
Sesuai kesepakatan dengan pak Fajar, Jayadi cs dan Indira beserta kedua temannya sudah stand by dirumah sejak jam 8 malam.
Seperti biasa mereka makan malam di warung langganan. Setelahnya mereka pulang kerumah untuk menyiapkan diri. Mereka juga menyiapkan makanan ringan untuk keperluan begadang mereka nanti malam.
" Kalo udah sholat Isya, Lo tidur aja Dir, biar kuat begadang ntar...," saran Dimas.
" Iya gih, ntar Kita bangunin jam setengah sebelasan biar ga kaget...," kata Asman menambahkan.
" Iya Bang, Gue juga ngantuk banget, capek juga abis ikut Bu Ninik tadi siang...," kata Indira sambil menguap.
Sofia dan Chika mengikuti Indira untuk istirahat di kamar. Dalam sekejap ketiga orang itu sudah tertidur lelap.
Sementara Jayadi cs masih asyik berbincang di ruang tamu yang bersebelahan dengan kamar yang ditempati Indira.
Untuk mengisi kekosongan mereka mulai main kartu domino dan catur. Tapi tak seperti biasa, kali ini mereka main tanpa taruhan uang. Hanya saling mencoret dengan spidol saja.
Waktu terus merambat naik. Semakin dekat dengan jam sebelas malam mereka makin gelisah. Indira dan kedua temannya sudah bangun sejak 15 menit yang lalu, setelah dibangunkan Ari dengan mengetuk pintu kamar.
Detik demi detik terasa mencekam. Jam berdentang sebelas kali. Tiba waktunya ' berperang'. Dimas mengajak semua temannya berdoa mohon perlindungan dan petolongan Allah.
Setelah membaca Al Fatihah, Al Ikhlas 3x, Al Falaq, An Naas dan ayat Kursi, dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Dimas dan diaminkan oleh semua yang hadir.
" Ya Allah..., ampuni lah segala dosa Kami, ampuni juga dosa kedua orang tua Kami, ampuni juga dosa guru Kami dan para pemimpin Kami, ampuni juga dosa orang yang berbuat baik pada Kami. Kali ini Kami sedang menghadapi salah satu ujian Mu ya Allah....
Terimakasih Engkau telah kirimkan Pak Fajar dan Bu Ninik untuk menolong Kami ya Allah....
Maka tolong Kami ya Allah..., lindungi Kami ya Allah, selamatkan Kami ya Allah, beri kekuatan pada Kami untuk menghalau kejahatan yang tak Kami mengerti ya Allah. Tolong kabulkan doa Kami ya Allah..., Aamin yaa Robbal alamiin...,"
Doa Dimas sangat mengharukan sekaligus menguatkan mereka agar berani menghadapi 'serangan' makhluk tak kasat mata itu.
Waktu terus bergulir hingga jam pun berdentang 12 kali. Suasana makin mencekam. Tampak Sofia yang mulai mengayunkan kedua kakinya sambil duduk.
Dimas mengingatkan ketiga perempuan itu untuk sholat. Sofia dan Chika pun mamatuhi perintah Dimas, mereka yang jarang sholat malam itu sholat dengan khusyu.
Setelahnya Indira juga sholat sunat hajat 2 rokaat.
Mereka tetap terjaga dan terbagi di tiga tempat.
Ada Dimas ditemani Ari yang sedang membaca Al Qur'an di ruang tamu, Indira dan kedua temannya di kamar sedang sholat dan dzikir, empat orang lainnya di kamar sebelah sedang sholat dan berdzikir.
Tok tok tok....
__ADS_1
Suara pintu diketuk. Dimas menghentikan bacaan Al Qur'an nya sejenak. Melirik ke arah Ari yang sedang menatapnya.
Ari memberi isyarat agar Dimas melanjutkan membaca Al Qur'an.
Tok tok tok....
Dimas masih terus membaca Al Qur'an dan Ari memperkeras suara dzikirnya sambil memegang tasbih.
Tok tok tok....
Mereka berdua mengabaikan saja dan meneruskan kegiatan mereka tanpa merasa terusik sama sekali.
Di rumah itu suasana mencekam berlangsung hingga jam 3 dinihari. Memasuki waktu Subuh keadaan mulai terasa nyaman. Mereka tak mengerti apa yang terjadi hingga...,
Tok tok tok....
" Assalamualaikum..., Jay..., Dimas..., ini Ibu sama Pak Fajar...," kata bu Ninik dari depan pintu.
" Wa alaikumsalam..., iya Bu...," kata Dimas bergegas membuka pintu.
Dimas berani membuka pintu setelah mendengar ucapan salam bu Ninik. Semua laki-laki di rumah itu ikut keluar menemui bu Ninik dan Pak Fajar.
" Alhamdulillah...," sambut semua orang.
" Jadi ga akan diganggu lagi Pak...?" tanya Jayadi.
" Insya Allah ga akan diganggu lagi..., tapi semua kembali pada amal Mereka masing-masing ya...," jawab pak Fajar tersenyum,
" Sudah hampir sholat Subuh, sebaiknya Kalian siap-siap ke masjid...," kata pak Fajar lagi.
Semua laki-laki di rumah Jayadi pun bersiap sholat Subuh. Indira dan kedua temannya juga ikut bersiap untuk sholat Subuh berjamaah.
\=\=\=\=\=\=
Pagi harinya.
Setelah melewati malam yang berat, semua orang di rumah Jayadi asyik menikmati sarapan mereka berupa makanan ringan. Sambil saling mengejek atau bergurau, tampak wajah-wajah ceria seolah baru saja keluar dari bahaya.
" Assalamualaikum..., lagi pada ngapain?. Nih, Ibu bawa ketan kuning hangat, baru aja Ibu buat...," kata bu Ninik sambil menyodorkan senampan kecil ketan kuning.
" Wa alaikumsalam...," jawab semua.
__ADS_1
" Banyak banget Bu...," kata Chika.
" Eh jangan salah Chik, Bu Ninik emang paling tau porsi makan Kita yang agak jumbo itu, ya ga Bu...," kata Asman, disambut tawa yang lainnya.
" Iya lah, mana cukup kalo cuma sepiring. Kalian cewek bertiga ga bakal kebagian...," gurau bu Ninik.
Semua pun mulai berebut makan ketan kuning, tanpa terkecuali. Indira dan kedua temannya juga ikut. Tanpa jijik mereka mengambil ketan dengan tangan masing-masing lalu menyuapnya ke dalam mulut.
Bu Ninik menyaksikan kejadian itu sangat terharu. Mereka ada sembilan orang di rumah itu, hidup rukun dan saling menyayangi layaknya saudara kandung. Bu Ninik pun menyingkir diam-diam meninggalkan mereka yang masih heboh rebutan makan ketan kuning buatannya.
\=\=\=\=\=\=
Hari itu Indira dan Sofia masih ijin tak masuk kerja. Yang lain tetap bekerja seperti biasa. Mereka berdua merasa tenang karena ada Jayadi yang mengurus hal itu. Mereka sedang duduk di ruang tamu saat bu Ninik dan pak Fajar datang bertamu. Rupanya Pak Fajar masih menginap di rumah bu Ninik.
" Begini..., apa Kalian masih betah tinggal disini...?" tanya pak Fajar to the point.
Pertanyaan pak Fajar membuat Indira dan Sofia saling tatap. Lalu mereka beralih menatap bu Ninik yang tampak sedih.
" Kami masih betah sih. Mmm..., emang kenapa ya Pak...?" tanya Indira sopan.
" Bukan Saya ngusir Kalian, tapi sebaiknya Kalian pergi dari tempat ini sejauh-jauhnya. Atau kembali saja ke Jakarta...," kata pak Fajar tegas tanpa tedeng aling-aling.
" Kok gitu Pak...? Bukannya Bapak bilang kita udah ga diganggu lagi..?" tanya Sofia panik.
" Saya minta maaf. Saya harus pulang ke rumah Saya, ada tamu penting yang nunggu Saya. Jadi Saya ga bisa ada disini, kalo Saya ga disini, Saya ga bisa jamin keselamatan Kalian...," kata pak Fajar menjelaskan.
Indira dan Sofia langsung lemas. Mereka bingung dan cemas, tak tahu harus berbuat apa. Setelah diam sejenak Indira pun bertanya pada pak Fajar.
" Jadi menurut Bapak apa yang sebaiknya Kami lakukan...?" tanya Indira hati-hati.
" Kalian harus pergi...!" kata pak Fajar tegas.
" Ini bahaya buat Kalian, jangan menantang maut. Makhluk itu sedang marah, Saya juga takut Kalian kenapa-kenapa...," kata bu Ninik dengan tubuh bergetar dan mata berkaca-kaca.
" Tumbal yang diminta gagal, kemungkinan pemilik pesugihan sudah tau kalo Saya bantu Kalian. Jadi dia bisa berbuat nekad. Entah dengan cara real menyuruh orang menyelakai Kalian, atau bahkan dengan cara tak nalar. Kalian tak akan kuat, karena baru saja mengalami kejadian mistis...," urai pak Fajar panjang lebar.
Indira menoleh kearah Sofia yang mulai menangis.
" Ayo kita pulang aja Dirr...," rengek Sofia.
bersambung
__ADS_1