Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 41 ( Berubah )


__ADS_3

Tinggal di tempat yang berbeda tidak membuat hubungan Jayadi cs dengan Indira dan kedua temannya menjadi renggang.


Mereka masih sering makan malam bersama di warung langganan. Bahkan jika salah satu diantara tiga sekawan (Indira, Sofia dan Maya) harus lembur, yang lainnya bisa menunggu di rumah Jayadi. Setelah lengkap bertiga baru mereka kembali ke rumah baru. Begitulah keseharian mereka.


Tapi hari itu...


Indira dan Sofia harus ikut lembur karena banyaknya pekerjaan. Chika yang sedang tak enak badan terpaksa tinggal dirumah. Karena kawatir, maka Sofia dan Indira mengantar Chika kerumah Jayadi untuk istirahat disana sambil menunggu mereka pulang.


Setelah selesai lembur Indira dan Sofia bergegas ingin pulang kerumah. Tak disangka hujan turun dengan derasnya. Terpaksa keduanya berteduh di pabrik menunggu hujan reda. Kecemasan tampak di wajah keduanya karena mengkhawatirkan Chika.


Setelah hujan reda mereka berdua melangkah hati-hati. Mereka sempat mampir di warung membeli makanan untuk Chika.


Tibalah mereka di rumah Jayadi. Pintu rumah tertutup rapat, suasana sekitar rumah juga nampak sepi karena hujan baru saja reda.


Sofia mengetuk pintu sambil memanggil nama Chika berkali-kali.Tak ada sahutan dari dalam rumah. Tapi sayup-sayup terdengar suara tangisan di kamar depan.


Sofia dan Indira mulai panik. Mereka menggedor pintu lebih keras. Tak lama pintu terbuka. Tampak Chika dengan pakaian kusut dan mata sembab membuka pintu perlahan. Sofia dan Indira merasa lega diawal.


Saat pintu terbuka lebar, tampak Gunawan sedang duduk setengah berbaring di kursi tamu, masih menggunakan pakaian lengkap seperti yang dipakainya saat bekerja, hanya sedikit kusut.


" Lho udah pulang Mas...?" tanya Indira heran. Karena setau Indira, Gunawan memang tak pernah pulang sore. Gunawan itu orang yang gila kerja.


" Iya...," kata Gunawan singkat sambil mengusap wajahnya.


" Tadi Gue denger Lo nangis, kenapa...?" tanya Sofia pada Chika.


Chika tiba-tiba menangis keras. Hal ini tentu saja membuat Indira, Sofia dan Gunawan panik.


Sofia maju ingin memeluk Chika dan menenangkannya. Tapi kalah cepat dari Gunawan yang tiba-tiba merangsek maju dan langsung menepuk-nepuk punggung Chika.


Indira dan Sofia saling menatap bingung.


" Ada apa..., kenapa...?" tanya Indira sambil menatap Gunawan meminta jawaban. Tapi Gunawan hanya memandang sendu kearah Indira seolah tatapan penuh penyesalan.


Setelah puas menangis, Chika masuk lagi ke kamar dan keluar membawa tas, lalu pergi.


Indira dan Sofia mengejar Chika, lalu berusaha mengajak Chika pulang kerumah baru mereka. Chikapun mengangguk setuju.


Di rumah, mereka hanya bicara yang ringan saja, tanpa mengorek cerita yang bisa membuat Chika sedih lagi. Mereka tinggal di kamar yang sama karena tiap kamar terlalu luas jika ditempati sendiri. Malam itu semua orang tidur dengan nyenyak.


Pagi harinya,tampak Chika mengemasi barangnya. Ia bilang mau pulang sebentar ke Pemalang. Setelah minta ijin pada Bang Jayadi, Chika pun pergi.


" Sebentar doang Mbak, besok Aku udah disini lagi kok...," hibur Chika.

__ADS_1


Indira dan Sofia hanya mengiyakan saja.


Ternyata kepergian Chika bukan hanya sehari. Anehnya lagi, dihari yang sama Gunawan juga tak terlihat di pabrik. Tapi tak ada yang curiga sama sekali.


\=\=\=\=\=\=


Setelah menempati rumah milik bu Marni, Sofia mulai sedikit berubah. Semula ia tak pernah memakai pakaian yang terlalu terbuka saat di rumah Jayadi ( walau belum berhijab, mereka selalu berpakaian sopan).


Tapi sejak di rumah baru, Sofia mulai berani keluar masuk rumah hanya mengenakan tank top.


" Sof, kenapa pake baju kaya gitu sih, ga enak lah...," kata Indira.


" Gue emang biasa kaya gini di rumah...," kata Sofia santai.


" Tapi Gue belom pernah liat lo pake kaya gini selama disini...?" kata Indira lagi.


" Ya iya lahh, masa Gue pake baju kaya gini ngumpul bareng sama cowok-cowok, bisa dikira 'p*r**' Gue sama Mereka. Kalo disini kan cewek semua, jadi Gue bebas...," kata Sofia memberi alasan.


" Tapi kalo keluar pintu tuh pake baju yang bener dong..., Lo ga liat apa tetangga Kita juga ada yang cowok...?" Indira coba mengingatkan.


" Cowok mana maksud Lo, pak Amin?. Dia kan udah tua, udah Kakek-kakek juga. ha ha ha..., ada-ada aja Lo...," kata Sofia tertawa.


Indira mengalah dan diam, menghindari pertengkaran hanya karena hal sepele.


" Mau cari sarapan...," jawab Indira singkat. Ia masih kesal dengan jawaban Sofia tadi.


Jika masuk shift 2, yang berangkatnya sore jam tiga an, Indira dan Sofia memang beli sarapan dekat rumah. Tapi jika masuk shift 1, mereka akan sarapan di warung dekat pabrik.


" Bareng dong, Gue juga mau sarapan...," kata Sofia cuek seolah tak terjadi apa-apa.


" Sini Gue aja yang beli...," kata Indira cepat.


" Ga usah. Gue ikut lah, emang kenapa sih Lo, masih marah...?" tanya Sofia jutek.


" Kalo Lo masih pake baju kaya gitu, mending jalan sendiri aja, jangan bareng sama Gue...!" kata Indira tegas.


" Payah Lo, ga asik. Ya udah Gue ambil anduk dulu...," kata Sofia sambil masuk ke kamar.


Tak lama Sofia membawa handuknya yang berukuran besar, lalu dililitkannya di sekitar tubuhnya menutupi leher hingga pusarnya.


" Udah beres. Ayo...," ajak Sofia.


" Kok pake anduk sih, Sof...?. Pake baju, pirang...!" sentak Indira.

__ADS_1


" Berisik !. Cerewet amat sih Lo. Ini juga kan udah ketutup, ga seksi juga. Kalo emang keliatan seksi, ya jangan salahin Gue yang diciptain sama Allah jadi orang seksi...," kata Sofia dengan nada sombong.


Indira menatap tajam kearah Sofia yang menyigar rambut nya dengan jari-jari tangannya. Indira masih ingin berdebat dengan Sofia, tapi cacing di perutnya sudah meronta minta makan.


Akhirnya Indira pun keluar rumah diikuti Sofia di belakangnya.


Di sepanjang jalan menuju warung nasi, beberapa orang terlihat sedang berbincang.


Indira menyapa mereka dengan ramah, tapi Sofia hanya melengos saja.


" Kalo Mbak Indira itu ramah ya, beda sama temennya si Sofia...," kata seorang ibu muda.


" Iya, Mbak Indira itu sopan, orang nya, cara berpakaiannya. Coba liat baju si Sofia, kaya kurang bahan aja...," celetuk yang lain.


" Ga enak ngeliatnya, ga tau ya kalo jam segini tuh Suami-suami Kita juga baru mau keluar pergi kerja. Masa dikasih tontonan kaya gitu...," kata seorang ibu yang terlihat emosi karena pakaian Sofia.


Indira melirik tajam kearah Sofia.


" Tuh, Lo denger ga apa kata Ibu-ibu tadi...?" kata Indira.


" Iya denger, cuekin aja...," kata Sofia santai.


" Tapi baju Lo tuh bikin orang gerah Sof. Mana pake anduk lagi, bikin cowok yang ngeliat berpikiran ngeres tau ga...," kata Indira judes.


" Lo tuh kenapa sih...?" kata Sofia sok bingung.


" Kita tuh lagi diomongin orang, tau ga. Mending kalo yang bagus, ini yang jelek yang diomongin. Gue jadi malu jalan sama Lo...," kata Indira pasrah sambil meletakkan nasi yang dibelinya ke atas piring.


" Lo harusnya bangga diomongin sama orang, Kita kan artis, ngetop lagi. Makanya diomongin mulu...," kata Sofia santai sambil mulai makan.


Indira terdiam tak percaya. Ia melihat sisi 'lain' Sofia yang tak dikenalinya. Indira coba meredam emosinya. Ia juga merasa agak cepat lelah akhir-akhir ini, jadi setelah makan Indira memutuskan istirahat di kamar.


Setelah selesai makan, Sofia meraih radio yang diberikan oleh Asman untuknya, sebenarnya untuk Indira dan Chika juga. Tapi karena Sofia yang mendominasi, jadilah radio itu seolah miliknya. Lalu Sofia menyetel musik dengan suara keras, bermaksud mengganggu Indira. Tapi Indira hanya memejamkan mata menghindari Sofia.


Tak mendapat respon dari Indira, Sofia pun memindahkan radio ke ruang tamu dan menyetelnya. Mulai ikut bernyanyi walau suaranya tak cukup merdu. Sofia bernyanyi sambil mengisi TTS.


Indira terdiam di kamar. Sambil memeluk guling ia membayangkan wajah kedua orangtuanya, kakaknya, adik-adiknya, dan Aris....


Terakhir Indira memberi kabar minggu lalu. Karena memang belum banyak rumah yang memasang saluran telpon dirumah mereka, membuat Indira harus ke wartel dekat pabrik jika ingin bertukar kabar dengan keluarganya. ( Saat itu belum banyak juga yang memiliki HP karena tergolong barang yang mahal dan hanya orang tertentu yang memilikinya ).


Saat menelepon, Indira sengaja tak menceritakan pengalaman aneh nya selama di kota C, karena ia tak ingin membuat cemas keluarganya di Jakarta.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2