Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 37 ( Menunggu )


__ADS_3

Indira berjalan di samping Sunyoto sambil memperhatikan sekelilingnya. Ada beberapa rumah yang terlihat memiliki 'Home Industry' berjejer di kanan kiri jalan. Selebihnya hanya lahan kosong di sepanjang jalan yang mereka lalui. Di kejauhan nampak atap pabrik lain yang menjulang kontras diantara dataran yang luas.


Saat asyik menikmati pemandangan di sekitarnya, Indira dikejutkan dengan sapaan Gunawan yang mengendarai motor.


" Indiraaa..., mau ke pabrik 2 ya. Ayo bareng Gue...!" ajak Gunawan dengan setengah teriak.


" Eh Mas Gunawan, iya nih Mas. Tapi ga usah, Gue barang sama Pak Sunyoto aja...," jawab Indira sambil melirik Sunyoto.


Yang dilirik malah melengos kearah lain.


" Oo ya udah, Gue duluan ya. Ayo Nyot...," pamit Gunawan.


Indira tertawa begitu mendengar panggilan Gunawan untuk Sunyoto.


" Ga ada panggilan laen ya, kok kedengeran aneh namanya dipanggil sepotong gitu...," batin Indira sambil menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tak meledak.


Sunyoto melirik tajam kearah Indira.


" Kenapa ga ikut Pak Gunawan aja, kan enak ga capek...," sindir Sunyoto.


" Ya ga lahh, Saya harus profesional. Ini kan jam kerja, jadi Saya tetep harus ngerjain tugas bareng temen Saya...," kata Indira tegas.


" Udah lama kenal sama Pak Gunawan...?" tanya Sunyoto lagi.


" Udah, sejak di Jakarta...," jawab Indira datar.


Mereka terdiam. Indira yang sadar kebencian Sunyoto padanya, mencoba tak banyak berinteraksi dengan Sunyoto diluar pekerjaannya.


Tibalah mereka di pabrik 2. Sunyoto mengajak Indira berkeliling melihat isi pabrik.


Pabrik 2 dijadikan sebagai tempat produksi furniture yang terbuat dari rotan.


Sunyoto menunjukkan tempat rotan diberi cairan anti serangga sebelum diolah. Setelahnya masuk ruang penyortiran. Tampak tumpukan rotan yang baru selesai disortir, dibawa masuk menggunakan gerobak.


Indira juga diajak melihat proses penganyaman rotan hingga membentuk kursi, meja, lampu hias dan sebagainya. Indira nampak serius dan sedikit berbincang dengan karyawan yang sedang menganyam. Para karyawan tampak antusias menjawab pertanyaan Indira.


Setelah berkeliling di pabrik 2 Sunyoto mengajak Indira istirahat di ruangan Supervisor. Disana hanya ada seorang Supervisor yang sedang mengambil topi. Setelah menjabat tangan Indira dan sedikit berbincang ia pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


Indira duduk dan membuat catatan kecil dikertas yang dibawanya. Hal ini tak luput dari perhatian Sunyoto.


" Ga ada yang perlu dicatet, setiap hari ngeliat juga lama-lama hapal...," kata Sunyoto.


Indira tak peduli ucapan Sunyoto dan terus menulis. Hingga beberapa menit mereka berdua ada di ruangan yang sama. Tak ada pembicaraan apapun lagi diantara mereka.


Saat mendekati waktu istirahat, Sunyoto mengajak Indira untuk kembali ke pabrik 1.


Mereka berjalan beriringan. Indira melempar senyum manisnya kepada para karyawan yang tadi berbincang dengannya. Para karyawan membalas senyum Indira dengan senyum dan anggukan kepala.


Di halaman pabrik Gunawan masih sibuk menerima laporan bawahannya. Dengan kertas ditangan dan pulpen diselipkan di telinganya, Gunawan tampak serius memberi pengarahan kepada dua orang disampingnya.

__ADS_1


Gunawan menoleh kearah Indira dan Sunyoto yang baru saja keluar dari dalam pabrik.


" Udah selesai...?" tanya Gunawan.


" Udah Mas, nih mau balik ke pabrik satu...," jawab Indira.


" Bareng Gue aja Dir...," kata Gunawan cepat.


Indira pun mengangguk setuju tanpa menoleh kearah Sunyoto yang masih memperlihatkan muka juteknya.


Gunawan selesai dengan pekerjaannya dan segera ke tempat parkir motor untuk mengambil motor, lalu menghampiri Indira.


Indira duduk di belakang Gunawan sambil tersenyum pada Sunyoto.


" Duluan ya Pak...," pamit Indira.


" Kasian cewek siang-siang gini jalan kaki, mana panas lagi, duluan Nyot...," kata Gunawan sambil melajukan motornya.


" Iya...," sahut Sunyoto.


Sunyoto geram melihat sikap Indira yang menurutnya tak konsekwen. Padahal tadi pagi Indira mengucap kata profesional saat bekerja. Tapi apa yang dilakukan Indira siang ini membuatnya makin tak suka. Sunyoto tak menyadari jam sudah menunjukkan jam 12 lebih 5 menit, artinya itu adalah jam istirahat, diluar jam kerja. Dan Indira bersikap tak profesional hanya diluar jam kerja...


Jadi, siapa yang tak profesioanal ??.


Sedangkan Indira tertawa lagi mendengar akhir sapaan Gunawan pada Sunyoto.


" Emang ga ada panggilan laen buat Pak Sunyoto ya Mas, ga enak dengernya...," kata Indira sambil tertawa.


" Ha ha ha..., Gue sengaja biar dia tambah kesel...," kata Gunawan ikut tertawa.


Indira dan Gunawan tertawa sepanjang perjalanan yang hanya ditempuh dua menit saja.


" Lo udah punya cowok Dir...?" tanya Gunawan disela tawanya.


" Iya, udah Mas. Ada di Jakarta sekarang...," sahut Indira malu-malu.


Mengingat Aris yang beberapa hari ini sengaja diabaikan, membuat jantung Indira berdebar. Ya, andai Aris menemaninya dalam situasinya saat itu, mungkin Indira bisa lebih kuat lagi. Indira tersenyum diam-diam.


Gunawan yang mendengar jawaban Indira nampak kecewa. Tapi ia menyembunyikannya dari Indira dengan rapi.


Dan Gunawan bukan type orang yang mudah menyerah. Ia berniat tetap mengejar Indira dengan caranya sendiri. Bahkan menunggu Indira putus dari pacarnya pun rela Gunawan lakukan.


\=\=\=\=\=\=


Disaat yang sama di Jakarta.


Aris dan Yogi sedang ngobrol di teras pabrik sambil menunggu bel masuk berbunyi.


Tampak Abeng yang mendatangi mereka dengan nafas tersengal-sengal.

__ADS_1


" Woi woi..., nyantai dong, ga usah panik kaya ngeliat setan gitu...," sambut Yogi tertawa.


" Gue ada berita penting nih...," kata Abeng sambil mengelap keringatnya.


" Kabar apaan...?" tanya Aris penasaran.


" Semalem Gue ketemu Maya...," kata Abeng.


" Alhamdulillah..., akhirnya pulang juga...," kata Aris senang.


" Salah Lo...," kata Abeng cepat.


" Kok salah...?" tanya Yogi heran.


" Asal Lo tau, Indira, Sofia , Maya sama Asti tuh kerja di kota C...," kata Abeng menjelaskan.


" Haaahhh...?!" kata Aris dan Yogi bersamaan.


Abeng mulai menceritakan pertemuannya dengan Maya.


" Kemaren malam pulang lembur. Gue lapar, jadi pulang dari pabrik Gue langsung nyari makan. Gue nyari makan ke pertigaan jalan yang biasa angkot pabrik pada ngetem. Pas lagi ngantri mesen nasi goreng, Gue ngeliat kaya sosok Maya keluar dari mini market...," cerita Abeng.


" Terus...?" tanya Yogi yang tak sabar menunggu Abeng melanjutkan ceritanya.


" Gue ikutin lah, kawatir salah orang juga. Apalagi Gue emang kangen sama Maya...," kata Abeng jujur.


Aris dan Yogi ikut nyengir mendengar ucapan Abeng.


" Pas deket, ga taunya emang Maya, Gue tepuk pundaknya. Dia kaget, terus ngajak Gue ngobrol deh. Nah..., dari Maya Gue tau kalo Indira sama Sofia masih di kota C. Mereka kerja di pabrik kayu juga disana...," kata Abeng.


Cerita Abeng membuat Aris resah. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Aris berdiri lalu melangkah meninggalkan Abeng dan Yogi di tempat itu yang masih melanjutkan obrolan mereka.


" Lo bukannya udah bubar sama Sofia, kok masih semangat cari tau soal dia...?" tanya Abeng pada Yogi.


" Ooo itu..., ya ga lah. Gue emosi aja waktu itu. Tapi kalo Sofia masih mau terima Gue, ya Gue mau balikan lah sama dia...," kata Yogi malu-malu.


" Makanya kalo ngomong dipikir dulu, nyesel kan Lo sekarang...?" tanya Abeng sebal.


Yogi cuma nyengir kuda menanggapi ocehan Abeng.


\=\=\=\=\=\=


Saat bekerja Aris tampak tak fokus. Dalam ingatannya masih terngiang cerita Abeng tadi. Aris menghela nafasnya kuat-kuat menghalau resah.


" Aku percaya Kamu Dir, Kamu pasti punya alasan ngelakuin ini. Aku masih nunggu Kamu disini. Cepet pulang ya Sayang...," batin Aris mencoba menghibur diri.


Setelah bermonolog dengan dirinya sendiri, Aris melanjutkan pekerjaannya dengan senyum dibibir. Ia meyakini bahwa suatu saat Indira akan kembali padanya dan menjelaskan semuanya. Aris memutuskan, untuk menganggap berita yang diterimanya tadi adalah ujian cintanya dengan Indira.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2