berat...!" kata pak Fajar sambil telunjuknya mengarah pada Sofia.
Sofia nampak pucat mendengarnya. Ia melirik kearah Indira sambil menunggu apa yang akan dikatakan pak Fajar untuk Indira.
" Kamu berharap temanmu ini sama kaya Kamu...?!" tanya pak Fajar pada Sofia dengan nada suara agak tinggi.
Hal itu membuat bu Ninik, Indira dan Sofia kaget. Sofia menggeleng, merasa malu.
" Dia ini sholatnya rajin, dzikirnya dan doanya terjaga. Mahluk halus juga males deketin dia, panasss.... Emang Kamu, ga pernah sholat, pake baju ga sopan, ngomong sembarangan. Gimana mahluk halus ga suka...?" kata pak Fajar lagi.
Tak lama pak Fajar mengusap wajahnya lalu tersenyum.( Seolah bukan dirinya yang baru saja bicara keras pada mereka ).
" Saya kerumah Kalian nanti malam. Sekarang Kalian pulang dulu sama Bu Ninik...," kata pak Fajar.
Sofia dan Indira segera pamit pulang setelah mencium punggung tangan pak Fajar. Di halaman mereka pamit juga pada istri pak Fajar yang sedang mengawasi anak buahnya menjemur padi dan bawang merah.
__ADS_1
bersambung