
" Indira tunggu...!" panggil Aris.
" Eh Lo Ris..., ada apa...?" tanya Indira sambil menghentikan langkahnya.
Merekapun menepi.
" Lo ngerasa melakukan kesalahan atau apa kek gitu..., " kata Aris lagi.
" Kesalahan apa, sama siapa, kayanya ga deh Ris..., emangnya kenapa...?" tanya Indira datar.
" Susah ya ngomong sama orang ga peka...," keluh Aris pelan.
" Maksud Lo apa sih Risss..., suer Gue ga paham nih. Ya udah kalo Lo ga mau ngasih tau, Gue cabut aja deh...," kata Indira sambil hendak beranjak naik angkot.
" Yaelah Diraa..., Gue cuma bercanda kali, sensi amat sih Lo. Gue kan diangkat jadi karyawan tetap, Lo tau ga...?" tanya Aris sambil mengulum senyum melihat aksi Indira yang ngambek.
" Ooo itu..., iya udah tau Gue, terus kenapa emangnya...?" tanya Indira lunak.
" Kok cuma ooo doang, ga kasih selamat gitu kaya yang laen, malah ada yang minta traktir segala sama Gue...," sahut Aris tak percaya.
" Ya udah, selamat ya Aris..., jangan lupa traktirannya...," senyum Indira.
" Makasih, gapapa deh biar telat dan keliatan ga ikhlas, he he he.... Mau ditraktir apa, bilang aja, dimana, kapan...," kata Aris mulai semangat.
" Ga usah muluk-muluk Gue mah..., cukup coklat si***r****n aja juga boleh...," kata Indira santai. Sebenarnya Indira tak serius dengan ucapannya.
" Cuma itu...?, tenang aja besok gue bawain...," janji Aris.
" Oke gue tunggu...," jawab Indira.
Merekapun beriringan masuk ke dalam angkot. Turun di tempat biasa. Dan seperti biasa juga Aris menunggu Indira sampai naik ke dalam bus.
\=\=\=\=\=\=
Esoknya mulai kehebohan lagi di pabrik. Entah mengapa yang berkaitan dengan Indira selalu mencuri perhatian.
Seperti hari itu di teras pabrik. Indira baru saja tiba dan mulai menyapa teman-temannya.
" Nihh dia orangnya baru nongol...," kata Maya.
__ADS_1
" Orang mah udah pada heboh, eh yang diomongin malah baru kliatan batang idungnya...," kata Asti tersenyum.
" Emang ada apaan sihh, heboh kenapa, ada hantu lagi...?" tanya Indira asal.
" Iihhh ni Anak, hantu mulu yang diomongin..., bukan hantu tapi Lo, biangnya hantu...," kata Sofia sambil mencubit tangan Indira gemas.
" Awww..., sakit Sof, apaan lagi sih yang heboh selain hantu...," kata Indira sambil mengusap tangannya yang merah bekas cubitan Sofia.
" Lo udah jadian ya sama si Aris...?" tanya Dewi lembut.
" Hahhh..., ga..., kata siapa...?" ujar Indira terkejut.
" Tapi tadi dia nitip ini sama Gue, suruh kasihin Lo katanya...," sambil mengeluarkan bungkusan coklat beberapa batang yang diikat pita, terlihat sangat manis.
" Ya ampuuunnn..., g*la ya si Aris, masa ginian titip sama orang. Aduh..., jadi ga enak nih Gue. Pantesan Gue nemu orang dari tadi pada senyum-senyum ga jelas ke Gue...," keluh Indira.
" Ha ha ha..., ciee ciee..., Indiraa..., jadian bener juga gapapa Dirr. Cocok kok Lo sama dia...,"
ujar teman- teman Indira menggodanya.
Indira memasukkan coklat kedalam tasnya, dia celingukan mencari Aris. Sambil menahan malu Indira bergegas masuk kedalam pabrik.
" Ga usah Dirr, itukan khusus buat Lo, santai aja, nikmatin sendiri sambil mengingat wajahnya...," sahut Sofia dengan mimik lucu.
Indira terdiam, bingung mau merespon seperti apa sindiran temannya yang terus menggodanya seharian itu. Hingga akhirnya ia bertemu Aris saat jam pulang kerja.
" Aris makasih ya coklatnya, repot- repot segala. Gue ga serius kemaren, ehh Lo malah ngasihnya beneran mana banyak lagi...," kata Indira sambil tersenyum.
" Iya sama-sama..., asal Lo suka. Apa sihh yang ga buat Lo Dirr...," gombal Aris senang.
" Tapi kenapa lo titipin Dewi sihh..., ga enak Gue, jadi heboh dehh, Lo tau sendiri disini mah apa juga jadi heboh...," protes Indira.
" Tadinya mau Gue kasih langsung ke Lo, tapi tadi semua karyawan yang baru diangkat disuruh menghadap pimpinan perusahaan. Kawatir ga ketemu sama Lo, makanya Gue titip ke Dewi...," kata Aris menerangkan panjang lebar.
" Ooo...,ya udah gapapa, tapi kok pake pita segala...?" tanya Indira.
" Kalo itu ide yang jual tuh...," kata Aris malu-malu.
" Abis Gue dikatain temen-temen Gue, ditanyain macem-macem juga...," sungut Indira.
__ADS_1
" Terus Lo jawab apa...?" tanya Aris ingin tahu.
" Mau Lo, Gue jawab apa...?" tanya balik Indira.
" Di iyain aja, selesai kan. Mereka kan cuma pengen denger kata iya dari Lo...," sahut Aris santai.
" Maksud Lo, Gue iyain aja kalo mereka pikir Kita jadian...?" tanya Indira terkejut.
" Lahh emang kenapa, Lo malu jadian sama Gue? Kalo Gue sih seneng banget bisa jadian sama Lo...," kata Aris mantap.
" Lo lagi nembak Gue nih ceritanya...?" tanya Indira lagi.
" Yaaa..., anggap aja begitu. Gue emang bukan cowok romantis Dirr, tapi Gue ga suka bertele-tele. Lo pasti taukan kalo Gue suka sama Lo. Jadi gimana..., mau ga Lo jadi cewek Gue...?" tanya Aris serius sambil menatap mata Indira lekat-lekat.
" Ehhh ituuu..., Gueee...," Indira mulai gugup. Ia terkejut karena perkataan Aris.
" Gapapa Dirr, ga usah Lo jawab sekarang. Gue cuma pengen Lo tau kalo Gue sayang sama Lo...," kata Aris berusaha menenangkan Indira.
" Maaf ya Risss...," ujar Indira menyesal.
" Nyantai aja...," Aris tersenyum tulus.
Mereka terdiam sesaat. Hingga tak terasa angkot sudah ada dihadapan mereka dan mereka pun langsung naik. Didalam angkot Indira jadi salah tingkah memikirkan ucapan Aris tadi. Sedangkan Aris, tampak kelegaan diwajahnya karena sudah berhasil mengungkapkan perasaannya pada Indira.
Mereka tiba di halte. Sambil menunggu bus, Aris yang terbiasa mengantar dan menunggu Indira (layaknya kekasih) naik bus, mengajak Indira duduk dekat halte. Indira setuju dan mengekori Aris.
" Riss..., Lo kan udah lama ya kerja disitu. Ada ga cerita atau kejadian aneh yang ada disitu...?" tanya Indira membuka percakapan.
" Kenapa Lo tanya gitu...?" tanya Aris balik.
" Gapapa..., cuma Gue ngerasa kaya ada sesuatu yang aneh aja tiap hari. Apalagi kalo pas kerja shift 2, malem kan tuh. Hiii..., Gue sering ga nyaman Riss...," Indira mulai curhat.
" Wajar kalo Lo ngerasa begitu. Emang tempat itu angker kok. Sebelum dibangun pabrik, tempat itu dulu tanah rawa yang diuruk. Sempet ditemuin mayat perempuan di tanah itu dulu. Kata orang sih perempuan itu meninggal dibunuh. Dulunya dia sama cowoknya sering lewat tempat itu, karena dekat sama pantai. Mungkin mereka sering janjian disana. Tapi pas hari naas itu si cewek nunggu lama, kok cowoknya ga dateng. Yang dateng malah beberapa preman yang menganggu cewek itu, memperkosa bahkan membunuhnya. Mayatnya ditinggal gitu aja sampe membusuk. Keluarganya nyariin, tapi ga ketemu. Si cowok ikut nyariin, sampe akhirnya inget tempat mereka sering janjian ketemu. Bersama warga dia dateng ke tempat itu dan nemuin sobekan kain mirip punya cewek itu. Ga jauh dari sobekan kain terlihat mayat yang udah mulai kering, semua keluarganya dan cowok itu meyakini kalo itu mayat cewek yang mereka cari...," cerita Aris panjang lebar.
"Terusss...?" tanya Indira.
" Yaaa hantunya sering terlihat gentayangan, entah dia berdiri, duduk membelakangi, atau jalan-jalan, seolah menunggu dan mencari cowoknya yang tak kunjung dateng...," ucap Aris.
" Terusss...?" tanya Indira penasaran.
__ADS_1
bersambung