
Sejak mendengar cerita Nurbaiti secara langsung, Indira mulai lebih hati-hati berucap dan bertindak.
Hari yang paling dinanti semua karyawan di belahan dunia manapun adalah hari saat pembagian upah kerja alias gajian. Sejak pagi saja terlihat wajah-wajah ceria karyawan disemua divisi. Indira yang kebetulan masuk shift pagi juga turut merasa gembira. Walaupun ia tahu gajinya tidak besar, tapi cukup menghibur baginya.
Indira baru pertama kali gajian, jadi dia mengekor saja dibelakang temannya, mengikuti ke meja mana saja yang harus didatangi agar bisa segera memperoleh haknya. Tampak antrian yang mengular didepan loket pengambilan gaji.Indira ada didalam barisan antrian itu.
" Eh, abis gajian Kita jalan yuk...," kata Asti membuka obrolan.
" Boleh tuh..., kemana ya enaknya...," sahut Sofia.
" Ajak si Indira tuh, siapa tau mau gabung. Biar tambah seru kalo banyak orang...," sela Maya.
" Masa ke mall lagi, abis gajian bulan kemaren Kita kan udah ke mall, Lo ada ide ga Dirr...?" tanya Dewi.
" Gue kan ga paham daerah sini, jadi terserah Lo pada, Gue ga punya ide...," Indira cuma geleng kepala.
Sebenarnya Indira ingin langsung pulang untuk memberitahu orangtuanya kalo hari ini gajian pertamanya. Indira ingin berbagi kebahagiaannya dengan keluarganya lebih dulu. Tapi ia tak bisa mengelak ajakan teman-temannya, apalagi besok hari minggu, hari libur kerja juga. Supaya praktis tak harus keluar rumah saat libur kerja.
Akhirnya mereka memutuskan jalan-jalan ke mall yang dekat dari pabrik. Tiba disana mereka menuju gerai perlengkapan wanita. Asti dan Maya terlihat asyik mencoba make up yang ditawarkan penjaga gerai make up. Sementara Dewi, Sofia dan Indira pergi melihat lihat pakaian model terbaru yang dipajang di etalase. Setelah lelah berkeliling mall, merekapun makan baso di kafe tenda dekat mall.
Mereka berpisah di depan mall untuk kembali kerumah masing-masing.
Tiba dirumah Indira menraktir keluarganya makan sate, yang dibeli di pedagang sate keliling yang kebetulan lewat didepan rumahnya.
" Wahhh..., gajian Lo ya Mbak, nraktir segala...," celoteh Ali sambil makan sate dengan lahap.
" Ya Alhamdulillah..., ni gaji pertama Gue kerja di pabrik...," kata Indira.
" Gede gajinya Dirr...?" tanya Amar.
" Yahhh gimana ya..., ga kaya gaji Lo sih Mas, tapi lumayan deh daripada Gue nganggur...," sahut Indira malu.
__ADS_1
" Gapapa Dirr..., sedikit juga tetap harus disyukuri...," hibur ayah.
" Boleh nih Mbak kalo Gue minta jatah, ga banyak kok, buat jajan aja...," kata Adi nyeletuk tiba-tiba.
" Ehhh apa-apaan sih Di..., Mbakmu tuh gajinya kecil, paling cuma cukup buat keperluan pribadinya aja. Ga usah ngerecokin, kasian kan...," kata ibu memarahi Adi.
" Tau nih Adi, emang uang yang Mas kasih buat Lo tiap bulan masih kurang?, jangan terlalu boros lahh..., belajar hemat dikit. Lagian Lo ga malu ya minta sama cewek...?" kata Amar membenarkan ucapan ibunya.
" Lahhh ngapain malu, Mbak Dira kan Kakak Gue, wajar dong Gue minta jatah...," sahut Adi membela diri.
" Maunya Mas Adi tuh karena Kakaknya ada dua, udah kerja semua, makanya dapat jatahnya juga dua, gitu kan Mas...?" kata Ali mencoba memprovokasi.
" Jangan serakah ya..., liat-liat juga yang mau dipalakin tuh orangnya gimana. Wong Mbakmu buat keperluan sendiri aja pas-pasan apalagi buat ngasih orang, orangnya Kamu lagi...," kata ibu dengan nada tinggi.
" Ssstt udah ah, malu didenger orang. Ntar mereka pikir keluarga Pak Surya tuh ribuuutt terus tiap hari. Apaan yang diributin juga ga jelas, ga capek ya, yang dengerin aja capek...," lerai pak Surya.
Indira yang terlalu lelah enggan berkomentar, akhirnya menyingkir lebih dulu. Ia tidur cepat setelah sholat isya.
Sudah setengah tahun lebih Indira bekerja di pabrik kayu. Meskipun begitu ia masih enggan jika harus kerja lembur. Berbeda dengan teman-temannya yang semangat kerja lembur. Jika ada lembur karyawan merasa diuntungkan, karena lembur dibayar per jam, beda dengan harian. Itupun tidak semua karyawan bisa ikut lembur.
Kepala divisi atau di pabrik tempat Indira kerja dikenal dengan sebutan mandor, biasanya hanya akan memilih karyawan tertentu untuk lembur. Atau mereka bisa mendaftarkan diri jika ada lembur. Dan karyawan yang memiliki catatan lembur paling banyak harus memberi kesempatan pada karyawan lain untuk lembur.Begitupun di divisi packing.
Tapi Indira bahkan tak pernah masuk dalam catatan lembur sang mandor. Karena merasa heran sang mandor menegur Indira.
" Diraaa..., Kamu kapan mau lembur, hari ini ya, kok Saya perhatikan kamu belum pernah lembur sama sekali lho. Padahal yang laen aja udah bolak balik lembur...," kata sang mandor.
" Ehh itu Pak..., Saya ga usah lembur, kasih yang laen aja Pak, Saya ga suka lembur...," tolak Indira.
" Kok gitu sih..., kenapa ?, padahal lembur itu ada uangnya lho Dir, itungannya juga beda sama yang harian, ini itungannya perjam...," kata mandor lagi sambil melanjutkan menulis.
" Iya Saya tau Pak, tapi ga lah. Saya ga tertarik...," sahut Indira.
__ADS_1
" Lumayan lho Dirr..., bisa buat tambahan penghasilan, kaya si Abeng tuh, lemburannya lebih gede dari gaji pokoknya...," bujuk sang mandor.
" Ga Pak, makasih...," kata Indira sambil tersenyum.
" Ya udah Pak buat Saya aja , lagian Bapak, orang ga mau lembur dipaksa...," kata Daus yang dari tadi ikut mendengarkan pembicaraan sang mandor dengan Indira.
" Ah kamu Us, ga usah pake disuruh juga udah nyosor duluan kalo soal lembur mah...," kata mandor sambil menutup buku catatannya.
Indira makin enggan lembur setelah beberapa hari yang lalu mendengar bahwa salah seorang mandor melihat sosok perempuan di atas meja potong kayu. Padahal sudah lewat jam operasional, karena mesin potong kayu di pabrik hanya beroperasi hingga jam 5 sore setiap harinya. Dan juga divisi pemotongan tidak ada karyawan perempuan..
Saat berjalan keluar, Indira berpapasan dengan Aris, seorang karyawan di divisi lain yang diam-diam menaruh hati padanya.
Tapi sayangnya justru teman Indiralah (Asti) yang naksir Aris. Bahkan meminta Indira untuk memperkenalkannya dengan Aris.
Indira tak keberatan. Hingga mengatur waktu untuk pertemuan mereka. Yang terjadi malah diluar dugaan. Aris malah lebih tertarik pada Indira dibanding Asti. Untuk menghindari pertengkaran yang dapat menghancurkan pertemanan cuma gara-gara cowok, Indira menjaga jarak dengan Aris. Tapi Aris justru merasa tertantang dan mulai gigih mengejar Indira.
" Gimana kabar si Aris ya Dirr..., udah lama Gue ga liat dia...," kata Asti.
" Gue ga tau Ti..., ga pernah ngobrol lagi, paling say hello aja kalo pas ketemu...," sahut Indira.
" Mungkin dia emang ga suka sama Gue ya Dirr..., keliatannya dia malah suka sama Lo deh...," kata Asti sedih.
" Kok Lo ngomong gitu, perasaan Lo aja kali...," kata Indira dengan gugup.
" Soalnya beberapa kali dia nanyain Lo sama temen di divisi Kita, Gue juga liat cara natapnya ke Lo tuh beda Dirr...," kata Asti lagi.
" Masa sih..., kok Gue ga tau ya, ga ada yang bilang sama Gue...," Indira tampak mencoba mengingat.
" Kalo si Aris suka sama Lo, Gue gapapa kok Dir. Cinta kan ga bisa dipaksa, kali aja Gue bisa nemuin yang lebih baik dari dia...," ucap Asti menutup pembicaraan.
bersambung
__ADS_1