
" Adik ketemu gede ya Bang Dimas...?" tanya seorang bapak yang baru saja pulang kerja menyela.
Membuat suasana gaduh pun kembali terjadi.
" Ahh, Bapak bisa aja. O iya kenalin Pak , Bu, ini Indira, Maya, Asti dan Sofia. Mereka dari Jakarta ,ikut kerja sama kaya Saya di pabrik...," kata Dimas memperkenalkan.
Senyum tulus nampak terlihat dari wajah-wajah penduduk yang sore itu menyapa mereka.
Dimas dan empat sekawan tiba di rumah. Mereka bergantian ke kamar mandi. Dimas mengajak mereka ngobrol di ruang tamu. Mencoba mengenalkan isi rumah.
" Kita emang ga sempat masak, walau ada kompor, paling masak aer buat ngopi atau bikin mi instan...," cerita Dimas.
" Terus kopinya siapa yang beli Bang...?" tanya Asti.
" Selama ini sih gantian. Karna ada 6 orang, dibagi giliran berdua-berdua. Misalnya minggu ini giliran Saya sama si Jay, artinya selama seminggu Kami yang nyiapin kopi, mi instan, sabun cuci, obat nyamuk...," kata Dimas , " Tapi kalo ada yang mau nambahin sukarela ya gapapa...," tambah Dimas.
" Terus yang cewek gimana Bang...?" tanya Sofia.
" Nahh, kalo buat yang cewek, Kalian atur aja sendiri gimana enaknya...," jawab Dimas.
Indira dan ketiga temannya saling tatap, mereka tersenyum setuju.
" Tapi Kalian juga boleh pake semua yang Kami beli kok, apa aja, terserah Kalian, jangan sungkan ya...," kata Dimas lagi.
" Yang laen ngebolehin juga Bang...?" tanya Maya.
" Iya, Kalian tenang aja. Kami udah ngomongin ini sebelum kalian sampe...," jawab Dimas santai sambil melangkah masuk ke kamarnya.
Indira dan ketiga temannya juga ikut masuk ke kamar mereka dan merebahkan diri.
Rasa penat membuat mereka hampir tertidur. Tapi Indira bersuara cukup kencang sambil menggebrak meja, mengingatkan mereka yang hampir terlelap.
" Eh..., jangan tidur jam segini, mau Maghrib nih..., ntar rep-repan lo...!" teriak Indira.
Mereka terbangun dan akhirnya mereka memilih duduk di luar kamar sambil menunggu waktu Maghrib.
\=\=\=\=\=\=
Indira dan ketiga temannya sedang menikmati keberadaan mereka di kota C. Pekerjaan mereka, pertemanan mereka, lingkungan mereka, termasuk adat / kebiasaan di tempat tinggal mereka yang baru.
Tapi tiba-tiba Asti mendapat kabar bahwa ayahnya sakit keras. Hal ini menyebabkan Asti merasa sedih dan mengharuskannya kembali ke Jakarta.
" Belom seminggu lo kerja Ti, masa udah balik aja...," kata Maya sedih.
__ADS_1
" Gue juga ga tau kalo gini jadinya...," kata Asti.
" Emang kalo belom seminggu udah dapet gaji...?" tanya Sofia.
" Gue ga peduli, biar ga dapet gaji juga gapapa, yang penting Gue bisa balik ke Jakarta...," kata Asti hampir menangis.
Semua orang di rumah Jayadi ikut prihatin mendengar kabar itu.
" Sakitnya parah banget As...?" tanya Dimas.
" Gue ga tau pasti Bang, tapi Gue kawatir kalo Bapak kenapa-kenapa...," kata Asti sambil mengusap matanya.
" Terus Lo balik sama siapa, sendiri...?" tanya Indira cemas.
" Delapan hari lagi jatah Gue balik ke Jakarta, kalo Lo nunggu bareng Gue kelamaan ya...?" tanya Jayadi.
" Ya Bang Jay, kelamaan...," sahut Asti cepat.
Mereka memutuskan mengantar Asti hingga Indramayu, tapi Asti menolak.
" Ga usah lah, ntar ngerepotin, Gue sendiri aja, gapapa kok...," kata Asti meyakinkan teman-temannya.
Dengan berat hati mereka melepas Asti kembali ke Jakarta. Esoknya, mereka mengantar Asti hingga ke pinggir jalan, tempat pemberhentian bus antar kota. Kebetulan letak tempat tinggal mereka tak terlalu jauh dari jalan penghubung antar provinsi. Hal ini memudahkan mereka jika hendak bepergian keluar kota.
" Sorry ya Gue balik duluan...," kata Asti.
" Ya, gapapa Ti...," kata Sofia menepuk pundak Asti.
" Maafin Gue ya Bang, Mas dan Lo semua. Maaf kalo Gue ada salah disengaja atau ga. Gue betah disini, tapi...," kata Asti terputus.
" Yang penting Bokap Lo sehat dulu...," jawab Asman mencoba menghibur.
Asti menaiki bus jurusan Malang-Jakarta. Ia melambaikan tangannya saat bus bergerak meninggalkan tempat itu.
Keheningan menyapa sejenak. Tapi mereka tersadar, dan segera melangkahkan kaki menuju pabrik tempat mereka bekerja.
\=\=\=\=\=\=
Sejak kepergian Asti suasana memang sedikit berbeda, apalagi diantara Indira dan kedua temannya yang tersisa.
Tapi mereka tetap mencoba menjalani hari-hari mereka dengan bahagia. Pertemanan mereka dengan para penghuni senior pun semakin akrab. Gunawan yang memang menaruh hati pada Indira terang-terangan memberi perhatian lebih pada Indira. Bahkan juga mencari informasi tentang Indira pada Sofia dan Maya.
" May, si Indira tuh paling suka makan apaan sih...?" tanya Gunawan.
__ADS_1
" Kenapa, mau traktir ya...?" tanya Maya balik.
" Ga, nanya aja...," kata Gunawan sambil garuk-garuk kepala.
" Indira tuh sukanya makan baso sama siomay...," jawab Maya tanpa curiga sambil berlalu.
Gunawan sering curi-curi pandang saat mereka ngobrol bersama penghuni lainnya di rumah. Ari yang mulai naksir Sofia pun tahu akan hal ini.
" Kalo suka, jangan cuma diliatin aja...," sindir Ari pada Gunawan.
" Apa sih Lo, Gue mah ga mau sradak sruduk, liat aja orangnya aja kalem kaya gitu, ntar kalo ga sabar yang ada malah kabur...," kata Gunawan menjabarkan siasatnya dalam menggaet Indira.
" Justru yang kaya gitu malah ga keliatan, tau-tau udah punya tunangan...," ledek Ari lagi.
" Kayanya dia mah belom punya tunangan tuh, apalagi Suami...," bela Gunawan.
Perdebatan kecil itu terdengar oleh Asman.
" Ga usah saling nyalahin, Lo sendiri udah nembak si Sofia belom...?" tanya Asman pada Ari.
Mendengar ucapan Asman, Gunawan tertawa geli. Dia tak menyangka jika Ari naksir Sofia. Tawa Gunawan memancing yang lainnya ikut nimbrung, jadilah mereka berdua (Gunawan dan Ari ) dibully oleh keempat teman serumah mereka. Untung saja Indira, Maya dan Sofia sedang tak berada di rumah.
" Terus siapa nih yang naksir Maya...?" tanya Jayadi.
" Gue suka juga sih sama Maya...," sahut Ari.
" Jangan serakah Lo...," kata Dimas sambil melempar kaos kaki yang baru saja dilepasnya.
Tentu saja bau yang ditimbulkan dari kaos kaki itu sangat mengganggu indra penciuman semua yang hadir disitu. Tanpa aba-aba semua 'bubar jalan' meninggalkan tempat itu. Hanya tersisa Dimas yang tertawa paling keras.
" Sialan, bau banget tuh kaos kaki, kaya ******, hueekk...," kata Ari sambil menutup hidungnya.
" Najong deh si Dimas, joroknya sampe nembus langit...," ucap Totok lebay.
" Tau tuh orang, udah hari gini make kaos kaki masih bau aja...," gerutu Asman.
" Amit-amit deh, Lo pada liat ga kaos kakinya si Dimas?, cowok tapi pake kaos kaki motif bunga sama hello kitty, ih jijay Gue...," kata Gunawan bergidik.
Tawa seketika pecah lagi di rumah itu. Begitulah mereka. Jika mereka sedang dalam formasi lengkap, bisa saja terjadi keributan tak berujung yang mengundang tawa. Seperti ketika awal mereka ngontrak di rumah bu Ninik. Bu Ninik dan suaminya beserta warga berdatangan untuk melerai 'pertengkaran pura-pura' yang terjadi di rumah itu.Tapi saat mereka tiba di depan rumah, ternyata semua penghuninya sedang berkumpul dan tertawa senang. Jadi suara gaduh yang terdengar memang sengaja mereka buat.
Setelah tau yang terjadi, akhirnya warga dan keluarga bu Ninik mundur teratur. Sejak saat itu mereka paham, begitulah cara 'para perantau' itu menghilangkan stress akibat pekerjaan.
bersambung
__ADS_1