
Tibalah hari yang membuat Indira sedih. Hari itu adalah hari terakhir Sofia bekerja di pabrik. Terlihat wajah Sofia & Indira yang tak semangat. Sesekali Sofia menghela nafas berat.
" Tapi janji ya Sof, Lo bakal dateng nengokin Gue...," kata Indira.
" Iya Dir, tenang aja. Gue usahain kok, lagian kan ada cowok Gue, jadi Gue punya alasan dobel buat ke sini...," canda Sofia.
" Iya juga ya, pasti Lo kesini bukan mau nemuin Gue kan...?" tanya Indira sebal.
" Kan gue bilang sekalian nengok Yogi...," kata Sofia lagi.
Indira kehabisan kata-kata. Di kejauhan tampak Abeng, Aris dan Yogi jalan bersama. Mereka bertiga mendekati Indira dan Sofia.
" Tumben bertigaan...," kata Sofia.
" Iya, sengaja. Kan Kamu terakhir kerja hari ini yang. Gimana kalo ntr sore Kita jalan bareng...?" tanya Yogi sambil menatap Sofia.
" Boleh, Kita berdua aja atau...," Sofia memandang Abeng dan Aris.
" Sama Abeng, Aris, Indira, Maya juga...," kata Yogi lagi.
" Emang Maya udah dikasih tau...?" tanya Sofia.
" Udah tadi...," jawab Abeng.
Akhirnya mereka setuju untuk bertemu di depan pabrik seusai jam kerja.
\=\=\=\=\=\=
Pertemuan mereka sore itu diisi dengan senda gurau. Sesekali Sofia merajuk karena ejekan Abeng dan Yogi.
" Kayanya Lo kudu siap mental Sof...," kata Aris.
" Emang kenapa...?" tanya Sofia.
" Ya, secara kan Lo udah ga bisa sering ngawasin Yogi di pabrik...," sambung Abeng sambil menaikkan alisnya.
Cubitan kecil Maya mampir di perut Abeng, membuat Abeng terlonjak kaget, " Aww..., sakit tau Yang...,"
" Makanya jangan iseng, ga liat mukanya si Sofia udah kaya pelangi...?" sindir Maya.
" Jangan rese Lo pada!. Ga kok Yang, Aku ga bakal macem-macem biar pun jauh dari Kamu...," rayu Yogi sambil merangkul bahu Sofia yang cuma diam membisu.
" Jangan percaya Sof, apalagi ada karyawan baru, mana cantik-cantik lagi...," ujar Aris memanasi.
" Udah deh Ris...," kata Indira.
Dan ajaib, Aris langsung berhenti mengganggu Sofia. Melihat hal ini Maya, Sofia, Abeng danYogi tertawa terpingkal-pingkal.
" Pawang yang ngomong mah beda...," kata Yogi sambil tertawa.
" Cuma Dira yang bisa 'megang' si Aris...," kata Abeng sambil memegang perutnya yang kram akibat banyak tertawa.
__ADS_1
" Mukanya Aris juga gimanaaa gitu...," kata Sofia tak henti tertawa.
Mendengar ucapan teman-temannya, membuat Aris dan Indira ikut tertawa.
" Kita kan udah ga disana, ntar tolong jagain Dira ya Ris...," pinta Maya.
Aris menoleh kearah Maya. Sambil melirik Indira, Aris berkata, " Ya, insya Allah Gue jagain Dira,May...,"
" Ga usah disuruh itu mah, udah dari dulu kan jagainnya...," celetuk Abeng.
" Maksud Lo...?" tanya Sofia.
" Ah gapapa...," jawab Abeng saat melihat kode dari Aris.
Kegembiraan tetap berlanjut,walau anggota genk tak semua bisa hadir. Mereka ngobrol hingga jam delapan malam. Setelahnya, cowok-cowok mengantar pasangannya masing-masing pulang ke rumah, kecuali Aris. Indira hanya mau ditemani hingga halte seperti biasa.
\=\=\=\=\=\=
Hubungan Maya-Abeng, Asti-Rian juga Sofia-Yogi, tetap berlanjut meski mereka tak lagi bekerja di tempat yang sama.
Mereka tetap rutin bertemu dengan pasangannya masing-masing di waktu yang berbeda. Sekali waktu mereka mengadakan 'doble date' untuk saling mengakrabkan.
Indira sangat bersyukur karena mereka menjalin hubungan yang 'sehat'.
Sementara itu hubungan Indira dengan Aris kian dekat. Semua orang mengira mereka pacaran, meski tak jarang Indira harus meluruskan prasangka mereka. Tapi agak sulit, karena Aris yang selalu 'menempel' pada Indira.
Bahkan tanpa sepengetahuan Indira, Aris lebih berani mengklaim Indira adalah miliknya, sehingga pria-pria yang menaruh hati pada Indira mundur satu per satu.
" Besok ikut Gue yuk Dir...," ajak Aris.
" Maen kerumah Sodara Gue di daerah Depok...," jawab Aris sambil merapikan tasnya.
" Sama siapa aja...?" tanya Indira lagi.
" Gue ngajakin Abeng sama Yogi, ntar biar mereka ngajakin ceweknya juga...," jawab Aris sambil menatap Indira penuh harap.
" Boleh deh..., jam berapa, ketemuan di mana...?" tanya Indira antusias.
" Gue jemput Lo atau...," ucapan Aris menggantung.
" Ga usah, Kita ketemuan di luar aja...," kata Indira cepat.
" Emang kenapa...?" tanya Aris heran, " Malu ya kalo Gue ketemu orangtua Lo...?" lanjut Aris.
" Bukan gitu, Abang sama Adek Gue tuh rese. Ntar lo ditanyain macem-macem, ga enak kan. Udah gitu, bakal abis Gue dikatain juga kaloo kerumah...," tolak Indira memberi penjelasan.
" Gue ga takut...," kata Aris tegas.
Indira berpikir sejenak. Saat ia pacaran dengan Thoriq, tak satu pun keluarganya mengenal Thoriq. Karena Indira memang tak pernah mengijinkan Thoriq ke rumahnya, walau orangtua dan saudaranya tak melarang.
Indira merasa tak terlalu penting. Sampai akhirnya Indira putus dengan Thoriq.
__ADS_1
Tapi Aris berbeda, Indira mungkin bisa memperkenalkannya dengan keluarganya. Karena Aris terlihat sebagai sosok yang 'tahan banting', Indira memutuskan mengajaknya kerumahnya nanti sepulang kerja.
" Ya udah, ntar sore Lo boleh anter Gue pulang ke rumah...," kata Indira pelan.
" Oke...," sahut Aris mantap.
Hati Aris seperti melayang mendengar ucapan Indira. Memang harus bersabar menghadapi Indira, tapi Aris memakluminya.
\=\=\=\=\=\=
Sepulang kerja, Indira menepati janjinya untuk mengajak Aris ke rumahnya.
Dalam perjalanan mereka ngobrol ngalor-ngidul.
" Jadi Lo gini tiap hari...?" tanya Aris.
" Iya, kenapa emangnya...?" tanya Indira balik.
" Buset..., Lo betah duduk lama kaya gini. Ga bosen...?", Aris terheran-heran.
" Udah biasa, Ris...," jawab Indira santai.
" Ck ck ck, tiap hari Lo kaya gini. Terus kalo malem, ga kebayang Gue, Lo cewek pulang pergi sejauh ini, salut Gue...," kata Aris sambil geleng kepala.
Indira hanya tersenyum. Setelah kurang lebih dua jam-an perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah Indira.
" Assalamualaikum...," salam Indira, " Bu, Yah, ni ada temen Dira...," kata Indira memasuki rumah.
" Wa alaikumsalam..., ajak masuk Dir...," kata ibu.
" Siapa nih Dir...?" tanya ayah ramah.
" Saya Aris,Pak. Saya temen Dira di tempat kerja...," jawab Aris sopan sambil mencium punggung tangan orangtua Indira.
" Mari, silakan duduk...," kata ayah Indira.
" Makasih Pak...," kata Aris.
Ibu & Indira segera ke dapur, lalu kembali dengan membawa suguhan untuk ayah dan Aris.
" Udah lama kenal sama Dira...?" tanya ayah Indira.
" Alhamdulillah, udah lama Pak. Hampir setahun...," jawab Aris.
" Tinggal dimana, Orangtua dimana...?" tanya ayah lagi.
" Saya tinggal di Priok sama Orangtua Saya, Pak...," jawab Aris.
Sesekali ibu ikut nimbrung dalam obrolan. Tak lama Aris pun pamit, setelah sebelumnya minta ijin pada ayah Indira untuk mengajak Indira besok pagi.
Indira mengantar Aris hingga teras rumahnya. Aris segera melangkah meninggalkan rumah Indira dengan hati berbunga. Meskipun belum ada kepastian tentang hubungannya dengan Indira, tapi Aris bersyukur bisa sampai tahap ini. Dan malam itu Aris gelisah membayangkan perjalanannya besok bersama Indira.
__ADS_1
Sementara itu di rumah Indira.
bersambung