
Indira dan rombongan tiba di rumah sudah hampir Isya. Mereka sempat menunaikan sholat Maghrib di jalan tadi. Karena hari sudah malam dan perjalanan yang sangat melelahkan, ibu Indira menyarankan Sofia untuk menginap saja di rumah mereka.
" Nanti Kamu telpon Mami kasih tau kalo nginep disini, biar Mami Kamu ga cemas...," kata ibu Indira sambil mengeluarkan isi tas.
Mereka memang mampir sebentar ke toko penjual perabotan dari rotan. Ibu sangat tertarik dengan lampu hias rotan. Ibu membeli beberapa buah untuk dirumah dan dibagikan pada sanak famili.
" Iya Bu..., ntar Saya telpon Mami," kata Sofia sambil beranjak masuk ke kamar Indira.
Di kamar, setelah membersihkan diri bergantian, Sofia membaringkan tubuhnya di kasur. Indira masih mengusak rambutnya yang basah dengan handuk.
" Tragis banget ya Sof...," kata Indira sambil menyisir rambutnya.
" Iya..., untung Kita ga terlibat sama urusan Mereka...," kata Sofia yang mengerti arah pembicaraan Indira.
" Gue ga nyangka Chika bisa ga punya ahlak kaya gitu...," sesal Indira.
" Bukan cuma ga punya ahlak, tapi ga punya malu. Tampangnya imut, tapi kelakuan ampuuunn deh,parah banget..., " gerutu Sofia.
" Pantesan aja Bang Jay marah. Kan rumah itu disewa pake namanya, dibayar sama perusahaan, kalo ada apa-apa pasti Bang Jay lah yang harus tanggung jawab. Padahal Bang Jay betah banget di rumah itu...," kata Indira coba menganalisa.
" Iya kasian Bang Jay. Emang si Chika itu tinggal sama mereka pas kita balik ke Jakarta...?" tanya Sofia.
" Ga tau juga. Bisa juga sambil nunggu temen cewek yang lain, Chika ditampung sementara di rumah Bang Jay...," kata Indira sambil menggedikkan bahunya.
" Makan dulu Dirr..., Sofia ajak makan juga. Abis itu baru tidur, jangan sampe ga makan ya...," kata ibu mengetuk pintu kamar Indira.
" Iya Bu...," jawab Indira dan Sofia bersamaan.
Mereka kembali berkumpul di meja makan. Sambil makan malam mereka asyik membahas cerita bu Ninik tadi.
" Mayatnya pasti serem banget tuh...," komentar Ali.
" Iya lah. Salah sendiri ngapain punya niat jahat sama orang, jadi gitu deh dibalas sama Allah...," sahut Sofia emosi.
" Itu karna si fulan malas, ga sabaran, selalu ngeliat ke atas, jadi ga pernah bersyukur atas nikmat yang Allah kasih. Coba kalo dia mau bersyukur, pasti lain ceritanya...," kata ayah sambil menasehati anak-anaknya.
" Gimana Anak sama Istrinya ya...?" tanya Indira bermonolog.
" Yang pasti malu lah..., Mereka mungkin ga tau asalnya kekayaan yang Mereka nikmati selama ini. Tapi bentar lagi juga bakal abis ga bersisa...," kata ibu sambil membereskan meja makan.
Indira dan Sofia mencuci piring bekas mereka makan malam. Lalu mereka masuk kamar. Setelah menunaikan sholat Isya mereka pun berbaring di kasur dan tertidur dengan cepat.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Setelah memutuskan berhijab, Indira bekerja di sebuah mini market di bagian kasir. Indira serius dengan pekerjaannya. Letak mini market yang tak jauh dari rumah bisa ditempuh dengan jalan kaki. Terkadang Indira dijemput oleh kakak atau adiknya.
Ibu tak lagi cemas karena harus tinggal berjauhan dengan anak perempuannya.
Pekerjaan Indira sebagai kasir menyebabkan Indira banyak berinteraksi dengan orang lain, termasuk kaum Adam. Mengenakan hijab membuat Indira semakin terlihat cantik dan menjadi incaran para pria.
Meskipun banyak pria yang coba mengenal Indira lebih dekat. Tapi Indira tak menanggapi dan enggan menjalin hubungan yang tak terarah. Hingga Amar mencoba menjodohkan Indira dengan temannya atas seijin ayah dan ibunya.
" Kenalan aja dulu, Gue ga maksa Lo kok. Ntar kalo Lo cocok, bisa langsung...," kata Amar.
" Langsung apa...?" tanya Indira tak mengerti.
" Ya langsung married lahh, temen Gue juga maunya taarufan sama Lo, kalo cocok lanjut...," kata Amar lagi.
" Tau ah...," kata Indira sambil masuk ke kamarnya.
" Besok Gue ajak kesini ya...!" teriak Amar.
" Terserah...!" jawab Indira balas berteriak.
\=\=\=\=\=\=
Esoknya, Amar mengajak teman sekantornya Bayu, ke rumah sepulang kerja. Indira yang saat itu sedang libur pun bingung harus berbuat apa.
" Gapapa, temuin aja dulu. Kalo Kamu suka boleh lanjut, kalo ga suka ya tinggal bilang sama Masmu...," bujuk ibu pada Indira.
Setelah Bayu pamit pulang, Indira pun masuk ke ruang tengah. Amar ikut duduk di samping Indira.
" Gimana menurut Lo, ganteng kan...?. Dia tuh jadi idola di kantor Gue, karna selain cakep dia juga alim banget. Kayanya cocok sama Lo...," kata Amar berpromosi.
" Iklan Lo basi Mas...," kata Indira sambil melepas kaos kakinya.
" Jadi Lo ga tertarik sama Bayu...?" tanya Amar.
" Maaf ya Mas, Gue belom pengen nikah cepet. Lo aja duluan sama Mbak Airin, kelamaan Lo gantungin, ga kasian Lo sama dia...?" tanya Indira sambil berlalu.
Amar terdiam mendengar ucapan Indira. Airin memang sudah lama meminta kepastian tentang hubungan mereka. Tapi Amar hanya berjanji akan menjawabnya setelah Indira punya pasangan. Terdengar egois, tapi begitulah keadaannya.
" Gimana Gue mau nikahin Airin, kalo Lo aja belom jelas kapan nikah...," gumam Amar sambil membenamkan wajahnya di bantal.
\=\=\=\=\=\=
Di sebuah Coffee Shop.
__ADS_1
Aris duduk berhadapan dengan pak Surya, ayah Indira. Tampak ketegangan di wajahnya. Pak Surya mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya seperti tengah berpikir. Aris hanya menunggu pak Surya bicara dengan sabar.
Kemarin sore Aris menelphon ke rumah Indira. Kebetulan pak Surya lah yang mengangkat telephon. Dengan keberanian yang dimilikinya, Aris bermaksud menemui pak Surya untuk membicarakan sesuatu.
" Apa Saya bisa minta waktu Bapak buat ngobrol penting...?" tanya Aris waktu itu.
" Mau ngobrolin apa...?" tanya pak Surya.
" Mmm..., tentang Saya dan Indira Pak...," kata Aris lagi.
" Ooo... gitu. Kita ngobrol sambil ngopi. Kamu yang tentuin tempatnya...," kata pak Surya.
" Baik Pak, makasih. Nanti Saya kabarin Bapak lagi...," kata Aris dengan semangat.
Dan di sini lah mereka, duduk saling berhadapan dengan gelas kopi yang tinggal setengah isinya. Ditemani beberapa cemilan.
" Jadi, maksud Kamu mau melamar Indira...?" tanya pak Surya.
" Iya Pak...," kata Aris mantap.
" Kamu punya apa buat ngelamar Anak Saya...?" tanya pak Surya lagi.
" Coffee Shop ini setengah sahamnya milik Saya, Pak...," kata Aris tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Lalu ia memanggil pemilik Coffee Shop lainnya yang adalah sahabatnya sendiri, Garang.
" Kenalkan Pak, ini teman Saya namanya Garang...," kata Aris memperkenalkan Garang.
" Garang...?" tanya pak Surya bingung.
" Siap Pak, itu nama pemberian orangtua Saya...," kata Garang sambil menunjukkan sikap hormat ala tentara.
Tentu saja hal itu membuat pak Surya tertawa. Mereka lalu duduk ngobrol dan minum kopi lagi. Aris menunjukkan bukti kepemilikan sahamnya dan Garang pada Pak Surya.
" Saya bangga sama kalian berdua, dengan modal nekad dan sedikit uang bisa bikin Coffee Shop seperti ini...," kata pak Surya sambil menepuk pundak Aris dan Garang bergantian.
" Ini mah belom sehebat punya orang Pak, masih sederhana, pelanggannya juga temen-temen Kami sesama pecinta kopi...," kata Garang merendah.
Pak Surya tersenyum. Ia bisa membaca situasi dan paham apa yang terjadi. Dari cara bicara dan penampilan Aris, juga Garang, Pak Surya mengerti jika pergaulan anak muda di hadapannya berbeda dengan orang lain.
" Saya akan pikirkan permintaan Kamu. Saya memberi kesempatan sama Kamu untuk meraih hati Indira kembali...," kata pak Surya sambil beranjak meninggalkan tempat itu.
Aris melonjak senang. Namun Pak Surya berhenti dan mengatakan sesuatu yang membuat Aris terkejut.
__ADS_1
" Ada seorang pria santun yang juga sedang mendekati dan berusaha meraih hati Indira. Keliatannya perjuanganmu ga akan mudah...," kata pak Surya sambil berlalu.
bersambung