Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 5 ( Pupus )


__ADS_3

Adang yang pendiam dan jarang bicara memulai analisanya. Dengan sikapnya yang lucu, membuat yang mendengarkan tak terlalu serius menanggapi.


" Pak Arman keliatannya punya perhatian lebih ke Lo Dirr...," kata Adang mulai bicara.


Duaarrrr !!!!


Bagai mendengar petir Indira terlonjak kaget, benar-benar kaget. Ia menyangka cuma perasaannya saja yang over pede, jadi ia juga merasa pak Arman memberi kode tertentu lewat bahasa tubuhnya.


" Eh..., jangan gosip Dang, ga enak kalo ada yang denger terus diaduin ke Pak Arman. Gue masih betah ya kuliah disini...," sahut Indira pelan.


" Lahh dasar Dira o'on, masa gitu aja harus dikasih tau. Yang peka dong jadi cewek, kasian kan orang yang naksir Lo kalo sikap Lo kaya gini, ibarat gayung tak bersambut, bisa kabur tuh cowok ,males nungguin Lo sadar...," tambah Khaerul lagi.


" Maksud Lo, cowok yang mau Lo kenalin tadi Pak Arman, gitu Rul...?" tanya Indira penasaran.


"Betul. Semua nih yang ada disini juga tau kalo pak Arman tuh naksir sama Lo..., ya kan friend...!" seru Khaerul.


" Ya..., kurang apa sih pak Arman. udah cakep, pinter, mapan, soleh, ga genit, dewasa. Coba lo cari kekurangannya yang fatal Dirr, kayanya ga ada dehh. Emang manusia ga ada yang sempurna, coba Lo penjajakan dulu sama Pak Arman. Kita dukung Lo dehh...," kata Adang memberi semangat.


"Ini inisiatif Kita aja lho Dirr, Pak Arman mah ga tau apa-apa soal Kita mau 'deketin' Lo sama dia. Jangan salah paham...," kata Khaerul dengan nada lembut.


"Gue bingung, kasih Gue waktu buat mikir ya..., makasih Kalian semua udah mikirin nasib percintaan Gue. Tapi bisa ga Kalian ikut mikirin dan nanggung beban ekonomi Gue sekalian...," canda Indira mencairkan suasana.


"Songong Lo, dasar error. Geregetan Gue sama Lo Dirr. Untung cewek, kalo cowok udah abis Gue tonjokin Lo...," maki Khaerul sebal.


Seketika suara tawa kembali mewarnai obrolan mereka kala itu.


\=\=\=\=\=\=


Ternyata 'waktu untuk berpikir' yang diminta Indira sangat lama. Hal ini membuat teman-teman Indira jadi gemas. Alhasil mereka membuat cara baru untuk mendekatkan Indira dan pak Arman.


Tanpa Indira sadari, dunia nya yang semula hanya tentang Elmo kini mulai berubah.


Perubahan ini juga dirasakan Elmo. Menurut Elmo, menemui Indira itu sangat sulit sekarang.Biasanya Indira akan terlihat dan mudah ditemui, diajak bicara, bahkan jalan bersama sepulang kuliah. Tapi sekarang Elmo merasa teman-teman Indira sangat over protektif terhadapnya. Seolah memberi sekat untuknya agar tak bisa mendekati Indira, Elmo hanya bisa memandang Indira dari jauh tanpa bisa menggapainya.

__ADS_1


"Indira...," sapa Elmo saat mereka berpapasan di gerbang kampus.


"Elmo..., kok baru kliatan, kemane aje Lo...?" tanya Indira basa basi.


"Lo yang kemane aje, kok ga pernah Gue liat di halte biasa Kita ketemu...?" tanya Elmo.


" Gue udah ga lewat sana lagi El, kan Gue udah ga ngajar private lagi sekarang...," jawab Indira cepat.


"Pantesan copet Gue ilang satu...," gumam Elmo.


"Sialan Lo..., jadi Lo nyamain Gue sama copet gitu? emang Lo pernah kecopetan? barang apaan yang ilang...?" tanya Indira lagi, yang mulai merasa gerah dengar komentar Elmo.


" Hati Gue...," kata Elmo pelan sambil berlalu.


"Tuuhh kaan..., kalo kaya gini boleh ga sih Gue ge-er ?, itu artinya dia suka kan sama Gue...?. Terus kenapa malah pergi sihhh..., bukannya langsung nembak, bikin penasaran aja tuh orang...," batin Indira .


Indira berjalan kearah kantin untuk membeli minuman kemasan. Tiba-tiba ia merasa sangat haus. Sambil duduk di kursi kantin yang masih sepi Indira mulai bermonolog dalam hati.


" Gue kan bukan cenayang yang bisa nebak perasaan orang, duhh bingung Gue. Lama-lama Gue capek juga kalo harus nunggu tanpa kepastian gini. Atau gue sama Pak Arman aja ya...?.


Saat hendak menaiki anak tangga Indira berpapasan dengan pak Arman yang baru saja selesai sholat dhuha.


Indira mematung, gugup, ingin menghindar tapi bingung mau kemana. Akhirnya mereka berjalan beriringan di anak tangga menuju lantai atas.


"Kenapa Kamu..., kok keliatannya lesu banget, sakit...?" tanya pak Arman.


" Ga kok Pak, cuma sebel aja, janjian sama temen tapi malah belom pada nongol jam segini...," sahut Indira asal.


" Mau Saya temani sampai teman Kamu datang...?" tanya pak Arman lagi.


"Ehh ga usah Pak..., ntar ngerepotin. Bukannya Bapak ada kerjaan jam segini?, Saya ga enak ntar diomongin orang lagi, disangka ngerayu Dosen idola, males Saya dengernya...," tolak Indira sambil tersenyum.


" Ga ngerepotin sama sekali, Saya seneng malah kalo dirayu sama Kamu..., biarin orang mau ngomong apa. Selagi Kita ga berbuat hal yang dilarang agama, santai aja...," kata pak Arman ringan.

__ADS_1


Obrolan ringan diantara mereka berlanjut beberapa menit kemudian, membuat Indira tersadar, ia merasa tak layak berdampingan dengan pak Arman. Detik itu juga ia memutuskan mundur dari mengejar cinta pak Arman.


\=\=\=\=\=\=


Akhir semester lima, di bulan Desember 1998.


Saatnya daftar ulang untuk bisa melanjutkan kuliah di semester berikutnya.


Indira tampak meremas ujung tas anyaman rotan yang dibawanya. Terlihat raut wajah yang tampak pias. Indira duduk di kursi sambil menunggu giliran masuk. Kertas formulir daftar ulang yang dibawanya tergulung rapi. Ia mengingat percakapannya dengan ayah ibunya semalam.


" Maafin Ayah ya Dir..., Ayah belum bisa bantu Kamu dulu. Kedua Adikmu butuh biaya yang ga sedikit. Kalo Kamu cuti kuliah dulu gimana...?" tanya sang ayah sedih.


" Iya..., gapapa Yah, kalo cuti kuliah kan masih bisa disambung lagi nanti. Lagian juga kuliah ga tergantung umur. Tapi kalo sekolah kan ga mungkin cuti, kasihan Adi sama Ali kalo harus berhenti di tengah jalan...," kata Indira mencoba menghibur sang ayah.


" Maafin Ibu juga ya Dirr...," kata ibu sambil menangis.


"Udah ga usah nangis Bu..., ntar Dira cari kerja dulu aja. Gajian, baru bisa lanjutin kuliah, gampang kan Bu...," kata Indira lagi.


Indira menghela nafas berat mengingatnya. Kamal yang tak terlalu akrab dengan Indira datang menyapa, membuat Indira sedikit terhibur. Kamal dan Indira berbincang lumayan lama. Kamal bermaksud mengajukan cuti kuliah juga, alasan ekonomi sama seperti Indira.


Giliran Indira masuk ke dalam, terkejut Indira karena pak Arman yang duduk di hadapannya. Tapi ia mencoba menepis rasa gugupnya. Indira menyerahkan formulir yang dibawanya. Pak Arman tampak membolak balik kertas yang dipegangnya, meyakinkan diri bahwa kertas itu milik Indira.


" Kenapa...?, Kamu serius mau cuti, sudah dipikirkan masak-masak...?" tanya pak Arman.


" Ya pak...," jawab Indira sambil menunduk.


"Saya ga bisa acc formulir ini..., Kamu tunggu Pak Syahril, Beliau yang memutuskan...," kata pak Arman lagi.


Akhirnya permintaan cuti Indira disetujui oleh Dekan. Meski berat hati meninggalkan sementara kampus yang memberinya banyak kenangan, Indira berusaha tegar. Yang membuat Indira sedih adalah ia belum sempat berpamitan pada teman- teman dekatnya, teman yang menemaninya dalam suka dan duka selama kuliah. Termasuk Elmo....


Dengan langkah gontai Indira berjalan melewati gerbang kampus.Tanpa disadarinya ada sepasang mata yang mengawasi kepergiannya dengan sorot mata sedih.Hanya tersisa doa tulus di hatinya untuk Indira, sang mahasiswi.


" Jika Kita ditakdirkan berjodoh..., pasti Allah akan pertemukan Kita lagi suatu hari nanti Dira...," kata Arman sang Asisten Dosen sedih.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2