
Kabar Indira putus dengan Thoriq memberi angin segar pada Aris. Apalagi teman segenk Indira juga mendukung keputusannya. Mereka lebih setuju jika Indira bersama Aris.
" Wahhh lega deh denger Lo putus dari Thoriq...," kata Sofia.
" Ya Sof..., Gue setuju sama Lo...," kata Maya sambil mengikat tali sepatunya.
" Jangan mau kalo diajak balikan lagi sama Thoriq ya Dirr...," kata Asti ketus.
" Iya iya..., Gue ga bakal balikan kok sama dia, udah ilfeel Gue sama sikapnya...," jawab Indira.
" Eh gimana sama si Aris, keliatannya dia masih setia nunggu Lo tuh. Pernah ya Gue mergokin dia lagi natap Lo, lamaaa banget, kayanya kangen gitu sama Lo...," kata Asti mulai gosip.
" Duhh kenapa dia lagi sih..., Gue mau sendiri dulu Ti, males mikirin cowok, belom jadian sih baiknya minta ampun, pas udah jadi banyak peraturan, kalah tuh polisi...," gerutu Indira.
" Ya dehhh...," sahut Asti mengalah.
Tiba-tiba Asti teringat sesuatu.
" Eh iya, minggu depan kan kontrak Gue udah abis, kayanya ga diperpanjang juga...," kata Asti.
" Haahh..., yang bener Lo...?" tanya Dewi dan Sofia bersamaan.
" Iya bener, ngapain sih Gue bo'ong...," jawab Asti.
" Kalo Gue sama Maya bulan depan abis kontrak...," kata Dewi lagi.
" Kalo Sofia abis bulan ini ya Sof...?" tanya Maya memastikan.
" Jadi diantara Kita berlima tinggal Gue dong yang terakhir disini. Gue juga yakin ga bakal diperpanjang, Gue kan telat mulu...," kata Indira sedih.
" Jangan sedih lahhh..., Kita kan masih bisa ketemuan diluar. Lo pada udah tau rumah Gue kan, gampang ntar tinggal janjian aja mau kumpul kapan...," kata Asti mencoba menghibur.
Obrolan mereka pun berakhir begitu saja. Mereka tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Ada rasa takut yang sulit dilukiskan. Saat sedang asik dengan pikiran mereka masing-masing Thoriq melintas didepan mereka dan berhenti tepat dihadapan Indira.
Indira berdiri menyambut kedatangan Thoriq.
" Ada apa lagi Riq..., Kita kan udah selesai...," kata Indira tegas.
" Sabarrr Raa..., Gue kesini cuma mau pamit sama Lo. Gue dapet kerjaan di luar kota, deket rumah tante Gue. Barusan Gue minta surat pengalaman kerja aja dari pabrik ini...," suara Thoriq terdengar berat.
" Pindah maksud Lo? Ooo..., kirain ada apa. Ya udah, semoga sukses ya Riq ditempat yang baru...," kata Indira lega.
" Maafin Gue ya Raaa..., saking sayangnya Gue sama Lo, Gue ga sadar kalo itu malah nyakitin Lo..., maaf...," kata Thoriq dengan penuh penyesalan.
" Lupain aja Riq, Gue gapapa kok sekarang...," jawab Indira.
" Gue mau peluk Lo buat terakhir kali boleh ga Raaa...?" tanya Thoriq berharap.
__ADS_1
" Sorry Gue ga mau...," tolak Indira.
Akhirnya Thoriq pergi setelah bersalaman dengan Indira dan keempat temannya. Mereka memandangi punggung Thoriq yang menjauh.
" Udah putus masih aja cari kesempatan...," celetuk Sofia.
" Saking cintanya sama Indira tuhh...," kata Maya.
Indira terdiam enggan menjawab.
\=\=\=\=\=\=
Hari terakhir kebersamaan Indira bersama teman segenk dengan formasi lengkap. Indira, Sofia, Dewi, Asti dan Maya, dihabiskan makan kerang ijo dirumah Asti.
Asti juga mengundang teman lainnya dan pacar nya untuk acara perpisahannya.
Acara berlangsung mulai jam 4 sore hingga malam hari sepulang kerja. Indira pulang setelah sholat maghrib dirumah Asti.
" Mau kemana Dirr...?" tanya Rian pacar Asti.
" Balik Yan, udah malem. Ntar Gue susah dapet mobilnya, macet juga...," jawab Indira.
" Ntar aja sih Dirr..., baru jam segini. Kalo takut macet ntar Gue anter deh...," kata Jono teman Asti.
" Makasih..., ga usah Jon. Gue ga mau ngerepotin. Lo disini aja dulu, lagian kasian Asti kalo pada balik semua sekarang...," sahut Indira lagi.
" Besok pagi kan masih gawe, capek kalo kemaleman nyampe Sof, kecuali besok libur, suruh nginep juga Gue mau...," tambah Indira lagi.
Setelah berpamitan dengan cepat Indira segera menyetop metromini yang kebetulan melintas. Ya, transportasi kerumah Asti bisa ditempuh menggunakan metromini, karena rumah Asti dipinggir jalan yang dilalui metromini, jadi lebih mudah untuk Indira segera melarikan diri dari bujukan teman-temannya yang masih berusaha menahannya untuk tinggal lebih lama.
\=\=\=\=\=\=
Pagi itu Indira menyapa teman segenknya, minus Asti. Suasana terasa agak beda karena mereka merasa tidak lengkap. Meskipun kadang diantara mereka ada yang berhalangan masuk karena sakit, tapi perasaan 'kurang' mulai merayapi hati mereka.
" Jam berapa Lo pada balik dari rumah Asti semalem...?" tanya Indira membuka obrolan.
" Jam sembilanan Kita baru balik...," jawab Dewi sambil menguap.
" Nyokapnya Asti sampe beli sate buat nyuguhin Kita yang masih pada betah dirumahnya...," cerita Sofia sambil tertawa.
" Ya, makanannya kurang, apalagi pas temen cowoknya Asti ikutan gabung. Wuiihh tambah rame...," kata Maya menimpali.
" Kasian dong Nyokapnya Asti, nambah pengeluarannya, lagian Lo bukannya pada balik, biar tuh suguhan cukup buat yang laen...," canda Indira.
" Eeh jangan nyalahin Kita lah..., Kita mah udah ga makan lagi setelah Lo balik, paling ngobrol doang sambil minum aqu*...," kata Sofia membela diri.
" Tapi suasana jadi beda ya sekarang, ga lengkap, ga ada Asti...," kata Indira mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Iya ga enak, tapi Kita kan masih bisa janjian sama Asti...," kata Dewi coba menghibur.
" Iya juga, Sabtu yuk Kita kerumah Asti...," ajak Maya.
" Ayolah...," kata mereka serempak.
Mereka pun melanjutkan langkah menuju tempat pekerjaan mereka yang sedang menunggu.
\=\=\=\=\=\=
Setelah kepergian Thoriq dari pabrik itu, membuat kumbang-kumbang kembali mengejar Indira. Termasuk Aris. Bahkan teman Aris, Abeng juga mulai ikut mendekati Maya. Maya yang sudah lama naksir Abeng tentu saja menyambut baik sikap Abeng itu. Dan dalam waktu singkat Maya dan Abeng sudah 'jadian'. Semula hal itu disimpan rapat oleh keduanya, mereka malu mengumbar kebersamaan mereka. Hingga suatu hari mereka berdua terlihat sedang cekcok di samping pabrik.
" Diraaa..., Diraaa...!" panggil Sofia berlari menghampiri Indira dengan nafas terengah-engah.
" Ehh kaget Gue, kenapa Lo Soff...?" tanya Indira cepat.
Tampak Dewi juga ikut menghampiri dengan wajah cemas.
" ituuu..., si Maya lagi ribut sama Abeng disamping pabrik...," jawab Sofia.
"Buruan sih..., lama amat Lo pada. Ntar keburu rame ditonton orang, ga enak...," kata Dewi menyela cepat.
Akhirnya bergegas mereka menghampiri Maya dan Abeng. Dikejauhan tampak Aris berdiri memperhatikan keributan itu dari jarak satu meter tanpa berbuat apapun.
" Maya...!" panggil Dewi dan Sofia bersamaan.
Maya menoleh kearah mereka, tampak wajahnya terkejut. Saat Indira akan mendekat tiba-tiba tangannya dicekal oleh Aris.
" Ga usah ikut campur urusan pribadi mereka, kita jadi penengah aja...," kata Aris pelan.
" Maksud Lo apaan...?" tanya Indira bingung.
" Huh, paling males Gue jelasin sesuatu yang bukan urusan Gue...," sungut Aris.
" Ga usah ribet deh Ris..., Kita tanya langsung aja sama Maya Dirr...," kata Sofia mulai emosi.
Sambil menarik tanggannya yang tadi dicekal Aris, Indira menoleh kearah Maya dengan tatapan seolah bertanya.
" Iya iya Gue jelasin..., tapi ntar ya...," kata Maya kalah.
" Kenapa ga sekarang aja sih Yang..., biar Kita ga ngumpet mulu, jadi Kamu ga salah paham juga, capek dehhh ga dipercaya sama Kamu...," sela Abeng.
Mata teman segenk Maya melotot saat mendengar Abeng menyebut 'Yang' pada Maya. Mereka merasa kecolongan karena ga tau apa-apa soal ini. Tatapan Indira beralih ke Aris yang terlihat santai.
" Lo tau sesuatu soal mereka...?" tanya Indira.
Aris menggedikkan kedua bahunya sambil berlalu.
__ADS_1
bersambung