
Indira mempercepat langkahnya. Setibanya di depan rumah tampak bu Amin dan anak perempuannya sedang mengasuh si kecil Reina.
" Lho ini dia orangnya, baru pulang ya Mbak ...," sapa bu Amin.
" Ya Bu...," sahut Indira sambil tersenyum, " Kok, dikunci pintunya...," gumam indira.
" Barusan ada orangnya. Dari tadi di dalem saya denger nyanyi-nyanyi terus sambil nyetel radio keras banget...," kata bu Amin yang sepertinya merasa agak terganggu dengan tingkah Sofia.
" Ooo, gitu ya Bu. Sofia ijin ga masuk hari ini, karna lagi sakit, kalo udah bisa nyanyi-nyanyi berarti udah sembuh...," kata Indira malu.
Tak lama pintu terbuka, nampak Sofia yang terlihat bangun tidur. Setelah pamit pada bu Amin dan anaknya, Indira pun masuk ke dalam rumah.
" Gimana Sof, udah enakan ?, kata bu Amin lo konser di rumah seharian...," sindir Indira.
" Ya lumayan lah, udah enakan. Lo bawa apaan...?" tanya Sofia sambil menguap.
" Makanan buat Lo..., Lo tuh Sof, udah tau sakit malah pake baju kaya gitu, gimana ga tambah masuk angin...?" protes Indira.
" Males deh Gue denger ceramah Lo...," kata Sofia sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Indira menatap sebal kearah Sofia, tapi ia bersyukur dalam hati karena Sofia terlihat sehat.
Malam harinya.
Setelah makan malam dan dikunjungi Jayadi cs, Indira bermaksud tidur di ruang tamu saja. Kebetulan di ruang tamu juga ada dipan besar untuk tempat mereka duduk dan ngobrol selama ini.
" Mau kemana Mbak...?" tanya Chika.
" Kita tidur di atas dipan aja yuk. Kasurnya Kita pindahin kesana, biar badan Kita ga sakit...," ajak Indira.
" Ayo dehh, biar anget juga. kan udah masuk musim ujan, jadi dingin kalo tidur di bawah...," kata Chika setuju.
Mereka bertiga pun memindahkan kasur keatas dipan, menutupinya dengan sprei, lalu mereka berbaring di atasnya.
" Naahh, gini kan lebih enak, nyaman lagi...," kata Indira sambil mulai memejamkan mata.
Chika dan Sofia masih terlibat obrolan hingga malam. Teman setia Sofia (radio) pun ikut menemani. Hingga waktu terus merangkak malam, suasana mulai sepi, apalagi saat lampu ruang tamu dipadamkan oleh Chika.
Mereka tertidur lelap.
\=\=\=\=\=\=
Indira bermimpi sedang bersama keluarganya di suatu tempat, mereka tertawa bahagia dan saling mengejar di padang rumput yang luas. Tiba-tiba....
Bruukk!! gedebug!!.., sreek, sreek, sreek....
Dalam keadaan setengah sadar, Indira mendengar suara benda berat yang jatuh lalu seperti diseret paksa untuk dipindahkan.
__ADS_1
" Suara apaan tuh...?" gumam Sofia yang bisa didengar oleh Indira. Indira diam saja, karena teringat pesan sepupunya " Kalo denger atau liat sesuatu yang aneh di tempat yang aneh, mendingan diem aja, itu lebih baik...,"
Beberapa saat kemudian terdengar rintihan.
" Ampuun Mbaahh, ampuunnn..., Saya cuma numpang tinggal sebentar ..., Saya ga ganggu..., tolong jangan ganggu Saya..., ampuunn...," ceracau Sofia.
Indira terbangun dan membuka matanya. Sekelilingnya tampak gelap. Tapi dia merasa tubuh Sofia di sebelahnya basah dan dingin. Sambil terus meracau kalimat yang sama dengan mata terpejam dan tubuh bergetar.
Indira langsung duduk dan mencoba membangunkan Sofia. Sambil terus berdzikir dalam hati, Indira menepuk-nepuk pipi Sofia. Indira mulai panik, apalagi Chika tertidur pulas tanpa merasa terganggu dengan suara berisik Indira.
Karena ingin melihat situasi dengan jelas, Indira membangunkan Chika yang berdekatan dengan saklar lampu untuk menyalakan lampu. Chika terbangun dengan kaget, agak bingung , tapi mengikuti perintah Indira, kebetulan letak saklar lampu ada di atas kepala Chika.
Setelah lampu menyala, ruangan menjadi terang. Tampak tubuh Sofia bergetar hebat dengan posisi meringkuk, sambil terus meracau.
" Sofia...! bangun Sof, Sofia...!!" kata Indira dengan panik.
Sedangkan Chika tampak mencoba mencerna apa yang terjadi di depannya.
" Ampuunnn...,Mbahh, ampuunnn..., ga mau banguuunn..., takuuttt...," ceracau Sofia.
Setengah memaksa, Indira dibantu Chika berhasil mendudukkan Sofia. Indira merasa bahwa sesuatu yang tak kasat mata tengah mengganggu Sofia. Karena Sofia masih tak mau membuka mata dan terus meracau, Indira memutuskan membawanya ke rumah Jayadi saat itu juga.
Lalu Indira meminta Chika mengambil kardigan milik Sofia di kamar.
" Ayo Kita kerumah Bang Jay aja sekarang. Bantu Gue pakein bajunya Sofia Chik, Ntar Lo pegangin Sofia ya...," kata Indira sambil berusaha membuka pintu.
Dalam hati Indira menyesalkan tindakan sembrono Sofia, yang masih saja menggunakan tank top meski sedang sakit.
Mendengar ucapan Sofia, Chika mulai ketakutan. Di depan rumah yang mereka tempati memang terdapat sebuah pohon belimbing besar. Daunnya lebat buahnya pun banyak.
" Gimana dong Mbak Dira, Gue takut nihhh..., apalagi banyak orang gelantungan di pohon, apaan coba malem-malem kaya gini yang gelantungan...," kata Chika ketakutan.
" Udah jangan dengerin, Kita siap-siap kesana, Lo gandeng si Sofia ya, pelan-pelan aja...," kata Indira yang sama takutnya dengan kedua temannya.
" Ga mauuu..., orang yang di pohon ketawa.., mereka mau terbang ke sini..., takuuuttt...," ceracau Sofia lagi.
" Bismillahirrohmaanirrohiim...," Indira pun berhasil membuka pintu.
Lalu Indira mengajak kedua temannya segera keluar. Teriakan Sofia kian menjadi. Tapi anehnya, tak satu pun tetangga yang keluar untuk membantu.
Saat kakinya melangkah keluar pintu, Indira mendengar suara tawa cekikikan yang menyeramkan berasal dari pohon, bukan hanya satu tapi banyak.
Indira membalikkan tubuhnya hendak mengunci pintu. Tapi seperti ada kekuatan tak kasat mata yang menghempaskan pintu itu berkali-kali ke arah dalam, hingga sulit di tutup. Pintu yang memiliki dua daun pintu itu bergantian terhempas kedalam , terdengar juga suara menggeram dari dalam rumah.
Indira berdoa dan membaca ayat suci AlQur'an yang dikuasainya sambil terus berusaha menutup pintu.
" Bisa ga Mbak, Gue bantuin ya...," kata Chika kawatir.
__ADS_1
" Ga usah, Lo pegangin Sofia aja...," kata Indira yang berhasil mengunci pintu.
Dengan gemetar,mereka bertiga melangkah perlahan meninggalkan rumah itu, diiringi suara tawa yang menggema di belakang mereka.
Sepanjang jalan Sofia terus menangis sambil meracau.
" Di pohoonnn..., banyak..., yang gelantungan..., takuuutt...," kata Sofia sambil menangis.
" Jangan liat ke atas, liat bawah aja !! Lo baca-baca, jangan bengong juga, Dzikir, doa minta sama Allah...!!" kata Indira yang menyentak Chika dan Sofia sambil bantu menuntun Sofia.
" Iyyyaa Mbak..., ni Gue juga lagi baca ayat kursi...," kata Chika takut.
" Laa ilaha ilallah..., Laa ilaha ilallah..., Astaghfirullah..., " kata Indira berulang-ulang.
Tibalah mereka di depan pintu rumah Jayadi. Chika segera mengetuk pintu dengan panik. Indira masih memegangi Sofia yang sudah lemas dan hampir terjatuh. Chika kembali mengetuk pintu lebih keras sambil memanggil-manggil.
" Siapa...?" suara tanya dari dalam.
" Tolong Bang, Mas, buka pintunya, Sofia sakit parah...," kata Indira setengah teriak.
Pintu pun terbuka. Dan Sofia segera menghambur ke dalam rumah. Tampak wajah Dimas yang kebingungan.
" Ada apaan, kenapa?. masuk masuk, kok muka Lo pada pucet semua...?" tanya Dimas
Indira dan Chika pun masuk lalu terduduk di kursi. Mendengar keributan yang terjadi, semua penghuni rumah pun menghampiri Indira, Chika dan Sofia. Mereka memberi minum kepada tiga gadis itu agar tenang.
" Sofia diganggu mahkluk halus Bang...," kata Indira pelan.
" Haaahhh..., kok bisa...?" tanya mereka serempak.
Tiba-tiba Sofia menangis lebih keras dari tadi. Semua kaget, Dimas pun menutup pintu karena kawatir didengar tetangga dan jadi fitnah. Jayadi menyuruh Chika membawa Sofia ke kamar depan.
Indira pun mulai menceritakan yang terjadi di rumah. Tampak ketegangan dan rasa tak percaya di wajah mereka. Mereka prihatin dengan kejadian yang menimpa Indira dan kedua temannya.
" Untungnya lo kuat Dir...," kata Dimas dan Ari.
" Alhamdulillah Saya masih dilindungi Allah, Bang...," kata Indira sambil mengusap wajahnya.
" Tetangga Lo ga ada yang bantuin Lo...? tanya Totok heran.
" Ga ada Bang, kayanya ga ada yang denger jeritan Sofia deh, Gue juga ga tau...," jawab Indira.
" Aneh juga ya...," gumam Dimas.
Kecemasan Indira jauh berkurang setelah sampai di rumah Jayadi. Apalagi suport dari Jayado cs membuatnya lebih tenang.
" Malem ini Lo pada tidur disini aja. sekarang istirahat, udah malem...," kata Jayadi pada Indira.
__ADS_1
Semua mengangguk setuju dengan keputusan Jayadi.
bersambung