Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 38 ( Ada Yang Aneh )


__ADS_3

Kepulangan Maya disambut antusias oleh Abeng. Setelah usai jam kerja Abeng segera meluncur ke rumah Maya. Walau sudah bertemu kemarin, tapi Abeng merasa belum puas ngobrol dengan Maya. Abeng juga berniat minta maaf pada Maya karena sempat bertengkar sebelum keberangkatan Maya.


Sambil membawa sedikit oleh-oleh ditangannya, Abeng melangkah mantap memasuki halaman rumah Maya.


" Assalamualaiukum...," kata Abeng.


" Wa alaikumsalam..., eh Abeng. Ayo mari masuk, udah lama ga keliatan...," sambut ibu Maya yang sedang menghitung pendapatannya di warung.


" Iya Bu, maaf baru kesini lagi. Ini ada sedikit oleh-oleh, mudah-mudahan Ibu suka. Maya ada Bu...?" tanya Abeng basa basi.


" Ada, bentar Ibu panggilin, duduk dulu ya...," kata ibu Maya tersenyum sambil masuk ke dalam rumah.


Letak warung milik ibu Maya memang terpisah dari rumah utama. Abeng pun mengekor di belakang ibu Maya lalu duduk di ruang tamu.


" May..., Maya. Ada Abeng nih...," kata ibu Maya.


" Iya Bu...," jawab Maya sambil melangkah kearah ruang tamu.


Abeng tersenyum senang saat melihat Maya.


Obrolan hangat pun terjadi diantara keduanya. Abeng menggenggam tangan Maya dengan erat, seolah tak ingin dilepaskan.


" Maafin Aku ya ga nganterin Kamu waktu itu...," kata Abeng pelan.


" Iya Aku maafin, lagian pake ngambek segala sih...," rajuk Maya.


" Abis Aku kesel, Kamu tetep jalan biarpun Aku larang...," kata Abeng memberi alasan.


" Aris aja nganterin Indira sampe terminal, ga ada ngambek, apalagi marah...," kata Maya sambil memukul tangan Abeng pelan.


" Iya..., pas tau Aris nganter Dira, Aku jadi nyesel ga nganter Kamu juga...," kata Abeng sambil merapikan rambut Maya.


Malam itu cerita mengalir dari mulut Maya. Tak semuanya. Maya menyembunyikan beberapa bagian agar tak membuat Abeng tak nyaman. Termasuk alasannya pulang lebih dulu. Maya kawatir Aris menyusul ke kota C jika mengetahui cerita yang sebenarnya.


\=\=\=\=\=\=


Di hari kelima Jayadi berada di Jakarta, ada karyawati baru yang juga perantau bekerja di pabrik itu. Namanya Chika, berasal dari kota Pemalang, Jawa Tengah.


Chika, seorang gadis manis yang baru saja lulus SMA ( fresh graduate ). Wajahnya imut, berambut pendek, kulit sawo matang dan body yang proporsional.


Saat jam istirahat, Asman membawa Chika menemui teman-temannya. Asman bermaksud mengajak Chika ikut tinggal bersama mereka di kontrakan.


" Bilang Jayadi dulu lah kalo mau nampung orang baru...," usul Dimas.

__ADS_1


" Iya ntar Gue kabarin Jayadi, tapi Lo semua setuju kan...?" tanya Asman setengah memaksa.


" Gue mah ga masalah...," kata Totok dan Ari.


" Lo gimana Dir, Sof...?" tanya Asman pada Indira dan Sofia.


" Kita mah setuju aja Mas...," kata Indira mewakili Sofia yang tengah asyik makan.


" Ya udah, clear ya. Chika bisa tinggal sama kita di rumah...," kata Asman lega.


Chika berjanji untuk ikut mereka sepulang kerja nanti. Gunawan tak bicara apapun, hanya memandangi Chika seolah tengah menyelidiki Chika dengan matanya.


Ketika jam pulang kerja. Indira, Sofia dan Asman menunggu Chika di depan gerbang pabrik. Kebetulan Indira dan Sofia masuk shift pagi, sama dengan Chika.


Setelah Chika datang sambil menggendong tas ransel di punggungnya, mereka pun melangkah meninggalkan tempat itu.


Mereka tiba di rumah jam setengah empat sore. Setelah meletakkan tasnya, Chika mengikuti Indira dan Sofia ke rumah bu Ninik untuk ijin tinggal disana.


Bu Ninik sangat senang kedatangan Indira dan Sofia. Tapi wajah bu Ninik agak berubah saat dikenalkan dengan Chika. Bu Ninik memandangi Chika dari atas kebawah seolah mencari sesuatu. Melihat keganjilan itu, Sofia pun bertanya, " Kenapa Bu...?"


" Ahh, gapapa...," kata bu Ninik tersenyum masam.


Entah perasaan bu Ninik agak tak nyaman saat melihat Chika pertama kali. Berbeda saat melihat Indira dan ketiga temannya saat pertama kali bertemu. Mungkin ini yang disebut 'insting' orang tua...


\=\=\=\=\=\=


Tibalah Jayadi kembali di hari ketujuh, tepat seminggu lamanya Jayadi ambil cuti kerja.


Jayadi tiba di rumah saat teman-temannya sedang bekerja di pabrik. Saat masuk rumah, Jayadi merasa aura rumah agak berbeda. Tapi Jayadi mengabaikannya, menganggap rasa asing itu hanya perasaannya saja.


Jayadi mulai memisahkan buah tangan yang dibawanya. Sebagian disiapkannya untuk bu Ninik dan keluarga, sebagian lagi untuknya dan teman-temannya. Jayadi lalu kerumah bu Ninik untuk mengantar oleh-oleh.


Bu Ninik menyambut kedatangan Jayadi dengan gembira. Bu Ninik merasa kehadiran Jayadi dapat mengendalikan suasana di rumah.


" Ini Bu..., ada sedikit oleh-oleh buat Ibu dan keluarga, mudah-mudahan Ibu suka. Nahh..., kalo yang ini, titipan dari Maya khusus buat Ibu katanya. Saya aja ga tau isinya apa...," kata Jayadi dengan kocak.


Alhamdulillah..., makasih. Ngerepotin ya. Wah..., Maya masih inget sama Ibu toh...," kata bu Ninik terharu.


" Sama-sama Bu..., ga repot kok...," jawab Jayadi sambil tersenyum.


" Udah tau kalo ada orang baru ikut tinggal di rumah...,? tanya bu Ninik.


" Iya Bu..., Asman telpon Saya waktu mau ngajak orang...," jawab Jayadi.

__ADS_1


" Cewek lho Jay, kok perasaan Ibu agak ga enak ya...," lanjut bu Ninik.


" Iya, Saya tau. Kasian Bu, sama-sama perantau kaya Saya dan temen-temen, mana cewek lagi...," kata Jayadi menjelaskan.


" Iya juga sih. Ya udah terserah Kamu aja, yang penting hati-hati...," kata bu Ninik.


" Di sekitar sini ada rumah yang bisa disewa juga ga Bu, kaya rumah Ibu gitu...," kata Jayadi coba mencari info.


" Emang buat apa, Kamu sama temenmu mau pindah ya...?" tanya bu Ninik curiga.


" Ga lah Bu..., Kita betah dirumah Ibu. Rumah buat mess cewek Bu. Ga enak juga kelamaan tinggal nyampur, kawatir jadi fitnah...," kata Jayadi panjang lebar.


" Ooo iya, bener juga Jay. Ya coba ntar Saya tanyain sama tetangga sekitar sini...," janji bu Ninik.


" Kalo bisa yang deket aja Bu, biar Saya gampang ngawasinnya. Maklum cewek, kalo ga diawasin ntar Saya yang repot. Kan perusahaan taunya mereka anak buah Saya...," pinta Jayadi sambil pamit pulang ke rumah untuk istirahat.


Setelah obrolan itu, Jayadi kembali ke rumah untuk mandi. Lalu ia rebahan di kamar sambil menunggu kepulangan teman-temannya.


Sorepun tiba, terdengar suara berisik di luar rumah. Jayadi hapal dengan suara temen-temannya. Saat pintu dibuka dari luar, Jayadi sembunyi di belakang pintu untuk memberi kejutan.


"Doorrr !!!"


Seketika suara teriakan pun terdengar bersahutan, kaget ?, pasti. Apalagi Jayadi memakai sarung putih yang menutupi kepala hingga lututnya.


" An***, sialan Lo Jay...," maki Dimas yang biasanya terkenal kalem.


" Tau nih Bang Jay, bikin orang jantungan aja...," kata Sofia yang bergegas masuk untuk minum air putih.


" Ngagetin aja Lo Bang, mana pake putih-putih gitu, hiii..., serem Gue...," kata Indira bergidik.


Saat ketiga temannya 'ngoceh' memarahinya, Jayadi cuma tertawa sambil memegang perutnya yang terasa kram. Tapi berbeda dengan Ari yang langsung melempar sepatunya kearah Jayadi dengan sebal.


" Makan tuh sepatu bau...," kata Ari geram.


" Hueekk..., ni sepatu udah berapa taon ga dicuci wooiii...," kata Jayadi sambil menepis sepatu itu.


Semua tertawa melihat tingkah Jayadi yang 'dikerjain' balik. Jayadi menoleh kearah Chika.


" Ooo, ini anak barunya ya. Kenalin, Gue Jayadi...," kata Jayadi sambil mengulurkan tangannya.


" Iya Bang, saya Chika...," kata Chika balas menjabat tangan Jayadi.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2