
Keluhan Maya membuat Indira dan Sofia bingung. Walau mereka juga mengalami beberapa kejadian yang mirip dengan Maya, tapi mereka masih ingin bertahan di kota C.
Apalagi Sofia. Ia sedang dalam masalah dengan ibunya saat berangkat meninggalkan Jakarta. Jadi ia memilih kabur untuk menenangkan diri.
Ayah Sofia meninggal beberapa tahun yang lalu. Ayah Sofia seorang pelaut, yang bergabung di perusahaan swasta. Ayah Sofia sangat sibuk dan jarang di rumah. Meskipun begitu, ayah Sofia tetap memenuhi kebutuhan istri dan kelima anaknya.
Rupanya memanjakan kelima anaknya dengan harta adalah langkah yang salah. Setelah ayah Sofia pensiun dari pekerjaannya, ia menyadari bahwa kelima anaknya tumbuh menjadi pribadi yang liar.
Ia mulai menyalahkan istrinya yang dianggap tak becus mengurus rumah dan anak-anak mereka.
Pertengkaran terjadi hampir tiap hari. Hal ini membuat suasana rumah menjadi 'panas' dan tak nyaman. Mulailah satu per satu menunjukkan pemberontakan. Sofia, si bungsu, juga ikut ambil bagian.
Dua kakak laki-laki Sofia terlibat peredaran narkoba dan pencurian. Satu kakak perempuannya hamil di luar nikah, satu kakak perempuan lagi kabur entah kemana. Hal ini membuat ibu Sofia menjadi over protektif terhadap si bungsu yaitu Sofia.
Sofia marah karena merasa dirinya dikekang, dan tak sebebas keempat kakaknya. Ibu Sofia mulai menyelidiki pergaulan Sofia, menanyakan pada tetangga dan temannya, yang sudah pasti membuat Sofia malu. Akhirnya terjadilah pertengkaran itu. Sofia hanya minta sang ibu percaya padanya. Tapi ibu Sofia dengan segunung kekawatirannya malah semakin marah mendengar permintaan Sofia.
Sofia menceritakan masalahannya hanya pada Indira. Karena Sofia tahu, Indira adalah orang yang pandai menyimpan rahasia. Indira sangat menyesalkan sikap Sofia, saat mendengar cerita Sofia di awal keberangkatan mereka. Tapi sifat keras Sofia tak bisa ditawar lagi.
\=\=\=\=\=\=
Malam hari sebelum kepulangan Jayadi ke Jakarta. Mereka sengaja pulang awal dan tidak ambil lemburan. Mereka berkumpul di ruang tamu. Sebagian duduk di kursi, sebagian lainnya duduk lesehan di tikar.
" Berangkat jam berapa besok, Jay...?" tanya Totok.
" Jam 6 pagi lah..., biar cepet sampe rumah...," jawab Jayadi cepat.
" Rencana berapa hari sih di Jakarta...?" tanya Ari.
" Seminggu cukup lah...," jawab Jayadi lagi.
" Gue pulang bareng sama Lo ya Bang...," kata Maya tiba-tiba.
Ucapan Maya membuat semuanya menoleh cepat kearahnya. Indira dan Sofia tak kalah terkejut. Awalnya mereka mengira keinginan Maya hanya rengekan sesaat. Tapi...
" Lho, emang Lo kenapa May...?. Kalian berantem ya...?" tanya Jayadi heran.
" Ga seru nih, masa berantem sampe mau pulang ke Jakarta segala...," kata Dimas.
" Emang ngeributin apaan sih, cowok ya...?" tanya Gunawan sebal.
__ADS_1
" Bukan Bang, Mas. Kita ga lagi ribut kok. Gue...," kata Maya terputus.
" Maya ketakutan tinggal disini...," kata Sofia.
" Haaahh...?" seru penghuni senior bersamaan.
" Serius Lo May, takut apaan...?" tanya Ari.
" Apa cuma alasan Lo aja kali May...," sindir Gunawan pedas.
" Bukan..., tapi Gue beberapa kali liat penampakan, Gue takut Bang...," kata Maya hampir menangis.
Suasana hening sejenak dan semua saling melempar pandang.
" Terus Lo maunya gimana May...?" tanya Dimas lembut.
" Gue mau balik aja ke Jakarta. Bisa ga Gue balik bareng lo Bang Jay...?" tanya Maya menghiba.
" Hmm..., Gue sih ga keberatan. Tapi gimana sama Sofia dan Indira. Apa Lo ga mikirin perasaan mereka berdua...?" tanya Jayadi mencoba membujuk Maya.
Maya memandang Sofia dan Indira sambil menghapus air mata di sudut matanya. Ia nampak bingung. Satu sisi ada teman seperjuangannya, sisi yang lain ia juga tak mau mati ketakutan.
Indira mencoba bersikap bijak. Indira menatap Maya yang sedang menundukkan wajahnya, lalu ia melirik memberi kode pada Sofia. Sofia yang paham kode dari Indira pun mengangguk.
" Betul tuh Bang...," sahut Sofia santai.
" Ya udah kalo keputusan Lo pada kaya gitu, Gue sih ok aja...," kata Jayadi pasrah.
" Jadi besok Lo pulang bareng si Jay, May...?" tanya Totok memastikan.
" Iya Mas, terserah Bang Jay jalan jam berapa, Gue mah ngikut aja...," jawab Maya.
" Terus ntar bilang ke Personalianya gimana Bang...?" tanya Indira.
" Gampang, itu urusan Gue ntar...," jawab Gunawan cepat.
Malam itu berakhir dengan suasana yang kurang mengenakkan. Penyebab keputusan Maya untuk pulang ke Jakarta membuat para senior prihatin. Mereka sudah mulai terbiasa dengan kehadiran 3 cewek kece di rumah itu. Tapi rupanya mereka harus menerima kenyataan, bahwa personil cewek yang ada di rumah itu berkurang satu.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Semalaman Maya berkutat dengan keresahan yang tak berujung. Sungguh ia masih ingin bertahan, tapi rasa takut itu lebih mendominasi.
Hingga pagi hari pun tiba.
Tampak kesibukan yang menjadi rutinitas pagi mewarnai rumah itu. Selalu ramai, heboh, berisik. Selalu seperti itu.
Maya duduk di kursi ruang tamu sambil memperhatikan kesibukan teman-temannya. Sesekali ia tertawa kecil mendengar atau melihat kerusuhan yang terjadi. Maya mencoba menikmati hari terakhirnya di rumah itu. Dan sapaan Ari mengejutkannya.
" Selamat jalan ya May, sorry ga bisa ikut nganter Lo ntar. Maaf kalo Gue ada salah sama Lo. Andai Lo bisa bertahan sedikit lagi, mungkin Kita...," ucapan Ari terputus dengan kedatangan Totok dan Asman.
" Selamat jalan Maya, jangan lupain Kita yang disini yaa...," kata Totok dengan jenaka sambil menjabat tangan Maya.
" Jangan benci sama Kita atau tempat ini yaa..., jadiin ini sebagai pengalaman hidup yang berharga...," kata Asman sambil menangkup kedua tangannya di depan dada.
Maya terharu dengan ucapan ketiga seniornya. Sambil tersenyum ia berkata,
" Makasih Bang Asman, Bang Totok, Bang Ari. Maafin Gue juga kalo Gue selalu aja ngerepotin. Gue ga benci sama semuanya, Gue bersyukur kok pernah punya teman kaya gini...,"
" Udah siap May...?" tanya Jayadi.
" Siap Bang...," jawab Maya.
" Kita jalan sekarang aja, biar nyampe Jakarta ga terlalu siang...," ajak Jayadi.
Jayadi dan Maya berjalan beriringan. Di belakang mereka nampak Indira, Sofia, Gunawan dan Dimas yang bermaksud mengantar mereka naik bus.
Ari yang sebenarnya sedikit menaruh hati pada Maya, agak kecewa dengan keputusan Maya. Makanya ia memilih tak mengantar Maya dan Jayadi.
Di pinggir jalan penghubung antar provinsi.
Indira, Sofia dan Maya tampak saling merangkul erat. Mereka hanya diam tanpa sepatah kata keluar dari bibir mereka. Seolah sudah habis stok kalimat yang mereka punya. Mereka berusaha saling menguatkan dalam diam.
Disamping mereka, Jayadi asyik ngobrol dengan Dimas dan Gunawan.
" Tolong jagain Mereka berdua ya, jangan sampe kenapa-kenapa...," pinta Jayadi pada kedua temannya.
" Lo tenang aja, tanpa Lo minta juga kita pasti jagain Mereka...," jawab Gunawan.
" Ga usah mikir macem-macem. Lo fokus aja sama keluarga Lo disana, diaini mah urusan Kita...," kata Dimas coba menenangkan.
__ADS_1
Jayadi mengangguk. Sesaat kemudian tiba lah bus yang akan membawa dia dan Maya ke Jakarta. Mereka saling melambaikan tangan tanda perpisahan saat bus mulai bergerak meninggalkan mereka dan kenangan mereka.
bersambung