Kami Harus Lari

Kami Harus Lari
eps 36 ( Dimusuhi )


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju Jakarta.


Maya termenung sambil menatap keluar jendela. Ia merasa kalah. Tapi ia juga merasa tepat dengan keputusannya kali ini.


Sementara itu Jayadi yang duduk di sebelah Maya tampak terpejam. Seolah sedang tertidur, padahal Jayadi sedang memikirkan banyak hal, keluarganya, teman-temannya, pekerjaannya.


Maya tak berani mengusik Jayadi yang sedang terpejam.


Tak lama Maya pun ikut tertidur. Sambil bersandar di kursi, tampak kepala Maya sesekali terantuk jendela. Saat merasa Maya tertidur di sampingnya, Jayadi membuka matanya.


Bukan Jayadi enggan bicara dengan Maya. Hanya saja penyebab Maya pulang lah yang agak sedikit mengganggunya. Jayadi semula merasa ini agak berlebihan. Tapi setelah lama berpikir Jayadi pun maklum dan bisa menerima alasan Maya.


Hampir setengah perjalanan dilalui oleh Jayadi dan Maya tanpa sepatah kata pun. Jayadi menoleh sambil tersenyum saat melihat Maya terbangun dari tidurnya.


" Baru bangun Lo, tidur kok pules amat, ga takut diculik orang Lo...," canda Jayadi membuka percakapan.


" Ga lah, kan ada Bang Jay yang jagain Gue...," jawab Maya asal.


" Enak aja, Lo kira Gue bodyguard Lo ? berani bayar berapa Lo...?" tanya Jayadi pura-pura marah.


Maya yang mendengarnya pun tertawa.


" Ga kebalik Bang?, Lo yang harusnya bayar Gue karna nemenin Lo pulang...," jawab Maya disela tawanya.


" Mudah-mudahan Indira sama Sofia ga ngalamin kaya yang Lo alamin...," kata Jayadi mulai serius.


" Aamiin..., Mereka kan cuek Bang, jadi hal yang kaya Gue alamin itu mah hal kecil buat Mereka...," kata Maya membanggakan kedua temannya.


" Ooo gitu...," kata Jayadi mencoba mengerti.


Bus terus melaju membelah jalan raya yang mulai padat saat memasuki Jakarta.


Akhirnya bus berhenti di dalam terminal Pulo Gadung. Maya dan Jayadi segera turun bersama penumpang lainnya.


Maya mengedarkan pandangannya. Ia ingat betul, hampir sebulan lalu ia dan ketiga temannya berangkat dari tempat yang sama.


Dengan semangat tinggi dan harapan yang membuncah mengiringi kepergian mereka.


Maya masih berdiri menunggu Jayadi menurunkan barang bawaannya dari bagasi bus. Setelah itu Jayadi membawanya dengan hati-hati. Maya yang melihat itu malah tertawa.


" Ketawa aja terus, bukannya bantuin, " gerutu Jayadi.


" Abis Lo lucu sih Bang. Lo bawa tu barang hati-hati banget, kaya sesuatu yang berharga...," kata Maya.


Jayadi menjawab, " Ini emang berharga buat Gue May. Ini adalah salah satu bukti hasil kerja keras Gue selama Gue merantau jauh dari keluarga...,"


" Maaf Bang, Gue ga maksud hina usaha Lo, suer...," kata Maya dengan tulus.


Jayadi tersenyum sambil mengusak rambut Maya dan berkata " Udah nyantai aja. Gue ga marah kok May. Ayo kita cari angkot biar cepet sampe di rumah...,"

__ADS_1


Maya setuju dan mengekor di belakang Jayadi.


Mereka menaiki angkot dan duduk berdampingan.


" Hati-hati tas Lo, ada copet tuh...," bisik Jayadi di telinga Maya.


" Iya Bang...," kata Maya dengan suara bergetar.


" Ntar Gue ga nganter Lk sampe rumah Lo ya May. Gapapa kan...?" tanya Jayadi.


" Iya Bang, udah di daerah sendiri mah Gue berani. deket juga kan dari tempat turun ntar...," jawab Maya santai.


Tibalah mereka ditempat tujuan. Sebelum turun, Maya menjabat tangan Jayadi sambil mengucapkan terimakasih. Angkot kembali bergerak setelah menurunkan Maya yang melambaikan tangan kearah Jayadi. Di pemberhentian berikutnya giliran Jayadi yang turun dari angkot. Mereka berdua tiba dengan selamat di rumah masing-masing.


\=\=\=\=\=\=


Indira mulai menjalani tugas barunya sebagai Supervisor. Beruntungnya Indira, orang-orang yang bekerja sama dengannya adalah orang yang ramah, kecuali Sunyoto.


Indira bisa dengan mudah meminta para karyawan memperbaiki pekerjaan mereka sesuai standart yang diminta perusahaan. Cara bicara Indira yang santun membuat para karyawan merasa dihargai oleh Indira, meskipun usia mereka jauh diatas Indira.


" Punteun Teh, tolong kayu yang ini dihalusin sedikit lagi ya, masih agak kasar kalo diraba. Makasih ya Teh...," kata Indira yang memberi perintah dengan kalimat yang halus.


" Siap Bu...!" sahut si karyawati bernama Una.


Indira mencubit kecil pinggang Una, yang dibalas tawa kecil Una.


" Lah gimana sih, kan situ atasan Saya sekarang, jadi Saya harus hormat, kalo ga ntar Saya dipecat gimana...?" tanya Una menggoda Indira.


Indira yang mendengar ucapan Una memonyongkan bibirnya sambil berlalu, dan dipastikan suara tawa bergema sesaat di tempat itu.


" Sof, yang ini tolong dihalusin dikit lagi ya, tapi cara ngalusinnya gini aja...," kata Indira sambil memberi contoh.


" Ooo gitu, ok Bos...," sahut Sofia sambil mengulum senyum.


" Bas bos bas bos, ga usah ngerayu, cepet kerjain, mau Lo Gue pecat...?" kata Indira pura-pura galak sambil melotot.


" Dih, sok galak, ga pantes tau ga...?" kata Sofia sambil melempar amplas bekas ke tangan Indira yag berdiri disampingnya.


Tindakan Sofia malah membuat Indira tertawa dan mengembalikan amplas yang dilempar Sofia tadi.


" Sofia Sayang..., yang bener ya kerjanya...," kata Indira dengan mimik lucu.


Sofia menjulurkan lidahnya mendengar ucapan Indira.Tawa kecil pun terdengar sebelum Indira beranjak pergi ke bagian lainnya.


" Gimana Neng Dira kerjaan Mamang...?" tanya Kusyadi pada Indira yang sedang mengecek hasil kerjanya.


" Bagus Mang. Tapi maaf yang ini sama yang ini tolong didempul lagi ya, masih berlobang, ntar kalo diamplas tetep masih keliatan kan...," sahut Indira sambil tersenyum.


" Mana ?, wahh kelewat ini mah, maklum mata tua Neng...," sahut Kusyadi tanpa beban lalu segera mengerjakan permintaan Indira.

__ADS_1


Indira menepuk pundak Kusyadi pelan dan segera berlalu.


Interaksi Indira dengan karyawan yang ada dibawahnya mendapat perhatian dari para seniornya di pabrik. Mereka memuji cara kerja Indira yang terlihat tak canggung dan sangat menguasai pekerjaannya.


" Tuh Anak baru yang dari Jakarta, kerjanya bagus juga ya...," kata Basir di tengah perbincangan sesama Supervisor.


" Iya, Anaknya ga sombong, cara negornya sopan, jadi aman lah...," kata Yusuf.


" Kayanya si Indira udah biasa ngadepin orang banyak...," tambah Emen.


" Kalian mujinya ketinggian, ntar tuh Anak jadi gede kepala...," kata Sunyoto dengan sinis.


Semua orang di ruangan Supervisor menoleh kearah Sunyoto. Mereka tampak bingung melihat aura kebencian yang menguar dari tubuh Sunyoto saat membicarakan Indira.


Sunyoto memang tak suka mendengar pujian teman-temannya untuk Indira. Buat Sunyoto, Indira adalah rival yang harus 'dijatuhkan'. Selain seorang perempuan, Sunyoto merasa Indira tak tahu apa-apa.


Sikap Sunyoto yang cenderung memusuhi tidak membuat Indira lemah. Indira tetap bersikap baik pada Sunyoto, meski seringkali respon Sunyoto jauh dari yang seharusnya.


" Pagi semua, udah pada sarapan belom...?" tanya Indira ramah kepada para seniornya.


" Pagi juga Indiraaa...," sahut Yusuf dengan senyum tulus.


" Saya ga perlu sarapan, liat Indira aja udah cukup...," kata Emen menggombali Indira.


" Kalo udah liat Indira, ga sarapan juga tetep semangat Saya...," canda Basir.


Indira dan ketiga seniornya tertawa senang. Berbeda dengan Sunyoto yang diam tak menjawab sapaan Indira.


Saatnya pembagian tugas. Untuk menghilangkan kejenuhan bekerja dan untuk seru-seruan, biasanya para Supervisor membuat semacam permainan kecil untuk tugas survey ke pabrik 2.


Mereka memasukkan nama semua Supervisor ke dalam gelas & mengocok gelas ( seperti arisan). Karena hari itu formasi mereka lengkap, maka diputuskan 2 orang yang berangkat survey.


Nama pertama yang keluar adalah Indira. Para Supervisor senior pun heboh saat mulai mengocok gelas lagi. Mereka berharap mereka lah yang akan menemani Indira survey pertamakalinya. Mereka makin heboh saat nama kedua yang keluar adalah Sunyoto.


" Ga bisa gantiin sama yang laen ya...?" tanya Sunyoto datar.


" Udah ada aturannya, yang namanya keluar ga boleh nolak...," sahut Basir tegas.


Sunyoto melengos. Sambil berjalan malas kearah pintu. Indira hanya diam menunggu ajakan Sunyoto. Tapi kode mata dari Basir menyadarkan Indira. Indira pun melangkah mengikuti Sunyoto sambil melambaikan tangan pada Supervisor lain di ruangan itu.


" Semangaaattt...!" kata Emen yang diarahkan pada Indira.


" Siippp...," kata Indira sambil mengacungkan ibujarinya.


Jarak pabrik 1 dan pabrik 2 sekitar setengah kilometer. Untuk memudahkan pekerjaan, karyawan pabrik biasanya menggunakan motor sebagai kendaraan bolak balik.


Tapi Sunyoto sepertinya memang ingin 'mengerjai' Indira dengan mengajaknya jalan kaki pulang pergi.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2